Semua gadis telah siap dan cantik, tak terkecuali aku. Sentuhan terakhir, kuselipkan rampaian melati pada sanggul dan menjuntainya di sisi kanan. Tak lupa mengalungkan selendang pada leher. Seketika ada hawa memancar dari diriku.
Sebelum berangkat menuju balai desa, kami diarak menuju makam Mbah Sriyani untuk meminta izin. Berbagai sesaji dibawa para pria pemain musik. Sedang para gadis berjejer rapi membentuk barisan. Berjalan pelan dalam balutan jarik dan kemben masing-masing.
Kini mata semua orang menatap ke arahku, aku sadar betul dengan perubahan yang kualami setelah memakai selendang ini. Entah, aku selalu merasa aura Mbah Sriyani selalu menyelimuti. Sedikit risih memang, tetapi aku akan berusaha membiasakan diri dengan keadaan ini. Dengan dunia baruku.
Bahkan sorot mata Putra seakan tak lepas menatap penampilanku yang mungkin sedikit berbeda dari biasa. Senyumnya itu, sungguh mewakili perasaannya.
Sampai pada makam Mbah Sriyani. Kami berhenti tepat di gerbang makam. Mina memimpin kami dengan berjalan menggunakan lutut, mendekat pada gundukan tanah tempat di mana Mbah Sriyani dimakamkan.
Ritual minta izin dipimpin langsung oleh Mbah Painem yang kini sama cantiknya dengan kami. Kali ini dia tampil lebih berani, memakai kebaya dengan warna lebih cerah. Merah merona. Begitu pun dengan riasan pada wajahnya, tegas dan menonjol di mata. Menampakkan mata beloknya yang begitu indah, dibalut dengan lipstik dengan warna senada bajunya; merah merona.
Meski kami tahu ia tak lagi muda, ia masih terlihat menawan. Kupikir, ia mungkin seumuran almarhumah ibuku, sepertinya tak salah lagi.
Ia mengarahkan kami untuk membentuk barisan setengah lingkaran. Ia duduk bersimpuh di depan makam Mbah Sriyani dan mulai merapal beberapa bacaan. Sedang semua murid khusyuk berdiam sembari mengatupkan kedua tangan dan menunduk dengan penuh kepasrahan.
Kuikuti apa yang dicontohkan dan meminta izin pada Sang Kuasa. Tak lupa melantunkan doa untuk Mbah Sriyani, agar kami bisa menjalankan pentas kali ini, semeriah dan selancar pertunjukan semasa hidupnya dulu.
Angin kencang seketika menerpa pepohonan yang melingkari pemakaman. Beberapa gadis kecil saling mengimpit ketakutan. Aku ingat betul dengan angin ini, persis seperti angin yang muncul saat kulantunkan lagu kidung di kebun kosong waktu itu.
Mbah Painem semakin kencang menderas rapalan doanya. Menciptakan angin yang semakin besar, bahkan mampu menggoyangkan tubuh kami. Membuat kami saling berpeluk menguatkan.
Kulirik Mina dan gadis lain yang dulu berusaha mencelakaiku. Mereka melirikku sekilas, lalu tertunduk kembali. Kulihat raut ketakutan pada wajah mereka. Seakan mengira semua ini adalah perbuatanku.
Kusunggingkan senyum penuh kemenangan pada mereka, berharap tak ada lagi yang berani menggangguku lagi.
Perlahan, angin mereda. Berganti dengan aroma bunga yang harum semerbak. Begitu wangi sampai langu. Beberapa merasa tak nyaman, menutup hidung dan mengernyit menahan bau yang semakin menyengat.
Aku sedikit bergidik mengalami hal yang tak biasa ini. Namun, berada di tengah banyak orang, sedikit menambah kekuatanku. Aku berusaha tatag dan tak memedulikan apa yang mengganggu kami. Kuanggap semua ini adalah bagian dari ritual sesajen. Yang jelas bakal mengundang makhluk tak kasat mata.
Suara lengkingan Mbah Painem mulai pelan, semakin pelan, dan akhirnya berhenti. Semua angin dan aroma harum seketika menghilang. Membuat para murid mendengus lega.
Mbah Painem membalikkan badan menatap kami semua. “Kalian semua siap?” Kami menjawab serempak, “Siap, Mbah!” Ia mengangguk, mulai berjalan dengan lutut ke luar dari makam. Diikuti kami semua dengan melakukan hal yang sama.
Ketika kami sudah berdiri di depan gerbang makam. Kami dikejutkan kembali dengan soaok Mbah Diman yang tengah menanti di depan. Beberapa gadis jejeritan kaget menatap sosoknya yang setengah mengerikan itu.
Mbah Painem seketika menatap Bapaknya dan menoleh kepadaku.
Kupegang ujung selendang dan bersiap melepas, tetapi Mbah Nem mencegahku, ia menggeleng dan membiarkanku memakai selendang itu.
Sang dukun ronggeng menyuruh Putra untuk menuntun kakeknya, membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya dengan yang bersih.
Selanjutnya kami digiring berjalan menuju balai desa, yang letaknya hanya beberapa meter dari sanggar Mbah Painem.
Di sana, penonton sudah bersiap menanti kami. Mereka bersorak ramai ketika melihat rombongan kami datang. Para pemain musik segera bersiap mengambil posisi. Mengatur tempat dan memulai acara. Sedang para penari, digiring Mbah Painem duduk di sebelah panggung yang disediakan.
Kulihat Putra menuntun kakeknya duduk di barisan paling depan, di sebelah kursi sofa yang masih kosong. Ia membisikan sesuatu pada kakeknya dan dibalas anggukan oleh lelaki tua tersebut.
Ada rasa kasihan melihatnya. Sebab, kutahu ia yang kini terlihat sehat dan segar. Nanti akan lebih tersiksa saat kulepas kembali selendang dari leherku ini. Akan selalu seperti itu, sesuai mimpi yang selalu kutemui di tiap malam kemarin.
Mbah Painem mulai menaiki panggung dan duduk bersimpuh di tengah pemain musik. Ia mulai melantunkan kidung syahdu hingga membuat kami semua merinding dengan merdunya alunan suaranya.
Kutatap jejeran penonton yang semakin membludak di depan. Tepat di posisi paling depan, di atas kursi sofa berwarna merah marun yang tadi masih kosong, sebelah Mbah Diman. Kulihat Pak Lurah Suwarno beserta istri dan anaknya. Ada perasaan kesal menatap wajah lelaki kurang ajar tersebut. Namun, aku tak bisa menolak tugas yang sudah menjadi kewajibanku.
Kuedarkan lagi pandangan menelusuri wajah penonton, mencari di mana posisi Nenek. Kepalaku sampai sedikit pusing melihat wajah ratusan orang yang berjejer di sana. Hingga di titik pojok bawah pohon yang sedikit gelap, kutemukan sosok Nenek duduk bersama Bu Nariti yang selalu setia dengan kipas tangannya.
Lantunan lagu sudah memasuki inti, Sekar menjawil lenganku yang masih melamun. Aku terenyak kaget dan segera berdiri. Kumantapkan hati dan bergegas naik ke atas panggung. Kuawali gerakan dengan mengatupkan kedua tangan dan sedikit menunduk pada penonton.
Semua penonton seakan terhipnotis menatapku, terdiam melongo menunggu aku bergerak. Kendang mulai mengentak perlahan, kuikuti irama kendang dengan memutar lengan. Seketika riuh penonton membuncah. Ada yang bersiul, teriak, bahkan menyerukan namaku berkali-kali.
Goyangan pertama disertai lantunan keras dari musik dan suara merdu Mbah Painem, sukses menambah ramai suasana. Aku semakin bersemangat, kini kupakai selendang dengan mengayun dan melempar ujungnya ke kiri dan kanan.
Tiga puluh menit awal, aku mulai mundur dan digantikan posisi kawan-kawan lainnya. Kami mulai bergantian menghibur penonton tanpa henti. Hanya istirahat sebentar untuk minum dan mengatur napas, setelahnya bertukar posisi terus menerus sampai malam semakin larut.
Di tengah malam, aku kembali tampil sendiri seperti formasi awal. Sekar sudah membisikiku untuk bersiap dan hati-hati. Sebab, ini waktu saweran. Waktu para penonton mulai maju dan ikut menari, sambil memberi uang sawer pada kami.
“Kamu harus fokus, jangan terbawa suasana dan emosi. Ini waktu yang begitu memuakkan memang. Harus melayani lelaki hidung belang ikut menari bersama kita. Belum lagi terkadang mereka penuh nafsu dan sedikit ngawur. Kamu harus pintar-pintar menghindarinya. Jangan sampai memancing emosi,” tutur Sekar mengusap tanganku lembut.
Aku mengangguk, mengatur napas sebaik mungkin untuk memenangkan diri. Tak lupa berdoa untuk keselamatan semua penari malam ini.
Kulihat Pak Lurah berdiri dan mengambil beberapa gepok uang dari dalam tasnya. Aku sedikit cemas mengingat perlakuannya waktu itu. Namun, berusaha sesantai mungkin untuk tetap profesional dalam pekerjaan.
Ia mulai menaiki panggung dan memandangku dengan seringai menakutkan. Kuembuskan napas berat dan tetap tersenyum menimpalinya. Ia mengambil posisi di belakangku. Menari mengiringiku dan beberapa kali menjatuhkan uang sawer di depanku.
“Aku akan membelimu dengan semua uangku,” Bisiknya di sela goyangan. Kulirik Bu Winarti dengan pandangan penuh cemburu di kursi depan. Kini, ia memangku Bima yang sudah terlelap di sampingnya.
Kulirik juga Putra di belakang, di depan alat musiknya. Wajahnya begitu geram melihat kelakuan Pak Lurah yang sedikit keterlaluan.
Sepertinya Pak lurah tahu, jika aku dan Putra punya perasaan yang sama. Ia malah seakan mengejek Putra, sesekali mendekatkan kepalanya pada leherku, mengendusnya berkali-kali. Putra sampai tak berani lagi memandang kami. Fokus menatap kendangnya dengan menabuhnya lebih kencang lagi.
Kuhindari perlakuannya perlahan, sedikit mengibaskan selendang pada wajah menjijikkannya itu untuk sedikit memberi pelajaran. Ia malah menyeringai dan terbahak, seakan semakin menikmati perlakuanku padanya.
Aku sampai kewalahan harus bagaimana bersikap. Kulirik wajah Nenek di bawah pohon tadi. Rupanya ia sama cemasnya denganku. Mukanya begitu gusar, celingukan menatap kelakuan Pak Lurah yang keterlaluan kepadaku.
Mulutnya pun merapal tanpa henti. Mungkin, ia tengah mendoakanku agar tak menimbulkan emosi di tengah suasana ini.
Waktu sawer adalah waktu paling rawan. Menurut cerita yang kudengar, momen ini sering kali memicu keributan antar penonton dengan para penari juga. Makanya, Mbah Painem selalu mewanti kami dengan tiga kata dasar, agar kami bisa lebih legowo tanpa memakai emosi dalam pertunjukan ini. Apalagi aku orang baru, belum terbiasa dengan keadaan baru seperti ini.
“Sawer, sawer!” Riuh penonton kembali menggema, memberi semangat Pak Lurah untuk mengeluarkan lebih banyak uang.
Aku semakin risih dengan tingkahnya yang mulai berani dekat dan menyelipkan uang pada bagian tubuhku. Mbah Painem yang tahu gelagatku yang terlihat tak nyaman. Segera melantunkan lagu kedua, pertanda waktu untuk Pak Lurah habis, diganti dengan penonton lainnya.
Beberapa pria mulai ikut naik, sedang Pak Lurah dengan sok wibawanya memberikan seluruh uangnya di tanganku. Lantas, turun begitu saja melambaikan kedua tangan dan diiringi tepukan penonton.
Kini berganti tiga pria dari warga sekitar. Satu pria terasa tak asing di mataku, saat kuingat kembali. Aku sadar ia adalah pegawai di toko bahan kue milik Bu Nariti di pasar. Lelaki yang selalu malu-malu menggodaku ketika aku belanja di toko milik majikannya itu. Kini, ia tak lagi malu.
Ia malah bersemangat bergoyang dan menyawerku meski dengan uang receh.
Begitu seterusnya, kami para penari bergantian menerima saweran, hingga pagi menjelang.