Tertahan

1000 Words
Mbah Dukun memulai ritualnya dengan menyiapkan segala kebutuhan. Air kembang, dupa, boneka dari kain, serta beberapa jarum panjang dalam buntalan kain hitam. Ia menata semuanya di atas meja kayu panjang. Lantas, membaca beberapa mantra dengan komat-kamit. Dua wanita itu, hanya melihatnya melakukan pekerjaannya tanpa berbuat apa-apa. Hanya saling diam berharap semua berjalan lancar seperti yang diharapkan. Asap mulai mengepul memenuhi ruangan, disertai semerbak harum langu dari dupa dan arang yang dinyalakan. Sesekali mejanya bergetar, lalu diam lagi. Raut gelisah memenuhi wajah si dukun. Ia melirik dua wanita di depannya. Lalu, merapal bacaan kembali. Bu Lurah menggigit ujung-ujung jemarinya cemas. Ia terus menatap sang dukun yang tengah berusaha. Angin kencang tiba-tiba masuk entah dari mana. Padahal pintu dan jendela masih tertutup rapat. Kepulan asap berputar dan semakin menyelimuti ruangan. Mina dan Bu Lurah kebingungan menatap asap yang semakin menebal. Keduanya terbatuk-batuk mengibaskan asap dengan kedua tangan masing-masing. Mbah Darso terlihat kewalahan dengan serangan yang ia terima. Secepatnya bertindak dengan menyemburkan air pada arang di depannya. Angin seketika reda, tetapi Mbah Darso ikut terbatuk, dari bibirnya mengeluarkan sedikit darah. “Mbah!” Mina memekik. Mbah dukun merentangkan tangan ke depan, meminta kedua wanita itu agar tak panik. “Tenanglah, biarkan aku menyelesaikan ini.” Ia mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Lantas, mencoba jalan lain. Kini dipegangnya boneka kain di sebelah tangannya. Kembali merapal bacaan, dengan kalimat terakhir, “Narsiiihh!” Ia menancapkan jarum pada kaki boneka di tangannya itu. Namun, seketika pria tua itu mental ke belakang. Jarum besarnya patah jadi dua. Dan bibirnya kembali mengucurkan darah yang lebih kental dan pekat. “Uhuk, uhuk!” Ia memegang d**a kirinya dan mengernyit menahan sakit. Kedua wanita di depannya semakin cemas. Tak tahu harus berbuat apa. “Ku-kuat sekali pertahanan yang melindungi Narsih. Sepertinya kalian harus berbuat sesuatu untuk melawan ini.” Mbah Darso semakin menunduk menahan nyeri di dadanya. “I-iya, Mbah. Apa pun itu akan kami lakukan.” Mbah Darso berusaha kembali duduk tegak. Ia memejam sambil tangannya melambai-lambai seolah tengah merasakan sesuatu. Sepertinya, ia tengah menajamkan penglihatannya. Kepalanya bergerak naik turun sembari terus memejam. “Yang aku lihat, selendang itu sumber kekuatannya. Selendang yang dipakainya untuk menari. Ya, itu. Tidak salah lagi. Ada sesosok wanita yang ada dalam selendang itu.” Matanya kembali terbuka. Ia mengembuskan napas dalam dan berat. Mengusap lagi bibir yang meneteskan darah. “Jadi, aku ingin kalian mengambil selendang itu agar teluhku bisa sampai padanya.” Ia menatap tajam kedua wanita yang kini tengah mengangguk paham. “Hanya sampai mantra ini menembus dirinya, selebihnya, kalian boleh kembalikan lagi selendang itu.” “Tapi, bagaimana caranya, Min. Aku tak mau kalau sampai bertemu dengan perempuan s****l itu, biar kamu saja!” Bu Lurah menatap Mina dengan wajah malas. “Tenang saja, Bu. Serahkan semuanya padaku.” Mina mengerling padanya. Malam hampir berubah jadi pagi, Mina dan Bu Lurah memutuskan untuk berpamit pada Mbah Darso. Meski Mbah Darso sudah mempersilakan mereka untuk menginap, Bu Lurah tak mau. Ia tak ingin jika suaminya pulang, ia tak ada di rumah. Yang ia tahu, saat ini suaminya tengah berada di pelukan wanita lain. Di rumah Narsih. “Aku harus berada di rumah sebelum suamiku pulang, Mbah. Aku tak ingin ia curiga,” timpalnya pada ajakan Mbah Darso, saat mempersilakannya bermalam. “Aku juga, tadi aku berpamit pada orang tuaku untuk tampil. Aku tak mau mereka cemas.” Keduanya berdiri dan menyalami sang dukun dengan selembar amplop. Ketiganya saling mengangguk, tersenyum. Kedua wanita itu melangkah ke luar dari rumah tua itu. Berjalan pergi di tengah dinginnya malam. Bu Lurah tampak memeluk dirinya sendiri, menahan rasa dingin melewati pepohonan rimbun di pelataran rumah Mbah Darso. Ia bergidik kembali, menatap keadaan sekeliling rumah yang penuh dengan pohon besar dan berderit-derit. “Kenapa dukun itu bisa betah tinggal di rumah yang begitu mengerikan ini. Jauh dari pemukiman penduduk. Hii ....” Bu Lurah bergidik dan gemetar, lantas secepatnya masuk dalam mobil dan menyalakan lampu mobil. Keadaan berubah terang, sekelebat bayangan sempat terlihat berlari menuju pohon bambu. Keduanya memekik, “A-apa itu tadi, Min?” Mina menggeleng, menelan ludah. “Cepat, Bu. Kita pergi dari sini.” Bu Lurah mengangguk, bergegas menyalakan mesin dan melesat menembus gelapnya malam. *** Di rumah, Pak Lurah tidak benar-benar pergi dari rumah Mbah Ijah. Ia hanya pindah ke ruang tamu untuk mengikuti perintah Narsih. Ia sepertinya takut jika terjadi apa-apa dengan istri mudanya itu. Benar saja, saat ia baru beberapa menit tertidur pulas. Sebuah suara dentuman keras seperti tengah menghantam genting rumah. Ia berjingkat dan terbangun. Segera ke luar rumah untuk melihat keadaan atap rumah. Ia berlari sampai pada pelataran rumah, melihat-lihat ke atas rumah. Tak ada apa pun yang terjadi di atas sana. Pak Lurah menelusuri setiap detail atap rumah. Semua terlihat baik-baik saja, tak ada benda atau apa pun yang jatuh dan menimpa genting. Ia sampai menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Bahkan, di tanah depan rumah pun, tak ada benda yang berserakan atau mencurigakan dari dentuman dahsyat itu. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah dan memeriksa keadaan dalam. Pak Lurah melihat Narsih yang terpekur lirih bersandar pada ranjang neneknya. Rupanya ia begitu pulas sampai tak tahu jika ada suara ledakan di atap rumahnya tadi. Tidak terganggu sedikit pun. Lelaki paruh baya itu, kini menelusuri ruang lainnya. Membuka satu per satu pintu ruangan yang ada, dan menatap langit-langit ruangnya. Sama seperti keadaan luar, tak ada apa-apa di ruangan mana pun. Tetapi hatinya terus saja gelisah. cemas. Kembali ia merebahkan diri di kursi ruang tamu. Baru beberapa menit ia hampir berhasil memejamkan mata, satu lagi dentuman keras datang menghunjam atap. Ia berteriak, menutup kepalanya dengan kedua tangan. Setelah tak dirasakan apa-apa. Ia kembali bangkit dan melihat atap rumah. Ia semakin bingung dengan apa yang barusan terjadi. Kembali berlari menengok keadaan Narsih. Dilihatnya perempuan itu yang masih terdiam, tak beranjak dari posisinya semula. Begitu aneh. “Apa mungkin ada seseorang yang tengah mengirimkan sesuatu ke rumah ini?” Ia berceloteh sendiri, memikirkan apa yang menimpa dirinya barusan. “Aku akan selalu melindungimu, Narsih,” ucapnya sembari mengusap rambut perempuannya. Memandangnya penuh iba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD