Mataku membelalak kaget, seketika tubuh berjingkat sampai terperosok jatuh ke belakang. Napasku kembang kempis. Kuusap d**a menstabilkan jantung yang berdebar tak karuan. Kuembuskan napas lega ketika sadar bahwa sosok itu adalah Putra.
Kini bibirku manyun ke depan, mendapati Putra yang sama kagetnya denganku. Ia memandangku yang masih bersimpuh di atas tanah.
“Kamu kenapa?” Ia mulai berjalan mengitari pepohonan yang menghalangi pandang. Sampai saat berada di depanku. Tangannya diulurkan padaku, kujulurkan tangan untuk membalas bantuannya. Ia menarikku sampai berdiri sejajar di depannya.
“Bagaimana kamu tahu aku di sini?” Kukibaskan bagian belakang bajuku yang sedikit kotor terkena tanah. Menepuk kedua telapak untuk membersihkan. Ia melakukan hal yang sama, sebab tangannya telah bersentuhan denganku.
“Mina dan yang lain selalu begitu. Aku sudah hafal sekali dengan mereka. Sebelumnya juga pernah ada gadis sepertimu. Tapi ia tak sekuat kamu, menyerah begitu saja dan melupakan impiannya menjadi penari ronggeng, sebab tak kuat dengan perlakuan Mina dan gadis lainnya. Hanya Sekar gadis yang cukup baik selama ini. Beruntung kamu bisa berteman dengan dia.” Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya.
Semilir angin malam mulai terasa menusuk kulit. Langit sudah semakin gelap, bahkan beberapa surau telah mengumandangkan azan. Gema suara binatang malam mulai bersahutan. Aku mulai cemas, takut Nenek kebingungan mencariku.
“Kamu tahu jalan pulang ‘kan? Bantu aku keluar dari sini. Nenek pasti sudah mengkhawatirkanku.” Ia memandangku lekat, tak berkedip. Dadaku berdesir seketika mengingat di tengah kebun gelap ini hanya ada aku dan dia. Mataku mulai berputar ke sekitar, bersiap ancang-ancang jika dia berani macam-macam denganku.
Aku merasa trauma dengan kejadian bersama Pak Lurah. Ada perasaan takut Putra akan melakukan hal yang sama dengannya. “Kenapa kamu memandangku seperti itu? Jangan buat aku takut!” Kulangkahkan kaki sedikit mundur beberapa jengkal ke belakang, mencoba sedikit menjauh darinya.
Ia mendengus terkikik. “Jangan ke-GR-an. Itu di pipimu ada kotoran. Mau kubilangi tapi kamu sudah kepedean begini. Haha ....” Ia terbahak kembali. Kugembungkan pipi malu. Mengusap pipi yang katanya kotor. Benar saja, ada tanah basah yang menempel di sana.
“Aku bukan lelaki yang seperti kau pikirkan. Tenang saja.” Kuembuskan napas lega. Ia membalikkan badan dan melirikku dengan seringai lucu.
Putra mulai berjalan mendahului, kuikuti langkahnya dengan sedikit kesusahan. Maklum jejak lelaki selalu besar. Hingga beberapa meter ke depan, lampu-lampu jalanan terlihat terang. Akhirnya aku bisa bernapas lega. Segera berlari meninggalkan Putra ketika sudah melihat jalanan yang biasa kulalui.
“Terima kasih, Put. Aku balik dulu!” teriakku dengan membalikkan badan, lalu berlari kembali secepatnya untuk pulang. Ia hanya membalasnya dengan melambaikan tangan.
***
“Assalamualaikum!” salamku keras saat sudah berada di teras. Kucoba membuat wajah seceria mungkin agar Nenek tak khawatir dan bertanya perihal apa yang kualami barusan.
Aku tak mau ia tahu, bahwa teman-temanku tak semuanya baik. Ia harus tahu bahwa aku baik-baik saja, aku senang dengan kehidupan baruku bersamanya di desa ini.
Seketika Nenek keluar rumah dengan wajah cemas, “Waalaikum salam, Narsih ... kamu dari mana saja?” Kutarik tangannya dengan takzim, memberikan senyuman paling berkesan.
Ia mengernyit, seperti berusaha menerka dan membaca apa yang ada di pikiranku.
“Ada kabar apa ini? Kenapa semringah begitu?” Alisnya kini terangkat. Menatap wajahku yang kubuat setengil mungkin.
“Tebak dong?” Ia terlihat semakin penasaran. Bibirnya mulai geram.
“Jangan mengerjai nenek-nenek, nggak baik.” Aku terkikik geli. Lantas, mengajaknya masuk dalam rumah.
Kuajak beliau duduk di atas kursi kayu ruang tamu, aku memosisikan diri duduk di sampingnya. Dengan sekali embusan napas kubongkar hal yang membuatnya penasaran.
“Narsih bakal jadi ronggeng utama di acara panen desa Sabtu malam besok.” Ia melongo tak percaya, membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Selamat, ya, Nduk. Selangkah lagi impianmu bakal terwujud.” Kami saling berpeluk, dalam suasana haru sekaligus bahagia.
Kulepas pelukannya dan berkata, “Tapi dalam tiga hari besok, Narsih harus puasa, Nek. Kata Mbah Nem, ini sebagai syarat sebelum pertunjukan. Narsih juga tak boleh bertemu orang dulu.” Ia mengangguk paham.
“Kamu jalani semua yang diperintahkan beliau, jangan membantah demi kebaikanmu.”
“Nenek bakal dibantu Putra selama aku puasa besok.” Kusampaikan apa yang dikatakan Mbah Painem tadi.
“Tak perlu repot, Nduk. Dulu sebelum kamu di sini. Nenek juga melakukan semuanya sendiri.” Ia mengusap punggung tanganku halus.
“Narsih nggak mau Nenek kecapekan.”
“Kamu terlalu cemas, tak usah khawatir begitu. Nenek sudah biasa. Sudahlah, sekarang kamu istirahat dulu.” Ia berdiri dan bersiap meninggalkanku, lalu berbalik kembali untuk berkata, “Jangan lupa salat magrib!” Kuacungkan tangan kanan membentuk sikap hormat di dahi.
***
Selama tiga hari ini, aku benar-benar seperti menghilang dari dunia. Bahkan, aku tak bisa melihat bagaimana hangatnya sang surya karena hanya berada di dalam rumah. Hanya suara azan yang menjadi pertanda waktuku menjalani hari.
Aku masih membantu Nenek mempersiapkan dagangan seperti biasa. Tetapi setelah semua selesai, aku akan masuk ke kamar kembali. Aku merasa seperti manusia gua, tak tahu apa yang terjadi di luaran sana. Hanya bertemu Nenek saat buka puasa dan ke kamar mandi.
Hampir tiap malam selama tiga hari ini, aku bermimpi kembali tentang wanita ronggeng itu, berkali pula ia selalu memberi pesan yang sama. Tentang Mbah Diman dan selendang. Aku sampai hafal jalan mimpiku sendiri.
Menari di tengah banyak orang degan merupa wajah Mbah Sriyani, sampai bertemu dengannya di akhir mimpi. Terus berulang sampai membuatku muak.
Malam terakhir aku berpuasa, kuputuskan untuk tidak tidur. Aku tak mau mengalami mimpi itu lagi. Bergelas-gelas kopi sudah kuteguk untuk menjaga mata agar tak mengantuk. Namun, ternyata semua itu percuma, malah membuatku kembung dan masuk angin.
Aku muntah sampai lemas. Nenek menggosok punggungku dan membalurkan minyak angin, hingga membuatku tertidur dan bermimpi kembali. Tetapi, mimpi terakhir ini beda. Aku merasa diajak Mbah Sriyani masuk dalam sebuah rumah besar dan indah. Berbagai keperluan dan kebutuhan hidup tersedia tanpa takut kekurangan.
Ia berkata bahwa aku akan mendapatkan segalanya jika benar-benar mau memasuki dunianya. Dunia yang tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya.
Namun, saat aku mengajak Nenek memasuki rumah ini. Mbah Sriyani marah dan menampakkan wajah seram. Aku bergidik, berlari sekencang mungkin menjauh dari rumah itu. Akan tetapi, berulang kali aku berusaha menjauh, rupanya aku hanya memutari rumah dan kembali masuk. Lagi, dan lagi, sampai aku terbangun dengan peluh bercucuran.
Apa maksud semua ini? Apa aku tak boleh membawa Nenek memasuki dunia baruku?