Bedak Pikat

1023 Words
Pagi hari, sanggar sudah riuh ramai para murid yang tengah sibuk latihan dan mengurus segala kebutuhan pementasan nanti malam. Kulihat Putra tak henti wara-wiri ke luar masuk sanggar, membawa berbagai hal yang dibutuhkan untuk acara nanti malam. Rampaian bunga melati untuk rambut penari, beberapa tampah besar yang akan diisi sesajen untuk membuka acara. Serta mempersiapkan alat musik yang akan dibawa ke balai desa nantinya. Beberapa pakaian penari sudah disiapkan dan ditumpuk rapi di meja pojok pendopo. Kata Sekar, nanti setelah latihan selesai. Semua akan diajak fitting baju agar terlihat menawan saat di panggung nantinya. Pakaian akan disesuaikan dengan bentuk tubuh masing-masing. Meski rata-rata ukuran tubuhnya sama. Tetapi, lekuk tubuh masing-masing gadis berbeda. Dan Mbah Painem sudah mempersiapkan berbagai ukuran untuk menyempurnakan semua penampilan anak didiknya. Semua baju yang ada, adalah hasil dari desain dan jahitan sang dukun ronggeng sendiri. Ia selalu memperbarui tampilan pakaian tiap kali akan berpentas. Menurutnya, semua itu dilakukan agar penonton tak bosan. Selalu menemukan hal baru yang lebih sedap dipandang. Ia hanya tinggal menambah atau mengurangi beberapa pernah-pernik yang ada. Mengaplikasikannya dengan warna baru atau aksesoris baru. Aku hanya bisa memandang kesibukan mereka, tanpa bertindak lebih. Aku bahkan belum tahu dan tak pernah berada di sini sebelumnya. Hanya bisa sekadar membantu bila ada yang membutuhkan pertolongan. Aku merasa terasing saat tak ada yang mau dekat denganku. Aku tahu, mereka semua masih menyimpan dendam kepadaku. Dendam karena dengan gampangnya merebut posisi yang begitu diidamkan gadis lainnya. Namun, ada sedikit wajah ketakutan di raut mereka ketika kucoba mendekat dan bersosialisasi. Aku yakin, ini sebab kejadian sore itu. Kejadian angin kencang yang tiba-tiba datang saat aku bersenandung. Aku bahkan belum mengerti dan belum bisa mengendalikan diriku dengan hal baru yang terjadi dalam hidupku, setelah kudapatkan selendang itu. Berbagai kisah misteri dan mistis masih saja membingungkanku. Aku berjanji akan mengulik segalanya satu per satu. Mbah Painem terlihat memasuki sanggar dan berdiri di tengah kami. Semua murid bergegas berkumpul melingkarinya, termasuk aku. “Semuanya, perhatikan! Nanti kita berangkat sore ya. Terutama kamu, Narsih. Kamu sudah kutunjuk sebagai pemimpin di sini. Jangan sampai ceroboh!” Kami semua mengangguk serentak. “Mari kita mulai latihan!” Mbah Painem menunjukku untuk membuka acara. Sigap kujalankan semua perintahnya dengan sebaik mungkin. Semua terlihat baik dan lancar. Aku hanya berharap, semoga semua berjalan sebaik latihan kali ini. *** Azan asar berkumandang pertanda waktu sore tiba. Bergegas aku mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sanggar. Di sana, nantinya kami semua akan didandani bersama-sama. Aku yang tak pernah berdandan selain memakai bedak, benar-benar tak mengerti cara untuk memakai make up. Aku pasrahkan semua pada Mbah Painem untuk memoles wajahku nantinya. “Nek, Narsih berangkat dulu.” Kupinta tangan kanannya untuk dicium, sembari berjongkok di hadapannya yang tengah duduk mempersiapkan kebutuhan dagang esok hari. Aku meminta izin untuk berangkat. “Sebentar, Nenek punya sesuatu untukmu.” Ia mengambil sesuatu dari dalam kenditnya. Terlihat sebuah buntalan kain putih berbentuk kotak dengan jahitan tepi yang rapi. Ia menarik tanganku dan membukanya. Menaruh kain kecil kotak itu dalam genggamanku. “Buat perlindunganmu.” Ia mengatupkan kembali jemariku, mendorong tanganku untuk menyimpan. Meski aku tak percaya dengan hal semacam jimat dan sebagainya, aku memilih untuk menyimpannya baik-baik agar Nenek senang. Toh, tak ada salahnya berikhtiar. Mungkin, ia takut terjadi apa-apa dengan cucunya. Intinya, ia hanya ingin melindungiku. Aku semringah, betapa besar kasih sayangnya kepadaku. Kuselipkan kain itu ke dalam bra-ku. Lantas, menaruh tangan keriputnya di atas kepalaku. “Narsih minta izin, Nek. Doakan acara hari ini sukses.” Ia mengusap-usap rambutku dan mencium keningku pelan. “Doaku menyertaimu, Nduk.” Aku berdiri dan memeluk Nenek penuh takzim. Lantas, berangkat menuju sanggar secepatnya. *** Di sana, baru ada dua orang anak yang datang, keduanya sedang berdandan dengan pengawasan Mbah Painem. Ketika melihatku datang, Mbah Painem segera menyuruhku untuk bergabung dengan mereka. “Narsih, cepat dandan. Waktu kita tak banyak.” Aku hanya celingukan bingung tak tahu harus memulai dari mana. “Apa yang kamu tunggu?” Kutatap kedua gadis yang sibuk memoles wajah masing-masing. Mencoba belajar dari mereka. “Narsih tak pernah dandan sebelumnya, Mbah.” Ia menaikkan alis, sepertinya tak percaya. “Baiklah sini kuajari. Tapi lain kali kamu harus bisa mandiri.” Ia menyuruhku duduk di hadapannya. Bersiap untuk mengubah wajahku. “Biar saya yang mendandani Narsih, Mbah.” Suara Sekar membuat kami menoleh. Mbah Painem mengangguk, segera berdiri dan menyuruh Sekar untuk menggantikan posisinya. Kini wajah Sekar yang ada di hadapanku. Ia membuka kotak make up-nya dan berkomat-kamit tak jelas. “Ini bedak aku dapat dari orang pintar, bedak ini akan membuatmu lebih bercahaya dan mengundang pikat. Percayalah! Ikuti kalimat yang kuucapkan, agar fungsinya lebih meresap. Siap?” Ia mengusapkan spons pada bedak dengan wadah bundar hitam, kembali ia merapal bacaan yang tak kumengerti. Ia menatapku, mengangguk dua kali, berusaha agar aku mengikuti ucapannya. Kupegang tangan Sekar yang hendak menyentuh pipiku dengan bedak keramatnya itu. Aku menggeleng. Menurunkan spons yang sudah ditempeli bedak itu dari jemarinya. Ia mengernyit. “Aku tak mau, Sekar. Biarlah kupakai bedak biasa saja.” Sekar mendengus, tersirat senyum tipis dari wajah manisnya itu. Ia mengangguk. Kubuka tas dalam impitan lenganku, dan mengganti bedaknya dengan kepunyaanku sendiri. “Ini lebih baik. Jangan lupa ucapkan basmallah,” ucapku lembut. Ia memejam, membuka mata lagi dengan keadaan berkaca-kaca. Sepertinya ia terharu. “Jangan sok suci kamu!” Sosok Mina tiba-tiba menyembul di belakang Sekar, ia melipat tangan di dadanya. Aku hanya terdiam, membiarkan Sekar sibuk memoles mukaku. “Kita semua di sini sama saja. Butuh pengakuan dan daya pikat untuk membuat penonton tertarik dengan kita, jangan munafik!” Aku sedang malas berdebat. Membiarkan Mina berbicara sesuka hatinya. “Apalagi untukmu, gadis baru yang sudah didapuk jadi ronggeng utama. Oh, aku lupa jika kamu gadis penyihir, yang punya ilmu lebih dari yang kita tahu.” Aku masih berusaha sabar, meski hati sudah terasa diremas-remas. Sekar memberi kode agar aku tak menggubrisnya. Aku hanya memejam dan mengembuskan napas berat, mencoba menstabilkan segala gemuruh dalam d**a. Mengingat kembali tiga kata ajaran dari Mbah Painem; Sabar, ikhlas, telaten. Ya, aku harus mengamalkan ketiga elemen ini. Ia cemberut memonyongkan bibir, sebab melihat tak ada reaksi dariku. Kakinya mengentak kesal, lalu membalikkan badan untuk beranjak pergi dariku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD