9. Puncak

1674 Words
Kanaya begitu menikmati kebersamaannya dengan Sean. Sejak tiga jam lalu, mereka sudah menghabiskan waktu di salah satu taman hiburan yang terkenal di kota mereka. Bahkan Kanaya dengan tidak sungkannya mengajak Sean menaiki berbagai macam wahana yang ada di sana. Sean sempat menolak, tetapi Kanaya yang memang menyebalkan bertingkah selayaknya anak kecil yang merengek meminta permen pada ibunya. Tentu saja Sean malu, hampir semua pengunjung yang berada di sekitar mereka menjadikan keduanya sebagai bahan tontonan. Apalagi tak satu-dua Sean mendengar celetukan yang bikin panas telinga. Untuk itu, meski dengan berat hati ia menuruti permintaan Kanaya. Daripada lelah, Sean lebih merasa jenuh dan muak. Jenuh dengan hal yang sama sekali tidak cocok dengan umurnya yang sudah kepala tiga dan muak dengan segala tingkah Kanaya. Wajahnya bahkan terlihat sangat masam, berbeda sekali dengan wajah Kanaya yang masih cerah dan bersinar. Sean mengembuskan napas panjang. Kakinya sudah cukup lelah ia gunakan melangkah dan menuruti segala keinginan Kanaya. Dalam hati Sean merutuki dirinya. Kenapa bisa dia menerima tawaran bodoh dari gadis itu. Terlebih lagi, dia masih harus bersama perempuan itu untuk delapan jam ke depan. "Dok? Dokter," panggil Kanaya sembari menggoyangkan lengan Sean. "Apa lagi Kanaya?" sahut lelaki itu dengan malas. Wajahnya bahkan sama sekali tidak menunjukkan senyum. Kanaya menghentakkan kakinya dengan kesal. Lantas dengan muka tertekuk, perempuan itu melangkahkan kakinya menuju kursi panjang yang letaknya tak jauh dari mereka, dan mendudukkan tubuhnya di sana. Sean hanya menaikkan sebelah alis, tak mengerti dengan tingkah kekanakkan Kanaya. "Dokter Sean!" Perempuan itu memekik, cukup kencang hingga membuat beberapa orang yang berada di sekitar mereka berjingkat kaget. Wajah Sean memerah malu saat tatapan tajam beberapa orang tertuju pada dirinya dan Kanaya. Sean menyunggingkan seulas senyum canggung dan menggumamkan kata maaf berkali-kali. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya mendekati Kanaya. "Jangan membuat saya malu, Kanaya," peringatnya sembari menatap Kanaya dengan tatapan tajam. Kanaya hanya mengedik tak acuh, membuat Sean menghela napas panjang. Lelaki itu pun lantas mendudukkan dirinya di samping gadis itu. "Kamu sangat kekanakan," celanya dengan suara rendah. Kanaya mengerucutkan bibir. "Salah Dokter Sean sendiri yang sok nggak peduli sama aku, sok nggak denger suaraku," balas Kanaya tak acuh. "Tadi aku kan ngajak buat beli permen kapas, tapi Dokter sama sekali nggak mau berhenti, jalan terus ninggalin aku," ujarnya dengan wajah cemberut. Lagi-lagi dia mengandalkan tingkahnya yang persis seperti anak kecil, sama sekali tak mencerminkan usianya yang sudah seperempat abad. Tangan Sean terkepal kuat, rahangnya pun mengetat. Laki-laki itu berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. Ia sudah lelah menuruti segala keinginan Kanaya. "Kenapa muka Dokter kayak lagi nahan gitu? Dokter Sean sakit perut?" tanya Kanaya khawatir saat melihat raut wajah Sean yang menurutnya sedang menahan sesuatu itu, walaupun memang itu kenyataannya. Jelas-jelas Sean sedang menahan emosinya agar tak meledak. Sean lantas mengembuskan napasnya kasar. "Tidak, saya tidak sedang sakit perut. Sekarang saya cuma mau pulang," jawab Sean datar tanpa menoleh ke arah Kanaya. "Lho, lho, lho, nggak bisa kayak gitu dong, Dok! Kan perjanjiannya sampai jam sepuluh nanti!" balas Kanaya tak santai. Namun, sedetik kemudian senyum jahil terukir di wajah cantik perempuan itu. "Oh, aku tahu, Dokter Sean masih pengen aku ganggu, kan? Iya, kan?" Sean memutar bola matanya malas. "Tidak," jawabnya singkat. Mana mungkin dia mau Kanaya mengusik hidupnya. "Ya udah, kalau gitu ayo kita lanjutin jalan-jalan kita ini." Kanaya berdiri, meraih tangan pria itu dan mengajak lelaki itu untuk melanjutkan langkah jalan mereka. "Eh, Dokter Sean, gimana kalau kita ke Puncak aja? Udaranya pasti sejuk banget di sana, daripada di sini yang banyak polusi," kata Kanaya memberi usul. Sean menganggukkan kepalanya tak bersemangat. Masih ada banyak waktu. Dan, daripada menuruti keinginan gadis itu yang cukup membuatnya pusing, Sean mengiyakannya saja meski dengan berat hati. Jarak kotanya dan Puncak tidak begitu jauh dan karena ini bukan hari libur, pasti jalanan tidak begitu macet. Lagi pula, Sean juga butuh hiburan. Kepalanya sudah terlalu penat memikirkan urusan rumah sakit, ditambah dengan gadis menjengkelkan di sampingnya itu. Sementara itu, walaupun tidak mendapat respons yang baik dari Sean, Kanaya tetap saja tersenyum cerah. "Oke, ayo Dok!" *** Butuh waktu lebih dari dua jam untuk keduanya tiba di Puncak. Tidak seperti yang Sean kira sebelumnya, jalanan tetap saja macet, membuat waktu mereka terbuang lebih lama di perjalanan. Udara sejuk Kebun Raya Cibodas langsung menyambut Kanaya begitu ia keluar dari mobil. Senyum gadis itu langsung merekah begitu melihat rerumputan yang hijau dan pepohonan yang menyejukkan mata. "Dokter Sean, naik kuda yuk!" ajak Kanaya dengan semangat saat Sean berdiri di sampingnya. "Saya nggak bisa," sahut Sean. Sejujurnya, bukannya tidak bisa, hanya malas saja dan suasana hatinya sedang tidak baik. Bukannya bisa berkuda dengan santai, ia pasti akan memacukan kudanya dengan cepat. "Yah, padahal pengen," kata Kanaya dengan bibir mengerucut begitu mendengar jawaban Sean. Sesaat kemudian, wajahnya berubah berseri. "Eh, tapi ke Curug Ciismun mau, kan, Dok? Aku lihat di i********: temenku, curugnya bagus banget." "Enggak, saya lagi nggak pengen jalan kaki ke sana. Jauh, dua puluh lima menitan baru nyampe," sahut Sean lagi. Ia pernah ke curug itu sewaktu family gathering sekitar satu tahun yang lalu bersama rekan-rekannya sesama dokter. Perjalanan ke sana cukup jauh dan tidak diperkenankan membawa kendaraan. Jadi Sean malas saja kalau sekarang juga harus berjalan kaki. Ia cukup lelah menyetir selama dua jam. "Yaaah, nggak mau lagi. Ke taman sakura aja kalau gitu ya, Dok," kata Kanaya kemudian, jarinya lantas menunjuk arah sebelah kiri di mana taman yang ia sebutkan tadi berada. Ia tahu dari papan penunjuk arah yang terpasang tak jauh dari posisi mereka. "Tapi aku maunya jalan kaki sama Dokter. Nggak jauh kok kayaknya. Dokter mau, kan? Mau ya, Dok, ya? Ya? Ya?" lanjutnya sembari mengedipkan mata beberapa kali. Berharap Sean mengiyakan ajakannya dan tidak menolak seperti yang sudah-sudah. Senyum gadis itu langsung merekah begitu mendapat anggukan malas dari Sean. Akhirnya. Jujur saja, Kanaya ingin terlihat seperti pasangan lain yang juga mengunjungi tempat itu. Berjalan berdampingin dengan tangan yang saling menggenggam, betapa romantisnya. Ya, meskipun ia tahu, Sean tidak akan mau menggandeng tangannya nanti. Tak menunggu lama, Kanaya segera meraih tangan Sean, mengajak lelaki itu untuk berjalan ke taman sakura. Jaraknya benar-benar tak jauh dari tempat mereka memarkirkan mobil. Untung saja mereka datang di waktu yang tepat. Taman itu sudah penuh dengan pohon yang berbunga. Bunganya cantik dengan warna merah mudanya yang begitu memukau mata. Benar-benar sangat indah. Senyum Kanaya semakin cerah. Gadis itu kemudian meminta Sean untuk memotret dirinya. Meski Sean tampak ogah-ogahan, lelaki itu tetap saja mengambil foto Kanaya dengan gayanya yang bermacam-macam. Entah berapa foto yang ia ambil, yang jelas lebih dari sepuluh. "Dokter Sean, yuk dong foto bareng, masa dari tadi aku mulu?" kata Kanaya sembari berjalan mendekat. "Nggak, saya nggak suka foto," balas Sean sembari menyerahkan ponsel gadis itu. "Ih, Dokter, kan buat dokumentasi kalau aku pernah jalan-jalan sama Dokter. Gimana sih? Ayo dong Dok, sekali-kali." Sean belum menolak atau bahkan mengiyakan ajakan gadis iti saat Kanaya meminta pengunjung yang lewat di depannya untuk memotret mereka. "Mbak, maaf, boleh minta tolong nggak? Fotoin saya sama calon suami saya," katanya yang membuat Sean memelototkan matanya. Bisa-bisanya Kanaya mengakuinya sebagai calon suami, Sean mana sudi menikah dengan gadis itu. "Oh, boleh, Mbak. Boleh." Kanaya pun segera menyerahkan ponselnya pada wanita yang entah siapa namanya itu. Ia lalu menyeret Sean untuk berdiri tepat di bawah pohon sakura. Keduanya berdiri berdampingan. Kanaya melingkarkan kedua tangannya di lengan Sean, lalu tersenyum cerah menghadap kamera. Berbeda dengan gadis itu, Sean hanya berdiri kaku dan malah melihat ke arah lain. Ia tampak benar-benar enggan berfoto dengan Kanaya. "Sekali lagi ya, Mbak," kata Kanaya seusai Mbak Pengunjung itu selesai mengambil fotonya dengan Sean. Ia pun berganti pose. Kepalanya mendongak, menatap wajah Sean yang masih setia dengan wajah datarnya. Wajah gadis itu berubah cemberut. "Ish, Dokter Sean, senyum dong Dok, senyum. Jangan cemberut kayak gitu. Tunjukin gigi Dokter. Iiiiii, gitu lho Dok," ujarnya dengan gemas. Sean tak memberi reaksi apa pun. Ia tetap mempertahankan ekspresinya seperti tadi, dingin dan datar. Kanaya semakin gemad. Tak hilang akal, ia kemudian berjinjit dan mengecup pipi lelaki itu. Sean yang mendapat perlakuan demikian langsung menoleh pada Kanaya dengan mata yang membulat lebar. Dan tpat di detik itu, Mbak Pengunjung tadi menjepret mereka. Foto yang sempurna. Dan Kanaya tersenyum semakin cerah. *** Jam setengah lima sore, keduanya baru keluar dari Kebun Raya Cibodas. Meski tidak menunjukkan ketertarikannya dengan liburan di hari bukan libur itu, sejujurnya Sean cukup menikmati semua itu. Tumbuhan dan segala pemandangan di sana cukup membuat Sean meresa lebih rileks dari sebelumnya. Pikirannya yang sudah seperti benang kusut pun perlahan terurai. Keduanya pun masih keliling Puncak dan membeli beberapa oleh-oleh di sana. Sean sejujurnya sudah cukup lelah, tetapi Kanaya mengatakan jika itu adalah pertama dan terakhir kalinya Kanaya bisa jalan-jalan dengannya. Malam hari, udara Puncak terasa begitu dingin, sangat berbeda dengan udara siang tadi yang cukup sejuk. Sean bahkan sampai menggigil kedinginan. Lelaki itu menggosok-gosokkan tangannya yang kedinginan lalu menempelkannya pada kedua pipi. Saat ini ia dan Kanaya sedang berada di pelataran sebuah masjid, baru saja selesai beribadah. Andai dari awal dia tahu kalau dia akan ke sini, pasti pria itu akan mempersiapkan diri, membawa jaket atau sweater contohnya. "Dokter Sean, di sini dingin banget ya, gimana kalau kita cari tempat penginapan atau hotel gitu? Sekalian makan malam," tanya Kanaya begitu ia masuk ke dalam mobil. Gadis itu baru keluar dari masjid. Sean menolehkan kepalanya, memandang wajah Kanaya yang memucat, dengan bibir yang sedikit membiru. Gadis itu terlihat sama kedinginannya dengannya, terlebih dengan bajunya yang kurang panjang itu. Kanaya memang tak memikirkan kalau dia akan ke sini tadi, idenya yang mengajak Sean pun hanya sebuah spontanitas semata. "Kenapa harus cari penginapan? Kita kan tidak akan menginap," tanya Sean seraya memicingkan matanya. Kanaya menggigit bibirnya. Sejujurnya ada satu rencana lagi yang ia rencanakan. Tapi tidak mungkin kan, ia mengatakan hal itu pada Sean? Bisa-bisa rencananya gagal lagi. Ia pun termenung sebentar, memikirkan jawaban yang akan ia berikan pada lelaki itu. "Em, ya, kayak aku bilang tadi, kita bisa cari makan. Aku udah lapar, terakhir makan siang tadi sebelum masuk kebun raya," jawab Kanaya pada akhirnya. Ah iya. Sean bahkan hampir melupakan rasa laparnya. Ia baru ingat, terakhir makan adalah siang tadi dan sampai sekarang, perutnya juga belum terisi lagi, kecuali air mineral yang selalu ia simpan di dashboard mobil. Sean pun mengangguk setuju. "Oke kalau gitu. Ayo, pasang sabuk pengaman kamu. Kita cari hotel terdekat," katanya yang lantas menjalankan mobil begitu Kanaya sudah memasang seatbelt. Diam-diam gadis itu tersenyum. Semesta seperti sedang mengaminkan rencananya, membuatnya tidak menemukan kesulitan sedikit pun. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD