Sean sudah terlihat rapi dengan setelan tuxedo-nya. Rambutnya yang hitam tampak klimis, hasil dari pomade. Serta jambang-jambang halus di sekitar dagunya sudah ia rapikan sebelum mandi tadi. Ia terlihat begitu tampan dan menawan dengan penampilannya yang demikian.
Seperti yang ia ucapkan tadi, ada acara yang harus Sean hadiri, yaitu penyambutan putri sulung atasannya, Ferdinand Brata Sadega dan juga penghargaan untuk kinerja para dokter di rumah sakit milik lelaki setengah baya itu. Sejujurnya, Sean paling malas dengan acara-acara formal seperti itu.
Ia sendiri lebih memilih acara yang santai, yang tidak menimbulkan kecemburuan sebab Sean sangat tahu, ada beberapa dokter yang tidak terima jika dokter lain mendapat penghargaan sementara dirinya tidak. Namun, tidak hadir pun ia juga segan dengan Ferdinand. Lagi pula seharusnya ia senang, malam ini pun ia akan mendapat penghargaan atas kerja kerasnya selama ini.
"Widih, udah rapi aja. Mau ke mana, Se? Mau malam rabuan?" tanya Jean yang berpapasan dengannya di tangga saat ia ingin turun ke bawah. Lelaki yang lahir beda lima menit darinya itu menyenderkan tubuh ke teralis besi. Sembari mengunyah apel yang baru ia gigit, matanya sibuk memindai penampilan sang kakak dari atas sampai ke bawah. "Baru tahu kalau pakai jas begini bakal kelihatan seribu kali lebih keren. Kapan-kapan gue mau coba ah, pas jalan sama cewek gue," katanya dengan senyum mengembang.
Sean menghela napas, cuma bisa menatap kembaran tak seirasnya itu dengan tatapan lelah. Ibunya tidak berbohong ketika mengatakan Jean masih jauh dari kata dewasa meski dua tahun lalu umurnya sudah menginjak kepala tiga. Dengan kata lain, dia masih sangat kekanakan. Sejak mereka duduk di bangku SMA, Jean memang sudah mulai menunjukkan kenakalannya dengan sering membolos, tidak mengerjakan tugas, memacari lebih dari satu gadis, sampai tawuran. Sampai sekarang, bukannya berubah lelaki itu malah tetap mempertahankan kenakalannya di masa remaja. Baik ayah dan ibunya sampai lelah menceramahi Jean karena memang tidak pernah digubris oleh lelaki itu.
"Idih, sepet amat muka lo. Santai aja kali, kayak gue mau nyolong jas lo aja. Gini-gini gue juga bisa beli sendiri, ya walaupun nggak semahal punya lo," katanya sembari terkekeh kecil.
"Gue nggak ngomong apa-apa?" Sean menyahut dengan datar.
Jean mengedikkan bahunya. "Muka lo tuh, kayak nggak terima aja sama kata-kata gue," katanya, lalu kembali menggigit apelnya yang kini tinggal separuh.
Sejujurnya, hubungan Sean dan Jean tidak bisa dibilang baik. Tidak seperti masa kecil mereka dulu yang sering menghabiskan waktu bersama, bermain di halaman belakang, mencari cacing untuk keduanya jadikan umpan mancing di kolam renang samping rumah mereka. Yang walaupun mereka tunggu dari pagi sampai sore pun tidak akan ada ikan yang mereka dapat. Setelahnya karena kelelahan, mereka akan mengadu pada sang ibu, berakhir dengan sang ayah yanh terpaksa mengubah kolam renang rumah mereka menjadi empang.
Ya, masa kecil mereka memang seindah itu. Namun, semua berubah ketika Sean menjadi kebanggaan ayah dan ibunya, sementara Jean yang mulai merasa disisihkan. Tidak berguna. Sean sendiri mengerti akan perasaan kembarannya itu, tetapi ia tidak bisa berbuat lebih sebab bukannya berusaha menunjukkan dirinya mampu seperti sang kakak, Jean malah 'merusak' dirinya. Lambat laun, hubungan keduanya pun semakin jauh. Mereka jadi jarang mengobrol dan berinteraksi. Keduanya mulai disibukkan dengan dunia mereka masing-masing.
"Nggak usah cari gara-gara. Bisa nggak sih lo? Dengan lo nyindir-nyindir gue begini, apa itu bikin lo puas? Lo seneng? Lo bahagia?" kata Sean.
Ia sudah cukup lelah dengan perang dingin di antara keduanya. Mereka sudah bukan remaja tanggung lagi yang masih labil dan mudah emosi. Usia mereka sudah lebih dari cukup untuk mengerti jika pertengkaran tak langsung mereka itu terlalu kekanak-kanakan. Harusnya mereka bisa memahami satu sama lain.
Sementara itu, Jean langsung memalingkan wajahnya ke tempat lain begitu mendengar kalimat saudara kembarnya. Ia tidak mengira Sean akan sepeka itu. Ia pikir Sean sama dengan keluarganya yang lain yang turut memandangnya 'tidak berguna'.
"Udah, Je. Gue capek harus kayak gini terus sama lo. Kita saudara dan gue harap hubungan kita kembali membaik ke depannya. Selama ini gue diam bukan berarti gue nggak peduli. Gue cuma mau lo sadar dengan sendirinya kalau lo nggak perlu kayak gitu. Gue nggak akan menyebut lo iri sama gue karena gue tahu, lo bukan tipe orang yang kayak gitu. Mungkin lo cuma marah karena ngerasa semua orang nggak menghargai usaha lo. Je, lo nggak bisa gini terus. Gue, lo, kita ini saudara. Gue bener-bener capek harus bersitegang kayak gini sama lo," ujar Sean. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah ia katakan selain menjelaskan tentang diagnosa-diagnosa para pasiennya.
Sean mengakhiri konfrontasi mereka sembari menepuk bahu saudaranya, sebelum berlalu turun menuju lantai satu. Di tempatnya, Jean hanya diam. Tidak lagi membalas, dan Sean hanya membiarkannya saja. Entah Jean akan tetap berpikir seperti itu atau mungkin akan mengubah cara pikirnya. Sean berharap yang terakhir. Sungguh, ia ingin hubungan keduanya membaik.
***
Rumah megah itu sudah cukup ramai dengan tamu yang hadir. Rata-rata orang yang ada di sana adalah orang yang Sean kenali. Selebihnya ia tidak tahu siapa, mungkin rekan kerja Ferdinand yang lain.
"Dokter Sean, baru datang?" sapa salah salah seorang dokter yang cukup ia kenal.
"Dokter Panji," sapanya balik sembari menyalami lelaki yang lebih tua tiga tahun darinya itu. "Tadi ada sedikit kendala di jalan," lanjutnya menjawab.
Mereka sempat mengobrol sedikit, membahas perihal putri sulung atasan mereka. Sean tidak banyak berbicara, hanya menanggapi sesekali sebab ia tidak cukup mengenal gadis yang rekannya itu maksud.
Tak lama setelah itu, ia berpamitan untuk menemui tuan rumah. Rencananya setelah itu, ia akan izin pulang. Percakapannya tadi dengan Jean cukup memengaruhi suasana hatinya. Bohong sekali kalau dia santai-santai saja ketika mendapat perlakuan yang tidak cukup bersahabat dari saudara yang berbagi rahim dengannya.
"Dokter Sean," sambut Ferdinand Brata Sadega dengan senyum cerahnya. Lelaki tua itu tampak didampingi sang istri yang begitu cantik dengan gaun batiknya yang menjuntai sampai lutut. Sean mengenalnya. Istri atasannya itu adalah seorang dokter obgyn. Nama serta klinik yang ia bangun cukup terkenal di kalangan artis.
Sean lantas menyalami sepasang paruh baya itu. "Saya, Dok," sahutnya sembari mengulas senyum tipis.
"Ini, Ma. Dokter yang Papa maksud."
"Senang bisa mengenal Anda, Dokter Sean," kata wanita setengah baya itu dengan senyum hangatnya.
"Cocok kan, Ma, kalau bersanding dengan Miranda?" ujar Ferdinand lagi.
"Cocok, Mama suka."
Sean hanya tersenyum untuk itu. Ia anggap ucapan Ferdinand hanya pujian untuknya. Ketiganya kemudian terlibat obrolan. Ferdinand lagi-lagi sibuk menceritakan tentang keunggulan-unggulan putrinya yang bernama Miranda. Lagi, seperti tadi, Sean hanya menanggapi pada kalimat yang harus ia tanggapi. Entah apa motif lelaki itu, bukannya Sean merasa terpukau pada wanita yang bahkan sampai detik ini belum ia tahu bagaimana visualnya itu, ia malah merasa bosan dan ingin cepat-cepat mengakhiri konfrontasi mereka. Untuk itu, Sean memilih untuk undur diri dari sana.
"Dokter Ferdinand, maaf sekali, sepertinya saya harus pulang lebih dulu," katanya dengan sopan.
"Lho, acaranya kan belum selesai? Putri saya juga belum datang dan acara penghargaannya masih nanti," tahan Ferdinand.
"Maaf Dok, saya baru ingat ada acara lain yang harus saya hadiri," sahut Sean. Terpaksa ia berbohong.
"Oh begitu, sayang sekali."
Sean hanya menyunggingkan senyum tipisnya. "Maaf, Dok," katanya sebelum kembali berpamitan pada sepasang paruh baya itu.
Baru saja ia terbebas dari mereka, gadis yang hampir ia lupakan tiba-tiba muncul di hadapannya dengan senyum luar biasa cerah.
"Dokter Sean! Yeay, kita ketemu! Ya ampun, asli, Dokter Sean ganteng banget sebanget-bangetnya. Kayak pangeran yang turun dari surga," pujinya dengan mata yang berbinar-binar, menganggumi visual Sean yang baginya luar biasa.
Sean sendiri hanya diam, tidak menyahut ucapan gadis di depannya. Ia malah melengos ke samping.
Tanpa memedulikan respons Sean yang pasif, dengan semangat yang masih menggebu, Kanaya kembali berbicara lagi. "Dok, kita kayak pasangan serasi nggak, sih? Pakaian kita cocok banget. Dokter pakai tuxedo hitam, aku juga pakai gaun hitam. Padahal kita nggak ada janjian lho, asli. Emang bener kata orang, jodoh emang nggak akan ke mana. Aku cantik, Dokter Sean ganteng, serasi bangeeeeet," ujarnya penuh percaya diri. Tidak peduli jika keduanya tengah berada di tempat yang cukup ramai. Sean bahkan merasa malu sendiri.
"Kanaya, jangan bikin saya malu," peringat Sean, menahan untuk tidak berteriak di depan wajah gadis itu.
"Ih, bikin malu apaan sih, Dok? Perasaan aku dari tadi cuma muji Dokter yang gantengnya kebangetan deh. Salahkh di mana coba?"
"Justru itu, kamu bikin saya malu," jawab Sean.
Kanaya mengibaskan tangannya di depan muka. "Udah ah, itu kan fakta. Dokter emang ganteng, kenapa harus malu punya wajah ganteng? Aneh," katanya.
Kanaya lantas mengalihkan tatapannya ke samping, melihat deretan makanan yang tersaji. "Dokter belum ambil makanan ya? Pasti Dokter Sean kelaperan. Bentar ya, aku ambilin makanan dulu. Dokter tunggu sini, jangan ke mana-mana. Nanti aku susah nyarinya," katanya. Tanpa menunggu jawaban Sean, gadis itu dengan cepat menuju ke tempat makanan dan mulai sibuk mengambilkan berbagai makanan untuk Sean.
Sementara itu, Sean mengambil kesempatan itu untuk pergi dari sana. Seperti katanya tadi, ia ingin pulang. Untung saja sebelum ini ia sudah berpamitan dengan Ferdinand. Masa bodoh dengan Kanaya yang akan kelimpungan mencarinya. Demi apa pun, Sean sangat tidak menyukai gadis itu. Baginya Kanaya hanyalah pengganggu untuknya.
Tbc