Aku pulang dalam gigil yang membirukanku. Dengan penuh kesedihan, kekalutan, juga kebimbangan hati yang terombang-ambing. Bisakah kujalani hidup dengan sayap yang patah dan rapuh?
Dalam rintik hujan, segala impian dan citaku luruh, melebur dalam rinainya yang kian menderas. Tak ada lagi semangat, semua hancur.
Kupandang rumah Nenek dari pelataran ini. Di sana, di depan rumah itu, yang tiap paginya selalu riuh para pembeli, takkan ada lagi cerita-cerita baru yang akan hadir mewarnai pagiku. Yang mencipta bahagia dengan ramainya obrolan dan guyonan di setiap harinya.
Kulangkahkan kaki memasuki rumah penuh kenangan itu. Melihat setiap detail sudutnya dan mengingat segala kisah yang pernah tercipta.
Aku masuk menuju kamar Nenek, ruang terakhirnya sebelum pergi meninggalkan untuk selamanya. Aroma minyak angin dan bedak khas orang tua masih melekat di sana. Kuusap kasur yang rasanya masih hangat, kembali menitikkan air mata.
Kasur kini telah basah, basah oleh air mata dan basah oleh tubuhku yang sempat tersiram hujan. Aku bersimpuh di sebelah kasur, mengusap kasur lembut, mengingat tubuh Nenek kala itu. Kubiarkan air menggenang di lantai dan semakin menggigilkanku.
Suara pintu berderit terbuka, tak membuatku beranjak dari sini. Kubiarkan siapa pun yang kini melangkah masuk dalam rumah. Tak peduli dia maling atau penjahat. Aku sudah tak ada tenaga untuk sekadar berdiri kembali.
Hingga sebuah sentuhan di bahu sedikit menolehkanku. Kulihat sosok Pak Lurah di sana.
“Ganti bajumu dulu, nanti masuk angin.” Tak kupedulikan, kembali aku menyandarkan kepala pada kasur.
“Narsih, jangan sampai kamu sakit. Nanti repot sendiri.”
“Biar sekalian mati aja, bisa menyusul orang tuaku dan Nenek di sana.” Aku berbicara tanpa memandang wajahnya, terlalu malas untuk menanggapinya.
“Jangan begitu, kamu masih punya aku di sini.” Seketika aku menoleh padanya.
“Punya kamu? Emang kamu siapa? Lihatlah istrimu yang tadi menangis saat melihat kita. Tak seharusnya kita teruskan hubungan ini. Ini sudah keterlaluan!”
“Tak apa, itu hanya kesalahpahaman saja. Sudah kujelaskan semua padanya.”
“Apa ia bisa menerima? Tidak ‘kan? Aku yakin tak ada wanita di dunia ini yang mau diduakan seperti ini!” Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, lantas, memelukku erat.
“Lepaskan! Aku tak mau seterusnya begini!” Kutarik lengannya yang masih kencang mengimpit.
“Apa kamu mau kubeberkan semua rahasiamu? Tentang ketidakperawananmu yang direnggut bocah sial*n itu!” ancamnya seketika.
“Terserah, aku sudah tak peduli. Semua sudah tahu keburukanku. Mereka tak mungkin kaget mendengar berita miring tentangku. Aku sudah punya cap buruk di desa ini!” kataku menggebu dan mendelik tajam.
“Sekarang, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sendiri untuk saat ini.” Kuacungkan telunjuk pada pintu untuk mengusirnya. Ia hanya terdiam, melihatku dengan geram.
“Kumohon!” Telunjukku masih setia menunjuk pintu.
Akhirnya dengan embusan napas berat, ia pergi meninggalkanku. Membiarkanku kembali bersimpuh meratapi nasib, sendiri.
***
Sementara di depan rumah Mbah Ijah, sebuah mobil sedang parkir di bawah pohon mangga. Di dalamnya, ada Bu Lurah yang bersungut-sungut melihat suaminya sejak tadi masuk ke dalam rumah Narsih. Ia mengepalkan tangan geram.
“Lelaki itu benar-benar mengecewakanku, akan kubuat wanitanya menderita dan tak lagi mengganggu kehidupan kami.” Ia bertutur pada seseorang di sebelahnya, Mina. Gadis jangkung yang selalu menjadi mata-mata untuk Bu Lurah.
Ia yang juga sakit hati karena Putra lebih memilih Narsih ketimbang dirinya, juga ingin membalas dendam untuk semua kesakitannya.
“Baiklah, Bu. Mari kita ke dukun itu, ikuti petunjuk dariku,” kata Mina pada wanita berbadan dua itu.
Dengan sekali gas, mobil itu melesat menuju pojok kampung. Tempat di mana dukun kepercayaan Mina yang selama ini membantunya untuk memberi pikat tinggal.
Jalanan malam itu begitu sepi. Entah, seperti tengah berduka atas kepergian Mbah Ijah. Angin dingin berembus, disertai suara binatang nokturnal, membuat suasana semakin mencekam.
“Min, nggak salah ini jalannya? Kog aku merinding begini ya?” tanya Bu Lurah sembari awas melihat sekeliling.
Ia mengendarai mobil miliknya dengan perlahan, sebab jalanan yang berbatu dan terjal. Tak ada lagi kendaraan lain lewat, hanya mobilnya lah satu-satunya kendaraan yang melintas malam itu.
“Nggak, Bu. Tenang saja, tinggal beberapa meter ke depan, kog. Lurus saja.” Telunjuk Mina menuding arah yang terlihat begitu gelap, tak ada penerangan sama sekali kecuali sorot lampu dari mobil Bu Lurah.
Mobil memasuki area sebuah pelataran rumah, di samping kanan kirinya penuh dengan pepohonan rindang dan menjulang tinggi. Rentetan suara bambu yang berdecit menambah seram suasana.
Mina mendahului turun dari mobil dan menunggu Bu Lurah mengikutinya. Beberapa detik, Bu Lurah belum juga keluar dari dalam. Mina menunduk dan menengoknya dari kaca luar, menarik jemarinya, tanda mengajak.
Wajah Bu Lurah terlihat ragu, tetapi setelahnya ia pun beranjak ke luar. Bu Lurah semakin bergidik saat menatap bangunan rumah milik dukun tersebut. Beberapa patung aneh berjejer rapi di depan rumah lawas itu. Ia menelan ludah, lalu berlari kecil mendekat pada Mina.
“Tak usah takut begitu, Bu. Mari!” Dagu Mina diangkat menuju rumah. Segera Bu Lurah mengimpit lengan Mina dan berjalan di belakangnya.
Saat mereka sudah berada di depan pintu, pintu tiba-tiba berderit terbuka sendiri. Bu Lurah tampak kaget dan berjingkat, tetapi tidak dengan Mina. Ia masih tenang tanpa ada raut ketakutan sedikit pun, seolah sudah terbiasa menghadapi semua ini.
Mina mulai melangkah masuk sambil berucap, “Permisi, Mbah ....”
Bu Lurah masih menyembunyikan dirinya di balik tubuh Mina. Tepat di ruang tamu, seorang lelaki dengan pakaian serba hitam sudah menanti mereka di atas karpet. Ia mengelus-elus jenggotnya yang tak lagi hitam.
“Mari, duduk!” Kedua wanita itu bersimpuh di depannya. Menatap dengan senyuman.
Bu Winarti ikut tersenyum, lalu matanya menelusuri setiap sudut ruangan. Ia duduk dengan sikap tak tenang, memperhatikan berbagai barang dan perabotan yang dirasa menakutkan. Unsur klenik begitu terasa dan menyengat.
Lantas, ia menutup hidungnya saat aroma asap kemenyan mengepul tiba-tiba.
“Ma-maaf, Mbah. Saya tak terbiasa dengan bau seperti ini.” Bu Lurah menundukkan kepala pada dukun itu.
Sang dukun menyungging, tertawa sedikit. “Saya sudah biasa menghadapi orang seperti sampean. Mau apa kemari?”
“Ada sedikit masalah, dan kami ingin memberi pelajaran pada seseorang.” Mina menyahut pertanyaan Mbah Dukun. Pria itu manggut-manggut. Kembali mengelus jambangnya.
“Siapa?” Bu lurah langsung menyahut, “Narsih.” Mbah Dukun seperti kaget mendengar nama yang disebut, ia terdiam sebentar, bola matanya berputar ke atas.
“Gadis ronggeng itu?” Mina dan Bu Winarti mengernyit, saling tatap.
“Mbah sudah tahu?” tanya Mina.
“Ia sempat ke sini hanya untuk meminta bedak pikat, itu saja.” Wajah Mina berubah geram.
“Begitu katanya tak mau memakai hal beginian, lalu itu apa? Pantas saja lelaki kami sampai kelepek-kelepek dibuatnya.” Mina semakin kesal. Memandang Bu Lurah dengan tatapan tajam.
Bu Lurah mengangguk, kini ia sama kesalnya dengan Mina, “Untuk itu, tolong bantu kami. Mbah.”
“Akan kucoba, hanya saja. Dia diliputi aura yang begitu kuat, mungkin sedikit susah.”
“Bukankah Mbah Darso terkenal begitu sakti mandraguna?” tanya Mina.
“Aku yakin Mbah pasti bisa. Hanya untuk memberinya pelajaran, itu saja. Biar tidak ada lagi wanita yang harus sakit hati lagi karenanya.” Tambah Bu Lurah meyakinkan.
“Jadi, kalian maunya bagaimana?” tanya dukun tua itu.
“Serang kakinya, aku ingin dia tidak bisa lagi menjejak. Agar tak lagi menggoda suamiku.” Pungkas Bu Lurah tegas, wajahnya sudah tak sabar menanti jawaban dari Mbah Dukun.
“Baiklah, malam ini juga, akan kumulai ritualnya. Jika tak berhasil, kalian harus melakukan sesuatu untuk sedikit membantu. Bermalamlah di sini hari ini, sembari menunggu teluh yang akan kukirim untuk Narsih.” Kedua wanita itu mengangguk mantap. Saling tatap dan menyungging. Menanti ketidakberdayaan Narsih setelah ini.