5. Gadis Gila

1770 Words
Sean baru mendudukkan dirinya ke kursi saat pintu ruangannya diketuk dari luar entah oleh siapa. Lelaki itu menghela napas panjang. Ia ingin istirahat barang sebentar saja sebenarnya. Baru beberapa menit lalu ia menyelesaikan operasi pengangkatan sel kanker selama berjam-jam. Tubuhnya pun terlalu letih untuk melakukan banyak hal, apalagi punggungnya yang terus-terusan membungkuk. "Iya, masuk. Saya ada di dalam," sahutnya kemudian setelah menegakkan tubuh. Tak lama, seorang perawat membuka pintu ruangannya. "Dokter Sean, permisi. Maaf, Dok, tadi Dokter Ferdinand memberi pesan pada saya untuk memberitahu Dokter agar Dokter ke ruangan beliau," kata wanita itu setelah sampai tepat di depan meja Sean. "Memangnya ada apa?" tanyanya sembari mengerutkan kening. "Maaf, Dok. Saya juga tidak tahu, tadi beliau hanya berpesan seperti itu pada saya." Sean hanya mengangguk dan mengucap terima kasih. Setelahnya, ia membiarkan perawat itu untuk berlalu dari ruangannya. Tidak ingin membuang waktu, ia pun segera menemui Ferdinand. Untung saja ruangannya dengan lelaki setengah baya itu tidak begitu jauh. Hanya beda satu lantai. Begitu sampai di ruangan atasannya, Sean langsung mengetuk pintu di hadapannya dengan pelan. Tak lama, terdengar sahutan dari dalam. "Permisi Dokter Ferdinand, Anda memanggil saya?" tanya Sean dengan sopan begitu ia masuk ke dalam. "Oh, Dokter Sean. Akhirnya Anda datang juga," ujar Ferdinand sembari menyunggingkan senyum samarnya. Sementara Sean hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis ke arah lelaki itu. Ferdinand lantas meletakkan lembaran yang entah berisi apa ke atas meja. Lelaki dengan rambut yang sepenuhnya sudah memutih itu kemudian bangkit dari kursinya, melangkah mendekati Sean sebelum mengajak pria muda itu untuk duduk di sofa panjang berwarna monokromnya. Sekilas jika dilihat, ruangan itu terkesan begitu mewah. Di sudut yang berdekatan dengan jendela terdapat rak kecil tempat berjejernya buku-buku tebal milik Ferdinand. Lalu, bergeser ke sampingnya lagi, ada meja kecil berisi dua kerangka tubuh manusia dan satu globe. Di sebelahnya lagi, terdapat kulkas mini yang menjadi pelengkap ruangan itu, pun dengan air conditioner yang terpasang di atas rak buku. Derunya yang sama masih bisa dengan jelas Sean dengar. Bergeser ke tengah, terdapat satu set sofa berbentuk U yang menghadap lurus ke arah televisi kabel berukuran empat puluh satu inch yang menggantung rendah di dinding. Jangan lupakan juga dengan toilet pribadinya. Ah, ruangan itu bukan lagi ruangan yang terkesan mewah, tetapi memang sangat mewah. Cukup berbeda dengan ruangan Sean ataupun dokter lain di rumah sakit itu. "Dokter Sean? Kenapa diam saja?" tegur Ferdinand. "Ah, maaf, Dok," sahut lelaki itu. Sean baru sadar jika sejak tadi yang ia lakukan hanya diam melamun di depan meja lelaki itu. Efek terlalu kelelahan membuatnya susah untuk fokus. Ia kemudian mendudukkan dirinya ke sofa yang berseberangan dengan Ferdinand. Berdeham kecil, ia menunggu atasannya itu untuk berbicara lebih dulu. Jujur, Sean sendiri tidak tahu-menahu mengapa pria setengah baya itu memanggilnya. Seingatnya, ia tidak melakukan kesalahan apa pun selama beberapa hari belakangan. Operasi yang ia lakukan pun selalu berhasil, lalu apa hal yang membuat lelaki itu sampai memanggil dirinya? "Ehm, maaf Dok, ada apa ya Dokter memanggil saya?" tanya Sean pada akhirnya sebab Ferdinand tak kunjung membuka suara itu. Membuatnya penasaran saja. "Oh iya, begini Dok, Anda tahu putri saya? Miranda? Dia mengambil spesialis yang sama dengan Anda. Mungkin Dokter bisa berbincang-bincang atau berdiskusi tentang pasien-pasien Dokter atau rencana Dokter untuk ke depannya," ujar lelaki itu tanpa berbasa-basi. Sean paham maksud Ferdinand. Yang tidak ia pahami, kenapa untuk hal seremeh itu, ia memanggilnya? Sekarang zaman sudah cukup canggih, ada gawai yang bisa digunakan untuk mengirim pesan atau melakukan panggilan. Apakah lelaki itu merencanakan hal yang terselubung padanya? Ah, tidak. Sean berpikir terlalu berlebihan. "Tentu saja bisa, Dok," jawab Sean apda akhirnya sembari mengulas senyum tipis. "Bagus kalau begitu. Saya tadi pagi sudah membuat reservasi di restoran depan," ujar Ferdinand. Kali ini Sean semakin dibuat bingung akan maksud lelaki setengah baya itu. Untuk apa juga Ferdinand memberitahu perihal ia yang sudah memesan meja di restoran depan? Sean bahkan tidak membutuhkan informasi itu. Pertanyaan yang bercokol di kepala Sean baru terjawab sedetik kemudian. Rupanya lelaki itu mengajaknya untuk makan malam bersama, sekaligus memperkenalkan putri sulungnya yang belum sempat ia temui tadi malam. Sean sendiri merasa aneh sejujurnya. Entah apa motif Ferdinand, jelas hal itu terlalu berlebihan untuk Sean. "Dokter Sean," tegur Ferdinand. Menyadarkan Sean dari lamunannya lagi. Sepertinya ia harus benar-benar istirahat agar fokusnya kembali lagi. Ia jadi gampang melamun. "Maaf Dok, saya agak lelah. Jadi susah fokus," jujurnya dengan wajah penuh sesal. "Tidak masalah. Setelah ini Dokter bisa beristirahat kok. Tidak ada jadwal operasi lagi, kan?" Sean menggeleng. "Tidak ada, Dok." "Bagus. Tapi untuk nanti malam, Dokter punya waktu kan?" Sean jelas tahu, ucapan Ferdinand bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan yang wajib ia iyakan. Dan nanti malam, meskipun ia cukup lelah, ia harus tetap menghadiri makan malam yang Ferdinand adakan secara mendadak itu. Padahal, ia tadi sudah berekspektasi untuk bersantai di rumah dan mengobrol bersama kedua orang tuanya ketika pulang nanti. *** Langkah kaki Kanaya terhenti saat melihat pria yang begitu ia kagumi luar-dalam keluar dari ruangan yang akan ia tuju, ruangan sang ayah. Dahinya mengernyit dalam ketika mendapati raut wajah sang lelaki yang menurutnya tak seperti biasanya itu. Entah hal apa yang baru Sean obrolkan dengan ayahnya, sampai membuat wajahnya berubah masam. Lantas, dengan rasa penasaran yang tinggi, Kanaya pun mempercepat langkahnya, mengejar si lelaki yang berjalan berlawanan arah dengannya. "Dokter Sean!" Ia memanggil dengan suara lantang, membuat beberapa orang yang kebetulan ada di lantai itu menoleh padanya dengan tatapan sengit. Sudah tahu rumah sakit, tapi tetap saja mengeluarkan suara berisik. Itu yang ada di benak mereka. Namun meski begitu, bukannya menegur, mereka malah sibuk membicarakan sikap Kanaya yang tidak memiliki adab. "Dokter Sean! Berhenti dong, Dok!" panggil Kanaya lagi saat melihat Sean yang malah mempercepat langkahnya. Jangankan berhenti, menoleh saja tidak. Alih-alih seperti itu, Sean malah tampak sangat ingin menghindari putri bungsu Ferdinand itu. Sean tidak mau saja suasana hatinya semakin memburuk hanya karena kehadiran Kanaya yang tidak ia inginkan. Namun sayangnya sebelum pintu lift benar-benar tertutup, Kanaya berhasil masuk ke dalam lift yang ia naiki. "Yeay, satu lift sama Dokter Sean!" soraknya dengan wajah yang luar biasa ceria. Sean hanya menghela napas, lantas menyenderkan tubuhnya ke dinding lift. Suasana hatinya langsung terjun bebas, terlebih hanya mereka berdua di kotak besi yang cukup sempit itu. "Dokter, kemarin malam Dokter ke mana? Kok malah pergi? Aku kan bilangnya jangan ke mana-mana biar aku nggak susah nyarinya. Tahu nggak Dok? Tadi malam juga aku harus ngabisin makanan yang aku ambilin buat Dokter. Mana aku ngambilnya porsi banyak. Nih, perut aku sampai buncit begini," tunjuk Kanaya sembari mengelus perutnya yang tertutup kardigan. Sean hanya memutar bola mata malas, dan malah melihat pintu di depannya. Entah mengapa, lift yang ia tumpangi tak kunjung sampai di lantai ruangannya. Padahal hanya satu tingkat saja. "Dok, ih! Kok diem aja. Aku ajak ngomong juga." Kanaya mengerucutkan bibirnya, wajahnya tampak begitu masam. Namun sejurus kemudian, wajahnya berubah cerah. Kontras dengan ekspresinya beberapa detik yang lalu. "Dokter, tadi Dokter ngapain ke ruangan papa aku? Dokter ngobrolin tentang apa? Tentang aku, ya? Iya, kan? Dokter mau seriusin aku kan? Dokter mau nikahin aku kan?" tanyanya bertubi-tubi dengan tangan yang tiba-tiba bergelayut padanya. "Kanaya, apa-apaan sih kamu? Lepas!" ujarnya sedikit menghepas tubuh Kanaya. Dan tepat saat itu, pintu lift terbuka. Sean sudah hendak keluar dari sana. Namun dengan menjengkelkannya, Kanaya memencet lantai paling bawah dan menahan Sean untuk tidak pergi. "Aku belum selesai ngobrol sama Doktee!" katanya. Sean menghela napas kasar. Berusaha untuk tidak berbuat kasar pada gadis itu. "Dokter, tadi Dokter ngobrolin apa sama papa aku?" tanya gadis itu. "Bukan urusan kamu." Sean menjawab dengan nada datar. "Ih, Dokter kok gitu sih sama aku?" Kanaya mengerucutkan bibirnya. Gadis itu menggoyang-goyangkan tangan Sean yang masih ia cekal. "Dokter Sean, Dokter Sean kapan ngelamar aku, Dok?" tanya Kanaya tiba-tiba, mengubah topik awal pembicaraan mereka. "Dokter nggak mungkin kan, biarin aku jadi p*rawan tua? Entar Dokter juga nggak kuat lagi kalau main sama aku. Secara ya, umur Dokter Sean udah nggak muda lagi," sambungnya sambil mengedip-kedipkan matanya dengan polos. Sean mendesis jijik. Dalam sejarah hidupnya, baru kali ini ia menemukan gadis yang berkata tanpa melihat siapa yang diajak bicara. Dan pembahasan yang mereka angkat pun cukup tabu untuk diperdengarkan oleh sepasang anak muda yang belum terikat apa pun. "Jadi ... kapan Dokter ngelamar aku?" Gadis itu mengulangi pertanyaannya tadi. Matanya tampak berbinar menunggu jawaban Sean. Sementara Sean, pria muda itu malah menatap Kanaya dengan ekspresi khas yang ia berikan saat berhadapan dengan gadis itu, dingin dan datar. "Kamu membuat kepala saya pusing Kanaya. Tolong, jangan membahas hal yang tidak-tidak," ujar Sean dengan tatapan tajamnya. Lelaki itu berusaha melepaskan cekalan Kanaya di lengannya. Namun, bukannya terlepas, cekalan itu malah semakin mengerat. Sean berdecak kesal. "Lepaskan tangan kamu dari lengan saya, Kanaya. Apa kamu tidak malu berbuat seberani dengan lelaki yang bahkan bukan siapa-siapa kamu?" Sean menatap Kanaya dengan tajam. Bukannya takut, gadis itu malah bersikap biasa saja. Membuat Sean semakin geram. "Dan tolong lagi, jangan bertingkah seperti anak kecil," tutur Sean kemudian dengan penuh penekanan. Terlihat sekali bibirnya yang saling mengatup dan juga rahangnya yang mengeras. Sean teramat muak pada gadis itu. Terlebih, melihat tingkahnya yang menurutnya sangat berlebihan. Bagaimana bisa ada manusia seperti Kanaya di dunia ini? "Ya udah, kita bisa ke ruangan Dokter, biar lebih privasi. Gimana?" balas Kanaya, mengabaikan kalimat terakhir Sean yang mengatakan bahwa dirinya seperti anak kecil. Kanaya tak mempermasalahkan hal itu. Menurutnya, ketika mereka menikah nanti, Sean bisa membimbingnya menjadi sosok perempuan yang lebih dewasa. Sementara itu, melihat kekeraskepalaan Kanaya, membuat Sean menghela napas pasrah. Jujur saja, dia sudah cukup lelah dengan segala tingkah ajaib gadis kepala batu yang meski sudah ia beri peringatan, malah semakin menjadi itu. "Kita bisa ngobrolin diri kita masing-masing tahu, Dok. Dokter Sean bisa tahu apa pun yang aku suka dan nggak suka," ujar Kanaya lagi. Ia lantas memalingkan wajahnya pada Sean, memberikan seringaian ganjil yang membuat lelaki berjas putih itu memicingkan matanya dengan curiga. "Atau---" Sean mulai menerka-nerka apa yang ingin Kanaya katakan padanya. "---Dokter Sean mau yang lebih dari sekedar mengobrol?" Mata Kanaya mengedip dengan centil di akhir kalimatnya. Sean tersedak dengan air ludahnya sendiri. Apa? Telinganya tak salah dengar, kan? Kanaya dengan terang-terang mengajaknya--- Dan, bahkan, untuk membantin saja Sean tak mampu. Kanaya benar-benar tak tahu malu. "Kamu ... benar-benar gila, Kanaya. Sangat gila." Sean bahkan mampu merasakan bulu kuduknya yang merinding. Bagaimana bisa ada gadis segila Kanaya di dunia ini? Kanaya tak memedulikan ucapan Sean, pun sama sekali tak merasa sakit hati. Ia menganggap laki-laki itu hanya bergurau padanya. Beda dengan Kanaya, Sean malah menghela napasnya dengan berat. Lelaki itu meraup wajahnya dengan frustrasi sembari berharap dalam hati jika apa yang tengah menimpanya sekarang, hanyalah mimpi buruk semata dan ketika ia bangun keesokan paginya, tidak ada nama Kanaya dalam kisah hidupnya atau gadis serupa dirinya yang membuat Sean muak sekaligus kesal secara bersamaan. tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD