Babat Alas

1501 Words
Saat acara saweran tengah malam, beberapa ibu dan warga lainnya sudah pergi meninggalkan acara untuk pulang. Ada yang sedari tadi menahan uapan sampai tertidur, ada pula yang hampir bertengkar dengan pasangannya karena ingin maju untuk menyawer. Sedang pasangannya tak memberi izin. Kulihat, Bu lurah dan Nenek juga sudah tak ada di kursinya. Namanya juga wanita, tak mungkin seenaknya saja menghibur diri sesuka hati. Mereka akan selalu kepikiran dengan pekerjaan yang menantinya esok pagi. Tanggung jawab kepada anak dan keluarga lebih besar dibanding dengan keinginan hiburan. Sungguh berbeda dengan lelaki. Meski tahu besok adalah hari minggu, wanita tak pernah absen dari seabrek pekerjaannya. Pekerjaan yang katanya hanya ibu rumah tangga, nyatanya lebih berat dibanding dengan pekerjaan lelaki hanya mencari nafkah. Hingga saat hampir pagi begini, hanya meninggalkan para pria yang masih bertahan menonton liukan kami. Kulihat di pojok balai desa, kumpulan pria muda menari di sana dalam keadaan mabuk. Mengoceh tak jelas, berdiri sempoyongan, sampai ada yang benar-benar tak kuat berdiri, tengkurap, telentang sambil selonjoran dan terbahak sendiri. Ketika akan menutup acara. Mbah Painem berdiri dan melangkah maju. Ia mengucapkan sebuah pengumuman besar pagi ini. “Selamat pagi semua warga Sidomaju. Dengan ini saya sebagai dukun ronggeng desa ini, mengumumkan bahwa, kami telah memilih ronggeng baru yang terpilih, yang akan menjadi simbol bagi sanggar dan desa ini. Setelah puluhan tahun berlalu, mulai hari ini juga, sanggar kami akan mempunyai ronggeng sesungguhnya kembali. Untuk itu, sebagai ritual menuju ronggeng sejati. Gadis yang terpilih ini akan menjalani upacara ‘Babat Alas'. Semoga kalian masih mengingat apa yang saya maksud.” Ia menyungging sebentar, sementara penonton bergerumun ramai saling tanya. Beberapa telah paham dengan maksud dari Mbah Painem. Mereka terbahak senang, bertepuk tangan dengan semangat. Sedang di belakang panggung, kami para penari mengernyit tak mengerti. Saling mengendikan bahu dan bergeleng ketika temannya bertanya, sebab baru pertama kali ini mendengar istilah tersebut, asing sekali. “Sekar, apa itu ‘Babat Alas’?” Yang kutanya hanya menggeleng polos. “Entah, aku juga baru mendengarnya, meski sudah empat tahun belajar di sanggar.” Kami terdiam kembali, menunggu penjelasan dari Mbah Painem. “Narsih, tolong ke sini sebentar.” Suara Mbah Painem pada mikrofon menggema di telinga. Kami masih saling bingung. Berbisik tak mengerti. Hingga salah satu gadis sanggar yang terkenal pendiam, membuka mulutnya. “Kalian harus tahu, Mbah Painem sudah menunjuk Narsih untuk menjadi ronggeng sesungguhnya. Ia akan menjalani ritual itu setelah pengumuman ini.” Sekar dan yang lainnya seketika melongo dan menatapku serius. Apalagi Mina, giginya bergemeletak penuh geram. “Kamu lagi? Dasar munafik!” Aku merasa jahat di sini. Menatap kawan-kawanku yang telah lama berjuang, tetapi guru mereka malah memilihku, si gadis baru untuk menjadi simbol di sanggarnya ini. Tanpa kutahu, tangan seseorang sudah menarik lenganku dan menyeretku untuk segera naik ke atas panggung, sesuai perintah dan panggilan Mbah Painem. Sorot mata kawan-kawan di belakang semakin menyeramkan kulihat. Tangan itu menyentuh daguku, menariknya agar fokus ke depan, tak lagi menghiraukan mereka yang tak terima. “Jangan pakai hati, mereka tak perlu diberi hati. Hal seperti ini memang dampaknya begitu. Menimbulkan kecemburuan masal. Tak perlu risau, perlahan mereka akan bisa menerimanya,” tutur pria yang menarikku, pria yang selalu penuh pesona. Yang mampu membuatku merasa aman dan nyaman ketika berada di sampingnya. Ia melepaskan genggamannya, ketika sampai pada tangga panggung. Kulihat Mbah Painem sudah menunggu kedatanganku, ia menjulurkan tangan kirinya padaku yang masih jauh dari jangkauannya. Kutatap wajah Putra sebentar, ia mengangguk sekali. Dengan perasaan berkecamuk, kupalingkan wajah darinya dan mulai menapaki tangga panggung. Seketika siulan panjang dan teriakan senang menyambutku ketika aku sudah sepenuhnya naik ke atas. Kusambut uluran tangan Mbah Painem dan mendekat padanya. “Mari kita sambut ronggeng baru kita, Narsih! Dialah gadis yang akan menjalani ‘Babad Alas’. Siapkan harta terbaik kalian, jangan sampai kehilangan kesempatan langka ini.” Kalimat terakhir Mbah Painem membuatku semakin melongo. Aku tercenung di hadapan ratusan penonton lelaki yang meneriaki namaku, mereka saling menuding dirinya sendiri sambil menatapku. Aku masih tak mengerti dan mencerna semua ini. Pria-pria di depan panggung ingin mendekat, “Narsih, pilih aku!” Kulihat semua pria mengucapkan hal yang sama. Apa maksudnya? Pilih untuk apa? “Kamu akan menjadi gadis paling beruntung setelah ini. Tinggal menentukan siapa yang paling berani di antara lelaki-lelaki se desa Sidomaju.” Mbah Painem membisikiku demikian. Beruntung seperti apa? Riuh ramai penonton semakin menjadi. Hingga Mbah Painem menutup pengumumannya dengan sebuah kalimat. “Kutunggu pinangan kalian di sanggar. Mulai besok sampai satu minggu ke depan.” Ia melingkarkan tangannya pada pinggangku, lalu membungkuk dan mendorongku untuk ikut membungkuk pada penonton. Ia tersenyum penuh semringah. Berdiri tegak kembali dan melambaikan tangan pada penonton. Tak sengaja mataku melirik pada Pak Lurah yang menyeringai di sana. Ia menjentikkan rokok dalam selipan tangan pada asbak di meja depannya. Pandangan kami bertemu, ia menyungging. Lantas, menyesap kembali rokoknya dalam-dalam. Namun, tak kulihat lagi Mbah Diman di kursi sebelah Pak Lurah, ke mana dia? Apa ia sudah benar-benar sehat? Mbah Painem menarik pinggangku untuk mengajak turun. Kami membalikkan badan bersama. Diiringi tepukan riuh penonton sampai kami hilang di balik layar. Ingin rasanya segera mempertanyakan hal ini pada Mbah Painem. Tetapi, kesibukan untuk membereskan segala hal membuatku mengurungkan niat. Mungkin, nanti bisa kutanyakan kembali saat ada waktu lebih luang. Semua gadis berkumpul dan berjalan kembali ke sanggar. Membawa semua properti panggung untuk dibawa kembali ke sanggar. Wajah mereka nampak kelelahan, lesu, bahkan ada yang terlihat pucat. Benar saja, meski makanan sudah disediakan oleh warga, kami para penari bahkan tak sempat makan dengan baik. Hanya beberapa sendok masuk sebab terlalu kewalahan bergantian naik ke atas panggung. Sepertinya, di sini hanya aku yang masih kuat bertahan. Aku sampai tak tega melihat Sekar yang berjalan sempoyongan. Kupapah tubuh lemasnya menuju sanggar. Bersama teman-teman lain dengan ekspresi yang sama. Sesampainya di sanggar, semua gadis merebahkan tubuh di lantai pendopo. Sudah tak kuat lagi menopang tubuh masing-masing. Beberapa lainnya berusaha kuat membersihkan diri dan mengganti pakaian. Tak sedikit pula langsung ketiduran masih dengan pakaian lengkap ronggeng beserta riasannya. Ada pula yang muntah-muntah sebab masuk angin, kurang makan dan tidur. Dibantu teman lainnya, ia digosok-gosok pakai minyak oles. Barulah ia bisa tenang dan merebahkan diri. Mbah Painem terlihat datang dengan memapah Bapaknya. Seketika ada bisikan kembali di telingaku, “Sudah saatnya mencopot selendangmu, Narsih.” Ada pecutan arahan yang membuatku berdiri. Kutatap mereka yang berjalan pelan melewati pendopo sanggar. Kutarik kasar selendang dari leher, seketika tubuh renta di samping Mbah Painem tersebut jatuh tersungkur. Anak gadisnya menjerit memanggil namanya. Gegas Putra menaruh barang yang dibawanya dan menghampiri kakek dan ibunya. Ia membalik badan lelaki tua itu, semua murid yang tengah menatap mereka langsung histeris, melihat wajah Mbah Diman penuh luka akibat tersungkur. Darah memenuhi wajahnya, merembes dari sela-sela kulit keriputnya. Entah, ada apa dengan diriku. Di sisi lain aku merasa kasihan melihatnya, sisi lainnya bersorak penuh kemenangan melihatnya terluka seperti itu. Dibantu para pemain musik, mereka membopong tubuh tua itu masuk ke kamarnya kembali. Aku berpura-pura tak tahu apa-apa, meski kutahu akulah sumber penderitaan Mbah Diman. Kuganti baju pentas ini dengan kaus oblong yang tadi kubawa, terlalu gerah badan ini berbalut kain panas meski hanya selembar kemben saja. Kutatap wajah sendiri di cermin bedakku. Memang, hari ini wajahku begitu berbeda dengan riasan ini. Aku merasa seperti badut yang pulang dari menghibur diri. Kuusap kasar semua polesan ini dengan kapas dan pembersih. Lega rasanya setelah bersih dari semua ini. Suara azan subuh mulai berkumandang. Tak ada yang ingin pulang. Sibuk merebahkan diri dan tidur di lantai pendopo. Hingga suara Mbah Painem membuat semuanya duduk tegak mendengarkan. “Maaf sebelumnya, jika aku tak pernah menceritakan kalian tentang yang namanya ‘Babat Alas'. Ini adalah istilah untuk syarat seorang gadis menjadi ronggeng seutuhnya. Yaitu, menyerahkan keperawanan pada siapa pun lelaki yang mampu memberi imbalan paling mahal.” Ia terdiam sesaat menatapku. Seketika semua gadis membekap mulut memandangku. Aku tercekat, melongo tak percaya dengan apa yang diucapkan Mbah Painem. Bagaimana aku harus menceritakan ini pada Nenek, apakah ia bisa menerima? Tak ada kata yang keluar dari bibirku, hanya lenguhan kesal mendera. Mataku mulai berkaca-kaca. Ingin memberontak tapi tak mampu. Aku telah larut dalam kekejaman budaya tanpa ada upaya dan daya untuk menolak. Begitu sakit dalam d**a. Andai kutahu menjadi ronggeng semengerikan ini, tak mungkin kumau memenuhi impian ibu. Kini dadaku terasa begitu sesak, menahan gejolak emosi yang tak bisa kuluapkan. Di sebelah kiri tempatku duduk, kulihat Mina tersenyum puas melihatku. Ia seakan menang kali ini. Berhasil membuatku jatuh dalam lumpur hina. senyumnya laksana ejekan satire yang menyayat hatiku. Aku benar-benar kalah kali ini. Sekar langsung menyahut tubuhku yang hampir ambruk, ia mendekapnya erat. Kutumpahkan segala tangis dalam pelukannya. “Kenapa kupilih Narsih sebagai ronggeng baru? Lihatlah, kalian terlalu lemah. Semalam suntuk ini, hanya Narsih yang tetap terlihat bugar tanpa mengeluh. Ini menunjukkan betapa kuatnya dirinya. Kalian tak akan mampu.” Tambahnya, "Kalian harusnya tak pernah meragukan segala ucapanku. Aku tak ingin mendengar lagi segala keluhan dan kata tak terima setelah kunisbatkan Narsih sebagai simbol sanggar kita." Ia lantas pergi setelah berucap demikian. Hanya deraian tangis yang masih kutumpahkan pada bahu sahabatku, Sekar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD