"Non Kanaya nggak papa?" tanya Bi Minah yanh sedang membereskan ruang keluarga begitu melihat Kanaya keluar dari kamarnya dengan pakainya yang sudah rapi dan wangi. Wanita yang tengah berbadan dua itu jelas hendak pergi ke rumah sakit, kebetulan dia ada shift pagi hari ini.
Mengulas senyum, Kanaya menggeleng samar. Lantas, ia menghela kaki mendekati wanita setengah baya itu. Wajahnya yang dilapisi make-up sama sekali tak menutupi raut sedih yang terpatri di sana sejak tadi malam.
Jelas saja, bagaimana wanita itu tidak sedih melihat suami yang teramat ia cintai membawa wanita lain ke rumah? Apalagi si wanita mencium sang suami tepat di depan matanya.
Kata sakit saja tak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan Kanaya yang sebenarnya. Ia sudah hancur lebur, hanya ada serpihan yang berceceran tak tahu tempat.
"Non? Non serius nggak apa-apa? Bibi khawatir kalau Non sakit," tanya Bi Minah lagi yang kurang yakin dengan jawaban Kanaya saat wanita itu sudah berada di hadapannya.
Beliau melihat sendiri betapa hancurnya wanita itu kemarin yang sampai meraung-raung dengan derai air mata yang membanjiri pipi. Bi Minah sendiri tidak tahu mengapa suami majikannya bisa sejahat itu. Bi Minah pikir, hubungan mereka baik-baik saja seperti pasangan pada umumnya.
"Bi, Kanaya nggak papa kok. Kanaya udah baik-baik aja," jawab wanita itu sambil memaksakan seulas senyum pada Bi Minah.
Bi Minah menekuk wajahnya. "Jangan bohong atuh, Non. Bibi tahu Non Kanaya lagi nggak baik-baik aja. Wajah Non masih kelihatan sedih lho."
Lagi, Kanaya menyunggingkan senyumnya. "Kanaya nggak papa, Bi. Bibi nggak perlu khawatir, ya?"
"Tapi, Non--"
"Udah, ya, Bi. Kanaya mau sarapan dulu sebelum berangkat. Hari ini Kanaya ada shift pagi," potong wanita itu, membuat Bi Minah menghela napas panjang. Non Kanayanya tidak baik-baik saja, ia tahu itu.
Meninggalkan Bi Minah, Kanaya lantas berjalan menuju ke meja makan. Di sana sudah terhidang nasi goreng berikut telur mata sapi dan segelas s**u buatan asisten rumah tangganya.
Jujur saja, Kanaya cukup lapar. Kemarin karena sibuk meratapi kesedihannya akibat ulah Sean, Kanaya jadi melupakan makan malamnya. Sehingga, melihat makanan buata Bi Minah yang selalu enak itu, cacing-cacing di perutnya sontak bersorak lapar.
Dia bukan tipe wanita yang akan mogok makan ketika ada masalah. Daripada seperti itu, Kanaya malah lebih melampiaskan segala sesaknya ke makanan. Maka, setelah ia duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan itu, Kanaya segera meraih piring dan mengambil beberapa centong makanan khas Indonesia itu, nasi goreng ala Bi Minah.
Bi Minah yang sejak tadi tak mengalihkan tatapannya dari snag majikan menghela napas lega melihat Non Kanayanya yang memang terlihar baik-baik saja. Syukurlah, batin wanita itu sebelum melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya.
"Bi, Dokter Sean udah berangkat duluan, ya?" tanya Kanaya di sela-sela kunyahannya.
Bi Minah menghentikan gerakannya, memutar tubuh untuk melihat wajah nonanya. "Belum, Non. Bibi belum lihat sama sekali Den Sean keluar kamar," jawab wanita itu.
"Kok tumben? Aku jadi khawatir, Bi."
"Ya Allah, bisa-bisanya Non Kanaya masih baikin laki-laki yang udah nyakitin hati Non," komentar Bi Minah sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali, tidak mengerti dengan cara pikir majikannya itu.
Menurut Bi Minah, suami nonanya itu sudah cukup keterlaluan. Dan seharusnya Kanaya tidak sebaik itu.
"Dokter Sean kan suami Kanaya, Bi. Wajar kan kalau Kanaya nanya tentang dia. Kalau emang belum berangkat, Kanaya mau barengan aja ke rumah sakit," jelas wanita itu.
"Tapi kan Den Sean udah bikin Non Kanaya nangis kemarin? Bibi lihat sendiri, Non udah disakitin sama Den Sean," balas Bi Minah lagi.
Sejujurnya, Bi Minah cukup bertanya-tanya, Non Kanaya dan suaminya terhitung pengantin baru, tapi kenapa terlihat tidak seharmonis itu? Seharusnya kan, di awal-awal pernikahan, mereka masih mesra-mesranya. Bukan seperti yang ia lihat sekarang. Namun, Bi Minah sendiri tidak kuasa untuk bertanya. Ia takut kalau pertanyaannya salah dan malah semakin melukai hati Non Kanayanya.
"Mau bagaimana lagi, Bi?" Kanaya bersuara kemudian.
Wanita itu lantas menyunggingkan senyum kecut. Sebesar apa pun Sean melukai hatinya, tetap saja perasaan Kanaya akan utuh untuk lelaki itu. Kanaya tidak bisa untuk tidak acuh pada Sean. Anggap saja ia bodoh, terlalu dibutakan oleh cinta. Seharusnya, ia membenci Sean kan, sama seperti lelaki itu membencinya? Tapi, kembali lagi, Kanaya tidak bisa dan mungkin tidak akan pernah bisa. Rasa yang ia miliki mengalahkan apa pun. Bahkan, sampai membuatnya melakukan hal yang seharusnya tak ia lakukan.
"Tuh, kan. Non diem aja sampai nasi gorengnya nggak dimakan."
"Kanaya baik-baik aja kok, Bi," kata Kanaya lagi yang jelas hanya alibi. "Udah, Bibi lanjutin kerjaan Bibi aja, ya? Kanaya lanjutin sarapan Kanaya."
Bi Minah menghela napas mendengar hal itu. Namun, ia tetap tak banyak berkomentar dan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Non Kanayanya.
Sementara itu, Kanaya melanjutkan makannya. Mulutnya sibuk mengunyah, tetapi pikirannya malah berkelana entah ke mana. Ia jadi membayangkan, akan seperti apa pernikahannya dengan Sean. Akankah bertahan sampai keduanya menua atau malah berhenti di tengah jalan? Jujur, membayangkan hal itu terjadi adalah mimpi buruk untuk Kanaya.
Seperti harapan tiap pasangan yang menikah, ia ingin langgeng dengan Sean, ia ingin hidup dengan lelaki itu sampai hela napas terakhirnya. Mungkin di hari tua mereka, mereka akan membeli rumah di pinggiran kota, membuat ayunan depan rumah yang menghadap matahari terbenam. Saling menggenggam di bawah langit jingga. Hal yang benar-benar Kanaya harapkan. Dan kelak, semoga hal itu menjadi kenyataan.
Terlalu sibuk dengan lamunannya, Kanaya sampai tak sadar makanan yang berada di piringnya sudah habis. Wanita itu lantas meletakkan sendoknya dan segera meminum s**u hamil yang sudah mulai dingin itu.
Selesai dengan itu, ia segera bangkit. Jam setengah delapan nanti ia sudah harus sampai di rumah sakit. Dan sekarang, masih jam tujuh kurang sedikit.
Mengingat perkataan Bi Minah tentang Sean yang belum keluar dari kamarnya, Kanaya menyempatkan untuk mengetuk kamar suaminya itu. Miris memang, mereka sudah menikah tetapi tidak bisa tidur dalam ranjang yang sama. Semua karena Sean yang menolak, dan Kanaya tidak bisa melakukan apa pun.
"Dok? Dokter Sean? Dokter masih ada di dalam?" tanyanya setengah menyeru sembari mengetuk pintu cokelat itu.
"Dok?"
Namun, belum ada sahutan dari dalam. Malah suara muntahan yang ia dengar.
"Dokter Sean, Dokter Sean nggak papa, kan?!"
Jelas saja, suara Kanaya berubah panik. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada Sean.
Tanpa menunggu waktu lama, Kanaya membuka pintu kamar lelaki itu yang untungnya tidak dikunci. Matanya membulat sempurna begitu melihat Sean yang tampak mengenaskan.
"Ya Allah, Dokter Sean!"
Dan ia segera berlari menghampiri laki-laki itu.
***
Pagi ini Sean terbangun dengan perut yang mual dan kepala yang luar biasa pening. Sean tak sanggup beranjak dari sana, untuk sekadar mencuci muka atau untuk gosok gigi. Pandangannya berkunang-kunang, dan semua hal yang ia lihat berubah menjadi ganda.
"Hoek ... hoek ... hoek ...." Tak sempat berlari ke kamar mandi, ia malah memuntahkan muatan di perutnya ke lantai yang berada di dekat ranjangnya. Demi apa pun, perutnya seperti tengah diaduk, dan ia tidak bisa untuk tidak muntah detik itu juga.
Ah, jam sudah menunjuk pukul tujuh. Seharusnya Sean sudah selesai bersiap-siap dan sekarang sedang memanaskan mobil untuk ia bawa ke rumah sakit. Tapi apa daya? Melangkah saja rasanya ia tak sanggup, tubuhnya benar-benar melemas.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamarnya terdengar diketuk dari luar. Entah Kanaya atau Bi Minah, Sean tidak tahu.
"Dok? Dokter Sean? Dokter masih di dalam?"
Suara Kanaya rupanya. Sean ingin membalas, tapi ia benar-benar lemas dan tak sanggup berbicara. Entah lapar karena kemarin ia belum sempat makan malam atau karena ia yang baru muntah dan kepalanya yang berdenyut sakit.
"Dok?"
Sean tidak menjawab, lelaki itu malah muntah kembali.
"Dokter Sean, Dokter nggak papa, kan?!"
Kanaya yang berada di luar pun mendengar jelas suara muntahan suaminya itu. Tak lama setelahnya, pintu pun terbuka.
Sean tidak melihat ke arah Kanaya sebab pandangannya yang sudah memburam dan sebentar lagi hampir hilang kesadaran.
Di lain sisi, Kanaya yang luar biasa panik langsung menghampiri suaminya. Mengabaikan muntahan yang tampak menjijikan di dekat lelaki itu.
Sean tidak tahu pasti apa yang Kanaya lakukan, sebab setelah itu pandangannya benar-benar menggelap. Dan ia sudah tidak tahu apa-apa lagi.
Tbc