Sang Pemenang

1306 Words
Setelah kutahu bahwa Pak Lurah Suwarno adalah pemenang atas diriku, aku merasa duniaku hancur. Lelaki yang pernah melecehkanku, kini harus menjadi seseorang yang harus kulayani. Ibarat sebuah pepatah, menjilat ludah sendiri. Ya, kini aku harus menghamba pada hal yang pernah kubenci. Nanti malam, semua ritual ini akan mencapai puncaknya. Kabar bahwa pemenang persaingan ini sudah disebar ke seluruh penduduk desa. Kesal, sudah pasti. Banyak pria yang rela memberikan harta satu-satunya demi menjalani ritual ini, tetapi harus kalah dengan lelaki paling berkuasa di desa ini. Kasak-kusuk ini sempat kudengar dari mulut para pelanggan kue Nenek. Kukedipkan mata memberi kode pada mereka yang sedang membahasnya di depan Nenek. Aku benar-benar belum siap kalau dia sampai tahu kejadian ini. Beruntung mereka paham dengan kode yang kuberikan. Kukatupkan kedua tangan pada mereka yang berhenti membahas. Kulihat ada sedikit kecurigaan pada wajah Nenek, beberapa kali ia melirikku yang tengah gelisah saat melayani pembeli. “Kamu kenapa? Gusar begitu?” Kucoba memberikan senyuman termanis untuknya, tetapi ia malah membalasnya dengan mimik penuh heran. Seharusnya aku tahu, dialah nenekku yang selalu peka terhadap semua yang ada dalam diriku. Dialah orang yang paling mengerti terhadap semua kecemasan yang kualami. Sulit untuk menyembunyikannya. “Tidak apa-apa, Nek. Memangnya ada apa?” Kubalik pertanyaannya dengan sok polos. Ia pun hanya menggeleng, meneruskan kembali kesibukan masing-masing. *** Sore harinya, aku berjalan maju mundur dalam kamar. Bingung harus beralasan apalagi untuk mengelabui Nenek. Aku merasa bagai pencuri kecil yang mencari jalan pulang, kebingungan harus memilih jalan yang mana agar lolos tak berjejak. Hingga sebuah suara mengucap salam di depan rumah. “Assalamualaikum ....” Aku semringah mendengar suara Putra di sana. Lelaki yang tadi pagi meninggalkanku setelah menghujaniku dengan ciuman maut. “Waalaikum salam ...,” jawab Nenek dari dalam, kudengar suara tapak kaki Nenek mulai berjalan perlahan ke depan. Sedang aku masih bingung untuk ke luar kamar. Sesekali memegang gagang, sesekali pula mengurungkan niat. Telapak tanganku sampai berkeringat dingin. Berulang-ulang sampai gagang pintu terasa ditarik dan pintu didorong pelan. Aku terkesiap, berdiri di depan pintu yang sudah terbuka, menemukan Nenek memandangku heran. “Ada Putra mencarimu.” Aku mengangguk dengan setengah gemetar. Kulangkahkan kaki ke luar dari kamar. Namun, tarikan kecil pada lengan menghentikanku. “Ritual apa lagi?” tanya Nenek yang membuatku seketika mendelik dan mendongakkan wajah ke depan. Jantungku terasa di remas-remas, memutar otak untuk memberi jawaban terbaik. “Ritual ‘Melekan' Mbah.” Baru saja akan kubuka mulut untuk menjawab, suara Putra sudah mendahuluinya. Aku pun mengangguk mengiakan. “Melekan apa?” Ia memandang Putra yang berdiri di ambang pintu batas ruang tamu dan ruang tengah. “Sebagai syarat akhir, Narsih harus melekan malam ini juga. Sebelum besoknya dinisbatkan menjadi ronggeng sejati,” jawab Putra santai. Nenek memandang kami bergantian, seperti tak rela dan ada kecurigaan pada raut wajahnya. “Kenapa Narsih tak pernah bilang, seperti ritual mandi kembang waktu itu?” Aku berusaha sesantai mungkin menghilangkan gemetar pada tubuh. “Narsih lupa, Nek. Kita terlalu sibuk belakangan ini. Banyak pesanan kue mendadak yang membuat Narsih tak sempat bercerita sama Nenek.” Ia mengangguk pasrah, sepertinya tak ingin lagi memperpanjang masalah. “Baiklah, aku percaya padamu.” Kalimat terakhirnya membuatku lega. Kupinta tangan kanannya dan menciumnya takzim untuk berpamit. Diikuti Putra. *** Kami berangkat ke sanggar dengan penuh kebisuan di atas motor, saling diam tak ada yang berani memulai percakapan. Entah, apa yang ada dalam pikiran Putra saat ini. Sakit hati, marah, atau malah benci dengan diriku yang sebentar lagi akan mereguk kasih bersama lelaki lain? Atau justru ia turut senang karena sebentar lagi aku akan menjadi ronggeng seutuhnya? Di tengah perjalanan, kulihat Sekar sedang berbelanja di sebuah toko. “Put, bisa berhenti sebentar?” Ia menolehkan sedikit kepalanya, lantas mengambil jalan di tepi, lalu menghentikan mesin. “Mau apa?” Aku beranjak turun dari jok motor dengan memegang bahunya. “Aku ingin ketemu Sekar.” Kutunjuk Sekar yang sibuk antre di toko seberang jalan. Putra mengangguk, membiarkanku berjalan untuk menemui sahabatku. “Sekar,” panggilku ketika sudah berada di belakangnya. Seketika beberapa pengunjung menoleh kepadaku. “Narsih!” Sekar membalikkan badan dan langsung menyambutku dengan pelukan. “Bukankah hari ini ....” Aku mengangguk, ia menggenggam jemariku erat. Beberapa mata kini melihatku dengan sinis, dengan tatapan tak suka. Bahkan kudengar gerumunan ibu-ibu di samping kami. “Oh, itu calon ronggeng baru. Yang hampir menghabiskan harta lelaki kita.” “Iya, nih. Gara-gara dia suamiku jadi kehilangan akal. Nggak mikir lagi!” Semua ocehan mereka membuatku terdiam melongo depan Sekar. “Sudahlah, Nar. Jangan dengarkan mereka.” “Aku minta doa darimu, semoga aku bisa lebih kuat setelah ini.” Ia memelukku lagi, lebih kuat. Memberi semangat. Kulepas pelukannya dan berpamit untuk kembali pada Putra. Kunaiki jok motor dan melambai pada Sekar. Diiringi pandangan muak semua orang di sekitar. Sampai pada sanggar, Mbah Painem sudah menyambutku dengan rangkaian acara. Aku disuruh masuk ke dalam rumahnya. Ia menyipratkan air bunga pada seluruh tubuhku dengan daun pandan yang disobek kecil panjang. Lantas, membawaku ke kamarnya dan menyuruhku berganti dengan kain jarik. Sang dukun ronggeng membalurkan lulur ke seluruh tubuhku tanpa cela. Tak lupa memijat-mijatnya pelan untuk merileks-kan tubuhku. Aroma wanginya benar-benar menentramkanku. Ia mengurut seluruh tubuhku begitu lembut, sambil sesekali menyesap rokok. Beberapa kali pula ia mengembuskan asap rokok pada bagian vitalku. Entah untuk apa. Aku keenakan sampai memejam, hingga saat ia menyuruhku telentang. Aku memekik kaget, ketika ia menekan pangkal pahaku kuat. “Aahh! Mbah sakit ...!” Aku mengejang sampai terduduk. “Tahan sebentar saja, ini hanya untuk membuatmu melalui malam ini. Agar tidak sampai kebobolan.” Aku kembali merebahkan diri. Kali ini ia mengganti posisi tangannya pada perut bawahku, menekannya pelan sampai kuat. Aku mengernyit menahan segala sakit. “Kebobolan bagaimana maksudnya, Mbah?” Napasku mulai kembang kempis. “Hamil, Nduk.” Kubekap mulut, memejam. Aku baru ingat kembali bahwa ini hari itu, hari di mana aku akan menyerahkan keperawananku pada sang pemenang. Aku pun pasrah membiarkan Mbah Painem menyelesaikan seluruh acara. Setelah mandi, aku disuruh memasuki kamar yang dibuat khusus untuk acara Babat Alas. Kumasuki kamar yang begitu wangi, penuh dengan taburan bunga di tepi-tepi temboknya. Kasur dengan seprei berwarna emas dibiarkan kosong tanpa bunga. Lilin-lilin kecil dinyalakan temaram tanpa lampu kamar. Kini kunaiki ranjang dan duduk menekuk lutut di atasnya. Menunggu dia yang akan menjalani ritual bersamaku. *** “Putra, Pak Lurah hari ini akan datang terlambat. Tolong beritahu Narsih.” Mbah Painem berbicara pada pemuda yang sedang duduk di jendela menyesap rokoknya. Pandangannya kosong, jauh ke depan. Ia membuang puntung rokoknya ketika mendengar perintah ibu sambungnya itu. Ibunya tahu jika Putra sedang kacau, ia bahkan tahu kisah asmara antara Narsih dengan anak semata wayangnya itu. Ia berharap bisa membuatnya senang untuk bertemu Narsih, sebelum Narsih menjalani ritualnya. Lelaki itu berjalan menuju kamar khusus Narsih. Mbah Painem menyunggingkan bibirnya. *** Sebuah ketukan pintu dua kali mengagetkanku. “Ma-masuk,” kataku terbata. Jantungku mulai berdebar tak karuan ketika melihat daun pintu bergerak pelan. Aku melongo, ketika mendapati sosok Putra di balik pintu. Ia menutup pintu pelan dan berbicara di depan pintu. “Pak Lurah akan datang agak lambat, sepertinya ada urusan lain.” Aku mengangguk, menatapnya dengan binar sayang. Ia terdiam, begitu pun aku. Hanya saling tatap dengan jarak beberapa langkah dariku. Hening beberapa saat. Hingga seperti ada percikan api menyala dalam d**a, ia melangkah cepat ke arahku, menarik kepalaku dan mencium bibirku secara brutal. Kami berpagut dalam cinta yang menggebu. Hingga tak terasa, balutan kain tipis yang kupakai sudah terbuka sempurna. Begitu pun dengannya. Tak peduli lagi aku dengan segala ritual yang sudah dipersiapkan. Kami menyatu, meleburkan segala kecamuk rasa dalam gelora yang menggebu. Aku melenguh kesakitan saat ia lesapkan kejantanannya pada tubuh ini. Tak ada lagi jarak di antara kami, menyatukan buliran peluh dalam puncak kebahagiaan. Dialah sang pemenang, juara yang memenangkan hati dan ragaku. Di balik pintu, Mbah Painem tersenyum puas mendengar dengusan napas kami saling beradu tanpa menyesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD