Sebenarnya, setelah menjalani proses inseminasi, Kanaya masih memiliki beberapa rencana lagi sebagai penunjang rencana gilanya itu. Bagaimanapun juga, tak mungkin ia tiba-tiba mengaku hamil---jika proses inseminasi yang tempo hari ia lakukan berhasil---pada Sean, sementara interaksi di antara mereka hanya itu-itu saja. Kanaya yang berlari mengejar Sean, sementara Sean yang berlari karena takut dengan sikap agresif Kanaya. Mungkin orang awam akan mengira jika mereka tengah dimabuk asmara, persis seperti adegan serial India, barangkali.
Menghela napas panjang, dengan mantap Kanaya mengetuk pintu putih di hadapannya. Pintu ruangan Sean, tentu saja. Selang beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka. Menampilkan sosok Sean dengan wajah kusut, namun tak menghilangkan kesan ketampanannya yang sampai membuat perempuan berwajah manis itu terbengong-bengong menatapnya. Oh, astaga! Bahkan air liur Kanaya sudah hampir menetes tadi, kalau saja ia tak segera mengusapnya.
"Ada urusan apa kamu ke sini, Kanaya?" Sean bertanya dengan ketus, wajah kusutnya berubah datar, sementara matanya menatap Kanaya dengan tajam.
Kanaya menyengir lebar. "Hehe, aku punya penawaran yang bagus buat Dokter Sean yang ganteng." Dengan riangnya perempuan itu menjawab.
Tak terdengar sahutan dari mulut Sean. Laki-laki itu hanya mereaksikan keningnya dengan membentuk lipatan-lipatan kulit. Kanaya mengasumsikan hal itu sebagai pertanyaan.
"Pasti Dokter Sean nggak mau aku ganggu lagi kan?" tanya Kanaya yang pasti Sean angguki.
"Yah, sebenarnya aku sedih dapet jawaban kayak gini. Hm, tapi nggak apa-apa deh," ujar Kanaya sambil mengedikkan bahunya.
Sean sudah merotasikan bola matanya dengan malas. Merasa jengah. Pikirnya, Kanaya pasti hanya ingin bermain-main dengannya. Sean tidak suka.
"Kalau tidak penting, sebaiknya kamu pergi saja dari sini." Sean sudah bersiap-siap menutup pintu ruangannya kembali, namun dengan gesit Kanaya menaruh tangannya di antara daun pintu.
"Tunggu sebentar, Dok. Nanti Dokter pasti nyesel kalau nolak tawaranku ini."
"Ya sudah, cepat katakan." Sean mengurungkan niatnya yang hendak menutup pintu itu. Tangannya berkacak pinggang, sementara matanya menatap malas gadis itu.
"Jadi gini Dok, gimana kalau Dokter besok ngeluangin waktu Dokter, sehariiiii aja buat aku. Satu hari penuh tapi, dan untuk hari berikutnya aku nggak akan pernah ganggu Dokter Sean lagi, malahan kalau bisa aku nggak akan nemuin Dokter. Gimana, Dok? Mau nggak?"
Sean menatap Kanaya dengan penuh selidik. Merasa aneh dengan gelagat perempuan itu. "Apa yang sedang kamu rencanakan?" Ia memicingkan matanya pada Kanaya.
Kanaya gelagapan. "A-apa? A-aku nggak ngerencanain apa-apa kok," jawab perempuan itu dengan terbata.
Sean memajukan wajahnya, mendekatkannya dengan wajah Kanaya yang berubah pasi hingga menyisakan jarak sejengkal. "Jangan bohong!"
Kanaya mengerjapkan matanya beberapa kali, sesaat kemudian dengan cepat ia menggelengkan kepala. "Enggak, aku nggak bohong," elaknya. "Aku kasih tawaran kayak gini semata-mata karena aku sadar. Aku sadar kalau Dokter Sean itu nggak suka sama aku, Dokter nggak nyaman kalau aku ada di sekitar Dokter, dan aku sadar kalau aku nggak pernah bisa milikin Dokter Sean. Jadi, buat terakhir kalinya aku mau ngabisin waktu sama Dokter sebelum aku bener-bener nggak ganggu Dokter."
Sean kembali menjauhkan wajahnya. "Baguslah kalau kamu sadar. Lalu, tawaran seperti apa yang kamu maksud?"
"Aku cuma pengen, sehari aja Dokter ngeluangin waktu Dokter buat aku. Yah, semacam buat memorial gitu. Dan setelahnya, Dokter bisa terlepas dari aku. Dokter Sean setuju, kan?"
Sean tampak berpikir. Barangkali sedang memperhitungkan keuntungan yang ia dapat.
"Gimana, Dok? Dokter Sean setuju apa nggak?" Kanaya berusaha mengatur nada suaranya agar tak terdengar menuntut. "Kalau Dokter nggak setuju, berarti Dokter harus terima kalau aku nemuin Dokter terus," lanjutnya.
Sean masih tampak berpikir. Sejurus kemudian, lelaki itu memberikan anggukannya pada Kanaya.
Sean menyetujuinya, dan tentu saja hal itu membuat Kanaya menyunggingkan senyum lebarnya. Dalam hati, perempuan itu bersorak kegirangan. Rencananya sebentar lagi akan berhasil, dia akan mendapatkan Sean.
***
Kanaya mematut dirinya di depan cermin. Perempuan itu sedang menilai pakaian yang melekat di tubuhnya. "Dress ini cocok kan sama aku?" Kanaya memutar-mutar tubuhnya, membuat bawahan dress-nya itu mengembang ke atas.
Perempuan itu mengerucutkan bibirnya. Ia merasa pakaian yang ia gunakan itu sama sekali tak pantas untuknya, meski sebenarnya ia terlihat sangat cantik. Dress putih yang panjangnya sampai lutut dengan ikat pinggang kecil berwarna cokelat yang mengelilingi lingkar pinggangnya. Terlebih dengan rambutnya yang ia biarkan tergerai. Sangat memukau.
"Oke Kanaya, sebenarnya kamu ini cuma perlu percaya diri aja," gumam Kanaya berusaha menyugesti dan menyakinkan dirinya terhadap penampilannya sekarang. "Ya, kamu cuma harus percaya diri, Kanaya. Penampilan kamu sangat spektakuler, dan Dokter Sean pasti bakalan terpukau sama kamu."
Kanaya tersenyum cerah saat mengingat betapa menyenangkan dirinya nanti, menghabiskan waktu seharian bersama lelaki yang ia puja dan ia cintai setengah mati, serta bisa menjalankan rencananya untuk bisa mendapatkan pria itu.
Kembali perempuan itu mematut dirinya pada cermin, membenarkan letak poni serta anak rambutnya yang sedikit berantakan. Tak sengaja matanya menatap ke jam yang terpasang melingkar di tangannya. Matanya membulat ketika mendapati jam itu menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh lima menit. Sementara, jam sepuluh dia harus sudah ada di sekitaran rumah sakit yang jarak tempuhnya cukup jauh dari rumahnya. Sean akan menjemputnya di sana, pria itu mengatakannya sendiri kemarin.
Buru-buru Kanaya meraih flat shoes berwarna putih yang tadi sudah ia siapkan. Dengan gerakan cepat Kanaya memakainya. Setelah selesai, perempuan itu langsung menyambar sling bag-nya.
Perempuan itu bergegas keluar dari kamarnya. Saat berada diundakan tangga, dia sempat hampit bertabrakan dengan Miranda yang hendak naik ke lantai atas.
Kanaya menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Miranda.
Kakaknya itu menatap penampilan Kanaya dari atas sampai bawah. Kedua alisnya menukik tajam. "Kamu mau ke mana, Kanaya? Keluar sama Garril?" tanya perempuan itu tenang, tersirat nada penuh ingin tahu di dalam kalimatnya.
Ekspresi heran menghiasi wajah Kanaya. Setiap apa pun yang hendak atau sudah ia lakukan, selalu kakaknya itu kaitkan dengan Garril. Apa pun itu. Kadang kala, Kanaya merasa heran. Ia menebak Miranda memendam rasa pada dokter itu.
"Kenapa Kakak tanya kayak gitu?" tanya Kanaya langsung, ingin menuntaskan pertanyaan yang cukup mengganggunya.
"Jawab aja pertanyaan Kakak tadi, Kanaya." Miranda menjawab dengan ketus.
Kanaya mengembuskan napasnya pelan. "Dokter Garril kemarin kasih kabar ke aku, kalau dia ada seminar di luar kota sampai tanggal berapa gitu, aku juga kurang tahu. Jadi, dia lagi nggak ada di sini. Aku nggak mungkin kan, kalau mau keluar bareng dia?" terang Kanaya panjang lebar. "Lagian, kenapa Kak Miranda tanya kayak gitu sama aku? Apa-apa yang mau atau yang udah aku lakuin, kenapa selalu Kakak kaitin sama Dokter Garril?"
Miranda tak menghiraukan adiknya, perempuan itu malah berlalu begitu saja. Meneruskan langkahnya yang tadi sempat tertunda karena perbincangan singkatnya bersama Kanaya.
Sejujurnya Kanaya penasaran, tapi mau bagaimana lagi, kakaknya itu bahkan hanya mengabaikannya. Mengangkat kedua bahu, Kanaya memilih untuk tidak memikirkan sikap acuh tak acuh wanita yang lebih tua empat tahun darinya itu. Dia sudah biasa dengan perilaku Miranda yang seperti itu, sebelum kakaknya itu sekolah ke luar negeri tentunya.
Kanaya menepuk dahi saat sadar jika sejak tadi ia hanya diam saja. Padahal waktunya sudah sangat mepet. Dokter tampan itu pasti tak mau menunggunya, kalau sudah begitu, acara jalan-jalannya akan gagal, pun dengan rencana yang hampir menguras waktu serta pikirannya selama berhari-hari itu, bahkan bisa dibilang hampir satu bulan.
Lantas perempuan itu kembali melangkahkan kakinya, menuruni anak tangga dengan langkah supercepat. Beruntung sekali tadi ia memilih mengenakan flat shoes, jika tidak, sudah dipastikan ia akan berguling-guling di tangga itu.
Tidak, tidak. Ia tidak mau mati begitu saja, keinginannya bahkan belum terwujud. Sean belum jadi miliknya.
Tak butuh waktu lama baginya untuk tiba di taman tempat mereka janjian. Kanaya tersenyum cerah saat melihat Sean yang tengah duduk di bawah pohon rindang dengan tubuh yang menyender ke sandaran kursi, tangan yang menyilang di depan d**a, dan mata yang terpejam rapat.
Sebelum menemui lelaki itu, Kanaya memastikan penampilannya sekali lagi. Ia benarkan anakan rambutnya yang mencuat, memasang bedak di wajahnya yang berkeringat, juga menyemprotkan parfum dengan wangi mint itu.
Selesai.
Kanaya tersenyum cerah. Lantas dengan langkah semangatnya ia berjalan menghampiri sang pujaan hati. "Dokter Sean!" sapanya dengan nada ceria.
Sean membuka matanya, menatap Kanaya dengan datar. "Kamu terlambat hampir setengah jam," ujar lelaki itu sembari menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Kanaya menyengir. "Hehe, maaf Dok, aku nggak ada maksud buat Dokter nunggu lama. Jalan-jalan sama Dokter artinya aku harus tampil maksimal. Aku cuma nggak mau nanti Dokter jalan sama cewek kumal kayak aku," sahut gadis itu. "Lihat, aku cantik kan, Dok?" lanjutnya bertanya.
Sean memutar bola mata dengan malas. Bukannya menatap Kanaya, lelaki itu malah melihat ke arah lain. Membuat si gadis mengerucutkan bibirnya dan menghentakkan kaki dengan kesal.
"Dokter Sean ih, gitu banget sama aku. Aku cuma mau dipuji doang," kata Kanaya.
Lagi, Sean memutar bola matanya dengan malas. Ia sama sekali tidak ingin meladeni keinginan gadis itu yang baginya terlalu kekanak-kanakan dan hanya membuang waktu saja. Lelaki itu lantas berdiri, merapikan bajunya yang kucel lalu berjalan meninggalkan Kanaya.
"Ayo, saya nggak mau mengobrolkan hal-hal yang tidak penting," ujarnya tanpa menatap Kanaya dan terus melajukan kedua kakinya.
Bibir Kanaya semakin mengerucut. Padahal ia sudah berekspektasi tinggi jika Sean akan memuji penampilannya habis-habisan. Namun, yang namanya Sean memang sedikit menjengkelkan. Alih-alih memuji, lelaki itu malah mencela. Membuat hati Kanaya dongkol saja.
"Dokter Sean, kok malah ninggalin aku?! Tunggu dong, Dok!" teriak Kanaya begitu sadar Sean sudah semakin jauh darinya.
Lantas, dengan langkah cepat gadis itu menyusul sang lelaki.
tbc