Kulepaskan pelukan ini ketika tubuh mulai menghangat. Memundurkan tubuh beberapa jengkal ke belakang. Betapa malunya saat menyadari diri hanya berbalut selembar kain. Tak elok rasanya berduaan dalam peluk lelaki di malam yang sunyi seperti ini.
Tingkahku gelagapan, menangkupkan handuk semakin erat, berusaha menutupi tubuh. Anehnya ia begitu santai. Seperti tak terjadi apa-apa. Malah semakin dalam menatapku yang cemas celingukan.
“Tak seharusnya kita seperti ini.” Aku berbicara tanpa berani memandang wajahnya, membuang muka ke segala arah, meski tetap meliriknya untuk berjaga-jaga.
“Jadi, kamu maunya seperti apa?” Kepalaku bergeleng-geleng sembari memutar bola mata ke atas. Mencerna ucapannya.
“Ambigu sekali. Apa maksudnya?” Baru berani kutatap mata cokelatnya kembali. Ia melangkah dua jejak ke depan. Kini kami kembali saling mendekat, tanpa sekat. Jantungku terasa berdetak semakin cepat.
Kucoba mundur kembali. Namun, sebelum kakiku berhasil menapak ke belakang, ia mengalungkan tangan kanannya pada tubuhku. Aku memekik. Kembali kita saling berimpit, bahkan bisa kurasakan detak di dadanya yang sama berpacunya denganku.
“Apa maumu?” Kucoba melepaskan tangannya dari pinggulku. Semakin keras kutarik lengan kekarnya, semakin kuat pula ia memeluk.
“Kuyakin kamu juga merasakan hal yang sama denganku, bukan begitu?” Wajahnya yang terlalu dekat, menguarkan napas hangat di wajahku. Darahku terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Panas berdesir meronakan pipi.
Anehnya, aku tak terlalu memberontak, seperti saat bersama Pak Lurah waktu itu. Bahkan aku ingin lebih dari ini. Tak bisa kupungkiri aku merasa melayang. Bahagia tak terkira, menikmati sentuhan-demi sentuhan darinya.
Sekali lagi ia membenamkan wajahku ke dalam dadanya, mempererat rangkulan, seakan penuh dengan rasa gemas. Beberapa detik tanpa penolakan kubiarkan terjadi. Hingga suara gemuruh di perutku membuatnya seketika melepas.
“Astaga, aku lupa. Kamu belum makan, ya? Kamu ganti baju dulu, kutunggu di luar.” Ia segera pergi dari hadapanku dan menutup kain panjang, membiarkanku sendiri dalam sumur. Semua pikiran buruk tentangnya seketika lesap. Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian barusan. Masih tercenung dengan perlakuannya tadi.
“Cepetan gantinya, makin malam nih!” Aku menggeleng sadar, menelusuri keadaan sekitar. Begitu gelap dan pekat, hanya beberapa cahaya lilin yang hampir redup, serta sinaran alami sang rembulan. Secepatnya kuganti pakaian dengan tergesa-gesa. Sembari berulang kali menyebut nama Putra, memastikan ia masih di sana, menungguku.
“Putra, kamu masih di situ ‘kan? Jangan tinggalin aku ...!”
“Iya, tenang saja. Makanya buruan!” Ia menyahut dengan suara yang tak kalah kencang.
Setelah selesai, aku ke luar dari sumur dan segera mencari kotak makanku. Perih rasanya perut ini. Tak sabar cacing-cacing di dalamnya menunggu untuk diisi.
Aku duduk di kursi panjang ditemani Putra, di bawah temaram cahaya bulan. Dikelilingi redup cahaya lilin yang melingkari sumur. Sungguh romantis, kepulan asap lilin menambah sempurna kesan dramatis malam ini.
Ia hanya terdiam memandangku yang begitu kelaparan. Tak kupedulikan lagi rasa malu. Toh, ia juga tak pernah mempermasalahkan apa yang kulakukan. Malah menikmati kelakuanku sembari tersenyum tipis.
“Mau kusuapin?” Ia menggeleng. “Aku sudah kenyang, kenyang melihat senyummu.” Ia melirikku dengan tatapan mautnya. Duh, hampir saja aku pingsan dibuatnya.
“Kenapa senyum-senyum begitu, Ada yang lucu?” tanyaku sambil mulut masih penuh dengan nasi. Bahkan beberapa muncrat ke luar. Ia semakin terkikik.
“Lucu sekali, tapi aku suka.” Kulirik wajahnya yang ditopang dengan kedua tangan.
Suka? Suka yang seperti apa maksudnya? Ingin rasa kupertanyakan tetapi ada rasa takut jika ini hanya perasaanku saja. Aku malu jika harus bertepuk sebelah tangan. Aku juga takut Mina bakal lebih marah lagi jika tahu aku berusaha dekat dengan Putra.
Tetiba suara panggilan Mbah Painem pada Putra membuatnya bergegas berdiri. Ia memang anak yang patuh, selalu siaga melayani ibu sambungnya itu. “Tunggu, jangan tinggalkan aku. Aku takut!” kataku penuh cemas.
Ia menghentikan langkah dan menoleh padaku. “Cuci tanganmu cepat!” Secepatnya kubilas tangan dan membuang sisa makanan dalam kotak. Lantas, berlari mengikuti Putra masuk melalui pintu kamar Mbah Diman di depan sumur.
Aku berjalan di belakang Putra memasuki ruangan pengap ini. Ruangan yang pernah kumasuki bersama Sekar waktu itu. Tak ada yang berbeda. Masih penuh dengan aura mistis dan tak mengenakkan.
Kulihat Mbah Painem duduk di atas kursi sebelah ranjang, ia menggenggam tangan Mbah Diman yang tampak pucat. Napasnya tersengal tak karuan. Bahkan kudengar suara seperti cicitan tikus di tiap akhir napasnya. Kasihan sekali.
Ketika melihatku, ia langsung menudingku dan napasnya yang semakin tak karuan. “Sri-sriyani.” Lagi-lagi ia memanggilku dengan sebutan demikian. Ia semakin memekik sampai hampir kehilangan napas. Ia melenguh panjang dan berat, membuat Mbah Painem dan Putra gelagapan.
“Pak, jangan dipaksa. Sabar, Pak!” Mata Mbah Nem terlihat berkaca-kaca, siap menumpahkan buliran bening menuju pipi. Begitu pun dengan lelaki jangkung itu. Ia yang sedari tadi kulihat ceria dan tersenyum bersamaku. Kini begitu melas. Tak ada lagi raut bahagia.
Kucoba mendekatinya, berdiri di samping tepat sebelah Mbah Nem. Sejajar dengan kepala Mbah Diman. Lelaki tua itu melikkan mata cekungnya padaku. Masih dengan napas kembang kempis.
Seketika kuingat mimpi-mimpi yang beberapa hari ini menghiasi malamku. Tentang selendang dan kekuatan. Tentang pengkhianatan Mbah Diman pada cinta Mbah Sriyani.
Kubuka tas dengan isi selendang kuningku. Menariknya lembut, lantas memakainya pada leher jenjangku. Mulut Mbah Diman terbata-bata. Kini aku berdiri di sampingnya berbalut selendang milik almarhum istrinya.
Seperti mendapat suntikan kekuatan, Mbah Diman tiba-tiba bangkit dari tidurnya. Ia duduk selonjoran dengan wajah semringah. Menatapku lekat tak berkedip.
Mbah Painem dan Putra memandangnya tak percaya. Mereka melongo, mendapati lelaki yang selama ini seperti mayat hidup tiba-tiba bergerak luwes begitu saja. Bahkan tanpa perlu bantuan untuk menopang tubuhnya, seperti yang selama ini terjadi.
“Kakek!” Putra mendekat padanya dan mencium tangannya berkali-kali.
“Pak, kami tak mimpi ‘kan?” tanya Mbah Painem mengusap-usap kaki bapaknya itu.
Lelaki itu terdiam, menatap kedua anak dan cucunya. Lantas melihatku kembali. Kini napasnya mulai normal. Namun, ada bisikan lirih mengelabuhi telingaku.
“Lepaskan selendangmu, dan lihat apa yang terjadi.” Karena penasaran, kuikuti perintah misterius tersebut. Perlahan, kutarik selendang ke samping kiri. Pelan dan pasti, hingga kain kuning itu benar-benar jatuh dari leherku.
Gubrak! Pas di saat jatuhnya selendang, saat itu pula tubuh Mbah Diman kembali ambruk. Bahkan, keadaannya kini lebih parah. Badannya kejang-kejang tak karuan. Ia berteriak dengan suara parau. Cukup mengerikan. Tetapi entah mengapa aku suka melihatnya tersiksa.
Kembali suara bisikan gaib terdengar lirih. “ Lakukan apa yang kamu suka, tak perlu takut. Ini menyenangkan.” Aku menyungging, menatap kedua ibu dan anak yang kebingungan dengan apa yang terjadi pada orang yang disayanginya itu.
Sejurus kemudian, Mbah Diman mengejang hebat. Matanya mendelik sampai otot-ototnya memerah dan menonjol, seakan memaksa untuk ke luar. Setelahnya ia terdiam tak berkutik.
“Bapaaak!” teriakan Mbah Nem membuatku bergidik. Perlahan aku berjalan mundur. Mencoba ke luar dari situasi yang tidak mengenakan ini.
“Mau ke mana kamu, Narsih?” panggilan Mbah Painem tanpa menoleh ke belakang, membuatku berjingkat. Kuhentikan langkah, kuteguk ludah berat. Lantas, terdiam di ambang pintu.
“Tidakkah kamu prihatin dengan keadaan kami? Kenapa malah ingin segera pergi?” Ia membalikkan kepala menatapku tajam. Aku menggeleng.
“Aku baru menyadari, ternyata kekuatan Bapak ada padamu. Tiap kali bertemu denganmu. Ia selalu punya kemampuan untuk berdiri, meski hanya sebentar. Apa kamu punya ilmu khusus? Seperti apa yang dikatakan teman-temanmu di sanggar?”
Aku menggeleng cepat, kembali melangkah ke depan mendekati mereka. Sampai di hadapan Mbah Painem, aku bersimpuh di kakinya. Memohon dan meminta maaf atas apa yang terjadi dengan Bapaknya itu.
“Nyuwun pangapunten, Mbah. Narsih benar-benar tak mendalami ilmu apa pun. Bahkan Narsih juga tak pernah tahu kenapa bisa seperti ini. Aku takut, Mbah. Takut dengan diri sendiri.” Aku mulai terisak, berharap Mbah Painem tidak curiga.
Putra menarik tanganku untuk berdiri. Kuikuti arahannya dan berdiri di hadapan mereka berdua. Kupandang tubuh Mbah Diman yang begitu lemas di atas kasur. Helaan napasnya besar dan berat. Dengan tulang-tulang yang menonjol di tiap sudut-sudut tubuh. Mengerikan, tapi begitu kasihan.
“Dua kali ini, saat bertemu denganmu ia akan mendadak sehat. Tapi setelahnya, penyakitnya akan lebih parah. Lebih menyiksa. Aku khawatir. Meski aku tahu, ia takkan pernah mati sebelum tameng patinya dihancurkan.” Kuembuskan napas berat mendengar keluhnya.
“Apa tak pernah ada yang mencari tahu, apakah bentuk tameng pati Mbah Diman?” Keduanya menggeleng.
“Kalau kami tahu, takkan kami biarkan ia tersiksa terlalu lama.” Aku membekap mulut, tak percaya. Jadi, mereka akan membuatnya meninggal setelah bertemu dengan benda yang tak pernah diketahui keberadaannya.
“Kami bukannya tak sayang. Malah terlalu sayang. Kasihan harus melihatnya tersiksa puluhan tahun seperti ini. Kami harus rela melepaskannya agar ia bisa tenang. Tanpa tersiksa lagi.” Aku mulai mengerti dan paham.
Kutatap kembali tubuh ringkih Mbah Diman di sampingku. Tak tega rasanya melihatnya tersiksa seperti itu. Kenapa Mbah Sriyani begitu tega membuatnya menderita seperti ini? Ini keterlaluan.
Otakku mulai berpikir tentang bagaimana hubunganku dengan Mbah Diman. Tentang mimpi, selendang, dan bisikan gaib barusan. Sepertinya aku mulai paham, semua ini menunjukkan bahwa tameng pati yang dimaksud selama ini adalah selendang yang kupakai.
Benar saja, ketika kupakai selendang cantik itu. Mbah Diman seolah mempunyai kekuatan besar yang membuatnya bisa bergerak. Namun, setelah kulepas selendang dari leher. Ia selalu ambruk begitu saja. Lagi, dan lagi.
Ya, tidak salah lagi! Pantas saja, Mbah Sriyani mewanti-wanti aku dalam mimpinya untuk tidak pernah menghancurkan selendang itu. Demi membuatnya semakin tersiksa tentunya. Begitu egois dan keterlaluan pikirku.
Aku tercekat tak berkutik, saat di hadapanku tiba-tiba muncul sosok Mbah Sriyani duduk di pojok kasur Mbah Diman. Ia mengelus-elus kepala Mbah Diman, tetapi sambil menatapku penuh dendam. Kutundukkan wajah semakin dalam. Berharap apa yang tampak di mata segera berlalu.
“Kamu kenapa?” tanya Putra yang melihatku celingukan gelisah. Kugedekkan badan dan kepala untuk berbohong. Meski aku tahu Putra tak sepolos itu. Ia tak mudah dibohongi. Apalagi terlalu hafal dengan semua tingkah dan gelagatku.
Kulirik lagi penampakan di depan. Kini ia menggosok-gosok d**a lelaki di sampingnya dengan tekanan kasar. Pria tua itu semakin kesusahan bernapas. Mengejang kembali.
“Pak, Bapak kenapa?” Wajah Mbah Painem ketakutan bukan main. Kupandang pojok kasur tempat di mana sosok halus Mbah Sriyani menampakkan diri. Aku menggeleng beberapa kali sembari tetap fokus menatapnya. Berharap ia melepaskan tangannya dari d**a lelaki berpenyakitan tersebut.
Putra masih menatapku dengan pandangan curiga. Ia jelas tahu aku tengah menatap tembok kosong. Ia seolah mengerti bahwa aku sedang mencoba berkomunikasi dengan sesosok makhluk tak kasat mata.
“Baiklah, kamu boleh pulang. Ingat, besok pagi kalian semua kumpul di sini untuk latihan terakhir.” Putra mencoba memutus pandanganku dengan berkata seperti itu. Benar saja, seketika sosok itu tak terlihat lagi di sana. Kuedarkan pandang ke sekeliling. Menatap pojok-pojok ruangan kosong. Tak ada lagi sepertinya.
Kulihat napas Mbah Diman mulai sedikit teratur meski dengan tarikan berat. Aku mulai bimbang. Siapa yang harus kubantu setelah ini? Mbah Diman terlalu lemah untuk disiksa, sedang sosok Mbah Sriyani terlalu menjengkelkan dengan segala keinginan jahatnya.
Suara isakan Mbah Painem mulai lirih. Ia menoleh padaku dan mengangguk sekali, sebuah kode untuk membiarkanku segera pulang.
Aku mengangguk takzim, mencium tangan Mbah Painem dan kemudian berpamit.
Putra mengiringi langkahku ke luar dari kamar Mbah Diman. Sampai di pintu depan ia menarik tanganku. Aku membalikkan badan dan menatapnya. “Aku tahu ada yang tak beres dengan Kakek. Aku juga tahu kamu menatap sesuatu di pojok kasur tadi. Jangan mengelak lagi. Hanya saja aku tak tahu apa yang sedang kamu lihat di sana. Apa pun itu, ingat! Aku selalu percaya padamu. Kamu akan melakukan yang terbaik untuk semuanya, untuk kebaikan semuanya.” Aku tertegun, tak tahu harus menjawab apa.
Kenapa ia begitu paham dengan semua tindakan dan gelagatku? Meski tak nyaman, aku berusaha sebaik mungkin menyembunyikan semuanya. Tentang mimpi, dan segala ancaman Mbah Sriyani.
Semoga saja aku benar-benar bisa memberikan yang terbaik untuk semuanya. Tak terkecuali.