Setelah hari itu, hari dimana Indah memutuskan hubungan dengan Dian. Tiba tiba saja Dian menjadi stres, mungkin ini akibat karna ibunya yamg sering pergi ke dukun dan anaknya lah yang mendapat hukuman nya.. Semua keluarga Dian panik melihat keadaan Dian yang sering termenung di kamar, bahkan sesekali tersenyum..
"Ibu bagaimana ini? Kenapa Dian bisa seperti itu?' Tanya saudara Dian
"Ibu juga tidak tahu, kenapa Dian biaa seperti itu." Jawab nya.
"Bu, apa mungkin ini akibat karna kita pergi ke dukun beberpa kali untuk agar bisa memisahkan Indah dan Dian." Timpal saudara Dian yang lain nya.
"Mana mungkin!! Seharusnya yang kena itu Indah bukan Dian." Jawab Ibu.
"Tapi bu, lihatlah Dian sekarang, kenapa dia seperti ini."
"Sudah, kalian diamlah.. Nanti kita cari solusinya bersama sama."
Ayah Dian, merasa iba melihat anak nya yang kondisinya tiba tiba seperti itu. Indah, Indah, dan Indah. Hanya nama Indah yang Dian sebutkan di setiap harinya.. Hingga membuat ayah Dian memutuskan untuk menghampiri Indah ke kos baru nya .
Saat setelah sampai di kos Indah, ayah Dian yang melihat Indah sedang duduk di teras kos sambil membaca sebuah buku. Ayah Dian langsung segerah menghampiri, dan tiba tiba saja bersujud memohon maaf pada Indah.
"Maaf nak Indah. Maaf atas kesalaha yanh istriku lakukan." Ucap nya tulus.
Indah kaget karna tiba tiba ayah Dian datang menghampirinya dan langsung meminta maaf. Indah langsung reflek menunduk dan membatu ayah Dian agar bisa berdiri..
"Pak jangan seperti ini. Tidak baik di lihat orang."
"Indah tolong maafkan keluarga ku." Ucap ayah Dian lagi, setelah duduk di kursi teras.
"Pak kenapa seperti ini? Keluarga bapak tidak punya salah." Ucap Indah.
"Kembali lah pada Dian, tolong nak!!"
Indah terdiam mendengar ucapan ayahnya Dian. Dan setelah itu ayahnya Dian menceritakan tetang kondisi Dian yang setiap harinyaenyebut namanya.. Setelah selesai bercerita. Akhirnya ayah Dian memutuskan untuk pulang..
Setelah sampai ke rumah, ayah nya Dian mengajak sang istri untuk berbicara.
"Ada apa pak?" Tanya sang istri yang tiba tiba saja di ajak untuk berbicara serius.
"Aku ingin kita ke Cirebon."
"Cirebon? Untuk apa?"
"Aku ingin melamar Indah untuk Dian. Dan kita harus bertemu dengan orang tua Indah."
"Tidak mungkin, bapak pasti sedang bercanda kan? Iya kan pak?"
"Bu' mana mungkin bapak sedang bercanda, apa wajah ku saat ini terlihat sedang bercanda."
"Tidak."
"Kalau begitu kita atur, hari apa kita berangkat ke Cirebon, ke rumah orang tua Indah."
"Pak!! Ibu tidak setuju yah dengan kemauan bapak yang tiba tiba ini. Ibu mau nya Dian menikah sama anak nya pak haji, bukan sama Indah gadis kampung itu."
"Ibu." Bentak ayah Dian. "Apa ibu tidak kasihan melihat Dian?" Tanya nya
Ibu Dian menunduk mendengar bentakan dari sang suami, dan pertanyaan dari sang suami..
"Apa ibu ingin Dian gila? Aku tahu ini semua kelakuan kamu dengan anak perempuan mu. Yang ingin sekali memisahkan Dian dengan Indah. Sampai kalian rela pergi ke dukun hanya untuk agar mereka pisah. Di mana hati kamu? Percuma saja kau sholat selama ini, kalau kau masih percaya dengan dukun."
"Pak, bukan sepert itu." Ucap Ibu Indah terpotong.
"Lalu seperti apa, Haa? Kau perempuan, apa kau tidak punya hati sama sekali. Bagaimana jika anak perempuan mu di perlakukan seperti itu? Bagaimana jika ada yang mengatai anak mu sebagai anak kampung dan miskin? Apa yang kira kira kau rasakan? Sakit bukan? Itu lah yang Indah rasakan saat kau mengatainya seperti itu."
Ibu Dian terdiam mendengar ucapan ayah Dian..
"Kenapa Diam? Ucapan ku berar adanya kan??"
"Ingat bu, diatas langit masih ada langit. Jangan lah bersikap seperti kau lah yang punya segalanya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok dan seterusnya. Jadi stop lah berbuat seperti itu lagi. Dan tolong berikan restumu untuk Indah. Karna hanya Indah yang cocok untuk Dian."