Mandi Kembang

1009 Words
Hari ketiga telah tuntas kujalani. Lega rasanya sudah menjalankan syarat yang telah ditentukan. Besok, adalah hari yang paling kutunggu. Hari dimana aku akan menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya, mengubah jalan hidupku. Entah, apakah aku siap dengan semua ini? Kini yang kupikirkan hanya mandat dan wasiat ibu. Setelah ini, beliau pasti bahagia di sana, melihat aku telah tuntas mewujudkan apa yang diinginkannya. Sebelum berbuka puasa di hari terakhir ini. Sesuai perintah Mbah Painem, aku akan datang ke rumahnya untuk menjalani proses akhir, mandi kembang. Bontotan untuk buka puasa sudah disiapkan Nenek dalam kotak makan. Tak lupa membawa jarik dan selendang wasiat sebagai syarat. Aku berangkat di saat langit berwarna jingga. Kutatap pemandangan menawan ini dengan perasaan penuh syukur. Tiga hari sudah aku tak bisa menatap goresan warna yang dicipta Tuhan. Aku merasa hidup kembali ketika menatap langit sore ini. Langit dengan warna yang kusuka tentunya. Kuberjalan perlahan menyusuri jalanan desa yang mulai ramai. anak-anak dan beberapa warga berjalan dengan pakaian lengkap salat, siap untuk menjalankan ibadah salat magrib. Aku hanya membalas tatapan mereka dengan senyum semanis mungkin. Beberapa ada yang melihatku penuh tanya, seakan penasaran mau ke mana aku senja begini? Pamali memang, ke luar rumah saat surup. Hari di mana pergantian waktu dan tenggelamnya matahari. Bahkan hari di mana makhluk-makhluk tak kasat mata memulai aktivitasnya. Aku terus berjalan sampai memasuki gerbang rumah Mbah Painem. Ketika kubuka gerbang, Putra sudah bersiap menantiku di dalam. “Sudah siap?” tanyanya sembari melipat tangan di d**a dan bersandar pada pohon mangga. Seketika aku terperangah menatap pesonanya sore ini. Ada rasa hangat yang menjalar di pipi. Aku mengangguk dan menunduk, berusaha menyembunyikan rasa malu dan meronanya pipi. Ia malah melirikku dalam-dalam. Membuatku semakin salah tingkah. Ia terkikik, seolah tahu apa yang kurasakan. “Ayo ikut aku!” Ia berjalan menuju samping rumah Mbah Painem. Kuikuti langkahnya menuju sumur. Di sana, sumur sudah diberi beberapa kain penutup mengelilingi. Aku hanya terdiam kebingungan melihat semua ini. Aroma wangi bunga seketika menguar tajam. Bulu kuduk merinding merasakan suasana yang terasa begitu mistis. Langit senja menuju gelap, angin dingin menjelang malam, serta sunyinya keadaan, menambah sempurna ketakutanku. Kuusap tengkuk yang seperti ditiup dari belakang. Merapatkan tubuh pada Putra yang sedang menimba air dan mengisi kotak besar dalam kain penutup. Mungkin, untuk kebutuhan ritual mandiku. Ia menoleh ke belakang, menghentikan laju timba dan menatapku heran. Aku yang merasa tak nyaman, celingukan menatap sekeliling. Bahkan suara gemeresak dedaunan sedikit saja, sudah membuatku berjingkat berkali-kali. “Kamu kenapa? Ketakutan begitu, tenang dong. Kan ada aku.” Aku hanya meliriknya sekilas, kembali fokus pada suara-suara di sekitar yang terasa semakin mencekam. Deritan suara timba kembali menggema, Putra kembali mengisi kotak itu, sampai isinya penuh. Setelahnya, ia menaburkan bunga tujuh rupa yang sudah tersedia di samping sumur. Pantas saja, baunya begitu menyengat sedari tadi. Suara azan magrib mulai terdengar bersahutan, “Alhamdulillah,” ucapku. Ada sedikit rasa aman ketika mendengar alunan suara azan. Aku mundur dan duduk di kursi panjang bawah pohon belimbing. Membuka tas dan mengambil botol minum. Kuteguk teh buatan Nenek untuk membatalkan puasa. Suara jejak kaki terdengar dari balik pintu kamar Mbah Diman. Perlahan pintu itu terbuka, menampakkan wajah Mbah Sriyani dalam balutan kebaya cokelat. Aku tertegun dengan penampilannya malam ini. Ia begitu cantik, gelungan rambutnya dihias dengan beberapa bunga warna-warni. Sapuan make up tipis menambah paripurna keanggunannya. Kebaya yang digunakan pun, tidak seperti biasa. Terlihat membentuk lekuk tubuh indahnya. Dadanya membusung sempurna. Sepertinya sebab tarikan kendit yang dipakai. Ia berjalan pelan menghampiriku. “Jangan makan dulu, kita mulai ritualnya sekarang. Kamu boleh makan setelah selesai menjalani proses ini.” Aku mengangguk takzim. Menutup botol minum dan bersiap sepenuhnya. Ia menjulurkan tangan. Mengajakku memasuki lingkaran kain di sumur. Putra menyibak kain itu untuk kami lewati. Sesuai perintah Mbah Painem, Putra menyalakan beberapa lilin di sudut-sudut ruang. Mbah Painem duduk bersimpuh di depan sumur, ia memberi kode agar aku mengikutinya. Ia merapal bacaan yang entah apa, sembari mengatupkan kedua tangan di d**a. Bahasa yang digunakan bahkan tak pernah kudengar sebelumnya. Tak lupa ia bersenandung merdu seperti saat di sumur waktu itu. Sebuah tampah dengan lilin dan berbagai bunga, ia putar-putar di depan wajahku. Meniupkan kepulan asap pada wajah yang terpejam, menahan perih asap pada mata. Selanjutnya, ia menyuruhku untuk melepas pakaian dan menggantinya dengan jarik. “Lepas semua pakaianmu! Aku akan memandikanmu.” Aku terdiam, mengingat Putra yang masih berada dalam lingkaran sumur ini. Ia sepertinya tahu kegelisahanku. Segera beranjak ke luar dan menutup kain penutup. Risih rasanya melepas pakaian di depan orang asing seperti ini. Tetapi aku tak mau membantah, takut dengan wajah yang tak henti memandangku lekat. “Aku tak salah lagi, tubuhmu begitu indah, molek dan sempurna.” Ia berucap demikian saat aku sudah telanjang bulat. Secepatnya kutarik jarik dalam tas dan melingkarkannya pada tubuh. “Masuk dalam kotak.” Kuikuti perintahnya, mencelupkan kedua kaki terlebih dahulu. Seketika badanku menggigil, air ini terasa begitu dingin. Pelan-pelan dengan bibir gemetaran, kuempaskan tubuh dalam air penuh bunga tersebut. Aku semakin bergetar hebat. Belum lagi perut yang seharian puasa dan belum terisi apa-apa selain teh tadi. “Di-dingin, Mbah.” Kupeluk tubuh sendiri menahan rasa yang semakin menelusup dalam tulang. “Tahan sebentar.” Ia mulai mengucurkan air di atas kepalaku, sembari mulutnya berkomat-kamit tak jelas. Mungkin, badanku kini pucat serupa mayat. Bibir sudah terasa beku dan kaku. “Terimalah Narsih sebagai ronggeng!” Kalimat terakhir yang kudengar, sebelum akhirnya ia menyuruhku ke luar dari kotak ini. “Kini kamu sudah menjalani satu syarat. Nanti, akan kuberitahu syarat selanjutnya setelah pementasan besok.” Aku semakin menggigil tak karuan. Mbah Painem membuka kain penutup dan menyuruh Putra memberikan handuk padaku. Aku berdiri di depan sumur dengan memeluk tubuh sendiri, menunggu Putra. Ia mulai menghampiriku dan menutupiku dengan handuk besar. Ia mengusapnya lembut pada tubuh dan rambutku. Tak ingat lagi aku dengan rasa malu karena hanya berbalut kain jarik. Ia terlihat begitu panik melihat keadaanku. Wajahnya begitu cemas dengan apa yang terjadi denganku. Tanpa kusadari, ia memeluk tubuh ini begitu erat. Kubalas peluknya dengan membenamkan tubuh semakin dalam. Menelusup dalam dadanya yang bidang. Begitu hangat, dan nyaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD