“Aku ingin kamu berpuasa selama tiga hari ini. Kamu harus banyak belajar sabar. Sebab, menjadi ronggeng diperlukan kemantapan hati. Tentu banyak cibiran yang bakal kamu dapatkan setelah ini. Biarkan saja, belajar ilmu ikhlas dan sabar, juga telaten. Itu kuncinya.”
Aku sudah pernah mendengar tiga kata kunci ini sebelumnya dari Mina. Sekali lagi aku mengangguk kembali. Beliau turut mengangguk dan meneruskan kalimatnya.
“Nanti setelah tiga hari kamu puasa, sore waktu surup kamu datang ke rumah ini. Aku akan memandikanmu dengan bunga tujuh rupa, sebagai syarat untuk menjadi seorang ronggeng.”
Aku tercenung, sebegitu sakral kah semua ini?
“Kenapa harus senja?” Aku bertanya penuh heran.
“Kamu sudah pernah bilang pada Putra kan? Waktu pendaftaran itu kamu bilang jika warna kesukaanmu adalah oranye. Ini penting untuk ritual sucimu.” Aku semakin melongo tak mengerti. Apa hubungannya?
“Selama tiga hari kamu berpuasa, jangan keluar rumah dan menemui orang. Akan kuminta izin pada Bu Lurah agar kamu tidak perlu sekolah tiga hari saja. Ini penting, agar nantinya kamu bisa pangling. Aku tak mau salah pilih. Akan kubuka kembali budaya ronggeng seperti dulu lagi, seperti saat jaman ibuku, Sriyani.”
Memang budaya seperti apa yang dimaksud? Jika aku tidak salah bukankah dulu Nenek pernah bilang bahwa ronggeng waktu itu adalah milik bersama? Pikiranku mulai kacau, semoga tidak seperti apa yang kupikirkan. Jika memang benar, apa aku bisa menolaknya?
“Tapi bagaimana dengan Nenek, siapa yang bakal bantuin dia? Aku biasa membantunya jualan, ke pasar juga.” Aku berkata penuh iba, tak mungkin membiarkan Nenek melakukan semua pekerjaannya sendiri.
“Sudah kupikirkan, Putra yang bakal menggantikan tugasmu.” Ada perasaan lega yang membuatku mendengus perlahan.
“Bakal ada beberapa syarat lain yang sulit kamu terima, sekali lagi tiga kunci yang kusebutkan harus bisa kamu lakukan dengan baik.” Aku mengangguk pasrah, memantapkan hati untuk memulai peran baruku.
Sungguh pesona Mbah Painem membuatku takluk tanpa berani membantah. Patuh dan manut dengan segala yang diucapkannya. Aku harus percaya sepenuhnya padanya. Ini demi masa depanku. Demi cita-cita almarhumah ibuku tentunya.
Tak kusangka, secepat ini aku bisa membuktikan semua ini. Semoga segalanya berakhir indah, hanya itu yang yang kini tersirat dalam hati.
Mbah Painem mulai berdiri dan melakukan sebuah gerakan, aku turut berdiri dan mengikuti arahannya. Kami larut dalam tarian gemulai nan indah. Hingga tak terasa waktu sudah hampir senja.
Aku berpamit pulang padanya. Saat ke luar dari rumah Mbah Painem, suasana tampak sepi. Mungkin, kawan-kawan sudah pulang sedari tadi. Cepat aku melangkah ke luar dari sanggar. Ketika sampai di luar gerbang, sebuah tangan menarikku keras. Aku memekik dan menoleh pada pemilik lengan.
“Mina? Mau apa kamu?” Aku tak mau lagi dijajah seperti sebelum-sebelumnya. Harus lebih kuat menghadapinya.
Beberapa gadis lain ke luar dari balik pepohonan dan kini melingkariku.
Seseorang berbisik pada Mina, lantas secara kasar ia menarik tanganku kembali. Ia berjalan cepat, membuatku kewalahan mengiringi langkah besarnya. Kaki Mina memang jenjang, tak heran jika langkahnya lebih panjang dari gadis pada umumnya.
Beberapa kali aku memohon untuk dilepaskan, tetapi tak ada yang menggubris. Malah dorongan paksa terus mereka lakukan untuk membuatku lebih cepat menjauh dari sanggar.
Aku diseret paksa ke tempat yang agak jauh. Dibawa menuju sebuah kebun dengan penuh tanaman tak terawat.
Mina mengibaskan tanganku dan melepasnya keras saat aku sudah terpojok. Aku bersungut-sungut mengusap lengan yang terasa sakit sebab cengkeraman kuat Mina.
“Ilmu pengasihan apa yang kamu pakai, hah?” Suara lantang Mina membuatku mengernyit. Apa maksudnya?
“Dari dukun mana kamu? Manjur benar peletnya sampai-sampai Mbah Nem kau buat klepek-klepek begitu?” Gadis di samping Mina berkata dengan geram.
Jadi, mereka mengira aku memakai ajian atau ilmu pelet? Pemikiran yang sungguh tak logis. Di jaman sekarang ini, masih ada yang berpikir konyol seperti itu?
Aku terbahak, membuat para gadis itu semakin sinis menatapku. Plak! Satu tamparan seketika menghujani pipi kiriku. Kembali aku bersungut, menajamkan pandang pada mereka yang mau mengerjaiku. Kuusap-usap pipi yang mungkin kini warnanya sudah memerah.
Aku memang polos, tapi bisa menjadi setajam belati jika terus didesak. Tetiba aku ingat lantunan kidung yang dinyanyikan Mbah Painem waktu di makam. Entah kenapa bibir ini bersenandung begitu saja melantunkan lagu yang terasa mengerikan di waktu senja begini.
Mereka mulai celingukan, saling pandang pada kawan di sebelahnya masing-masing. Bahkan ada kengerian di raut muka mereka. Kualunkan nada ini semakin keras, melengking. Beberapa mulai menutup telinga.
“Narsih, hentikan!” Mina turut membekap telinganya sendiri.
Angin kencang tiba-tiba berembus menggoyangkan dedaunan. Bahkan beberapa daun kering terombang-ambing memutar bersama kepulan tebal debu. Kini mereka menutup mata dengan tangan masing-masing. Rambut dan baju mereka tersingkap tak karuan. Mereka berteriak dan berlarian kocar-kacir. Lantas, meninggalkanku dalam hening saat kuhentikan rapalan lagu dari bibir ini.
Aku lega. Namun, ada perasaan aneh pada diri ini. Sebenarnya ilmu apa yang kumiliki? Hingga mampu mencipta angin sekencang itu? Ah, aku tak peduli. Beruntung mereka segera pergi tanpa sempat melukaiku.
Mungkin, mereka hanya iri dengan pencapaian yang kuraih. Secepat ini bisa mengambil posisi utama. Padahal, mereka tentu merasa lebih baik sebab sudah lama menjadi murid di sanggar.
Kuembuskan napas berat, berusaha menahan amarah dan melatih kesabaran, sesuai titah dari sang dukun ronggeng.
Dengan gontai, aku berjalan pulang melewati semak-semak dan warna langit yang kian menghitam. Aku mulai celingukan menatap keadaan sekitar. Di mana ini? Aku lupa jalan yang tadi kulewati bersama mereka. Aku mulai resah, tak menemukan jalan yang akan membawaku menuju rumah Nenek.
Kupercepat langkah untuk menemukan jalan pulang. Ini sudah hampir larut, Nenek pasti mencemaskanku. Aku tak mau ia menunggu. Napasku mulai terengah-engah, menolehkan pandang yang mulai kehilangan cahaya penerangan. Tak ada lampu barang satu pun, sejauh mata memandang.
Lantunan lagu yang tadi kudendangkan kini terdengar samar-samar. Siapa yang bersenandung? Sedang di sini cuma ada aku? Aku bergidik ngeri, gelagapan dengan diri sendiri. Berjalan dengan tak tenang.
Anehnya suara itu semakin kencang kudengar. Dengan keberanian yang tersisa, kuikuti arah suara itu, di balik pohon bambu yang berdecit melambai, suara itu semakin jelas. Aku berjalan terseok, dan menjulurkan tangan untuk membelah pohon.
Kuteguk ludah dan memantapkan hati. Memejam sebentar, lalu cepat kusibak tumbuhan rambat di sela bambu.
“Akkh ...!” Aku berteriak kencang, melihat sesosok penampakan di sana.