Persaingan

1531 Words
Semua gadis yang kelelahan telah lelap dalam mimpi, bahkan sampai matahari terbit pun, tak ada yang bangun dari tidurnya. Hanya aku yang masih terjaga sampai mentari menyorotkan sinarnya dalam pendopo sanggar. Jam di kayu bawah plafon pendopo menunjukkan pukul 07.00. Mataku sudah lelah menangis, tetapi hati masih terlalu pedih untuk menerima syarat baru yang harus kuterima. Pikiranku semakin kacau, mengingat semua ajaran dan hal baik yang telah ditanamkan orang tua dan Nenek sedari kecil. Bagaimana mungkin kujelaskan pada Nenek tentang semua ini? Sedang sifat Nenek begitu religius dan sangat menjunjung tinggi kehormatan perempuan. Isakanku kembali berlagu. Meski berusaha meredam dan menahan, nyatanya tubuh tak bisa dikendalikan begitu saja. Bergetar pelan mengikuti irama tangis. Hingga membuat Sekar yang terlelap di sampingku terusik dengan alunan tangisku. Ia menggeliat sebentar, lalu duduk menekuk lutut di sampingku. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat denganku, merentangkan tangan kirinya di bahuku dan mengusapnya lembut. “Kamu belum tidur?” tanyanya dengan suara parau, sebab baru saja terbangun. Kubalas dengan gelengan pelan, masih berbalut senggukan tangis. “Narsih, aku tahu kamu belum bisa menerima. Tapi, ayolah jangan terpuruk seperti ini. Ini hanyalah sebuah syarat dari budaya, bukan sebab kamu perempuan tak baik. Semua orang tahu itu. Jangan menganggap dirimu wanita paling buruk. Bahkan, kamu saja belum melaksanakan ritual ini.” Semua kalimat Sekar memang ada benarnya, tetapi hatiku masih saja belum bisa menerima. Ini terlalu sulit. Sekar menengokkan wajahnya padaku yang tertunduk. Menarik daguku ke atas dan menarik ujung bibirku dengan jemarinya, menciptakan senyum pada wajahku. “Tuh, kalo senyum lebih cantik,” godanya. Aku terkikik. Kutarik tubuh sintal kawanku dan memeluknya erat. “Terima kasih untuk semuanya,” ucapku tepat pada telinganya. Ia membalas pelukku erat, mengusap punggungku lembut, memberi ketenangan. *** Pukul delapan pagi, semua mulai bangun satu per satu. Mulai riuh ramai sebab saling menertawakan keadaan masing-masing. Bahkan ada yang tertidur beserta sanggulnya. Hingga ketika terbangun, sanggulnya berantakan tak karuan, seperti singa yang siap menerkam. Ada pula yang tak membersihkan muka saat tidur. Sampai terbangun saat ini, riasan pada wajahnya merupa badut, luntur dan merembet ke mana-mana. Lucu sekali. Yang tidur tanpa mencopot pakaian ronggeng pun, menjadi bahan tertawaan juga. Kembennya melorot dan isinya menyembul keluar. Beruntung tak ada laki-laki di pendopo ini. Bisa-bisa heboh kalau sampai ada yang tahu. Semua keriuhan pagi ini, membuatku sedikit terhibur. Aku mulai berhenti sesenggukan. Turut tertawa memandang gelagat mereka yang saling ejek. Hingga beberapa orang tua para gadis mulai datang menjemput anaknya masing-masing. Perlahan murid pulang satu per satu. Menyisakan aku dan tiga gadis lainnya yang tak seberapa kukenal. Sekar dan Mina pun sudah pulang dijemput kakaknya. Aku memaklumi Nenek yang sampai siang begini belum sempat menjemputku. Beliau tentu masih repot dengan jualannya. Dan aku sendiri masih terlalu bingung jika harus pulang. Takut jika saja Nenek menghujaniku dengan banyak pertanyaan. Tiga gadis di hadapanku pun berpamit saat terlihat sosok orang tua mereka di ambang pagar. Aku mengangguk, membiarkan mereka pulang dan meninggalkanku seorang diri. Kutatap langit yang semakin cerah. Menunjukkan betapa besarnya kuasa Tuhan dalam mencipta lukisan alam. Aku bersyukur masih bisa menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Dalam lamunanku, aku berkhayal terbang ke sana, menemui ayah dan ibuku yang sudah dulu terbang menemui penciptanya. Terus bergeming, sampai tak tahu jika ada telapak tangan yang melambai di depan wajahku. Aku tersadar dan terenyak. Pemilik tangan malah tertawa. Kutemukan wajah Putra terbahak di depanku. Kupukul tangannya pelan dan merengut. “Hehe, maaf. Kenapa tak pulang? Yang lain sudah pada kembali ke rumah masing-masing,” tanya Putra. “Entah, aku bingung untuk bertemu Nenek.” Aku melenguh bimbang. “Aku tahu apa yang kamu rasakan. Sangat membingungkan memang.” “Jadi, apa yang sebaiknya kulakukan?” “Terus berjuang, pastinya.” Aku mengangguk. Ada benarnya juga, untuk apa aku mencelupkan jemari kaki, jika tak sekalian basah? Begitu kata pepatah. Percuma jika mundur di titik sejauh ini. Hanya akan menorehkan luka pada harapan banyak orang. Kuembuskan napas berat, memejamkan mata. Mengumpulkan kembali sisa-sisa tekat yang hampir lesap dalam angin kesah. “Terima kasih,” ucapku padanya. Ia menjulurkan tangan kirinya, lantas berdiri dan menganggukkan dagu. “Mari, kuantar pulang!” Kusambut jemarinya dalam genggaman. Berjalan berdua menuju rumah Nenek. *** Di rumah, Nenek menyambutku dengan hangat. Aku memilih tak banyak bicara. Hanya berkata bahwa aku terlalu lelah. Berusaha menyembunyikan rahasia yang mungkin takkan lama pula harus kupendam. Entah, apa aku salah seperti ini? Kubiarkan Nenek mengetahuinya perlahan, tetapi bukan dari mulutku sendiri. Sebab ini terlalu pahit. Sore harinya, beberapa lelaki mulai datang silih berganti ke sanggar Mbah Painem. Berbagai harta kepunyaan mereka, turut ikut dibawa untuk bersaing mendapatkan ritual ‘Babat Alas'. Ada yang datang membawa kambing dan ayam. Tak lupa mengucap banyak kalimat pinta pada Mbah Painem untuk merayu. Seorang saudagar kaya yang mendengar adanya acara ini, turut andil menyerahkan hartanya. Ia membawa berkarung-karung beras dan berbagai hasil kebun ke dalam mobil box miliknya. Ada pula yang rela memberikan uang hasil tabungannya untuk diserahkan pada Mbah Painem. Entah, apa yang ada di pikirannya. Semua akal sehat para lelaki seperti tak dipakai lagi. Yang tak kalah menghebohkan adalah Pak Lurah Suwarno. Ia memberikan sebuah kunci rumah mewah, beberapa gram emas dalam tas. Serta sebuah motor untukku. Tak ada yang mau kalah. Sapi, uang, juga berbagai perhiasan silih berganti datang dan masuk dalam kantong Mbah Painem. Aku meminta pada Putra dan Mbah Painem untuk merahasiakan semua ini darinya. Cukup memberitahuku saja lewat kode pesan. Selama seminggu ini, sanggar diliburkan dan Putra akan datang menemuiku saat pagi hari untuk berpura-pura membeli kue. Mbah Painem sudah menghitung banyaknya pinangan dari para pria. Ia akan membagi tiga bagian dari semua perolehan harta. Satu untuknya, satu untukku, dan satu lagi untuk dibagi pada para gadis. Agar semua juga bisa merasakan hasil ritual untuk pengangkatanku sebagai ronggeng sejati. Dalam seminggu aku tak pernah tidur nyenyak. Selalu kepikiran siapa yang bakal mendapat peruntungan mendapatkan ‘Babat Alas' dariku. Tidur hanya sebentar-sebentar saja. Kaget, tertidur lagi, begitu terus berulang-ulang tiap malamnya. Hingga di malam terakhir, aku bermimpi kembali bertemu dengan Mbah Sriyani. Ia berkata bahwa aku akan mendapatkan segalanya dari lelaki yang bakal mencicipi maduku kali ini. Ialah yang bakal mengubah jalan hidupku nantinya. “Aku akan selalu mengiringi langkahmu di mana pun berada. Akan selalu menyelamatkanmu dari segala hal yang mengancam. Asal kau mau menurut.” “Bagaimana jika aku menolak?” tanyaku padanya. Ia terbahak, menertawakan kepolosanku. “Jangan sampai lupa dengan tugasmu! Jangan biarkan Diman mati, siksa dia dengan kekuatan yang telah kuwariskan padamu.” Ia lantas menghilang dan aku terbangun dengan pikiran yang semakin kacau. Aku menangisi cintaku, menangisi asmaraku yang mungkin tak terbalas. Bagaimana mungkin Putra akan mau menerimaku nantinya, jika tahu sebentar lagi aku akan menyerahkan keperawananku pada orang lain? Begitu kelam kisah kasihku ini. Sulit kuterima dengan akal sehat. Jangankan Putra, lelaki mana lagi yang mau menjadikanku kekasih jika tahu nantinya aku tak lebih dari seorang perempuan hina? Aku tersengguk menahan segalanya. Tak tahu lagi harus bagaimana. Ini terlalu pedih untukku. Aku terlelap kembali dalam linangan air mata, membenamkan kepala dalam bantal yang basah. Basah oleh tangis dan segala kenang rasa. *** Pagi harinya, Putra datang seperti biasa. Ia menyelipkan sebuah kertas padaku ketika menerima kue permintaannya. Aku berpura-pura masuk untuk ke kamar mandi untuk membaca pesan darinya. “Sudah ditentukan. Pemenangnya adalah Pak Lurah Suwarno.” Deg, jantungku berdetak tak karuan membaca tulisan dari Putra. Aku membekap mulut. Bersandar pada tembok dan menjatuhkan diri ke bawah. Aku berjongkok dengan perasaan kacau. Kuremas kertas ini dengan penuh emosi. Aku terisak sendiri meratapi nasibku. Kenapa seseorang yang begitu kubenci harus menjadi pemenang untuk ritualku? Kenapa harus dia Tuhan? Bolehkah aku menolak? Ini begitu pedih kurasa. Lelaki yang dulu hampir menodaiku, sekarang harus menjadi pemenang untuk menyerahkan kegadisanku. Sungguh memalukan. Kutengadahkan wajah sembari menarik rambut yang terbuai pada kening ke belakang, terisak lagi. Hingga sebuah suara bisikan kudengar lirih dari balik tembok kamar mandi. “Narsih ... kamu yang sabar ya,” ucapnya lirih hampir tak terdengar. Kutajamkan pendengaranku dan membalas bisikannya. "I-iya." Aku baru menyadari bahwa itu suara Putra. Kuusap kasar linangan di pipi dan berdiri membuka pintu kamar mandi, aku ke luar lewat pintu belakang dan menemuinya. Saat berhadapan dengannya, seketika kupeluk erat tubuh jangkungnya. Ia terenyak kaget, terdiam tanpa membalas. “Maafkan aku, Put. Maafkan aku!” Ia mulai membalas rangkulanku dengan mengusap rambutku lembut. “Maaf untuk apa?” tanyanya lembut tepat di telingaku. “Untuk cinta kita, untuk segala harapan kita.” Ia mendengus pelan, lalu menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Ia tersenyum penuh arti. “Aku tahu ini sulit, tapi kita bisa apa? Bukankah mencintai tak harus selalu memiliki?” Semakin deras buliran bening ini merembes. Ia menyekanya lembut. Ia mulai mendekatkan wajah kami, sampai embusan napasnya terasa menguar di wajahku. Aku memejam, wajahnya terasa semakin dekat. Hingga kini bibirnya menyentuh bibirku, mengulum pelan bibirku. Begitu lembut, saling berpagut, sampai berubah menjadi ganas dan panas. Tangannya mulai bergerilya pada tubuhku, penuh ledakan ingin. Aku pun tersadar. Kuhentikan laju nafsu kami dengan melepas ciuman ini. “Kenapa?” tanyanya heran. “Hormatilah ritual ‘Babat Alas’ku. Aku tak mau menodainya.” Ia melepas tangannya dari wajahku. Membalikkan badan, melenguh sebentar dengan embusan berat. Lalu pergi begitu saja, meninggalkanku dalam rasa bersalah. Maaf untuk semua impian besar kita, Putra. Gumamku lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD