Terpilih

1026 Words
Kulirik jam dinding yang menempel di tembok kamar sebelah kanan. Waktu menunjukkan pukul 04.15. Astaga! Aku kesiangan, kenapa Nenek tak membangunkanku? Gegas aku bangkit dan berdiri tergesa, kutarik rambut sepunggungku ke atas dan menguncirnya menjadi cemol di atas kepala. Aroma harum jajanan seketika menguar ketika kubuka pintu kamar. Kuberjalan cepat menuju dapur, bersiap membantu segala keperluan dagang Nenek. Di depan kompor, ia sedang membuka panci besar yang mengepulkan asap tebal. Ia berjingkat kepanasan beberapa kali, mengambil kue yang telah matang dikukusan. Kuambil alih pekerjaannya, dan menyenggol tubuhnya agar menjauh. “Kenapa Nenek nggak bangunin Narsih, sih?” Aku memonyongkan bibir ke depan, bersungut-sungut. Ia menyibukkan diri menuntaskan kerjaan lainnya di bawah kompor. “Nenek lihat kamu pulas sekali, tidur dengan memeluk selendang pemberian ibumu. Nenek takut mengganggu mimpi indahmu.” Ia melirikku yang masih sok ngambek. Aku tersenyum masam. Antara kesal dan haru. Seketika aku berjongkok menyejajarinya, memeluk erat tubuh renta itu yang sibuk menata kue matang di atas talam. “Nenek lebih membutuhkanku ketimbang mimpi itu. Narsih hanya belum bisa menerima.” Ia mengusap lenganku yang melingkari bahunya. “Jam Subuh sudah mau habis, salat dulu sana!” Kucium manja pipinya yang bergelambir. “Ih, bau jigong. Sana-sana!” Kuulangi ciuman itu berkali-kali. Kami tertawa di tengah heningnya suasana pagi hari. *** Seperti biasa, teras rumah Nenek seketika penuh dengan kerumunan manusia yang mengantri membeli jajanan. Aku sudah bersiap dengan seragamku, siap berangkat sekolah. Sembari menunggu waktu, kubantu Nenek yang kewalahan menghadapi beberapa orang yang tak sabar. “Aku mau kue cucur lima, dan bothok bongko menthuk tiga.” Sebuah suara yang tak asing kini berada di depanku, kutengadahkan wajah yang sedari tadi sibuk menunduk. “Putra! Oh, iya. Siap.” Kubungkuskan pesanan yang diinginkan. “Sudah hampir jam masuk sekolah, kamu tak siap-siap?” Kulirik jam di belakang, dalam ruang tamu. Ternyata benar, sepuluh menit lagi kelas akan dimulai. “Nek, Narsih berangkat dulu.” Kutarik paksa tangannya yang sibuk membungkus jajanan. “Eh, iya ati-ati.” Kuambil tas ransel yang sudah siap di ruang tamu. Menjinjingnya kasar dan berjalan cepat membelah kerumunan. Di halaman depan rumah, sebuah tangan menarik tasku, membuatku menghentikan langkah. Aku menoleh ke samping. Putra sedang duduk di atas motor, “Ayo naik! Daripada terlambat.” Mataku berbinar menatap wajah teduhnya pagi ini. Ketika akan bersiap mengangkat badan di atas jok. Kulihat Mina dan Sekar berjalan tergesa. Mina menatapku dengan geram. Tangannya terlihat mengepal seolah bersiap memberiku dentuman. “Ayo, cepat!” desak Putra yang membuatku bimbang, aku ragu antara menjaga hati seorang teman. Atau, mengambil sedikit kebahagiaan untuk diriku sendiri. Sepertinya Putra melihat gelagatku yang kebingungan. Ia mengikuti sorot mataku yang tertuju pada dua gadis yang tengah berjalan melewati kami. “Oh, aku tahu masalahmu. Mina ‘kan? Cepat naik! Tak usah kau hiraukan gadis kecentilan itu, aku saja muak.” Kepalaku cepat bergerak memandang Putra, tak percaya. Kukira mereka punya sebuah hubungan. Ternyata malah seperti ini. Putra menarik tangan ini untuk menyuruhku naik. Dengusan kesal terlihat dari bibir manyun Mina yang masih berjalan di depan kami. Mungkin, Putra benar. Tak selamanya aku harus memendam perasaan ini, hanya demi seseorang yang tak pernah peduli tentang yang namanya persahabatan. Kunaiki motor dan melintasi kedua gadis yang kini agak menjauh. Aku tak mau untuk sekadar melirik Mina. Aku tahu ia pasti kesal dengan perbuatanku. Namun, aku sudah muak dengan tingkah lakunya yang seenaknya sendiri. Sedikit pelajaran mungkin akan membuatnya lebih peka terhadap sesama. Satu hal lagi, aku merasa sedikit lega bisa mengerjainya seperti ini. Apa aku jahat? Tentu tidak. Mereka bahkan tak mempunyai hubungan apa pun. Wajar saja jika aku masih punya banyak kesempatan. *** Seharian di sekolah maupun sekarang di sanggar. Mina tak menyapaku sama sekali. Aku sudah kehilangan rasa peduli. Selama ini aku sudah menghargainya sebagai seorang teman, tetapi ia tak pernah membalas atau pun balik menghargai. Mungkin, memang sudah sifatnya seperti itu. Dan orang yang sedemikian itu, tak seharusnya diberi hati. Mbah Painem memasuki pendopo sanggar, seperti biasa, wanita dengan ciri khas pakaian kebaya dan jarik serta rambut yang disanggul itu berjalan begitu anggunnya. Seluruh murid bersiap dan berbaris rapi menghadapnya. Ia memberitahukan sebuah pengumuman pada kami semua. “Anak-anak. Sabtu besok kita ada undangan untuk tampil di balai desa. Untuk itu, aku akan menunjuk seorang murid dari kalian untuk menjadi ronggeng utama. Dan aku sudah memutuskan bahwa Narsih yang akan menjalani tugas ini.” Seketika riuh ramai para gadis bergerumun. Sepertinya banyak yang tak setuju dengan keputusan baru ini. Aku yang hanya seorang murid baru beberapa hari lalu, tiba-tiba ditunjuk menjadi ronggeng utama. Siapa yang tak kesal. “Mulai hari ini, Narsih akan kuajari secara pribadi. Tak ada yang boleh memprotes ini, jika kalian tidak terima, boleh keluar dari sini!” Semua hanya menunduk. Meski dengan wajah jengkel, tak ada yang berani membantah. “Selamat ya, Nar,” ucap Sekar di sampingku. Ya, hanya Sekar. Tidak dengan lainnya. Tatapan mereka seketika sinis terhadapku. Sulit memang, memberikan mandat yang tentu diidamkan banyak murid lawas, tetapi malah memilih yang baru. Mbah Painem tentu tak main-main dan sudah memikirkan matang-matang. “Kalian boleh berlatih seperti biasa. Narsih, ikut aku!” Kupandang wajah teman-temanku yang sudah tak mau lagi untuk sekadar melirik. Sebelum aku diajak menuju rumah utama Mbah Painem untuk diajari secara privat. Aku melangkah mengikuti Mbah Painem dengan gontai, dengan hati dan perasaan yang tak karuan. Bisakah aku? Sedang aku merasa belum pantas dan terlalu dini menerima ini semua. Kami memasuki rumah yang terasa begitu sunyi, hawa mistis seakan terasa saat kaki ini melangkah masuk. Dingin dan sepi. Berbeda sekali dengan keadaan di pendopo. Meski di luar banyak orang, tetapi di dalam sini suara anak-anak tak terdengar sedikit pun. Mbah Painem berhenti melangkah dan membalikkan badan. Kini kami berada di dalam sebuah ruangan yang lumayan luas, tak banyak perabotan yang memenuhi. Hanya beberapa hiasan dinding dan sebuah meja dengan dua kursi di pojok ruangan. Bagian tengah dibiarkan kosong. Aku turut terhenti memandang gerakannya. Ia mengawali dengan duduk bersimpuh di tengah ruangan ini, kuikuti apa yang dicontohkan. “Aku tahu, ada perasaan mengganjal dalam hatimu, begitu pun aku. Tak mudah menentukan pilihan, tetapi aku sudah menemukan petunjuk untuk memilihmu.” Tak ada kata yang bisa kuucapkan, selain anggukan takzim padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD