Pelecehan

1000 Words
Sekuat mungkin aku berusaha berontak, tetapi kekuatanku sebagai perempuan tetap tak bisa menandinginya. Kujulurkan lidahku dalam mulut untuk mendesak sapu tangan yang dilesapkan memenuhi bibirku. Berkali kucoba dan hampir berhasil, tetapi tangan kekar Pak Lurah mendorongnya kembali masuk. Kuentakkan tubuh dan menggoyang pertahanan. Membenturkan tubuh pada pintu untuk mencipta kegaduhan, agar ada seseorang yang menyadari aku yang sedang dipaksa di sini. Ia malah semakin erat memeluk, mulai menelusuri leherku dengan deru nafsu. Aku memejam dan menggeleng-geleng sekuat tenaga. Ia semakin mengimpitku, mendesakku menuju tembok sebelah meja dan mengunci badan ini. Sungguh aku begitu jijik. Kuinjak jempol kakinya penuh kesal. Ia memekik, pertahanannya mulai kendor. Satu tangan kiriku lepas dari cengkeramannya. Kujambak rambutnya penuh amarah. Ia memekik tertahan, menengadah mengikuti tarikan kuat tanganku. Sumpalan dalam mulutku mulai renggang. Aku berteriak, tetapi masih saja redam, sebab sapu tangan belum sepenuhnya keluar. Kembali ia mengumpulkan kekuatan lalu menjejalkan kain itu lagi dalam bibir ini. Kuinjak lagi kakinya yang kini bisa ditepis, rupanya ia belajar dari kesalahan. Sial! Aku terkunci lagi. Ia seperti semakin tertantang, mengimpitku lebih kuat. Embusan napas penuh gejolak terasa menggema di telingaku, ia mulai berhasil menjelajahi dadaku. Aku semakin miris. Berteriak dalam redam ruang. Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku hampir pasrah dan lemas, lalu ingat pada Nenek. Sejurus kemudian kusentakkan kuat-kuat dengkul ini pada selangkangannya. Bugh! Ia menjerit, sontak melepas semua paksaan dan mengimpit benda vitalnya itu. Ia membungkuk kesakitan. Kutarik sumpalan sapu tangan miliknya dan membuang tepat pada wajah yang meringkik. “Rasakan!” Gegas kuputar kunci pintu dua kali dan menariknya cepat. Aku takut ia kembali bangkit. Benar saja, saat kutarik gagang pintu ini, tangan kiriku kembali ditarik ke belakang. “Ahh!!” Aku berteriak, ia menarik daguku dan hampir melumat bibirku. “Ayah?” Sebuah suara mungil menolehkan kami. Di balik pintu yang sedikit terbuka, tampak balita lelaki berdiri mengintip ruangan ini. “Bima!” Seketika ia melepas tanganku. Merasa ada celah, secepatnya aku beranjak keluar dari ruangan ini, sedikit berlari kecil untuk menjauh. Sampai pada pintu sekat dapur, kubenarkan pakaian dan rambut yang sempat teracak. Merapikan dengan mengusap-usap anak rambut pada setiap lingkaran kepala. Kuembuskan napas sekali untuk meredam segala rasa. Lantas, berjalan santai memasuki ruang dapur kembali. “Sudah, Nar?” tanya Nenek saat melihatku masuk. Ia tengah duduk depan meja bundar menikmati es buatannya tadi bersama Bu Lurah. Beberapa piring dengan kue-kue di atasnya disuguhkan pula di atas meja. Aku berusaha bersikap biasa, sebab tak mungkin menceritakan kejadian barusan pada Bu Winarti. Ia istrinya, juga guruku di sekolah. Tak mungkin aku memuat cerita yang bakal menjadi penghalang hubungan mereka. “Sini, Nar. Minum dulu!” Bu Lurah menarik kursi di sampingnya, mempersilakanku duduk. Kuikuti perintahnya dan meneguk cepat minuman yang diberikan. Dalam sekali tuangan dalam mulut, es seketika habis. “Kamu haus? Mau lagi?” tanya Bu Lurah dengan wajah masam. Ia seolah tahu ada gelisah dalam raut wajah ini. Aku mengangguk, andai ia tahu betapa takutnya perasaanku sekarang. “Narsih, aku cari kamu kog malah kembali ke sini,” ucap Pak Lurah Suwarno saat memasuki ruangan kami. Dasar penipu! Betapa sempurnanya akting yang ia mainkan. Begitu santai seolah tak pernah terjadi apa-apa. “Ini uangnya.” Ia menjulurkan beberapa lembaran merah. Rasanya tak ingin aku menerima ini. Ia seakan mengejekku, sesudah melecehkan sekarang dibayar dengan tunai. Cih, aku tak sudi! Kubuang pandang darinya, pura-pura sibuk mengambil buah dalam gelas. Tak memedulikan tangan yang tengah menunggu di hadapan. Melihat aku yang tak mengindahkan, Nenek berdiri dan mengambil uang yang disodorkan Pak Lurah. “Ini kebanyakan, Pak.” Nenek mengambil tiga lembar dan mengembalikan sisanya. Pak Lurah menggoyangkan telapak tangannya, “Tidak usah, Mbah. Ambil saja.” Di ujung ekor mataku, kulihat ia tersenyum penuh dusta. Rasanya d**a ini penuh dengan ledakan amarah. Ingin meluapkan tapi tak mampu, sekuat mungkin meredam kesal melihat sandiwara yang terpampang di pelupuk mata. “Tak usah sungkan, Mbah. Anggap saja sebagai pengganti biaya ongkos kirim.” Tambah Bu Lurah penuh ikhlas. Betapa kejamnya lelaki bangs*t itu pada istri yang begitu baik dan polos seperti Bu Winarti. Kenapa perempuan sebaik dia harus mempunyai lelaki gila seperti itu? “Ibuu ...,” rengekan manja Bima–anaknya, datang turut masuk ke dapur. Ia mendekat pada ibunya, lalu berdiri di tengah rongga kaki sang ibu yang tengah duduk di sampingku. “Wah, ini Nak Bima yang dulu dimandikan Mbah Ijah, ya?” Bu Lurah mengangguk. Keduanya tersenyum. Nenek mengusap rambut anak mungil itu dan sedikit menowel pipinya. Anak itu memandangku tanpa jeda. Aku hanya berdiam diri, masih mencoba sibuk dengan gelas di tangan. Takut jika ia berbicara tentang apa yang sudah disaksikannya tadi. Semoga ia bisa menyimpan baik-baik. Tanpa membuat ibunya terluka. “Bima, Ayo ikut Ayah. Kita bermain sama teman-teman Ayah di depan,” bujuk ayah gilanya itu. Kulihat sunginggan senyum pada bibir Pak Lurah yang menarik anaknya di sampingku. Kuteguk ludah berat untuk meluapkan kesal. Melihatnya pergi dari ruangan, membuat hati ini terasa lega. “Ayo pulang, Nek!” ajakku seketika, aku sudah tak betah lagi di sini. Ingin segera beranjak dari neraka ini. “Dimakan dulu kuenya, Narsih. Nggak baik diberi suguhan tapi ditolak.” Tutur Nenek halus. Aku mengangguk, mengembuskan napas pelan lalu mencomot beberapa kue agar segera bisa pulang dari sini. Beberapa menit berlalu, kami berpamit pada Bu Lurah dan mulai beranjak meninggalkan. Ketika melewati kembali jendela kaca di samping taman. Kulihat lagi lelaki gila itu di ruang tamu. Ia melirikku lekat sampai pada ujung jendela. Nenek yang menyadariku menahan geram mulai bertanya. “Kamu kenapa?” Aku menoleh cepat padanya. Berusaha mencipta senyum semanis mungkin. Meski dalam hati begitu getir kurasa. “Nggak papa, Nek. Emang kenapa?” tanyaku sok tegar. berusaha bersikap normal. Perlahan ia mendekatkan wajah pada tubuhku, berhenti berjalan dan mengangkat tangannya menuju leherku. Aku turut berhenti dan berdiam di hadapannya. Ia mengernyit dan menatap leherku lekat-lekat, seperti ada sesuatu yang aneh disana. Aku jadi ikut penasaran. “Lehermu kenapa merah-merah begitu?” Aku melongo, tak tahu harus menjawab apa. Mulutku bergetar dengan kecamuk dalam otak. Haruskah kujawab apa yang telah terjadi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD