Sean baru saja keluar dari ruangannya saat jam menunjuk ke pukul empat sore. Ia sudah tidak memiliki jadwal lagi, hanya ada dua konsultasi dengan pasien yang sama-sama pengidap tumor otak. Itu pun yang satu pada pagi tadi sementara yang satu lagi baru saja pulang setelah sekitar satu jam mendiskusikan langkah apa yang bisa ia ambil, kemoterapi atau langsung operasi saja. Tentu dengan mempertimbangkan segala risiko yang ada.
Sean dengan kemeja biru slim fit-nya menghela kaki menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang sedikit lebih sepi. Tidak ada aktivitas yanh cukup berarti selain beberapa perawat yang malang-melintang dari satu kamar ke kamar yang lain. Sementara untuk pengunjung sendiri memang dibatasi di jam-jam seperti ini. Hanya keluarga pasien yang berjagalah yang diperbolehkan masuk area rumah sakit.
Kaki Sean melangkah menuju bangunan paling ujung. Jam empat sore adalah waktu Sean untuk sembayang. Dia bukan tipe laki-laki yang suka menunda sesuatu, jadi sebelum pulang ke rumah ia selalu menyempatkan diri untuk salat terlebih dahulu.
"Dokter Sean," sapa Abyan dengan senyum tipisnya begitu keduanya duduk bersisian di empran musola. Bedanya, Sean sedang melepas sepatunya sementara Abyan tengah memakainya. Lelaki itu baru saja selesai beribadah dan hendak kembali ke pekerjaannya.
Sean hanya menyunggingkan seulas senyum tipis dan menganggukkan kepalanya kecil untuk membalas sapaab lelaki itu.
"Dokter Sean," sebut Abyan yang memanggil namanya kembali. Sean menoleh, diam sebentar seperti sedang berpikir, lalu menggeleng kecil. "Ah, maaf, tidak jadi," lanjutnya.
Sean mengerutkan kening. Namun ia memilih untuk membiarkannya saja. Ia tidak ada hak untuk menuntut lelaki di sampingnya itu melanjutkan ucapannya.
"Saya duluan," kata Sean sambil bangkit berdiri dan menuju ke sisi bangungan untuk mengambil wudu. Selesai dengan itu, baru ia masuk ke dalam musola dan menjalankan ibadahnya. Tidak sampai sepuluh menit, ia sudah selesai dengan salatnya.
Sean melipat sajadah yang ia pakai lalu menyimpannya ke tempat semula. Begitu ia keluar sari sana, rupanya Abyan masih duduk menunggu di tempatnya yang semula.
"Dokter Abyan? Ada apa?" bingung Sean.
"Hng, itu Dok, tentang percakapan kita kemarin. Apakah Naraya bisa dioperasi?" tanya lelaki itu penuh keraguan.
Sean menghela napas. "Dalam catatan yang saya baca, Naraya sudah menjalani operasi kurang dari sebulan yang lalu. Tentu tidak mungkin kita melakukan operasi lagi kan? Apalagi pasien masih dalam masa kritisnya, terlalu berbahaya Dokter Abyan. Anda seharusnya juga sudah tahu itu."
Abyan terdengar menghela napas panjang. Wajahnya berubah masam. Lantas, ia paksakan seulas senyum untuk Sean. "Kalau begitu, terima kasih, Dok," katanya sebelum berpamitan pada Sean dan berlalu meninggalkan lelaki itu.
Sean hanya mengembuskan napas pendek, sebelum duduk dan kembali memakai kaus kaki juga sepatunya.
Saat perjalanan menuju parkiran untuk pulang, Sean berpapasan dengan wanita yang ia tahu bernama Kusuma. Tempo hari saat kedatangannya, wanita itu menemui Sean di ruangannya dan memperkenalkan dirinya pada Sean.
"Dokter Sean, mau pulang, Dok?" tanya wanita itu ramah dan dengan nada yang dibuat-buat.
Sean tak berminat. Ia hanya mengangguk samar dan mengulas senyum tipis.
"Wah, kebetulan sekali. Saya juga mau pulang," kata wanita itu, lagi-lagi dengan senyum tersungging di bibir merah meronanya.
"Kalau begitu saya pamit." Sean berujar untuk terakhir kalinya, sebelum menghela kaki meninggalkan wanita itu.
Ia tidak berminat menunggu jawabannya, untuk sekarang ia hanya ingin cepat sampai rumah dan merebahkan tubuhnya yang luar biasa lelah. Bukan lelah karena pekerjaannya, tapi lelah entah karena apa. Sebab apa-apa Sean jadi merasa enggan dan malas. Jika terus ia paksakan melakukan sesuatu, malah ia jadi mual-mual dan berakhir lemas.
"Dokter Sean!" Kusuma memanggil namanya dari belakang. Tangan lentik wanita itu melambai, menyuruh Sean untuk berhenti melangkah sementara kaki jenjangnya yang berbalut sepatu hak setinggi lima sentimeter berderap cepat mengejar Sean hingga meninggalakan bunyi nyaring di lorong itu.
Sean dengan berat hati menghentikan langkahnya. "Ya, Dok?" Ia menaikkan alis, bertanya pada si wanita di hadapannya itu.
Lagi-lagi Kusuma menyunggingkan senyum. "Mobil saya kemarin masuk bengkel Dok, dan saya hari ini nggak bawa kendaraan. Apa boleh saya numpang di mobil Dokter Sean saja?" tanyanya sembari menyelipkan helain rambut ikalnya ke belakang telinga.
"Ada taksi dan ojek online, kenapa tidak memesan mereka saja?" tanya Sean. Ia tidak suka sebenarnya berurusan terlalu banyak dengan wanita, kecuali Mama dan juga pasien-pasiennya yang hanya ingin berhobat. Tak perlu berpikir dua kali pun Sean tahu niat wanita itu apa. Sean tidak sebodoh itu untuk tidak bisa membaca keadaan yang ada.
"Di jam-jam seperti ini bakal susah, Dok. Pasti saya bakal nunggu lebih lama. Jadi, boleh ya, saya ikut Dokter aja pulangnya. Saya tahu alamat Dokter dan kebetulan rumah Dokter searah dengan saya," kata wanita itu yang masih kukuh untuk nebeng di mobil Sean, entah dari mana ia mendapat alamatnya.
Sean sudah hendak menolak, namun urung begitu mengingat Kanaya. Mungkin, dengan membawa wanita bernama Kusuma itu ke rumahnya, makan Kanaya akan luar biasa sakit hati juga menderita seperti yang ia inginkan.
Sehingga, sebuah anggukanlah yang Kusuma terima pada akhirnya. Lelaki itu mengiyakan permintaan Kusuma, meski dengan berat hati. Tentu saja.
Namun perjalanan dari lorong, lobi, sampai tempat parkiran, Sean tidak mendapati sosok Kanaya di sekitarnya. Padahal tujuan awalnya adalah untuk membuat wanita itu sakit hati dan menyesal telah macam-macam padanya.
Perjalanan pulang Sean lalui dengan sangat menyebalkan. Kusuma mengoceh tanpa henti, membicarakan ini-itu seputar wanita yang tak Sean mengerti, dan hanya membuat telinganya memanas.
"Dokter Sean, boleh nggak saya ke rumah Dokter, saya mau tanya-tanya sesuatu," kata Kusuma tiba-tiba yang mengubah topik pembicaraannya seratus delapan puluh derajat.
Sean sudah hendak menolak. Namun urung saat mengingat keinginannya pada Kanaya. Maka, begitu saja ia mengangguk dan membawa Kusuma menuju rumahnya, lebih tepatnya rumah Ferdinand.
Respons yang ia terima cukup buruk dari pembantu yang bekerja di rumah itu, Bi Minah. Tatapan wanita paruh baya itu tampak begitu terkejut, pun menilai sosok yang ia bawa tadi.
"Aden teh bawa siapa? Meni kayak ondel-ondel," ujar Bi Minah dengan logat Sundanya, berikut tatapan penuh selidik dan mulut yang pedas.
"Bi, Bibi nggak lihat saya secantik ini? Kenapa Bibi asal bilang saya kayak ondel-ondel?" Kusuma berujar dengan keras, tak terima julukan dari Bi Minah yang tentu sangat melukai harga dirinya itu.
"Idih, idih, kayak begitu mah menor, Neng. Apa-apaan? Leher sama wajahnya aja belang. Mana pake merah-merah di pipi yang terlalu kemerahan sama lipstik yang sudah kayak baru minum darah," balas Bi Minah dengan nyinyirnya.
Kusuma lantas menoleh pada Sean. "Dokter, pembantu Dokter nggak sopan sekali dengan tamu," adunya.
Sean menghela napas panjang. "Bi, sudah. Jangan buat gaduh, saya pusing," katanya.
"Eh? Maaf Den, lagian perempuan yang Aden bawa bawaannya pengen Bibi sentil," katanya yang sontak membuat Kusuma membelalak lebar. Namun Bi Minah masa bodoh. "Masuk, Den," katanya.
Sean pun membawa Kusuma masuk ke dalam rumah, meski dengan tatapan menyebalkan dari Bi Minah.
Keduanya pun duduk di ruang tengah. Lebih tepatnya Kusuma yang dengan seenaknya memaksa duduk di sana. Ia ingin mengobrol sekalian menonton televisi. Sejujurnya, Sean sudah sangat muak. Namun, saat ia ingin mengusir wanita itu, ia teringat akan rencananya pada Kanaya. Jadi, sebisa mungkin ia menahannya.
Dan, persis seperti apa yang ia bayangkan, ketika istri yang tak ia harapkan itu pulang ke rumah dan tahu perihal dirinya dan Kusuma bersama, air mata langsung luruh dari pelupuk wanita itu. Kanaya menangis.
Sean mengabaikan semua ketika Kusuma mengatakan hal yang jelas hanya mengada-ngada, ia bahkan tak mengajak perempuan itu pulang bersama. Melainkan ia yang memaksa ikut dengannya. Pun, perdebatkan mereka benar-benar tak Sean pedulikan. Matanya bahkan hanya mengarah pada layar televisi.
Puncak perdebatan Kanaya dan Kusuma, adalah istrinya yang mengusir wanita itu. Sean membiarkannya saja. Namun hal selanjutnya yang ia terima jelas sangat mengejutkannya. Kusuma mencium pipinya!
Ia tak sempat protes sebab setelah itu Kusuma benar-benar pergi dari hadapannya.
"Dokter Sean tega sama aku. Dokter Sean nyakitin aku," ujar Kanaya tiba-tiba, menyuarakan suara hatinya yang luar biasa sukit pada sang suami hingga membuat fokus Sean teralih.
Sean memanfaatkan kesempatan itu. Lantas, ia berdiri, badan tegaknya menghadap sepenuhnya pada Kanaya.
Wajahnya teramat datar dan matanya menyorot dengan begitu tajamnya. Ia mendengkus samar, tersenyum miring. Lantas, dengan suara beratnya lelaki itu bersuara. Suaranya sudah seperti penjahat berdarah dingin yang tak memiliki belas kasih.
"Kamu sendiri juga tega pada saya, Kanaya. Ya, kalau kamu lupa itu," ujarnya dengan sudut bibir terangkat sebelah. "Jadi, apa saya harus tidak tega sama kamu setelah semua yang kamu perbuat? Tidak, jangan salah sangka. Saya bisa lebih kejam dari itu. Saya pastikan itu."
Ia melangkahkan kakinya. Mendekati Kanaya. "Saya sudah bilang kan sama kamu, kalau saya mau buat kamu hancur? Jangan lupakan itu, Kanaya."
Setelah mengatakan hal itu, Sean berlalu dari sana dan menuju kamarnya sendiri. Sebelum menutup pintu, ia melihat Kanaya yang luruh ke lantai juga Bi Minah yang menghampiri wanita itu dengan cepat.
Baru setelah pintu benar-benar tertutup, Sean melangkahkan kakinya menuju ranjang. Seharusnya ia puas melihat Kanaya yang tampak kesakitan seperti itu, tetapi bukannya merasa demikian, Sean malah merasa ada yang salah. Seperti ada yang mengganjal di hatinya, dan ia tidak tahu apa.
"Argh!" Lelaki itu mengacak-acak rambutnya yang semula tertata rapi.
Mendadak ada perasaan tak mengenakan yang mendera hatinya. Perasaan yang tidak ia tahu apa sebabnya.
Tbc