Hari ini cukup melelahkan untuk Kanaya. Selain kegiatan kampus, hari ini ia juga harus mempersiapkan masa koasnya. Untung saja ia tidak di tempatkan di rumah sakit lain, melainkan rumah sakit sang ayah. Kalau tidak, pasti Kanaya tidak akan bisa menemui lelaki pujaan hatinya itu.
"Bi Watiiii, soree. Lagi masak apa nih, Bi?" sapa Kanaya dengan ceria begitu memasuki dapur dan melihat pembantu rumahnya sedang sibuk mempersiapkan makan malam.
"Sore juga, Non. Ini, lagi masak opor ayam. Tadi Non Miranda minta dimasakin ini, udah lama nggak makan katanya," jawab wanita setengah baya itu. "Non kok baru pulang udah sore begini?" lanjutnya bertanya.
Kanaya menyengir lebar. "Iya, Bi. Dari kampus mampir ke rumah sakit dulu tadi," jawabnya.
"Oalah, Non, kenapa nggak pulang aja terus istirahat? Belakangan Non kan dapat tugas terus."
"Nggak bisa gitu, Bi. Aku kan berntar lagi mau koas, jadi persiapan dulu," jawab Kanaya. Gadis itu lantas meraih teko dan gelas kosong yang ditelungkupkan di atas meja.
Sembari menuangkan air, ia mulai menceritakan apa saja yang sudah terjadi hari ini. Kanaya memang sudah biasa menceritakan kesehariannya dengan Bi Wati, entah tentang hal sekecil apa pun. Dari dulu pun begitu.
"Non bener-bener cinta ya sama dia?" tanya Bi Wati begitu Kanaya selesai menceritakan dirinya yang mengobrol banyak dengan Sean, lebih tepatnya ia yang berbicara dan Sean yang hanya bungkam.
"Banget Bi, aku kayak udah cinta mati sama dia. Rasanya, pengen banget dia jadi jodohku," jawabnya sembari menganggukkan kepala dengan semangat.
"Hati-hati, Non. Bibi takutnya nggak sesuai sama harapan Non. Non Kanaya nanti yang malah sakit hati. Bibi nggak mau ngelihat Non sedih-sedih lagi," ujar Bi Wati yang kini menghadap sepenuhnya pada Kanaya, meninggalkan bumbu-bumbu yang sedang ia bersihkan.
Kanaya mengibaskan tangannya di depan wajah. "Tenang aja, Bi. Sesuai harapan Kanaya kok, kalau enggak sesuai, Kanaya sesuain," jawab gadis itu sembari memainkan kedua alisnya.
"Tapi jangan nekat-nekat ya Non?"
"Nggak janji," cengirnya. "Oh iya, Mama sama Kak Miranda ada di rumah kan, Bi?" tanya Kanaya, kemudian meneguk air putihnya.
"Ada Non, tadi di lantai atas. Kayaknya lagi nonton," jawab.
Kanaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah selesai minum, ia pun pamit untuk ke lantai atas. Sembari menaiki anak tangga, mulutnya tak berhenti bersenandung. Menyanyikan lagu Laskar Pelangi yang dipopulerkan oleh Nidji itu.
Keceriaan jelas terpancar dari raut wajah Kanaya. Mungkin, ia memang terlihat seperti gadis yang dikelilingi kebahagian. Orang tua kaya raya yang membuatnya tak perlu repot-repot memikirkan besok harus makan apa atau bagaimana caranya berobat sementara ia tidak memiliki BPJS. Namun di balik itu semua, ada kesedihan tersendiri yang ia rasakan. Diabaikan keluarga, dibeda-bedakan, baik otak dan prestasi, juga kecantikannya dengan sang kakak sudah menjadi makanan Kanaya sehari-hari. Ia pun sudah sering dianggap sebagai angin lalu. Untung saja ia bukan gadis pemikir yang menganggap hal itu adalah masalah berat yang bisa saja membuatnya depresi, tertekan atau lebih dari itu.
Seperti orang lain yang menganggapnya hidup bahagia, maka Kanaya juga akan menganggap dirinya demikian. Tersenyum cerah, bersikap cerewet, menjengkelkan atau apa pun itu, meski faktanya hatinya tengah berdarah-darah.
Kanaya menarik napas, kemudian mengembuskannya dalam sekali sentakan untuk mengurai rasa sesak yang tiba-tiba ia rasakan. Sempat terbesit di benaknya, mengapa ia selemah ini jika sudah berhubungan dengan keluarga?
Mengapa? Entahlah. Kanaya sendiri tak tahu apa jawabannya. Dan tak berusaha mencari tahu juga.
Gadis itu kemudian mendongakkan kepala, melihat lantai dua rumahnya ketika gendang telinganya sayup-sayup menangkap suara ibu serta kakaknya yang tengah berbincang-bincang di lantai atas dan juga suara televisi yang entah sedang menayangkan acara apa.
Kanaya menarik napas. Mencoba menetralkan segala emosi yang tiba-tiba menguasainya. Sebelum ia langkahkan kembali kakinya untuk tiba di lantai atas.
"Sore, Ma, Kak Mir!" sapanya saat sudah berada di dekat mereka. Membuat ubu dan kakaknya menghentikan pembicaraan mereka.
Ibunya mendongak, kemudian tersenyum tipis untuk membalas sapaan itu. "Eh Kanaya, baru pulang, Nak?" sambut wanita itu.
Sementara sang kakak, Miranda hanya memandangnya sekilas, kemudian langsung mengalihkan pandangannya pada layar televisi. Kanaya tahu, kakaknya itu memang tak begitu menyukainya, entah apa alasannya. Ia sendiri tak begitu memikirkan hal itu.
Gadis itu lantas tersenyum lebar. Jujur saja ia cukup bahagia mendapat respons demikian dari sang ibu, itu tandanya beliau perhatian dengannya. Kanaya lantas menganggukkan kepala dengan semangat empat lima. "Hehe, iya Ma. Tadi Kanaya ke rumah sakit Papa. Tumben Bunda juga udah pulang?" jawab Kanaya yang diawali dan diakhiri dengan cengengesan.
"Iya, tadi vertigo Mama kambuh, jadi Mama milih pulang." jawab wanita paruh baya itu.
"Buat apa kamu ke rumah sakit? Bukannya kamu nggak ada urusan di sana? Mau ketemu teman laki-lakimu itu?" tanya Miranda sesaat setelah menutup mulut, nada suaranya bahkan terkesan menuntut. Membuat Kanaya mengerutkan alisnya bingung.
"Temen laki-laki? Yang mana? Soalnya, seinget aku, temenku yang jenis kelaminnya laki-laki nggak ada yang lagi sakit deh," tanya Kanaya bingung.
"Garril? Dia teman kamu, kan?" Miranda menjawab dengan kedua pundak yang mengedik.
"Oh, Dokter Garril. Enggak Kak, aku ke sana bukan mau ketemu dia," jawab Kanaya dengan enteng. Garril tak sedang berada di rumah sakit. Beberapa pekan ke depan, laki-laki itu akan menghadiri beberapa seminar kesehatan di beberapa kota di Indonesia.
Seperti ceritanya tadi pada Bi Wati, ia sedang mengurus persiapan koasnya. Setiap mahasiswa seperti Kanaya diwajibkan mengikuti kegiatan itu. KKR, begitulah mereka menyebutnya, yaitu kegiatan pengenalan koas di setiap stase atau bagian. Di sini para mahasiswa berperan sebagai pengamat para senior yang lebih dulu menjalani masa koas. Selain itu, mereka juga mendapat bimbingan seputar apa saja tugas mereka di setiap departemen dan ruang stase. Juga tanggung jawab mereka sebagai koas.
"Memangnya kenapa kamu tanya kayak gitu, Mir?" Ibunya bertanya, sekadar untuk menuntaskan rasa ingin tahu.
Miranda lagi-lagi mengedikkan bahunya. "Aku cuma curiga aja Ma, mungkin karena terlalu sering main sama temen laki-lakinya itu, Kanaya jadi kurang memperhatikan pendidikkannya. Buktinya aja, dia nggak juga lulus-lulus. Selalu mengulang, kan, Ma?"
Sebelum ibunya memberi tanggapan, Kanaya lebih dulu menyahut. "Nggak ya Kak Mir, buktinya tahun ini aku udah lulus, dapat gelar Sarjana Kedokteran. Ya walaupun belum bisa jadi seorang dokter."
"Ya, maka dari itu. Setelah ini pun, kamu masih harus koas, dan belum tentu juga kamu bisa. Kamu itu kan pemalas." Miranda berseloroh.
Koas atau co-assitant sendiri merupakan sebutan bagi mahasiswa yang telah lulus dan sedang menjalani uji kopetensi menjadi seorang dokter, yang di Indonesia dikenal dengan nama UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia). Bagi mahasiswa yang menjalani masa koas, lebih baik bersikap disiplin dan jangan sampai izin apalagi membolos, karena bisa jadi masa koas yang mereka jalani akan bertambah lama.
"Aku nggak pemalas ya, Kak," sahut Kanaya, tak terima jika dirinya disebut seperti itu.
"Buktinya udah ada, Nay. Kamu itu pemalaㅡ"
"Udah, udah. Kenapa kalian jadi berdebat kayak gini sih?" Ibunya mulai menengahi. "Kamu Miranda, jangan gitulah sama adik kamu sendiri. Secara nggak langsung kamu itu sudah menyugesti adik kamu supaya jadi orang malas," kata ibunya, membuat Kanaya merekahkan bibir, tersenyum lebar. Sang ibu membelanya, dan ia merasa sangat bahagia.
"Maaf Ma." Miranda menyahut pelan.
Ibunya hanya menggeleng pelan, sebelum mengalihkan tatapannya pada Kanaya dan berbicara pada gadis itu. "Ya sudah Nay, duduk di sini saja, kita nonton sama-sama," suruh wanita paruh baya itu sembari menepuk tempat kosong di sampingnya.
Kanaya segera mendudukkan dirinya di sana. Seulas senyum lebar terpatri pada paras ayunya itu. Inilah saat yang paling ia nanti, saat di mana sang ibu berlaku hangat padanya. Meski tak jarang ibunya itu sering mengabaikannya jika sudah asik mengobrol dengan Miranda.
Senyum pada wajahnya mendadak luntur, secepat ibunya berlaku hangat, secepat itu pula sang ibu mengabaikan Kanaya. Wanita paruh baya tersebut tak lagi memperhatikannya. Dua wanita yang begitu ia sayangi kini tengah asyik berbincang-bincang, membicarakan topik yang sama sekali tak Kanaya tahu. Penggemar nomor satu Dokter Sean itu sudah memasang tampang cemberutnya, merasa diabaikan.
"Kamu jadi nanti makan malamnya?"
"Jadi, Ma. Papa yang minta, mau gimana lagi? Padahal aku malas banget makan malam kayak gitu."
Kanaya hanya mendengarkan saja. Tak berniat menyahut ataupun sekadar menanyakan acara apa yang akan ayah dan kakaknya hadiri itu. Ia sendiri malah kesal dengan sikap sang ibu yang baru beberapa menit langsung berubah lagi padanya. Bukan perubahan yang signifikan memang, tapi siapa yang tidak sakit kalau ibunya malah sibuk mengobrol dengan kakaknya tanpa mengajak dirinya.
***
Kanaya baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak lebih segar sekarang.
Ia membuang asal handuk yang ia gunakan untuk mengusap beberapa bulir air di tubuhnya, kemudian melangkahkan kakinya menuju nakas kayu yang tepat berada di samping ranjangnya. Mengambil benda pipih berbentuk persegi panjang yang ia taruh di situ, dan mengusap layar untuk membuka kuncinya.
Kanaya memandangi benda pipih itu dengan malas. Tadi sebelum ia mandi, gadis itu sempat mengirimi pesan untuk Sean, tapi sepertinya laki-laki itu tak berniat membalas pesannya tadi. Ia menghela napasnya, gadis itu kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula.
Dihempaskannya tubuhnya ke ranjang, berbaring dengan kedua tangan yang telentang di atasnya. Matanya nyalang menatap langit-langit kamarnya. "Gimana caranya bikin Dokter Sean suka sama aku, jatuh cinta sama aku, dan bisa jadi milikku?" gumamnya pelan. Dia sudah tak mengerti lagi bagaimana caranya bisa mendapatkan pria itu. Berulang kali dia menyatakan cintanya, dan berulang kali juga pria itu menolaknya. Dan jujur saja, Kanaya merasa putus asa.
"Apa aku harus ngelakuin cara licik kayak di sinetron-sinetron gitu, terus jebak Dokter Sean biar aku bisa hamil anaknya? Kan kalau gitu, Dokter Sean bisa nikahin aku dan aku bisa milikin dia?" pikir Kanaya sambil menerawang, membayangkan rencananya barusan.
"Tapi, aku kan nggak sejahat itu." Kanaya cemberut.
Dihela napasnya pelan. Matanya masih nyalang menatap langit-langit kamar. "Bisa nggak sih, kalau aku lakuin apa yang aku pengen aku lakuin?"
***
Sean mengetuk-ketukkan jarinya pada meja restoran. Sudah lebih dari tiga puluh menit dia menunggu, tapi baik Ferdinand maupun putri sulung lelaki itu tak kunjung datang. Padahal jarak rumah sakit dan restoran mereka tak cukup jauh, hanya perlu menyeberang jalan.
Merasa jenuh, pria muda itu memutuskan mengambil ponselnya. Sepertinya Athaya pernah mengirimkan permainan ke ponselnya.
Sean menyalakan benda pipih yang memang ia matikan sedari tadi siang. Sesaat setelahnya, ada banyak notifikasi pesan dan telepon tak terjawab yang memenuhi layar ponselnya. Ia memutuskan untuk melihat riwayat telepon. Panggilan tak terjawab dari Jean yang tumben-tumben sekali menghubunginya, padahal keduanya masih belum berbaikan dan juga Athaya, adik bungsunya. Namun Sean mengabaikan panggilan dari keduanya. Pria itu beralih ke pesan, di sana ada satu pesan singkat dari sang ibu, satu pesan singkat dari Dokter Ferdinand, dan terakhir satu pesan singkat dari nomor tanpa nama. Sean tahu siapa dia, Kanaya.
Pertama-tama, dibukanya pesan dari sang ibu.
Mama
Se, kalau kamu lembur, jangan lupa makan malam. Kalau kamu jatuh sakit, gimana sama pasien kamu?
Sean tersenyum tipis melihat pesan dari sang ibu. Ibunya memang sangat perhatian padanya, padahal umur Sean sendiri sudah tidak bisa dikatakan remaja, apalagi anak kecil. Tangannya kemudian mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan dari wanita setengah baya itu.
Beberapa saat setelahnya, Sean beralih ke pesan dari nomor tanpa nama yang tak lain adalah Kanaya itu. Namun, bukannya dia membaca pesan itu, Sean malah menghapusnya. Sungguh, Sean benar-benar tak berminat apa pun yang berhubungan dengan Kanaya.
Setelah menghapus pesan dari Kanaya, Sean baru membuka pesan dari Ferdinand yang memberitahukan jika dia tak bisa menghadiri makan malam itu karena ada urusan mendadak. Namun Sean tidak perlu kesal sebab sang putri sulung tetap menghadiri acara makan malam mereka.
"Em, hai," sapa sesosok perempuan cantik yang berdiri di samping meja makan yang Sean tempati.
Sean mendongak, mengalihkan atensinya pada layar ponsel. Alisnya terangkat sebelah. "Maaf?" ujarnya.
"Oh, perkenalkan, nama saya Miranda, kamu pasti Sean kan?" tanya wanita itu.
Sean mengangguk. Jujur saja ia bingung mengapa perempuan itu bisa tahu namanya. Namun sesaat kemudian ia teringat dengan pesan singkat yang Ferdinand kirimkan padanya.
"Maaf ya, pasti kamu sudah menunggu saya lama. Tadi ada sedikit masalah di jalan." Kemudian perempuan itu mengambil tempat di hadapan Sean. "Ayah saya tadi ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi hanya saya saja yang datang." Perempuan itu melanjutkan.
"Tidak masalah," jawabnya sembari tersenyum tipis.
Jujur saja Sean tidak tahu harus bersikap bagaimana pada wanita yang mengenalkan dirinya sebagai Miranda, putri sulung Ferdinand Brata Sadega. Kalau saja Ferdinand tetap menghadiri acara makan malam itu, ia tidak akan pusing memikirkan bagaimana caranya memulai sebuah percakapan.
Namun, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kan mereka makan bersama, tapi malah saling diam bak patung?
Tbc