Sesampainya di wilayah Huangling, Zeyrang begitu takjub melihat rumah kedua orang tua itu, begitu asri, banyak tanaman - tanaman bahan pangan, bahkan hewan - hewan ternak. Seperti ayam, sapi dan kolam ikan segar yang menyejukkan mata. Silir angin yang begitu sejuk, membuat Zeyrang merasakan hidup yang baru. Menjadi Xiaoyu.
"Heii Xiaoyu, ayo masuk nak.. untuk apa kau terus berdiri di situ, ayo ikut Ibu ke dapur, kita siapkan makanan, pasti kau lapar kan?"
"Hmm ya dan sangat lapar Bu, sepertinya."
"Ya sudah mari ke dapur, kita masak, apapun yang kau mau, Ibu akan buatkan."
"Aku tidak mengenal makanan enak, atur saja apapun yang Ibu masak, aku akan makan."
"Apa kau ada alergi makanan?"
"Hmm tidak tahu, aku tidak ingat apapun."
"Ya sudah ya sudah, kau bantu saja potongkan pokcoy hijau itu ya, nanti kita masak tumis pokcoy dan ayam kukus jahe, kau pasti suka, itu bagus untuk meningkatkan energimu."
"Ya lalu bagaimana cara memotongnya Bu."
"Hehehe kau ini, sepertinya gadis manja ya, apa kau seorang putri kerajaan, yang tahunya hanya menikmati hidangan saja, tetapi aku senang jika Dewa langit benar - benar mendatangkanmu untuk menjadi pelengkap kami, wajahmu cantik sekali seperti putri kerajaan."
"Jangan teruskan Bu, aku sendiri tidak tahu siapa diriku ini, bahkan dari mana asalku, aku juga tidak tahu, jadi percuma aku tidak akan bisa menjawabnya."
"Ya maaf aku janji tidak akan membahasnya lagi, kau potong saja seperti ini, lihat ya caraku memotongnya, setelah itu kau bantu cuci sayuran pokcoynya ya."
"Baik, tetapi ajarkan aku bagaimana cara mencucinya."
"Baiklah, baiklah ya aku ajarkan ya."
Tak lama lelaki tua itu mengantarkan tiga ekor ayam kampung, pada istrinya.
"Nah ini ayamnya sudah selesai dipotong dan dibersihkan, Xiaoyu, nanti kau harus makan yang banyak ya, kau harus selalu sehat, dan setelah itu nanti malam akan ada sebuah pekan raya yang diadakan oleh para pedagang - pedagang kerajinan tangan dan banyak makanan di sana, nanti kau ikut ya, tetapi sebelum itu kau ubah dulu warna rambutmu ini ya, nanti mereka tidak terbiasa melihat warna rambut seperti ini."
"Baik Ayah."
"Ya nanti biarkan Ibumu yang akan merubah warna rambutmu."
"Ya Ayah."
Lalu Zeyrang mendekat ke arah wanita tua itu, dan menanyakan masalah rambut.
"Bu... apa memang di sini sangat mempermasalahkan warna rambut?"
"Hmm ya karena di sini masih di wilayah pedesaan Xiaoyu, mereka tidak terbiasa dengan penampilan yang begitu ekstrim, mereka pun tidak tahu apapun berita di luar, semua berita hanya kami dengar dari para petinggi kepala desa, tidak ada televisi, yang punya hanya para saudagar - saudagar kaya."
"Hmm baiklah, kalau begitu, aku ikuti saja, demi kalian."
"Ya nanti Ibu yang cat rambutmu ya, dan bajumu ini juga terlalu mahal, nanti biar Ibu simpan saja, kau bisa ganti pakaian punya Ibu dulu saat Ibu masih muda, sepertinya masih tersimpan dengan baik, nanti ya kau makanlah dulu, sepertinya kau sangat dehiderasi, sudah berapa hari kau tidak makan dan minum."
"Ya baiklah, Ibu ini sayurannya sudah bersih, apa sudah benar caraku mencucinya?"
"Hmm ya sudah, nah nantinya kau lama - lama juga terbiasa, ya kami tidak memiliki dayang - dayang seperti di istana - istana, aku dan suamiku selalu berdua saja dalam melakukan apapun."
"Oh begitu ya, lalu kenapa Ibu dan Ayah, tidak diberikan keturunan?"
"Hmm kalau kata tabib di sini, rahimku tidak bagus, banyak indung telur yang tidak pernah jadi janin, tetapi kami selalu ikhlaskan, mungkin semua sudah menjadi sebuah takdir kami, dan sudah puluhan tahun kami berdoa, baru sekarang dikabulkan, kami bertemu denganmu, dan merasa sangat bahagia Xiaoyu."
"Aku tidak bisa membalas apapun Ibu, aku mungkin hanya merepotkan kalian saja nantinya."
"Heii..jangan bicara seperti itu Xiaoyu, kami sama sekali tidak merasa keberatan, kami bersyukur walau terlambat, setidaknya kami bisa merasakan menjadi orang tuamu, apa kau menyesal menjadi anak angkat kami yang mungkin bukan berasal dari keluarga berada, kami hanya dari keluarga yang sangat sederhana, kami hanyalah perintis dan pejuang hidup."
"Hmm.. aku tidak permasalahkan siapapun kalian, aku sangat berterima kasih, kalian mau menerimaku di sini, apapun akan aku lakukan untuk membalas semua kebaikan kalian."
*Tiba - tiba wanita tua itu meneteskan air matanya, dan mendekat ke arah Zeyrang, salah satu tangan kananya, menyentuh wajah Zeyrang*
"Xiaoyu... kau tidak perlu membalas apapun nak, justru kami khawatir, jika mungkin suatu saat kau tahu siapa dirimu sebenarnya, dan keluargamu menjemputmu, apa kau akan meninggalkan Ibu." ucap wanita tua itu dengan berlinang air mata
"Ibu...jika memang itu terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian, aku akan membawa kalian, di tempat asalku, di mana pun aku berasal, itu sumpahku, tetapi jika tempatku tidak bisa menerimamu, aku percaya Dewa langit akan menyiapkan hadiah terindah untuk kalian."
"Xiaoyu, aku sangat berharap, Dewa langit memberikan waktu yang panjang untukmu tetap bersama kami dan menjadi anak angkat kami."
"Ya aku pun berharap demikian, kita serahkan saja semuanya, pada kehendak Dewa langit, Bu."
"Semoga saja kami sehat selalu dan terus bisa melindungimu dari apapun Xiaoyu."
"Ibu...jangan menangis ya, selama Dewa langit masih memberikan ijin, kita tidak akan terpisah."
"Ya sudah, mari kita makan, semua masakan sudah matang, pasti ayahmu sudah menunggu kita, dan tentunya kau sangat lapar ya."
"Ya lumayan. Tetapi entah apa aku suka dengan makanan yang kalian buat, karena aku lupa apa saja yang pernah aku makan Bu."
"Tenang saja, Ibu yakin kau pasti menyukai masakannya, Ibu memasaknya dengan penuh kasih sayang, pasti kau akan lahap nanti makannya."
Zeyrang pun membantu membawakan makanan yang sudah matang, ke ruangan meja makan yang ada di ruangan rumah mungil keluarga lansia itu.
"Wahh aromanya hidangannya sungguh lezat ya, ini pasti memasaknya dengan penuh kasih sayang tentunya, heii Xiaoyu, kau harus mencoba masakan Ibumu, Ayah yakin kau akan lahap dan akan berkali - kali menambah porsi makananmu."
"Heiii kau ini jangan berlebihan seperti itu memujiku."
"Ya memang kenyataannya, memang seperti itu, semua masakanmu, sangatlah lezat. Ayo kita makan, hmm lihat asapnya masih sangat menggebul, aroma ayam jahenya lezat sekali."
"Ya Xiaoyu makanlah, ayo jangan sungkan."
"Ya Bu."
*Zeyrang pun mengambil semangkuk nasi, sumpit mengambil tumisan pokcoynya, lalu ayam tim jahenya, satu suapan sudah membuat Zeyrang terdiam, dan matanya melotot, karena masakan Ibu angkatnya sungguh sangatlah lezat, dia memakan begitu lahap cepat, bahkan lupa akan kehadiran kedua orang tua angkatnya, Zeyrang alias Xiaoyu sudah menambah porsi sampai sepuluh kali*
"Wah hahahha lihat itu anak kita, makannya lahap sekali, enak bukan, masakan Ibu angkatmu?" tanya Ayah angkatnya Zeyrang
"Ssttt kau ini sudah biarkan saja dia sepertinya sangat lapar, lain kali kau potong ayamnya tambahkan dua ekor lagi khusus dia." saut istrinya lelaki itu
"Hehhee enak makanannya, tetapi anehnya kenapa aku tidak kenyang - kenyang ya?"
"Mungkin kau terlalu lapar Xiaoyu, sudah habiskanlah, nanti Ibu masak lagi yang jauh lebih banyak ya."
"Ya Ibu, Ayah terima kasih."
"Sudahlah makan saja Xiaoyu." jawab sang Ayah