Tubuhku seketika gemetar, menggeleng-gelengkan leher dan mengusapnya penuh kecemasan. Otakku berpikir keras, memutar ide untuk menyembunyikan kejadian tadi.
“Mm ... ta-tadi waktu di sanggar, Narsih dikerubung semut, Nek. Pas duduk di bawah pohon belimbing sama Sekar. Lupa belum kukasih minyak oles.” Kujawab sekenanya. Terlalu bingung harus alasan apalagi. Berharap Nenek tak curiga dengan alasan yang lumayan logis ini.
Ia mengangguk, sekali lagi ia memperhatikan leherku kembali. Mengusapnya pelan. Dadaku bergemuruh menunggu reaksinya lagi. Semoga ia percaya tanpa lagi bertanya.
“Semut merah besar kayaknya, ya?” Aku mengangguk masih dengan perasaan gelisah. Kenapa aku tak bisa mengatur tubuh ini agar bersikap biasa, seperti saat di dapur tadi? Apa karena adanya bukti yang nyata ini? Hingga membuatku bingung dan salah tingkah. Aku takut Nenek curiga dengan gelagatku.
Kulihat Putra melintas dengan becaknya lewat depan rumah ini. Ini kesempatanku, kualihkan perhatian Nenek dengan memanggilnya keras, “Putra!” Seketika ia menghentikan laju becaknya, menoleh celingukan mencari sumber suara. Kulambaikan tangan padanya untuk memberi kode. Ia tersenyum menemukan kami.
“Ayuk, Nek. Kita naik becak saja, uang dari Pak Lurah lebih dari cukup, kan?” Ia tersenyum dan mengikutiku mendekat pada Putra.
Ada yang aneh dengannya hari ini. Pemuda itu tampak berbeda dengan balutan celana jeans, tak biasanya. Ia yang sehari-harinya selalu berpakaian celana kain cingkrang khas pemuda desa, kini merupa cowok modern dengan gaya kasual. Mau ke mana dia?
“Tumben sekali rapi begitu, mau ke mana, Le?” tanya Nenek yang ternyata cukup memperhatikannya. Kukira wanita tua tak pernah mengurus apa yang dilakukan anak muda.
“Ada urusan ke kota sebentar. Tapi mau ambil beberapa barang pesanan ibuk di pasar dulu,” jelasnya pada kami.
“Boleh kami minta antar pulang?” tanyaku yang dijawab anggukan cepat.
“Boleh, dong. Pasar kan searah juga dengan rumah kalian.” Nenek semringah lalu tanpa berbicara lagi, menapaki becak dan duduk di kursinya.
“Ayo, Nar. Jangan lama-lama. Putra lagi banyak urusan.” Kuinjak ujung becak dan menempatkan p****t tepat di sebelah Nenek.
Segera ia mengayuh pedal becaknya menuju rumah kami.
***
Malam kian mencekam dan larut, tapi entah mengapa mata ini masih saja enggan untuk memejam. Rentetan kejadian seharian ini, membuat hatiku pilu. Entah bagaimana aku akan bersikap besok pada kawan-kawan di sanggar. Mereka sudah terlalu percaya bahwa aku mempunyai ilmu tak kasat mata.
Belum lagi mengingat pelecehan yang dilakukan Pak Lurah sore tadi. Aku muak, bahkan jijik dengan diriku yang telah tersentuh olehnya. Kuambil sebuah kaca kecil pada meja sebelah kasur. Kuarahkan cermin itu pada leher yang telah disesap paksa oleh lelaki b***t itu.
Tampak bercak merah yang kini mulai kebiruan. Aku geram, kesal dengan diri sendiri yang terlalu bodoh. Aku meringis, kubuang cermin membentur tembok kasar. Pyarr! Cermin seketika pecah dan terberai. Kututup mukaku dengan bantal dan berteriak keras, lega rasanya. Dapat meluapkan amarah meski tetap bisa meredam sebab tindihan bantal.
“Narsih, ada apa?” Suara Nenek terdengar cemas di balik pintu. Ia mengetuk beberapa kali, biasanya aku akan membukakan puntu saat ini juga. Tapi tidak hari ini. Aku terlalu lelah.
“Cuman kecoa, Nek. Nggak papa!” Aku tak mau membuka pintu, terlalu malas beralasan lagi dan membohongi Nenek kembali.
“Ya sudah, tidur lagi. Sudah malam.”
“Inggih, Nek. Tenang saja.”.
Perlahan kudengar suara tapak kaki Nenek mulai menjauh, lega rasanya. Kembali aku meringkuk dalam kemelut rasaku sendiri. Terlalu pedih beban yang kurasa sepeninggal orang tuaku. Oh, Ibu... kenapa kita harus berpisah seperti ini? Aku bahkan belum terlalu dewasa untuk menyelami segalanya sendiri.
Kutarik tas hitamku yang berisi selendang kuning peninggalan ibu. Kuambil kain itu dan mengusapnya pelan. Perlahan larut dalam isakan tangis sendiri, terus merapal nama ayah dan ibu. Hingga kantuk menyerang dan membuatku pulas.
Aku merasa berada dalam kerumunan orang-orang yang berteriak senang. Ada yang bersiul keras, ada yang bergoyang sendiri, ada pula yang memanggil-manggil nama Sriyani. Anehnya, kulihat tubuh ini sudah berbalut pakaian ronggeng lengkap. Berdiri di tengah manusia yang tak sabar menanti aku bergerak.
“Ayo, Sri, Sriyani!” Aku mengernyit. Kenapa ia memanggilku dengan nama itu? Kupandang orang-orang di sekeliling. Sahutan mereka belum mampu membuatku bergerak. Aku masih saja linglung dengan keadaan ini.
Alunan musik sudah mengentak mengalun syahdu. Aku menoleh ke para pemain musik. Dalam alat gong yang berdiri di bawah sebelah kiriku, kulihat wajah ini berbeda. Kuusap-usap mukaku sendiri. Ini bukan aku? Tetapi mengapa aku bisa memegang wajah dan tubuh ini?
Aku menoleh kembali pada penonton, ada yang semakin tak sabar dan berteriak penuh amarah. Ketakutan mulai menyerang, kupejamkan mata sebentar, lantas mulai meliukkan tangan untuk mengawali.
Histeris penonton seketika membuncah. Badan ini mulai berlenggak-lenggok dengan lincahnya. Aku pun mulai menikmati, mengalun dan mengentak seiring irama. Hingga tak terasa hari mulai pagi.
Sebegitu kuatkah aku? Semalam suntuk bergeol tanpa henti? Tarikan terakhir pada kendang menghentikan laju tubuh ini. Sang pemain kelelahan, wajah mereka kusut masai. Takvtega rasanya melihat orang-orang seperti itu.
Semua mulai beranjak pergi. Meninggalkanku sendiri duduk bersimpuh di sebuah pelataran luas. Begitu sunyi dan sepi. Kulirikkan pandang pada gong kembali. Aku melongo, wajahku sudah berubah sebagaimana mestinya.
Dalam pantulan gong, kulihat seorang wanita berdiri di belakangku. Kubalikkan badan cepat ke belakang, memastikan. Kembali kami bertemu tatap. Ya, dia Mbah Sriyani, ronggeng kebanggaan desa ini. Ia begitu anggun dan cantik. Mulai berjalan mendekatiku.
“Jangan biarkan Diman mati, jaga ia untuk tetap hidup, agar dia semakin tersiksa dalam kesakitannya.” Ia berucap tegas memandangku yang masih bersimpuh di bawah.
“Apa maksudnya?” Alisku seketika naik.
“Kamu akan hidup lebih baik, jika mau mendedikasikan diri menjadi ronggeng sepenuhnya. Segalanya bakal kamu dapatkan dengan mudah.” Ia melirikku dengan seringai tajam.
“Aku masih tak mengerti,” jawabku bimbang.
"Bisakah aku?"
"Tidak semua wanita mampu melakukannya. Hanya mereka yang terpilih saja, dan itu kamu, Narsih! "
Aku terdiam sebentar, lanlu menengadakhakn wajah kepadanya.
“Kau harus terus menari untuk memberi Diman kekuatan. Ingat! Jangan pernah menghancurkan selendang itu!” Setelah bertitah demikian ia kemudian hilang, bersamaan dengan bangunnya badan ini.
Astaga! Mimpi apa aku barusan? Selendang kuning ini masih kupeluk erat dalam genggaman. Kuingat-ingat kembali mimpi yang kurasakan. mencoba mencerna mimpibarusan. Mungkinkah itu sebuah petunjuk?