"Sore, Ma," sapa Sean sambil mengecup pipi ibunya yang sedang sibuk memotong-motong sayuran.
Dia memang masih tinggal bersama ibunya. Meski sudah sukses dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter spesialis bedah onkologi di rumah sakit ternama di ibukota, tidak membuat Sean lantas berpikir untuk meninggalkan rumah dan membeli rumah yang baru. Itu terlalu berlebihan, lagi pula ia juga tidak selalu berada di rumah. Jadi, daripada ia membuang uang untuk hal yang tidak ia manfaatkan dengan baik, Sean lebih memilih tinggal bersama kedua orang tuanya. Barangkali nanti, ketika ia sudah beristri, ia akan membeli rumah dan tinggal di sana. Namun, beristrinya kapan ia juga tidak tahu. Ia masih belum kepikiran untuk menikah meski usianya sudah berada di kepala tiga.
"Sore juga, Se," sapa balik sang ibu sembari menepuk beberapa kali pipi putra sulungnya. "Tumben kamu sudah pulang, ini kan masih jam empat? Biasanya jam enam baru sampai rumah," tanya wanita setengah baya itu kemudian dengan nada herannya. Pasalnya, hampir setiap hari Sean pulang di waktu menjelang magrib. Melihatnya pulang di jam seawal itu tentu memunculkan tanda tanya di benak Alea, ibunya. Meski sejujurnya, ya, sah-sah saja. Workaholic juga manusia kan yang bisa lelah kapan saja? Sean juga butuh istirahat.
"Udah nggak ada jadwal, Ma, jadi aku milih pulang," jawabnya lalu berjalan menuju lemari pendingin. Tenggorakannya sudah cukup kering, ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia minum sebelum ini. Mungkin pagi tadi? Sepertinya. Kesibukannya membuat Sean lupa untuk merawat diri. Ah, semoga saja ginjalnya tetap baik-baik saja.
"Sean, kamu duduk dulu. Ada yang harus Mama omongin sama kamu," pinta Mama, menahan Sean yang hendak pergi setelah meneguk satu botol air putih berukuran sedang itu. Wanita itu lantas membereskan sayuran-sayuran yang sudah selesai ia potong, lalu menaruhnya di wastafel untuk ia cuci nanti.
Sementara Sean hanya menurut. Ia mendudukkan diri di salah satu kursi di sana. Menunggu sang ibu yang ingin mengobrol dengannya. Entah mengobrolkan tentang apa, ia sendiri tidak cukup tahu.
"Mau ngobrolin apa, Ma?" tanya Sean begitu mamanya mendudukkan diri di kursi depannya.
Lelaki itu lantas memandangi wajah sang ibu yang sudah dipenuhi gurat senja. Ia tampak begitu letih, mungkin karena kelelahan dengan kegiatannya bercocok tanam di belakang rumah. Ibunya memang sangat suka berkebun. Di rumah itu hanya ada satu pembantu yang akan datang di pagi hari untuk membereskan rumah, setelahnya akan pulang di siang hari. Untuk masak-memasak, ibunya sendiri yang turun tangan.
"Sean, usia kamu udah nggak muda lagi, Nak. Apa kamu nggak ada niatan buat menikah? Mama dan Papa sudah cukup tua. Kami juga mau menimang cucu seperti teman-teman kami yang lain, Nak," ujar wanita paruh baya itu, meraih tangan Sean lalu menepuk-nepuknya dengan pelan.
Ada seulas senyum di wajahnya yang entah mengapa membuat Sean merasa seperti sedang disentil. Jujur saja, ia tidak memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya ketika memilih untuk tetap melajang di usianya yang memang terbilang sudah sangat matang. Namun, Sean juga tidak bisa mengiyakan begitu saja untuk menikah mengingat ia masih ingin fokus dengan pekerjaannya. Lagi pula, ia juga tidak sedang dekat dengan wanita. Seperti apa yang ia katakan sebelumnya, wanita adalah nomor sekian.
"Ma ...."
"Mama nggak memaksa, Sean. Tapi Mama cuma mau mengingatkan kamu, kalau kamu, Mama, dan Papa sudah nggak lagi muda. Kamu tahu, untuk sekarang cuma kamu yang bisa Mama andalkan karena kamu yang paling dewasa secara umur dan pikiran," kata mamanya panjang lebar.
Beliau lantas menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. Sementara Sean diam saja, mendengar dengan khidmat kalimat demi kalimat keluar dari mulut ibunya. "Kamu lihat Jean? Sekalipun dia kembaran kamu, Mama nggak bisa memaksa dia untuk menikah karena tingkahnya yang masih jauh dari kata dewasa. Dia bahkan nggak bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dan sampai sekarang masih bergantung dengan Mama dan Papa. Gimana dia mau tanggung jawab untuk istrinya nanti, Sean?"
Diam-diam Sean mengiyakan perkataan ibunya. Mengingat tingkah Jean, kembarannya yang memang jauh dari kata baik. Pergaulannya yang bebas membuatnya menjadi lelaki yang tidak terarah. Ia bahkan belum menuntaskan kuliahnya sampai sekarang. Dan malah keluar dari kampus. Bukan niat Sean untuk menghina, tapi sungguh kembarannya itu sangat bebal.
"Kamu berharap sama Athaya? Adik kamu itu masih kuliah, umurnya belum cukup. Mama nggak yakin dia bisa bertanggung jawab juga sama istrinya, mengingat tingkahnya yang kadang seperti anak kecil. Bukannya mengayomi, dia malah yang minta diayomi. Padahal dia harus menjadi kepala keluarga yang bijaksana kan? Sementara kamu, Sean? Usia kamu udah cukup untuk menikah, kamu sudah mapan secara pekerjaan dan finansial. Nggak ada alasan untuk kamu menolak. Usia Mama dan Papa pun juga udah cukup untuk tutup usia, kamu jangan lupain itu."
"Ma!" tegur Sean dengan suara meninggi. Ia tidak suka kalimat terakhir ibunya. Sungguh, demi apa pun, Sean juga tidak mau kedua orang tuanya berpulang lebih dulu sebelum melihatnya bersanding dengan wanita pilihannya nanti di pelaminan.
"Maaf kalau Mama sudah terlalu berlebihan. Hanya saja Mama cuma ingin mengungkapkan apa yang sedang Mama rasakan," kata beliau.
Sean menghela napas. Sejujurnya meski pulang lebih awal, raganya masih cukup letih setelah seharian ia gunakan untuk bekerja. Harapannya tadi, begitu sampai rumah ia bisa langsung beristirahat, mengingat nanti malam juga dia harus menghadiri pesta Ferdinand. Namun kenyataannya ia malah harus beradu argumen dengan sang ibu. Tidak, Sean tidak ingin durhaka. Ia mengerti kegundahan wanita setengah baya yang telah mengandung dan melahirkannya itu. Hanya saja, ada hal yang sulit Sean terima. Ya, ia sadar sudah menjadi manusia paling egois, tetapi ia tidak bisa memaksakan sesuatu yang tidak ia kehendaki.
"Ma, Mama tahu sendiri kalau aku masih mau kerja. Aku masih mau fokus sama karirku. Aku takut, kalau aku nikah, aku nggak bisa bahagiain istriku nanti. Aku malah bakal nyakitin dia secara nggak langsung karena aku lebih mengutamakan kerjaanku. Coba Mama pikir, kalau benar aku menikah dan itu terjadi? Mama pasti nggak mau, kan? Mama nggak mau kan, anak Mama ini jadi pria b*rengsek yang nggak bisa menuhin tanggung jawabnya? Sama kayak Jean dan Athaya, Ma. Aku juga belum bisa pegang tanggung jawabku. Mungkin secara pekerjaan aku bisa, tapi kalau untuk wanita? Aku nggak jamin karena aku sendiri udah lama nggak menjalin hubungan yang lebih dari rekan kerja sama mereka."
Alea menghela napas. Benar, apa yang putranya katakan benar. Tapi dia sudah sangat ingin menimang cucu. Ia sangat iri dengan teman-temannya yang ketika berkumpul, tak henti-hentinya mengobrolkan cucu-cucu mereka yang begitu menggemaskan. Yang sudah bisa tengkurap, yang sudah bisa memanggil nama omanya, yang sudah bisa merangkak, yang sudah bisa berjalan, yang sudah begitu pintar menghitung dari satu sampai sepuluh, yang begitu lengket pada mereka sehingga ditinggal sebentar saja mereka akan akan menangis. Dan masih banyak lagi cerita temannya yang membuat Alea benar-benar dibuat iri.
Namun, bukan itu saja alasannya. Seperti yang sudah ia sebutkan tadi, ia dan suami sudah cukup tahu. Dan ia takut, sebelum benar-benar melihat ketiga putranya bahagia dengan wanita pilihan masing-masing, ia akan lebih dulu pergi. Ia takut hal itu terjadi.
Melihat mamanya yang hanya diam dan tak membuka suara, Sean menghela napasnya panjang. "Ma, maaf, bukannya aku mau egois. Tapi aku nggak mau ada yang sakit hati karena ulahku. Baik aku sengaja atau enggak."
Mama hanya menyunggingkan senyum tipisnya. "Iya, Mama ngerti. Maaf ya, karena udah memaksakan kehendak Mama sama kamu? Maaf karena udah bikin kamu tertekan karena permintaan Mama, padahal kamu baru pulang kerja dan pasti capek banget," kata beliau penuh dengan rasa sesal.
"Enggak, Mama nggak salah. Itu hak Mama untuk nuntut ini-itu ke aku karena aku anak Mama. Tapi, aku minta maaf karena aku nggak bisa menuhin keinginan Mama dengan cepat. Doain aku aja ya, Ma? Semoga secepatnya aku bisa ngabulin apa yang Mama mau," sambut Sean. Lelaki itu lantas bangkit dari kursinya dan memeluk tubuhnya yang mulai renta itu dengan erat.
Ia pun merasa amat bersalah sebenarnya. Namun, mau bagaimana lagi kalau dia sendiri tidak ada bedanya dengan kedua saudaranya? Ia bahkan tidak yakin lebih baik dari mereka dalam urusan wanita.