12. Obsesi?

1894 Words
Kanaya menyambut kedatangan sang sahabat dengan senyum lebar serta tatapan penuh rindu. Memang, selama beberapa minggu belakangan ini, Garril menghadiri seminar juga sosialisasi kesehatan di beberapa kota di Indonesia. Tidak sendiri, ada beberapa dokter yang ikut bersamanya. Tentu untuk mengedukasi masyarakat tentang kesehatan tubuh dan alat-alat paling vital seperti jantung, paru-paru, dan ginjal. Terutama untuk masyarakat kalangan bawah yang masih cukup asing dengan hal itu. Tak hanya seminar dan sosialisasi kesehatan, Garril bersama rekan seprofesinya pun juga mengadakan program pemeriksaan kesehatan secara gratis. Program itu sendiri sejujurnya adalah program yang Sadega Hospital Center adakan setiap enam bulan sekali. Ada beberapa kota yang mereka kunjungi. Mereka akan menetap selama tiga atau empat hari di kota tertentu, lalu pindah ke kota yang lain. Setiap dokter akan mendapat gilirannya dan kebetulan, jatah Garril adalah bulan ini sehingga ia harus meninggalkan tugasnya di rumah sakit. Komunikasi di antara Garril dan Kanaya pun juga sangat kurang. Garril yang masuk ke pelosok daerah tentu sedikit kesulitan mendapat signal. Sementara Kanaya sendiri juga tengah disibukkan dengan urusannya sendiri, entah itu tentang persiapan koasnya atau melakukan rencana-rencana gilanya. "Gimana, Dok, di sana? Seru nggak?" tanya Kanaya saat keduanya keluar dari pintu bandara, berjalan ke mobil Kanaya. Sebelum kepulangannya kemarin, lelaki itu sempat menghubungi Kanaya dan memintanya untuk menjemput. Kanaya yang sedang luang pun tentu mau-mau saja. Toh, hanya menjemput. Garril mengangguk semangat. "Seru, Nay. Seru banget, asli. Ya, walaupun lumayan susah signal, tapi saya cukup betah ada di sana. Udaranya itu lho, seger banget. Jauh beda kalau dibandingin di sini. Tapi yang bikin sedih itu, kalau udah pindah ke kota lain sih. Walaupun kota lain nggak beda jauh sebenernya. Cuman, kitanya itu lho, udah mulai nyaman tapi harus pergi," cerita Garril panjang lebar. "Ya kan itu udah jadi tugas, Dokter," sahut Kanaya. "Eh tapi, nggak ada oleh-oleh gitu buat aku dari kota-kota yang Dokter kunjungin? Biasanya kan ada makanan atau barang khas daerah gitu," tanya gadis itu kemudian. "Ada, tapi saya nggak sempet hunting gituan." "Yaaah," desah Kanaya dengan muka masam. Tertawa kecil, Garril kemudian mengangkat sebelah tangannya yang tampak membawa sesuatu. "Tapi saya punya sesuatu buat kamu," ujarnya. Garril memperlihatkan sebuah paper bag di tangannya pada Kanaya. Kanaya tersenyum lebar. Ia segera merebut paper bag itu dari tangan Garril. Kedua manik matanya berbinar senang begitu benda itu sudah berpindah ke tangannya. Lalu, dengan tak sabaran ia mulai membukanya. "Isinya apa, Dok?" tanya Kanaya seraya merogohkan tangannya, mencari tahu sendiri apa gerangan benda yang dibawakan untuknya. Kening Kanaya mengerut dalam ketika mendapati sebuah kotak beludru berukuran kecil. Lalu jari lentik Kanaya mulai membuka kotak itu. "Cincin? Dokter Garril beliin aku cincin?" "Iya, cincin. Kemarin pas mau pulang, saya nyempetin buat jalan-jalan bentar di hotel tempat saya nginap, terus ketemu sama yang jualan cincin," jawab Garril terdengar antusias menceritakan bagaimana ia membeli cincin dari perak dengan ukiran-ukiran unik di permukaannya, juga mutiara kecil sebagai penghias. Bukan cincin yang mahal sebenarnya. Namun, mampu membuat Garril terpukau saat pertama kali melihat. Ia harap, Kanaya juga akan menyukai barang pemberiannya itu sebab selain ingin memberikan oleh-oleh pada sang sahabat, Garril juga punya motif lain memberikan barang itu pada Kanaya. "Cantik, unik, aku suka. Tapi aku pikir ini nggak pantes deh buat aku," ujar Kanaya tanpa mengalihkan tatapannya dari cincin itu. "Harusnya kan, Dokter kasih ini ke pacar Dokter, orang spesial, atau orang yang Dokter taksir," lanjutnya kemudian sembari menyerahkan kembali apa yang Garril berikan untuknya. "Nggak, nggak. Ini buat kamu. Saya beliin khusus buat kamu. Jadi tolong, terima pemberian saya," ujar Garril. Keduanya sempat berhenti di pelataran bandara dan saling mendebat. "Tapi-" "Udahlah, Nay. Nggak ada tapi-tapian, lagi pula saya juga sayang sama kamu," dan cinta juga, lanjut Garril dalam hati, karena tidak mungkin juga ia mengatakannya pada Kanaya. Garril tidak mau jika perempuan itu menjauhinya, karena tahu bagaimana perasaannya selama ini yang mungkin akan membuat persahabatan yang mereka bangun selama lebih dari lima tahun itu akan merenggang begitu saja. "Kalau gitu, ini aku terima deh." Kanaya pada akhirnya menerima oleh-oleh itu. "Abis ini kita ke kafe atau restoran dulu ya, aku lapar nih Dok. Tapi Dokter tenang aja, nggak perlu khawatir, kali ini aku yang bakal traktir," katanya kemudian, seraya meraih salah satu tangan Garril yang bebas tak memegang apa pun dan mengajaknya berjalan cepat menuju tempat mobilnya terparkir. Garril hanya menurut. Bibirnya melengkung ke atas melihat tingkah Kanaya yang terlihat ceria itu, meski dalam hati perempuan itu menyimpan sebuah kesedihan yang tentunya hanya dirinya dan Tuhan yang tahu, karena Kanaya memang selalu bercerita apa pun padanya. Mungkin perempuan itu tampak seperti wanita yang kuat dan tangguh, namun jauh dari itu, dia hanyalah seorang wanita yang rapuh, yang menyimpan luka cukup dalam hatinya. *** "Apa kamu sudah gila, Nay?!" pekik Garril kencang begitu Kanaya selesai bercerita tentang rencananya menjebak Sean, membuat beberapa pengunjung kafe yang berada di sekitar mereka menolehkan kepalanya masing-masing. Namun Garril tak menghiraukan hal itu. Fokusnya hanya tertuju pada Kanaya yang seolah tak mempedulikannya. Malahan dengan santai, perempuan itu menikmati makanan yang tadi ia pesan. "Kanaya, dengarkan saya, apa yang kamu lakukan itu ilegal, Nay. Ngelakuin inseminasi tanpa seorang suami, dan yang lebih nggak habis pikir, kamu ngambil sp*rma pria itu tanpa seizinnya. Saya nggak mau tahu, Kanaya. Kamu harus ngurungin niat kamu itu," geram Garril dengan emosi tertahan. Kanaya mengangkat kepalanya, dan menatap Garril dengan tatapan tak bersahabat. "Tapi aku udah telanjur ngelakuin hal itu, Dokter Garril!" Sementara itu, Garril yang mendengarnya langsung tambah geram. "Astaga Kanaya, kenapa kamu bodoh banget? Kamu nggak pernah gunain otak kamu. Kamu selalu ceroboh, bertindak sesuka hati kamu tanpa mikirin dampak yang kamu dapat." Garril mengatur napasnya yang seakan berkejaran karena emosinya yang meluap itu. "Terlalu banyak kemungkinan buruk yang bakal kamu dapat, Kanaya. Sekarang, cepat bilang sama saya, siapa dokter yang bantu kamu ngekakuin hal gila itu?" Garril mulai mendesak Kanaya. Kanaya meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar. "Siapa dokter yang bantu aku itu bukan urusan Dokter Garril! Dan, ah iya aku emang bodoh, ceroboh, dan nggak tahu diri karena bertindak sesuka hatiku. Papaku selalu bilang kayak gitu sama aku." d**a Kanaya terlihat naik-turun. "Dan aku tegasin sama Dokter, Dokter Garril Pramono, aku nggak peduli sama konsekuensi yang bakal aku dapet, sekali pun kalau hal itu ngehancurin aku. Aku ngelakuin semua ini karena aku pengen, aku pengen Dokter Sean jadi milikku. Dokter nggak tahu gimana rasanya cinta sama seseorang, tapi seseorang itu malah nolak Dokter mentah-mentah!" Kanaya mengucapkannya dengan penuh penekanan di kalimat terakhirnya itu. Garril mengembuskan napasnya kasar, wajahnya pun tampak sama frustrasinya dengan Kanaya. Kanaya bahkan tidak tahu jika selama ini ia juga merasakan apa yang gadis itu rasakan, ditolak mentah-mentah bahkan sebelum ia mengungkapkan bagaimana perasaannya. Garril sangat paham akan hal itu. Ia menghela napasnya untuk sekali lagi. "Bukan gitu maksud saya, Kanaya. Saya cuma pengen buat kamu sadar dan ngerti tentang apa yang kamu lakukan itu salah. Apa yang kamu rasakan bukan seperti cinta, tapi sebuah obsesi yang mampu membuat kamu buta," balas Garril mencoba tenang. "Ini bukan cuma obsesi, Dokter Garril. Aku benar-benar cinta sama Dokter Sean." Kanaya masih bersikeras dengan pemikirannya. Sebenarnya, ia sendiri juga tidak tahu apakah ia benar-benar mencintai Sean atau tidak. Tapi keinginannya untuk memiliki pria itu sangatlah kuat. Dan ia menganggap hal itu sebagai cinta. Garril memejamkan matanya dan mulai mengatur napas kembali, mencoba untuk merendam rasa marah sekaligus rasa asing yang mendera hatinya. Rasa itu, entahlah ia tak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Yang jelas hatinya berdenyut sakit saat membayangkan rencana Kanaya yang akan terealisasi sebentar lagi itu. Cemburu? Ia tak tahu. Jika benar, pantaskah ia memiliki rasa itu sementara hubungan di antara mereka hanya sebatas sahabat? "Cinta, apa kamu tahu makna dari kata itu? Kalau kamu tahu, artinya kamu memang benar-benar cinta sama dia, Kanaya," sahut Garril kemudian. Ia memandang lekat wajah Kanaya, menunggu respons dari perempuan itu tentunya. Kanaya menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Garril. Ia juga bingung harus mendeskripsikan cintanya itu seperti apa. "Kenapa kamu diam aja, Kanaya? Apa kamu bingung?" tanya pria itu lagi. Tak ada tuntutan dalam suaranya, namun matanya menyiratkan keingintahuan yang dalam. "Aku nggak bingung, cuma---" Kanaya diam sejenak, menjeda ucapannya. Jujur saja, ia memang bingung dengan perasaannya. "Cuma apa, Kanaya? Kamu nggak bisa kan, ngelanjutin ucapan kamu?" Sekarang intonasi yang Garril gunakan terdengar menuntut. "Ya cuma aku nggak mau nunjukin rasa cintaku buat Dokter Sean sama Dokter. Rasa cintaku ini nggak dapat dideskripsiin, Dokter Garril." Kanaya masih bersikukuh mengelak. "Terserah kamu ajalah," desis Garril. Pria itu berdiri, merogoh sesuatu yang ternyata adalah dompet itu dari dalam saku celananya. Diambilnya selembar uang seratus ribuan, lalu ditaruhnya di atas meja. Meski tadi Kanaya bilang ingin menraktirnya, tapi ia tak mau. Saat ini hubungannya kurang baik dengan perempuan itu. "Saya pergi," ujarnya kemudian dengan intonasi suara yang terdengar dingin dan kaku. Jujur saja, Garril sudah sangat gemas dengan perilaku Kanaya yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan, meski umur perempuan itu sudah menginjak seperempat abad. "Hm." Kanaya membalas tak acuh tanpa melihat ke arah Garril. Garril mengembuskan napas lelahnya sekali lagi sembari menatap wajah sahabatnya itu dengan nanar. Padahal baru sebentar mereka bersama, tapi sekarang sudah berpisah lagi. "Saya pergi dulu." Garril mengulangi kalimatnya, berharap Kanaya akan mencegah. Namun, harapan tetaplah harapan. Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat ke arahnya. Ia kembali menghembuskan napasnya, sebelum benar-benar meninggalkan Kanaya sendirian di situ. Selepas kepergian Garril, Kanaya mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia sadar, ia telah salah. Ia sadar apa yang ia perbuat itu akan merugikan dirinya. Ia sadar telah membuat sahabatnya itu kecewa. "Maafin aku, Dokter Garril. Tapi, ini jalan yang aku ambil. Dokter Garril bisa nyebut aku bodoh, karena nyatanya aku emang bodoh. Bodoh banget malah, sampai aku nggak bisa berbuat yang lebih baik," gumam Kanaya terdengar sedih. *** Sean menggantung snelly-nya pada hanger yang selalu ibunya siapkan di gantungan yang berada di dalam lemari. Ia kemudian melangkahkan kaki menuju ke ranjang besarnya, dan merebahkan tubuh letihnya ke sana. Kedua tangannya terentang ke samping, bersamaan dengan itu, mulutnya menguap lebar dan tubuhnya menggeliat pelan. "Ah, ini benar-benar melelahkan," keluhnya sembari membalikkan tubuh, lalu menenggelamkan wajahnya ke atas kasur. Sebenarnya, tadi dia baru saja menyelesaikan operasi pengangkatan sel tumor pada salah seorang pasiennya yang memakan waktu lebih dari tiga jam. Ditambah lagi, sebelum ia pulang, ia sempat memberi pembinaan pada beberapa dokter residen yang akan melakukan pembimbingan pada para koas. Biasanya koas akan membantu dokter residen saat melakukan pemeriksaan pada pasien, tapi ada juga yang mandiri, seperti melakukan follow up pada pasien konselennya. Dokter residen sendiri berbeda dengan koas, meski mereka sama-sama dalam proses belajar. Sudah dijelaskan jika dokter residen adalah dokter umum yang sedang menjalani pendidikan spesialis. Lain lagi dengan koas, yaitu dokter muda yang sedang dalam pendidikkan profesi kedokteran. Tugas mereka pun sebenarnya sudah seperti seorang dokter sungguhan, maksudnya tugas koas hampir menyerupai tugas dokter umum, tapi masih ada batasannya. Sementara dokter residen tugasnya juga hampir sama dengan dokter spesialis, biasanya mereka, para dokter residen, sudah diizinkan mengikuti jalan operasi dengan di bantu para koas yang berada di stase yang ia pegang, seperti menjadi assistant operation. Koas. Kata itu mengingatkannya pada perempuan yang hampir sebulan ini tak menemuinya, bahkan kiriman-kiriman pesan sudah tak Sean terima lagi. Sebuah perasaan asing kini tengah mendera hati Sean. Ia tak tahu persisnya itu perasaan apa, namun ia berharap bisa bertemu dengan perempuan itu. Kamu merasa apa Sean? Rindu? Sudut terkecil hatinya menyuarakan rasa asing itu. Ah, tidak mungkin. Untuk apa ia merasakan rindu pada perempuan yang jelas-jelas sangat dibencinya itu? Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD