23. Sebuah Ancaman

2314 Words
"Saya mau makan olahan dari ketan." Sore itu, tiada angin tiada hujan, Sean yang baru keluar dari kamarnya---yang berarti bukan kamar Kanaya karena lelaki itu menolak untuk tidur dalam satu ranjang, menghampiri sang istri yang tengah mengupas apel dan menjadikannya beberapa potong sembari menonton reality show di televisi. Wanita itu menaruh atensinya sepenuhnya pada sang suami yang berdiri sekitar tiga meter darinya. Raut lelaki itu begitu datar dengan tatapan tajamnya yang serasa menghunus. Kanaya tidak yakin atas pertanyaan lelaki itu. Maka, ia lemparkan tanya pada sang suami. "Dokter tadi mau apa?" tanyanya, setelah itu menyuapkan satu potong apel ke dalam mulut. Lamat, ia menguyah buah dengan cita rasa manis itu. Kedua bola matanya masih fokus pada Sean, mengamati pria itu yang hanya berdiri kaku di sampingnya. Kalau tidak salah dengar, Sean ingin memakan olahan dari ketan. Namun, yang menjadi pertanyaan Kanaya, kenapa tiba-tiba sekali? "Masa kamu nggak dengar saya bilang apa," sahut Sean tanpa intonasi. "Ya, denger. Cuma nggak yakin aja. Masa Dokter makan makanan yang dari ketan. Kayak tiba-tiba banget." Kanaya menjawab, keningnya tampak berkerut memandang suaminya itu. "Dokter kayak orang ngidam," pungkas wanita itu, lalu kembali menyuapkan potongan apelnya ke dalam mulut. Sean diam. Dari kemarin, dia juga sudah menginginkan makanan yang berbahan dasar dari beras ketan. Namun ia menahannya. Puncaknya sore ini, keinginannya memakan makanan itu semakin besar saja. Membuatnya yang ingin mengistirahatkan tubuh jadi uring-uringan sendiri. Jadi, ia putuskan untuk keluar. Menemui Kanaya, sosok yang sejujurnya sangat ingin ia hindari untuk hari ini atau untuk ke depannya, dan mengutarakan keinginannya itu. Sean rela menjatuhkan harga dirinya di depan perempuan itu dan meminta makanan yang ia inginkan. Ya, bisa saja Sean membeli di luar. Namun, ia sangat ingin Kanaya yang membuatkan untuknya. "Oh, jangan-jangan Dokter emang lagi ngidam, ya? Iya, kan? Aku baca-baca di artikel, ayah jabang bayinya kadang-kadang juga ngerasain apa yang si ibu rasain. Cieee, Dokter Sean lagi ngidam," goda Kanaya dengan senyum lebarnya. Matanya sesekali mengerling jahil pada lelaki yang belum genap sebulan ia nikahi itu. Sean tak bereaksi. Wajahnya masih sama datarnya dengan tadi. Meski raganya tampak tak bergerak, namun kepalanya sedang mencari jawaban yang pas untuk menyahut ucapan wanita itu. Ia terlalu gengsi mengakuinya. Jadi, yang ia lakukan tentu adalah mengelak. "Dok, kok diem? Bener ya, Dokter lagi ngidam? Duh, emang ya, Dokter nolak kayak apa pun, tapi kalau Tuhan mau nunjukin, ya bakal ditunjukin dengan sendirinya. Kayak Dokter gini, Dokter ngidam kan sekarang? Jadi Dokter tahu kalau anak yang aku kandung bener-bener anak Dokter." Kanaya berucap panjang lebar dengan senyum mengembang dan sebelah tangan yang mengelus perutnya yang belum terlalu menonjol itu. Sudut bibir Sean terangkat, memandang Kanaya dengan sinis. Begitu saja keinginannya memakan makanan dari beras ketan lenyap, digantikan emosi yang tiba-tiba membara. Kepercayaan diri Kanayalah yang menyulutnya. Sean muak melihat wajah wanita itu yang dipenuhi binar bahagia. Maka, yang ia katakan kemudian menjadi kalimat bermoncong belati yang langsung menghunus tepat di jantung Kanaya. "Kamu jangan terlalu percaya diri, Kanaya. Bukankah sebelumnya saya sudah bilang, kalau saya mau bikin hidup kamu sengsara? Kamu pasti tidak akan lupa itu, kan?" Senyum di wajah wanita lenyap. Benar-benar lenyap tak tersisa. Lengkung bibir Kanaya berubah turun, menjadi satu garis simetris yang tampak kontras dengan ekspresinya semenit yang lalu. Padahal ia sudah senang tadi, tadi secepat kilat Sean menjatuhkannya ke dasar jurang. Kanaya tidak bisa memungkiri rasa sakit yang menyerang ulu hatinya. "Dokter Sean cuma main-main, kan?" "Saya nggak akan pernah main-main sama ucapan saya, Kanaya," desis lelaki itu. "Jadi, jangan terlalu percaya diri. Saya minta kamu buatin makanan karena seperti yang saya bilang, saya mau kamu tersiksa dan menyesal sudah menjebak saya. Camkan itu baik-baik." Sean tidak berkata-kata lagi, sebab setelah itu ia memutar tubuh dan menghela kakinya kembali masuk ke dalam kamar. Di tempatnya, Kanaya menatap nanar pintu cokelat yang mana adalah pintu kamar Sean. Bibirnya mencebik dan air matanya menetes begitu saja. "Padahal aku udah seneng tadi." Kanaya mendesah lelah, sebelum memusatkan matanya kembali ke layar besar di hadapannya dan memakan kembali potongan apel yang masih tersisa. Meski sejujurnya ia sudah tidak berminat lagi. *** Jam enam pagi, Kanaya sudah berada di rumah sakit, lengkap dengan jas putih serta tas hitam multifungsi berisi alat kesehatannya. Ia memang mendapat shift pagi sebenarnya, dan kemarin siang itu seharusnya menjadi shift temannya sesama koas, namun karena berhalangan, jadilah ia yang menggantikannya. Dengan langkah cukup tergesa,---namun berhati-hati karena ia ingat ada makhluk lain yang kini bersemayam di rahimnya---wanita itu berjalan menuju salah satu ruang rawat inap pasiennya. Ia harus cepat-cepat melakukan follow up, evaluasi, serta monitoring keadaan anak kecil yang sudah sejak kemarin menjadi pasiennya, sebelum ia melaporkan pada dokter yang bertugas untuk melakukan visit bangsal. Untung saja ia punya banyak kegiatan, jadi tidak perlu memikirkan ucapan Sean kemarin yang terlalu menyakitinya. Kanaya kemudian mengetuk pintu di depannya dengan pelan, agar tidak menimbulkan suara yang keras dan akhirnya mengganggu pasien lain. Saat pintu terbuka, muncul sesosok pria dengan kaos hitam sesiku serta rambut acak-acakkan yang menandakan jika ia baru saja bangun tidur. "Ada apa Dok, pagi-pagi ke sini? Dokter kangen ya sama saya? Nyesel kemarin nggak nerima tawaran saya yang ingin jadi suaminya Dokter?" Pria itu bertanya dengan suara serak. Kanaya menahan napasnya barang sebentar, mencoba menghalau bau kurang sedap dari mulut pria yang kalau tak salah ingat bernama Abbygail itu, meski sebenarnya ia lebih suka menyebutnya sebagai Abbygila. Bapak dari pasiennya itu terlalu gila, membuatnya harus menahan emosinya sebisa mungkin. "Bapak suka bercanda, ya?" Perempuan yang tengah mengandung tiga bulan itu menjawab seraya sedikit memalingkan wajahnya dan menarik napas sebanyak-banyaknya. "Saya ke sini untuk melakukan evaluasi keadaan putra Anda. Saya ingin memeriksanya. Barangkali ia nanti sudah diperbolehkan pulang." "Yah, kalau putra saya pulang, berarti saya nggak bisa dong ketemu sama Dokter lagi." Pria itu malah mengerucutkan bibirnya persis seperti anak kecil yang sedang merajuk. "Maaf, saya harus cepat melakukan tugas saya. Bisa Bapak minggir dan memberikan saya jalan?" Kanaya berujar dengan nada tegas. "Tapi putra saya belum bangun Dok, tuh dia masih ngorok di sana." Abbygail atau Abbygila itu sedikit memiringkan tubuhnya, mencoba memperlihatkan sosok anak kecil yang tengah terbaring di atas ranjang dengan kondisi mata tertutup serta mulut yang terbuka. Suara dengkuran halus terdengar samar di telinga Kanaya. Kanaya memilih memasuki ruangan itu. "Bisa dibangunkan putranya, Pak? Saya perlu melakukan pemeriksaan sekarang juga untuk rekam medis pasien sebelum melaporkannya pada Dokter Sinta selaku konselen saya yang akan melakukan visit sebentar lagi," papar Kanaya. Abbygail menutup pintu ruang rawat itu, sebelum memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Kanaya. "Tapi, tadi malam putra saya sulit tidur Dok, dan mengeluhkan tenggorokannya yang sakit, sempat demam juga. Saya nggak tega atuh, kalau mau banguninnya sekarang," katanya sebelum menguap lebar. Barangkali ia masih merasa mengantuk. "Hanya sebentar Pak, setelah itu putra Bapak bisa tidur lagi nanti," pinta Kanaya sembari dengan nada sedikit memaksa. "Oke-oke, Dok." Kemudian pria itu berjalan menuju bangsal sang putra, membangunkannya dengan cara menepuk-nepuk pipinya pelan. Mengerjap beberapa kali, anak itu mulai membuka matanya. "Ada apa, Pa? Kenapa bangunin Ano?" Ia bertanya dengan suara serak dan hampir tak terdengar di telinga Kanaya. "Dokternya mau meriksa kamu." Si ayah kemudian memundurkan langkahnya memberi tempat pada Kanaya yang akan melakukan pemeriksaan. Setelah melakukan kegiatan pemeriksaan berdasarkan SOAP; menanyakan keluhan, riwayat penyakit, serta diagnosa yang langsung Kanaya tulis dalam catatannya untuk ia gunakan saat presentasi dan diskusi siang nanti, ia kemudian membuka suaranya. "Putra Anda masih membutuhkan perawatan intensif, mungkin jika besok keadaannya sudah membaik dia bisa dirujuk pulang," terang Kanaya. Sebelum pamit dan keluar dari sana. Namun saat berada di ambang pintu, si Abbygila malah mencekal lengannya. "Dokter, mungkin Dokter merasa aneh dengan sikap saya yang seperti ini. Cukup Dokter tahu saja, wajah Dokter sedikit mengingatkan saya pada mendiang istri saya. Kemarin awalnya saya kaget, saat pertama kali melihat Dokter. Wajah Dokter memang tak sepenuhnya mirip dengan istri saya, tapi mampu mengingatkan saya. Itu alasan mengapa saya bisa mengatakan ingin menikahi Dokter kemarin. Saya bersungguh-sungguh mengatakannya, Dok." Kelopak mata Kanaya mengerjap beberapa kali, otaknya masih mencoba mencerna kalimat-kalimat yang pria itu lontarkan padanya. "Sa-saya tidak mengerti maksud Anda." Kanaya sedikit terbata saat membalas ucapannya. Dengan sedikit kesusahan ia mencoba melepaskan cekalan Abbygail di tangannya, namun pria itu malah mempereratnya. Karena tubuh Abbygail lebih tinggi darinya, ia mendongakkan kepalanya, melihat wajah penuh harapan pria itu. "Anda jangan macam-macam, ya!" Kanaya sedikit meninggikan suaranya seraya menggerakkan tangannya, masih mencoba melepas cekalan itu. Abbygail sama sekali tak bergeming, namun sorot matanya berubah sendu. Barangkali sedang mengenang masa lalunya bersama mendiang istrinya. "Lepaskan tangan Anda dari lengan istri saya!" Bak seorang pahlawan kesiangan, sosok pria bertubuh jangkung datang, memisahkan cekalan Abbygail pada lengan Kanaya. Kedua manik Sean menyorot tajam ke arah ayah satu anak itu. Kanaya mengerjap beberapa kali, tak menyangka mendapati sosok Sean di sana. Entah mengapa, hatinya yang pagi ini dipenuhi mendung, berubah menjadi cerah. Ada perasaan hangat yang sedikit demi sedikit mengeringkan luka basah yang Sean torehkan kemarin. Kanaya merasa bahagia. "Apa-apaan Anda ini, jangan berbuat macam-macam pada istri saya ya? Saya bisa melaporkan Anda ke pihak keamanan rumah sakit! Anda bisa diusir karena sudah menganggu ketertiban di sini!" Sean berujar dengan tegas. Suaranya yang lumayan berat menggema di sepanjang lorong rumah sakit itu. Ia kemudian memalingkan wajahnya, menatap Kanaya yang tengah menahan bibir untuk tidak mengembang dan tersenyum lebar di hadapan Sean. Sean yang melihat Kanaya seperti itu lantas melepas tangan mereka. Sean berdeham untuk mengusir kecanggungan yang ia rasakan sebelum mengalihkan lagi tatapannya pada sesosok pria yang masih berdiri di ambang pintu, Abbygail. Laki-laki itu menatap keduanya---Sean dan Kanaya---dengan pandangan yang sulit mereka artikan. Namun sedetik kemudian, senyum tipis tersungging di wajahnya. "Saya kira Dokter memang nggak bersuami, nggak ada cincin di jari manis Dokter. Saya pikir Dokter memang belum menikah, dan Dokter hamil karena one night stand, ya saya masih memercayai kalau orang menikah umumnya punya cincin kawin. Tapi ternyata saya salah," ujar lelaki itu. Ia lantas mengubah raut wajahnya menjadi datar. "Saya bukan lelaki yang seperti itu, yang setelah menanam benih meninggalkan pasangan saya begitu saja," kata Sean. "Menikah bukan berarti harus memakai cincin kawin, kan? Terserah saya dan Kanaya mau apa," lanjut lelaki itu dengan kalimat tegasnya. Sejujurnya, ia tidak tahu mengapa bisa berkata demikian. Hal itu keluar begitu saja dari mulutnya. Entah bagaimana bisa. Pada kenyataannya saja, ia menolak Kanaya mati-matian. Bahkan sampai sekarang bersikap dingin pada wanita itu. Hanya saja, Sean merasa ada bagian dalam dirinya yang tidak terima ketika melihat Kanaya bersama lelaki lain. Sean tidak terima. Di lain sisi, Kanaya tak lagi bisa menahan senyumnya untuk mengembang. Hatinya benar-benar menghangat, padahal kemarin lelaki itu memperlakukannya dengan buruk. Tapi dibela seperti ini, bagaimana Kanaya tidak bahagia? Mungkin saja kan, Sean memiliki rasa padanya tetapi laki-laki itu terlalu gengsi untuk mengakui? Kanaya tersenyum semakin cerah. Semoga saja begitu. "Bertanggung jawab atau tidaknya Anda, itu bukan urusan saya sejujurnya," sahut Abbygail kemudian. Lelaki itu lantas tersenyum simetris. "Tapi, ketika nanti ada kesempatan untuk mendapatkan hati Dokter Kanaya, maka saya akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin." Lelaki itu berbicara dengan serius dan Sean tahu ia tak main-main. Entah mengapa, Sean merasa terancam. "Terserah Anda," kata Sean kemudian, sebelum menggamit lengan Kanaya dan membawa wanita itu menjauh dari sana. Sean tidak tahu, mengapa mendadak ia merasa takut. Takut oleh suatu hal yang tidak ia tahu pasti apa. Berbeda dengan Sean yang berwajah murung, Kanaya malah menampilkan wajah cerahnya. Ia benar-benar bahagia mendengar ucapan Sean yang seperti angin segar baginya. Ah, Sean. Semoga sikap lelaki itu akan selalu seperti itu padanya. *** "Dokter Sean, aku seneng banget. Akhirnya Dokter Sean mau ngakuin aku jadi istrinya Dokter. Aku senang banget, Dok! Seriusan, pasti Dokter udah mulai jatuh cinta sama aku, kan?" Kanaya membuka suara saat. Binar kebahagian memang tampak menghiasi Kanaya, dari raut wajahnya yang cerah, matanya yang berseri-seri, hingga lengkungan lebar yang tak kunjung luntur. Bahkan sudah sejak semenit yang lalu, ia hanya menujukkan tatapannya pada Sean yang tak menunjukkan respons apa pun. Laki-laki itu hanya diam, menatap permukaan meja kerjanya--ngomong-ngomong, Sean tadi memang mengajak Kanaya ke ruangannya. Ia sedang memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu. Ia benar-benar tidak tahu mengapa mengatakan hal seperti tadi pada lelaki asing yang jelas sekali tertarik pada sanh istri. "Dokter Sean, aku yakin kita bakal hidup bahagia." Kanaya kembali berucap, membuyarkan pikirannya. Sean kemudian mengangkat kepalanya, memandang Kanaya sejenak sebelum kembali mengalihkannya ke permukaan meja tadi yang menurutnya lebih menarik dari wajah manis Kanaya. Ada banyak hal yang sedang ia pikirkan sekarang. Ia tidak yakin dengan perasaanya, tidak mungkin secepat itu, kan? Ya, tidak mungkin. Sean berpikir keras. Mencari jawaban yang pasti dari apa yang kini sedang menganggu benaknya. Dan ya, dia tahu apa jawabannya sekarang. "Saya bilang seperti tadi karena kamu memang istri saya kan, Kanaya?" kata Sean dengan intonasi datar, tapi mampu membuat bibir Kanaya melengkung lebar. Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan penuh semangat. "Kalau kamu mau tahu, sampai kapan pun saya nggak akan menceraikan kamu karena ...." Sean lagi-lagi berpikir, kenapa ia tak ingin menceraikan Kanaya yang jelas menipunya habis-habisan? Dan ketika ia mengingat kata-katanya beberapa waktu lalu, ia segera mengatakan hal itu. "... karena seperti yang saya katakan sama kamu kemarin, saya mau kamu hidup sengsara atas pernikahan kita. Saya sangat ingin menghancurkan kamu." Tapi Sean sedikit ragu. Namun cepat-cepat ia segera menepis hal itu. Dengan suara lebih tegas dan tatapan tajam, ia mengulangi kalimatnya tadi. "Saya ingin menghacurkan kamu, Kanaya." Senyum Kanaya mulai meluntur dan darah yang berada di wajahnya mulai menyurut sekarang, meninggalkan warna pasi yang sangat kentara. Sean masih mengucapkan kalimat yang bermakna sama. Tak peduli bagaimana perasaan Kanaya sekarang. "Saya tidak akan membiarkan hidup kamu tenang. Saya akan membuat kamu hancur." Kanaya meneguk salivanya dengan kasar. Ancaman Sean bukan jenis ancaman main-main, membuat Kanaya merinding luar biasa. Terburu-buru, wanita kemudian berdiri. "Eung, anu, aku harus menemui Dokter Sinta buat nyerahin catatan medis dari pasienku tadi ke dia. A-aku, aku permisi dulu, Dok." Kanaya memilih pergi, ia tiba-tiba merasakan mual pada perutnya. "Sampai jumpa nanti, Dokter Sean!" Kanaya berujar sebelum menutup pintu ruangan Sean rapat-rapat. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD