Masih di kerajaan naga emas, dua hari sudah berlalu, namun Pangeran Ryu belum juga memberikan keputusan apapun untuk meninggalkan Putri Zeyrang. Raja Wong mengerahkan semua prajurit langitnya, untuk menjemput paksa Putri Zeyrang. Saat itu Putri Zeyrang sedang memainkan seruling peraknya ditemani dengan suara burung - burung yang begitu syahdu mendengarkan lantunan seruling Putri Zeyrang. Tiba - tiba para prajurit dari Kerajaan Naga Emas datang dan menjemput paksa Putri Zeyrang. Melihat putrinya ditangkap secara tiba - tiba, membuat Raja Han terkejut, dan ikut mengejar, namun prajurit kerajaan naga emas terlalu kuat, sehingga Raja Han selaku Ayahanda dari Putri Zeyrang tidak kuat menahan para prajurit kerajaan naga emas. Raja Han pun tewas seketika, dan membuat kekisruhan di Kerajaan Naga Perak, karena melihat Raja Han tewas di tangan ratusan prajurit kerajaan naga emas.
*Putri Zeyrang berteriak, melihat Ayahnya tewas di tangan prajurit kerajaan naga emas, air matanya menetes, namun tubuhnya tidak kuat lepas dari cengkraman prajurit naga emas yang begitu kuat*
"Ayah.... Ayah..." ucap Zeyrang saat melihat Ayahnya terbunuh oleh para prajurit terkuat kerajaan naga emas
"Zeyrang putriku...." jawab Raja Han yang tak lama tewas dengan cucuran darah dari mulutnya
Pagi ini akan diadakan penghakiman untuk Putri Zeyrang, karena Pangeran Ryu masih saja menjalin hubungan dengannya. Salah satu Kasim kepercayaan Ryu, datang menghadap, untuk memberitahukan tindakan Baginda Raja Wong karena ingin menghakimi Putri Zeyrang.
"Pagi Pangeran Ryu, saya Achiang datang untuk menghadap Pangeran." ucapnya sembari mengetuk ruangan Pangeran Ryu
"Ya Achiang, ada apa?"
"Gawat Pangeran...suasana sudah mulai genting di istana."
"Apa maksudmu?"
"Baginda Raja, sudah mengerahkan seluruh pasukan khusus, untuk menjemput paksa, Tuan Putri Zeyrang, karena pagi ini akan diadakan penghakiman untuk Putri Zeyrang."
"Apa...! Aku tidak akan membiarkan Ayah melakukan itu."
"Mari Pangeran, sebelum semuanya terlambat."
"Ya."
Pangeran Ryu bergegas menutup ruangannya dan pergi bersama Achiang menuju lapangan penghakiman. Sesampainya mereka di sana, semua sudah terlambat, Putri Zeyrang sudah dilemparkan ke bumi, dan di tangan Baginda Raja sudah ada dua mutiara milik Putri Zeyrang, yaitu kekuatan dan memori milik Putri Zeyrang, kemudian diletakkan di pohon buah melodi keabadian. Ryu hanya bisa bersimpuh, berteriak, melihat kekasihnya tak lagi ada di khayangan.
"Ayah...apa yang sudah Ayah lakukan, pada Zeyrang." ucap Ryu sembari mengepal kedua tangannya, lalu dia mengeluarkan kekuatannya untuk menggetarkan kerajaan, dengan wajah penuh amarah.
"Hmm Ryu, apa yang mau kau lakukan, kau mau menghancurkan langit, maka aku juga tidak akan segan - segan mengurungmu di lapisan langit, jangan pernah gegabah, kau sudah dibodohi oleh cinta semu, sadar Ryu, karena kalian berbeda kasta, jangan pernah mementingkan dirimu sendiri, hanya demi mempertahankan Putri Zeyrang."
"Aku tidak peduli..., Ayah sudah keterlaluan, apa salah Zeyrang...!"
"Apa perlu aku ulangi apa yang sudah kau lihat, kenapa kau menjadi bodoh seperti ini, hanya demi membela Putri Zeyrang, kau tidak memikirkan nasib orang - orang di bumi."
*Ryu semakin murka, matanya menyala terang, membuat semua anggota kerajaan takut, satu hentakan tangannya ke langit, istana sudah dibuat retak pilar - pilarnya*
"Ryu.... jangan membuat Ayah hilang kesabaran, kau sudah banyak membangkang, hanya demi membela Putri Zeyrang." ucap Baginda Raja yang seketika memberikan ikatan rantai emas yang mengikat tubuh Ryu
"Silahkan jika Ayah ingin membunuhku juga, aku rela, cepat kencangkan lagi rantainya, aku tidak pernah takut Ayah."
"Dasar anak keras kepala, kau memang sudah membuatku hilang kesabaran." Baginda Raja terus menguatkan rantai emasnya, dan membuat Ryu muntah darah
Baginda Raja Wong, lalu memberikan hukuman keras pada Ryu, dan menyebabkannya pingsan, mengirimnya ke lapisan langit, yang dikunci oleh mantera.
Sementara itu tubuh Zeyrang yang sudah mati, masuk ke bumi, dan jatuh di sebuah pedesaan yang terletak di Provinsi Jiangxi yaitu Desa Wuyuan. Sebuah desa terindah di wilayah Tiongkok, dengan banyak desa kuno yang masih mempertahankan sebuah keaslian arsitektur dan juga masih memiliki lingkungan alam yang sangat asri.
Kala itu matahari masih menyinari dengan hangatnya, tubuh Putri Zeyrang yang sudah tak bernyawa tergeletak di sebuah tanah, hembusan angin yang masih terasa sejuk namun hangat, membuat sentuhan lembut ke wajah dan rambut indahnya Putri Zeyrang.
Tak lama ada sinar bulat terang mendekat ke arah tubuh Putri Zeyrang, mendekat dan masuk ke dalam tubuhnya, membuat perlahan denyut nadi kembali hidup, dan Putri Zeyrang pun kembali bangkit di kehidupan keduanya, tetapi dia tidak tahu sedang berada di mana, dan siapa dirinya, rambutnya dipenuhi tanah - tanah. Dia mencoba bangun dan menatap silaunya matahari pagi itu. Terdengar suara yang samar - samar namun menggema.
*Kau adalah anakku, jalanilah semuanya dari awal yang baru, dan suatu saat kau akan menemukan cinta sejatimu kembali, berjalanlah ke wilayah Timur, akan tiba saatnya kau berada bersamaku lagi*
"Suara siapa kah itu, apakah kau manusia, lalu aku siapa? Hufftt kau tidak menjawabku, ashhh aku bingung, sudahlah aku jalan saja dulu" ucap Putri Zeyrang yang begitu bingung dengan semua keadaan ini.
Zeyrang terus menggelengkan kepalanya, yang masih bingung dengan semua keadaan ini, sembari merapikan rambut silvernya. Dia terus berjalan, dan mengikuti arahan suara misterius itu yang memintanya ke wilayah timur. Saat setengah perjalan, cuaca semakin panas, dia merasa tenggorokannya sangat kering, mau membeli sesuatu, tetapi sepeser pun dia tidak memegang uang kepingan emas. Tak lama ada suara kereta kuda yang sangat usang, mendekat ada pasangan lansia, melihat Zeyrang seperti mau pingsan karena terlalu dehiderasi. Mereka pun berhenti dan mendekat ke arah Zeyrang.
"Nona muda, kau mau kemana? Apa mau di antar, wajahmu sangat pucat. Kau dari mana Nona muda?" tanya wanita tua itu bersama suaminya
"Hmm aku sendiri tidak tahu harus kemana, aku hanya ingin ke wilayah timur dari desa ini Bi."
"Oh... ini desa Wuyuan, jika kau mau ke wilayah timur, kau bisa ikut kami, Nona, kebetulan kami juga tinggal di wilayah Huangling."
"Hmm bagaimana ya, aku tidak punya pegangan kepingan emas, Bi, aku berjalan saja."
"Heii...sudahlah, kau sepertinya bukan orang sini ya, untuk apa kau ke wilayah timur Desa Wuyuan, Nona?"
"Aku tidak tahu." jawab Zeyrang sembari menggelengkan kepalanya
"Oh apa kau sedang lupa ingatan ya?" tanya lelaki tua yang merupakan suami dari wanita tua itu
"Hmm aku juga tidak tahu, tiba - tiba saja aku di sini."
"Namamu siapa Nona?"
"Aku tidak tahu Paman."
"Ya sudah begini saja, kau tinggal saja sama kami, kebetulan kami tidak memiliki anak, kami kesepian, nanti kau bisa menganggap kami orang tuamu, kau kami beri nama Xiaoyu, bagaimana?"
"Hmm ya tidak buruk sepertinya."
"Ya sudah ikut kami, naik ke atas kereta kuda milik kami, ayolah."
"Ya Paman, baiklah, tetapi apa kalian menyimpan cadangan air, aku haus sekali."
"Oh.. naiklah dulu, ya ada, ini silahkan diminum."
"Ya terima kasih."
*Zeyrang pun menenggak botol air itu, yang terbuat dari sebuah botol kaca yang dilapisi kain cokelat, dia begitu haus, air sebanyak itu habis seketika*
"Maaf airnya aku habiskan Paman, Bibi."
"Tidak apa - apa Xiaoyu, sekarang panggil saja aku Ibu dan ini Ayahmu, kau itu Xiaoyu ya, namamu Xiaoyu."
"Hmm ya, tetapi... apa kehadiranku tidak membuat kalian repot, aku tidak membawa bekal apapun, jangankan pakaian, kepingan uang emas pun tidak."
"Tenang saja Xiaoyu, kau sudah kami anggap anak kami sendiri, tiga puluh tahun lebih kami berdoa, dan akhirnya sang Dewa langit mendatangkan dirimu, masalah makanan kau tidak perlu khawatir, kami ini semua menanam di desa, jika kau ingin daging, seperti ayam atau ikan, kami pun ada, sudahlah, jangan sungkan, anggap saja ini jawaban Dewa langit, mengirimkanmu untuk menjadi putri kami."
"Hmm ya terima kasih Ibu, Ayah."
"Ya mulai sekarang anggaplah kami orang tuamu ya, apapun masalahmu, kesedihanmu, kebahagiaanmu, semua ceritakan pada kami Xiaoyu."
"Ya."
Kereta kuda pun berjalan, menuju wilayah Huangling.