11. Mulai Menjauh

1830 Words
"Dari mana saja kamu, Kanaya? Kenapa baru pulang sekarang?" Suara berat itu menginterupsi langkah Kanaya yang hendak menaiki anak tangga menuju lantai atas. Kanaya lantas menghentikan langkahnya, memutar tubuh dan melihat sosok pemilik suara tadi yang tengah duduk di sofa sembari membaca koran itu. Kanaya tak menjawab pertanyaan itu. Ia malah mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Bukan karena takut, melainkan jengah dengan orang yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya itu, Ferdinand Brata Sadega. Sejenak Kanaya berpikir, jika sang ayah ingin memarahinya, kenapa tak langsung saja, tanpa perlu menanyakan dari mana saja ia? Seolah-olah ia tengah mengkhawatirkan dirinya, padahal sebenarnya tidak. Kanaya cukup mengerti, eksistensinya di dunia ini sering dianggap kasat mata oleh ayah dan ibunya. Ada atau tidak, ia mungkin tidak akan berarti bagi mereka. Kanaya memang dengan mudah menyimpulkan sesuatu dari sudut pandangnya saja, tanpa melihat dari sisi orang lain. Coba saja ia berada di posisi sang ayah, pasti ia akan sangat marah jika melihat anak gadisnya keluyuran selama seharian penuh dan baru pulang keesokan harinya. Jelas itu adalah bukti kekhawatirkan orang tua. Mereka takut jika anaknya salah pergaulan, mereka takut jika anaknya melakukan hal yang tidak-tidak, mereka takut kalau-kalau anaknya itu melanggar norma agama. Dan begitulah Ferdinand, ia memang keras, tapi ia juga cukup perhatian pada anak-anaknya. "Kalau ditanya itu dijawab, Kanaya. Apa kamu tidak punya mulut?" suara itu kembali memasuki gendang telinga Kanaya, membuat lamunan perempuan itu buyar begitu saja. Ditarik napasnya pelan, kemudian diembuskannya dalam sekali sentakan. Pada akhirnya Kanaya memilih untuk mengeluarkan suaranya. "Maaf, tadi malam Kanaya nginep di rumah temen, Pa," bohongnya. Kanaya tak mungkin mengakui apa yang telah ia lakukan sebelumnya pada sang ayah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan lelaki setengah baya itu lakukan padanya. Ferdinand kemudian tampak mengangguk. "Ya sudah, lain kali kamu kabari dulu orang rumah. Yang kami takutkan itu kalau kamu berbuat yang tidak-tidak di luar sana, yang pada akhirnya akan mencoreng nama baik keluarga kita," tutur Ferdinand dengan lagak sok tenang dan kembali melanjutkan membaca koran. Ah, ayahnya itu. Selain keras, ternyata Ferdinand cukup gengsi juga mengungkapkan rasa khawatir yang ia rasakan, sehingga memanifestasikannya dengan hal lain, menggunakan nama baik keluarga contohnya. Jelas saja hal itu membuat Kanaya salah paham. Desahan napas berat bahkan keluar dari mulutnya. Rupanya ia cukup frustrasi dengan anggapannya sendiri. Kemudian dengan lesu, gadis itu memutar tubuhnya. Kembali mengayunkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Kepala Kanaya mendadak pusing. Kanaya membuka pintu kamarnya. Dilemparnya tas selempang yang ia bawa ke sembarang arah. Kemudian, dihempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi telentang. Matanya nyalang menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi ornamen-ornamen seperti gantungan dari kristal dengan beberapa lampu kecil di tengahnya. Jika lampu utama dimatikan, maka lampu-lampu kecil itu akan memantul pada gantungan kristal dan menghasilkan bias cahaya yang akan menyebar memenuhi ruangannya itu. Kanaya memejamkan matanya, mencoba menghapus rasa pusing di kepalanya itu. Entahlah, hari ini perasaannya cukup campur-aduk, hingga membuatnya pusing seperti itu. Mungkin pagi tadi ia masih merasa senang, ia bahagia karena rencananya telah berhasil. Tapi sekarang, tiba-tiba perasaannya berubah kesal. Ia kesal pada ayahnya, dan dia pun kesal pada dirinya sendiri yang sampai sekarang belum bisa memenuhi ekspektasi kedua orang tuanya. "Argghh!" Kanaya menjerit frustrasi tatkala rasa sakit di kepalanya semakin bertambah dan tak kunjung mereda. Dilemparnya seluruh barang yang berada di atas ranjangnya ke sembarang arah guna melampiaskan kekesalannya itu. Tiba-tiba saja, air matanya menetes tanpa ia minta. Meluruh begitu saja melewati pelipis. Dadanya bergemuruh. Sesak dan sakit, itulah yang kini ia rasakan. Ia merasa tidak diterima dengan baik oleh orang tuanya. Kanaya menutup wajah dengan kedua tangan. "Kenapa nasibku kayak gini, sih? Aku salah apa?" isaknya terdengar pilu. *** Aula besar itu kini dipenuhi dengan barisan kursi yang berderet rapi. Kursi itu nantinya akan ditempati oleh beberapa mahasiswa kedokteran yang wajib mengikuti acara yang sebentar lagi akan dimulai itu. Sementara di depan aula sendiri, sudah ada beberapa kursi dan meja yang nantinya akan ditempati oleh beberapa dokter, baik spesialis, residen, maupun dokter umum dari rumah sakit-rumah sakit yang berada di kota itu untuk melakukan seminar tentang dunia medis. Kanaya menghela napasnya sebelum memasuki ruang aula itu. Jujur saja, ia paling malas jika ada acara seperti ini. Harus duduk selama berjam-jam, mendengarkan celotehan para dokter yang agaknya akan sangat membosankan. Ah, malas, sifat itu selalu dimiliki setiap orang. Tak terkecuali untuk siapapun. Contohnya untuk si Kutu Buku yang terkenal dengan sifat rajin serta pintarnya---padahal belum tentu juga si Kutu Buku memiliki sifat seperti itu. Mereka akan lebih memilih duduk menghadap buku ataupun sederetan rumus daripada hal-hal yang lain, seperti berolahraga atau sekadar berjalan-jalan. Pun dengan orang-orang yang, ya katakanlah kurang rajin. Mereka sangat malas membaca buku atau hanya sekadar membukanya. Mereka akan gampang jenuh dan pada akhirnya memilih meninggalkannya dan mencari hiburan lain yang mereka suka. Ya, seperti itulah manusia. Tak terkecuali untuk soal hubungan. Biasanya, kebanyakan orang yang mulai bosan dengan pasangannya juga akan memilih meninggalkan dan mencari pasangan yang baru. Terkesan b*jingan memang, tapi kembali ke awal. Begitulah sifat manusia. Mungkin karena sifat itu jugalah, dua tahun belakangan Kanaya harus mengulang beberapa mata kuliah. Untung saja kali ini dia bisa lulus dan bisa menjadi salah satu dari sekian mahasiswa yang menjadi calon koas. Perlahan, dilangkahkan kakinya menelusuri setiap deret kursi-kursi itu. Memilih kursi mana yang cocok dan strategis untuknya, supaya nanti dia bisa tidur atau sekadar mendinginkan kepala yang beberapa hari ini berdenyut sakit. Mungkin, metabolisme tubuhnya sedang melemah sekarang. Tak berselang lama, para mahasiswa pun mulai berdatangan. Dari yang mahasiswa baru sampai mahasiswa di akhir semester seperti dirinya. Dan dalam sekejap, semua kursi telah terisi oleh mereka. Kanaya mulai menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi. Memangku kedua tangannya di depan d**a, kemudian mulai memejamkan mata. Demi apa pun, niatnya ikut seminar itu hanya untuk mendapat sertifikat saja. *** Beberapa dokter mulai memasuki aula. Semua mahasiswa kedokteran berdiri---kecuali Kanaya tentunya yang mungkin sudah memasuki alam bawah sadarnya---dan menyambut dengan hormat para dokter itu. Tanpa menunggu waktu lebih lama, acara itu pun segera dimulai. Beberapa siswa mengajukan beberapa pertanyaan yang langsung dijawab oleh para tenaga medis, termasuk Sean yang juga menghadiri acara seminar itu. "Sebelum acaranya ditutup, apa masih ada yang ingin bertanya lagi?" tanya moderator acara itu, memberi kesempatan pada para mahasiswa dan mahasiswi itu untuk bertanya. Seorang gadis tampak berdiri, kemudian mengacungkan tangannya ke atas. "Nama saya Andrea Pramudiana, mahasiswa kedokteran semester empat. Saya izin bertanya pada Dokter Sean," ujarnya dengan sopan. Dokter itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Sean itu pun mulai bersuara, menyambut pertanyaan dari gadis itu. "Ya, silakan. Sebutkan pertanyaan kamu," ujar moderator itu dengan ramah, mempersilakan gadis tadi. "Sebelumnya Dokter Sean, saya izin bertanya. Begini Dok, Dokter kan masih muda. Kalau tidak salah Dokter lulus PPDS-nya saat umur Dokter hampir menginjak tiga puluh tahun, ya? Kalau boleh tahu apa rahasianya, ya Dok? Apa karena Dokter yang terlalu pintar dan ambis atau karena hal lain, misalnya motivasi seperti itu? Siapa tahu cerita Dokter bisa menginspirasi kami semua. Terima kasih, Dok," tanyanya panjang lebar, sebelum menundukkan kepala dengan hormat dan duduk kembali ke kursinya. "Saya suka pertanyaan kamu meski sedikit nyeleweng dari pembahasan awal," ujarnya sambil menyunggingkan senyum tipisnya. "Jujur, saya memang sangat ambis sewaktu kuliah. Saya ingin cepat-cepat lulus, biar saya bisa jadi dokter dan menyembuhkan banyak orang. Saya mau hidup saya berguna untuk orang lain. Saya ingin melihat orang lain tidak kesakitan lagi dan lebih bisa menikmati hidup," jawab Sean. "Sejujurnya pintar saja tidak cukup, lama-kelamaan kalau tidak diasah juga akan tumpul, kan? Gini ya, perlu digarisbawahi, kepintaran seseorang itu tidak akan menentukan apakah nantinya dia akan sukses atau tidak di masa depan. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, pintar saja tidak akan berguna, kalau tidak ada usaha dan kemauan. Kemauan untuk maju dan sukses." "Kesuksesan saya ini bukan hanya dari kepintaran saya. Tapi karena kemauan dan usaha saya untuk maju, juga motivasi dari lingkungan sekitar yang mendorong saya menjadi seperti sekarang." "Saya tidak akan mungkin bisa jadi seperti ini tanpa ketiga hal itu. Kalau saya tidak ada kemauan, ya saya akan tetap stuck di tempat. Tapi, kalau saya juga cuma punya kemauan tanpa usaha, nggak ada kata berhasil yang saya dapat sekarang. Saya nggak akan bisa wujudin kemauan saya, impian saya, juga hal yang paling saya inginkan." "Intinya, untuk kalian semua, berusahalah, jangan mengandalkan kepintaran kalian. Lagi pula juga, kepintaran itu nggak ada yang instan, kan? Pasti ada prosesnya. Dan prosesnya adalah belajar, tentu harus ada keuletan dan ketekunannya juga di sana. Kalau tidak ada itu, sama saja bohong. Seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri." Jawaban yang Sean berikan cukup memuaskan bagi sebagian mahasiswa di ruang aula itu, sementara yang lainnya tampak tak peduli sama sekali. Mereka malah ada yang tertidur dan ada juga yang sibuk dengan ponselnya. "Itu jawaban saya. Apa sudah puas? Atau ingin bertanya lagi?" tanya Sean. "Sudah cukup, Dok. Terima kasih banyak," ujar gadis itu. Seminar itu pun diambil alih oleh sang moderator. "Apa masih ada yang ingin bertanya lagi?" tanyanya. "Oke, sepertinya sudah cukup ya," kata lelaki itu saat tidak ada mahasiswa yang menunjukkan gerak-gerik ingin bertanyanya. Ia kemudian memberikan closing statement di seminar itu, menyimpulkan beberapa hal yang sudah diterangkan pemateri sebelumnya, sebelum memberi salam penutup. Setelah selesainya acara, satu per satu mahasiswa mulai meninggalkan aula. "Dokter Sean, saya permisi duluan. Tadi ada panggilan darurat dari rumah sakit tempat saya kerja," ujar salah seorang dokter padanya yang juga merupakan pemateri di seminar itu. Senyum tipis Sean tersungging. "Silakan Dok, saya masih ingin mengemasi barang-barang saya lebih dulu." Sean menunjuk pada beberapa lembaran kertas yang berada di atas meja panjang di hadapannya. "Ya sudah, kalau begitu saya juga duluan ya Dok," ujar dokter lain yang juga berpamitan dengan Sean meski usia mereka jauh lebih tua dari lelaki itu. Rupanya pria muda itu cukup disegani juga sebagai dokter. Sean kembali mengangguk sebelum melanjutkan kegiatannya mengemasi beberapa berkas miliknya kemudian menyimpannya ke dalam tas jinjing berwarna hitam yang lelaki itu bawa. Sesaat sebelum Sean melangkah keluar dari aula itu, matanya menangkap sesosok gadis yang beberapa hari ini sudah tak mengganggunya lagi. Kanaya sedang menguap lebar dengan kedua tangan yang terentang ke samping. Dengkusan kecil terdengar dari mulut Sean. Pria itu bisa menebak jika sepanjang acara tadi, yang Kanaya lakukan adalah memejamkan matanya, atau lebih tepatnya dia tertidur. Sean langsung memalingkan wajahn saat Kanaya mulai melihatnya. Pria itu sudah mengambil ancang-ancang hendak meninggalkan aula itu, namun Kanaya malah mendahului dirinya keluar dari sana. Kening Sean berkerut dalam. Sikap Kanaya berubah, tak seperti biasanya yang selalu merecoki hidupnya hingga membuatnya pusing tujuh keliling. "Oh, dia nepatin janjinya," gumam Sean seraya mengangkat kedua bahunya tampak tak acuh dengan sikap Kanaya tadi, meski sisi lain dari hatinya merasa ada yang kosong. Apa Sean mulai merasa kehilangan? Enggak! Mana mungkin! Batinnya beseru kencang. Tapi .... Sean sedikit termenung. Hatinya berkata lain. Biasanya Kanaya akan menyapanya, berceloteh tentang hal-hal yang tidak penting hingga membuat telinga Sean berdengung. Sean merindukan hal itu, tapi benaknya malah berusaha mengelak. Kemudian, embusan napas kasar terdengar cukup keras dari mulutnya. Ya, barangkali ia memang merasa kehilangan. Namun, mau bagaimana lagi? Bukankah itu keinginannya, Kanaya menjauh darinya? Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD