Makan malamnya bersama Miranda rupanya tidak seburuk apa yang Sean bayangkan. Ya, meski di awal keduanya lumayan canggung sebab belum mengenal satu sama lain. Namun lambat laun, kecanggunggan di antara mereka hilang.
Miranda adalah sosok perempuan yang cukup ramah dan easy going, gampang mencari topik obrolan. Sean lumayan betah dan nyaman mengobrol dengan anak sulung Ferdinand itu.
"Lembur lagi, ya Se?" Suara serak wanita dari arah ruang keluarga menginterupsi langkah lebar Sean.
Pria itu menghentikan langkah, menatap wanita paruh baya yang masih setia dengan tontonan di hadapannya.
"Nggak kok, Ma," jawabnya lalu menghela kaki mendekati sang ibu. Diraihnya tangan keriput itu, lalu ia cium punggung tangannya dengan lembut. "Tadi Sean ada urusan sebentar, tapi bukan yang berhubungan sama rumah sakit. Lupa nggak kasih tahu tadi," jawabnya lantas mendudukkan diri di samping sang ibu.
"Mama sendiri, kenapa belum tidur? Malam nonton televisi gini? Nggak baik tahu Ma begadang kayak gini," ujar Sean sembari menyandarkan kepalanya pada bahu ibunya.
"Ini masih jam sembilan lebih dikit, belum malam-malam banget," sahut beliau dengan mata yang masih fokus ke layar televisi, menonton sinetron yang tengah digandrungi banyak orang itu.
"Tetep aja nggak sehat, Ma."
"Iya, iya, yang Dokter," kata mamanya. "Lagian ini Mama lagi nunggu Papa pulang, nggak enak banget tidur sendirian," lanjut beliau.
"Jam segini Papa juga belum pulang?
"Iya, belum. Tadi bilangnya mau telat, kerjaan di kantor masih banyak."
Sean manggut-manggut. Pantas saja ia tidak menemukan keberadaan sang ayah. Biasanya lelaki itu selalu lengket dengan sang ibu.
"Yang lain juga belum pulang?" tanya Sean lagi seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sisi rumah, mencari keberadaan kembaran serta adiknya itu, karena biasanya di jam-jam seperti ini mereka juga berada di rumah atau menemani sang ibu menonton televisi.
"Mereka masih di luar. Tadi Athaya kasih kabar sama Mama, kalau dia lagi ngerjain tugas kelompok sama teman kampusnya. Nggak tahulah, tugas kayak apa apa yang adik kamu itu kerjain sampai jam segini. Bisa jadi dia lagi bohongin Mama, keluyuran nggak jelas." Ibu tiga anak itu berbicara dengan emosi tertahan.
Tersenyum tipis, Sean mulai mengelus lengan beliau. Mencoba membuat wanita yang telah melahirkannya itu untuk tenang. "Udahlah, Ma. Mungkin tugas kuliahnya Athaya emang banyak," ujarnya.
"Adikmu itu bandel Se, nggak mungkin kalau belajar-belajar kayak gitu. Apalagi Jean, dia yang bener-bener paling susah diatur."
Embusan napas kasar terdengar dari mulut sang ibu. Badan beliau yang awalnya tegak, ia hempaskan ke sandaran sofa.
"Kamu tahu banyak tentang dia Se, Mama sampai nggak habis pikir sama jalan pikiran kembaran kamu itu. Umurnya bahkan udah kepala tiga, udah dewasa, tapi apa? Dia bertingkah kayak remaja yang susah diatur. Kuliah terbengkalai, skripsi mandeg nggak diselesai-selesaiin juga, Athaya aja udah mau skripsian. Mau jadi apa anak itu?" d**a Alea tampak naik-turun, menandakan jika wanita paruh baya itu sedang dikuasai emosi.
"Terkadang, Mama dan Papa merasa gagal menjadi orang tua pas ngeliat salah satu anaknya punya sifat pembangkang dan keras kepala kayak gitu." Wanita itu menjeda ucapannya sembari menarik napas panjang, lantas mengembuskannya dengan kasar. Senyum kecut kemudian tersungging. "Mama nggak tahu lagi gimana cara didik Jean. Dia udah terlampau jauh dari kita."
"Ma," Sean memanggil dengan nada pelan. Sebenarnya, ini pertama kalinya bagi pria itu berbicara seserius ini dengan sang ibu. "Bukan salah Mama atau Papa kalau Jean bertingkah kayak gitu. Mungkin aja karena pergaulannya yang bebas, teman sepermainannya yang dugal."
"Maka dari itu Se, seharusnya Mama dan Papa bisa bimbing Jean milih teman yang baik, membatasi pergaulannya supaya nggak sebebas sekarang."
Sean langsung merutuki dirinya setiba Ibunya selesai berbicara. "Ma---" Suara Sean terdengar hampir seperti rajukan. "---Ini bukan salah Mama, atau Papa." Ia menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
Sebenarnya, Sean tak cukup tahu separah apa pergaulan si adik lima menitnya itu. Apakah masih bisa ditanggulangi lagi atau memang harus angkat tangan. Seperti yang sudah ia ceritakan sebelumnya, hubungan keduanya bahkan tidak bisa dibilang baik.
"Nggak, Sean. Kamu salah. Kamu belum bisa ngerti perasaan kami. Nanti, saat kamu punya anak sendiri, dan anak kamu itu punya sifat yang sama kayak Jean, maka saat itulah kamu akan merasa telah gagal jadi orang tua."
"Ma ...."
"Kalau kamu mau ngerasain apa yang Mama-Papa rasain, kamu harus nikah, Se. Jangan fokus sama kerjaan kamu doang."
"Ma ...." Sean merasa topik pembicaraan mereka sudah mulai melenceng dari pembahasan awal.
"Iya. Kamu memang harus nikah, Se. Umur kamu juga udah dewasa."
"Ma---"
"Kamu udah nggak muda lagi, begitupun Mama. Kamu harus menikah Se, harus kasih Mama cucu. Mama takut nggak bisa lihat kamu punya ana---"
"Ma!" Bukan maksud Sean berbicara dengan nada setinggi itu pada sang ibu. Bukan maksud Sean juga memotong perkataan ibunya. Ia hanya tak ingin mendengar ucapan beliau yang semakin ke sini semakin terdengar melantur menurutnya itu.
"Mama ngomong apa, sih? Jangan mikir yang aneh-aneh. Kita bahkan baru kemarin obrolin tentang ini, Ma. Mama tahu aku masih mau fokus sama kerjaanku dan Mama nggak perlu mikir buruk tentang Jean. Jean bakalan berubah."
"Tapi, Se?"
"Udah ya Ma, jangan overthinking kayak gini," ujar Sean, mengambil tangan sang ibu dan menggenggamnya erat. Ia kecup tangan itu berkali-kali kemudian bangkit berdiri. "Aku ke kamar dulu, mau istirahat. Mama juga jangan nonton terus," kata Sean untuk yang terakhir kali sebelum berlalu dari hadapan Alea, ibunya.
Alea hanya mampu menghela napas sembari menatap punggung anak sulungnya yang mulai menaiki anak tangga itu. Ia sama sekali tak besungguh-sungguh ketika mengucapkan permintaannya yang menginginkan Sean segera menikah karena ia tahu, Sean masih ingin fokus pada karirnya. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Hah, ya udahlah, ya."
***
"Dokter Rini, Dokter Rini mau kan bantu Kanaya? Iya kan, Dok? Please, bilang iya, Dok." Kanaya menatap wanita paruh baya ber-name tag Dr. Rini Haryanti Sp.OG yang tengah duduk di hadapannya itu dengan tatapan penuh permohonan.
"Tapi hal itu melanggar kode etik saya, Kanaya. Lagi pula, Dokter Sean juga bukan suami kamu, kamu tidak bisa melakukan proses itu begitu saja." Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi itu kembali menolak permohonan yang Kanaya ajukan sejak kurang lebih lima belas menit yang lalu.
"Ayolah Dok, kali ini aja bantu saya, bukannya saya dulu juga pernah ya bantu cucu Dokter yang lagi butuhin darah waktu itu, iya kan Dok?" Sebenarnya, Kanaya tak ingin mengungkit-ungkit kebaikannya dulu, tapi mengingat hal itu merupakan cara satu-satunya untuk membujuk Rini, ya apa boleh buat?
Perempuan berusia sekitar pertengahan abad itu menghela napas panjang. "Berikan saya alasan kenapa saya harus membantu kamu, Kanaya?"
Kanaya ikut-ikutan menghela napasnya, sebelum menceritakan alasannya mengapa ingin melakukan apa yang sebenarnya dilarang itu, kecuali jika dirinya sudah memiliki sosok pendamping.
"Kamu terlalu dibutakan cinta, Kanaya." Rini tak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan muda di hadapannya itu. "Lalu, bagaimana dengan keluarga kamu kalau kamu berhasil? Nama kamu pasti akan tambah jelek di mata mereka, dan mungkin ayah dan ibu kamu malah akan semakin tidak menghargai kamu karena kamu sudah mencoreng nama baik mereka. Jadi Kanaya, coba pikir matang-matang." Yang sekarang Rini lakukan adalah mencoba membujuk Kanaya untuk tak melakukan hal yang gadis itu inginkah.
"Saya akan tetap pada pendirian saya, Dok. Apa pun yang terjadi." Perempuan itu masih bersikeras mempertahankan keinginannya.
Ya, egolah yang saat ini menguasai dirinya. Tak jarang memang, orang yang memiliki ego tinggi akan berbuat apa pun entah itu dengan cara licik atau tidak untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Terlebih jika dibarengi dengan sifat ambisius yang tinggi, maka ia akan berlagak buta dan tuli, semua kritik dan saran yang orang lain beri, akan ia abaikan.
"Kanaya, perlu kamu tahu, proses yang kamu tempuh akan sangat panjang. Kamu harus menjalani tes hormon, tes HSG, tes gula, insulin, dan itu nggak sebentar. Perlu kamu tahu Kanaya, belum tentu program ini juga berhasil. Lagi pula kalau saya bisa membantu kamu, bagaimana bisa kita mendapatkan sp*rma dari Dokter Sean?"
Ya, itulah hal yang paling sulit dari rencana Kanaya. Mendapatkan sp*rma Sean untuk proses inseminasi yang sedari tadi ingin ia lakukan. Pada akhirnya Kanaya memilih cara licik seperti ini untuk mendapatkan pria itu. Ia tahu ia salah, tapi dia sudah terlalu terobsesi ingin memiliki sang dokter spesialis muda itu.
"Dokter tinggal bilang ada pemeriksaan sp*rma atau perbandingan antara sp*rma laki-laki yang sudah berumur dan laki-laki muda. Atau lagi, Dokter bilang aja kalau anak atau keponakan Dokter lagi butuh untuk praktikum Patologi Klinik."
"Itu tidak mungkin, Kanaya. Dokter Sean tidak akan percaya. Terlalu mengada-ada. Anak saya tidak bersekolah kedokteran dan keponakan saya juga baru masuk semester satu, belum ada praktik semacam itu." Si Dokter Obgyn masih berusaha menolak permintaan Kanaya secara tak langsung. "Kalaupun kita sudah bisa mendapatkannya, masih ada proses lanjutan yang lagi-lagi sangat panjang, Nak. Dan, jangan lupakan juga, sp*rma itu tidak akan bisa bertahan lama di luar rahim manusia."
"Maaf Dokter Rini sebelumnya, saya nggak peduli jika prosesnya sangat panjang. Sekarang, yang saya butuhkan adalah bantuan dari Dokter Rini. Jadi, Dokter Rini mau kan membantu saya?"
Lalu, dengan berat hati, wanita paruh baya di depannya itu menjawab, "Iya." Sambil mengembuskan napas panjang. Ia sebenarnya tak ingin memenuhi permintaan Kanaya, tapi ia juga pernah berutang budi pada gadis itu. Jika tidak ada dia, mungkin cucunya tak akan pernah merayakan ulang tahunnya yang kelima, enam, tujuh, dan seterusnya.
Kedua sudut bibir Kanaya lantas melengkung ke atas, membentuk senyum lebar yang kontras dengan wajah manisnya. "Makasih Dokter Rini, jadi tambah sayang deh sama Dokter." Kanaya berujar dengan senang. "Terus, kapan kita bisa mulai prosesnya, Dok?" lanjutnya dengan mata berbinar.
"Bagaimana siklus haid kamu? Lancar dan teratur atau tidak?" Rini malah balik bertanya.
"Nggak terlalu teratur sih Dok, kadang sebulan sampai dua kali. Memangnya kenapa, Dok? Berpengaruh, ya?" Air muka Kanaya berubah serius.
Rini mengangguk. "Untuk tes HSG dan hormon. Kalau kamu menstruasinya tidak lancar, mungkin pada hari ketiga setelah haid kita bisa melakukan tes hormon, dan hari ke delapan kita bisa melakukan HSG."
Kanaya mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali, meski sebenarnya ia tak terlalu paham. "Kebetulan kemarin saya selesai menstruasi, Dok. Jadi, besok saya bisa melakukan tes hormon."
"Oke."
***
Tes hormon sudah Kanaya jalani beberapa hari yang lalu dan syukurlah hormon prolaktinnya normal. Ia juga sudah menjalani tes gula serta insulin, dan ya, lagi-lagi hasilnya normal. Tadi pun, ia baru saja menjalani pemeriksaan Histerosalphingogram (HSG) untuk mengetahui tuba fallopi-nya tersumbat atau tidak di bagian radiologi.
"Gimana Dok hasilnya?"
Rini tampak memperhatikan foto hasil rontgen yang diberikan beberapa saat lalu oleh pihak radiologi. "Bagus. Tidak ada sumbatan," jawabnya terdengar lugas, membuat Kanaya bersyukur dalam hati. Sepertinya semesta tengah mendukung rencana liciknya itu.
"Jadi kita tinggal nunggu sp*rma dari Dokter Sean saja ya, Dok?"
Rini mengangguki pertanyaan Kanaya sambil meletakkan hasil rontgen itu. "Kemarin saya mendatangi Dokter Sean, dan meminta sp*rmanya sebagai contoh." Perempuan paruh baya itu kemarin memang menyempatkan diri menemui Sean, dan dengan spontan mengatakan pada pria itu jika temannya yang seorang dokter hewan tengah membutuhkan sp*rma manusia untuk dicocokkan dengan sp*rma milik orangutan. Terang saja hal itu sempat membuat Sean agaknya merasa tersinggung, lantas penolakanlah yang Rini terima. Rini dengan aktingnya yang pas-pasan pun memasang wajah paling nelangsa dengan mengatakan tidak ada yang mau membantunya. Dan hanya Sean kandidat paling tepat yang bisa membantunya.
"Dokter Sean sempat menyarankan para koas dan dokter residen untuk memberikan sp*rma mereka."
"Jadi Dokter Sean nggak mau, Dok?"
"Kemarin saya sempat bujuk dia, saya bilang teman saya benar-benar butuh sp*rma, secepatnya. Dan pada akhirnya, tadi pagi Dokter Sean bersedia memberikannya pada saya. Untuk sekarang, sp*rma beliau masih dalam tahap pencucian di laboratorium."
Pencucian yang dimaksud memiliki arti yang berbeda dari pencucian pakain, piring, mobil, atau benda padat lainnya yang biasanya menggunakan sabun cuci. Pencucian yang dimaksud adalah, memisahkan sp*rma dari plasma seminal yang akan menghilangkan prostaglandin dan subtansi lain yang dapat menimbulkan reaksi buruk atau kontraksi uterus pada wanita. Sebelum proses pencucian, semen atau a******i lebih dulu diencerkan dengan cairan steril untuk memisahkan sp*rma dari komponen cairan semen. Maka dari itu, untuk menghilangkan bahan kimia dan bakteria, perlu adanya proses pencucian sp*rma, selain itu proses ini juga berguna meningkatkan kemampuan sp*rma dalam membuahi sel telur. Dan satu lagi, sp*rma yang harus dipilih adalah sp*rma yang memiliki kualitas unggul, sehat, serta memiliki konsentrasi dan molalitas atau pergerakan yang tinggi untuk nantinya bisa mencapai ovum.
"Terus, kapan proses inseminasinya, Dok?"
"Hari ini pun juga bisa, tinggal menunggu selesainya proses pencucian sp*rma. Takutnya kalau menunggu lebih lama lagi, sp*rma Dokter Sean akan mati, dan kita nggak bakalan bisa dapetin itu lagi."
Kanaya mengembuskan napas lega, bersyukur sebab keinginannya sebentar lagi terpenuhi.
"Tapi saya akan mengingatkan kamu, inseminasi yang akan kita lakukan belum tentu berhasil."
Kanaya mengangguk. Ia hampir melupakan hal itu, tapi semoga saja inseminasi yang ia lakukan ini bisa berhasil dan ia bisa mendapatkan Sean.
Ya, semoga saja.
Tbc