Aku bangun dengan kepala yang berdenyut-denyut, pening sekali. Seakan habis terbentur sesuatu yang begitu keras. Kutekan pelipis dengan ujung-ujung jari, sembari mengernyit menahan ngilu.
Kugoyangkan kepala ke kiri dan kanan, lalu menengadah. Gemeretak tulang-tulang leher membuatku melenguh agak sakit.
Badan pun terasa begitu pegal. Bahkan sendi-sendi nyeri tak tertahan. Apa yang terjadi padaku? Kucoba untuk berdiri, tetapi paha terasa begitu kaku. Tertatih kucoba menegakkan diri, berpegangan pada ranjang yang semalaman ini kupeluk pinggirnya.
Mungkin, sebab aku tidur dengan bersimpuh, sehingga otot-otot yang tertekuk semalaman, terasa nyeri dan kaku.
Setelah berhasil berdiri, rasanya berat sekali untuk mengangkat kaki melangkah. Seperti habis kerja rodi, tak ada tenaga dan kekuatan. Padahal, seharusnya bangun pagi bisa menyegarkan badan. Membuat semangat. Tetapi tidak kali ini.
Begitu malas dan lesu tubuh ini. Tangan menelusup ke belakang tengkuk, lalu memijatnya perlahan. Tetiba mual terasa mengaduk-aduk isi perut.
Kugembungkan pipi menahan gejolak dalam perut. Akan tetapi, rasa ingin muntah itu tetap ada dan membuatku semakin mengernyit.
Dengan tubuh terhuyung, aku berjalan menuju kamar mandi, ingin memuntahkan isi perut. Sampai di sana, tak ada yang ke luar dari mulut ini. Hanya sedikit cairan kental yang bisa kuludahkan.
Sebuah tangan terasa memijit tengkukku, aku terkesiap. Refleks menoleh ke belakang.
“Keluarkan saja, muntahkan semuanya,” kata si pemilik tangan.
Kusingkirkan tangan kekar itu dan cemberut mengembungkan pipi.
“Kenapa tak pulang?” tanyaku kesal.
“Aku khawatir denganmu, tak tega membiarkanmu sendirian di rumah.” Tangannya kembali meraih tengkukku, langsung kutepis begitu saja.
“Nggak usah sok perhatian, aku bisa sendiri!” ucapku melotot padanya.
“Sudah kusiapkan sarapan untukmu, nasi goreng dan segelas teh hangat di meja depan.” Lelaki itu menarik lengan bajunya yang sejak tadi tergulung ke atas. Menariknya sampai pergelangan tangan dan menutup kancingnya. Lantas, menyelipkan jam tangan silver di lengan kirinya.
“Nanti aku akan ke sini lagi, jaga baik-baik dirimu,” tuturnya mengusap ujung kepalaku, seakan aku akan terluka jika sendiri. Apa sebenarnya maksud ia bermanis-manis seperti ini? Tak biasanya. Kutepis kasar dan berdecak kesal. Ia hanya mengulum senyum simpul, tak sedikit pun marah.
Ia memugar rambut tengahnya dengan jemari, terlihat begitu wibawa. Lantas, berjalan meninggalkanku sendiri.
Kutatap punggungnya yang berlalu, begitu lapang dan gagah. Hingga suara tapak sepatunya perlahan menjauh.
Mungkin benar, aku masuk angin sebab seharian tak makan. Segera aku berjalan terseok menuju ruang tamu dan melihat piring yang sudah disiapkan di atas meja. Kujatuhkan tubuh pada kursi depan meja. Perut seketika bergemuruh tak tertahan, meminta jatah untuk diisi.
Tanpa menunggu lagi, langsung kulahap semua isi piring dengan cepat, mendorongnya dengan segelas teh hangat yang sudah disiapkan pula. Seketika bibir tersenyum sendiri, mengingat betapa bodohnya kelakuanku tanpa berterima kasih.
Ia sudah berusaha semanis ini untukku tapi tak kuindahkan, aku terkikik.
***
Malam harinya, Mina dan Bu Lurah kembali menggencarkan aksinya. Kali ini Mina bersiap berpura-pura akan pergi tampil. Ia sudah siap datang ke rumah Narsih, ditunggu Bu Lurah dalam mobil di pojok gang.
Tergopoh ia berjalan menuju Narsih, dengan tangan yang memiting selembar selendangnya yang sudah dikotori dengan air selokan. Ia memasang muka cemas sembari mengetuk pintu kasar dan keras.
Tanpa menunggu lama, pintu pun terbuka dan menampilkan wajah Narsih yang mengernyit melihat keadaan temannya itu.
“Narsih, maaf. Boleh aku minta tolong?” Mata Narsih kini menatap tangan Mina yang memegang selendang dengan ujung jarinya.
“Kamu kenapa? Selendangmu, kenapa bisa kotor begitu?” Dengan nada yang dibuat-buat Mina menjelaskan.
“Tadi aku tergopoh berangkat mau tampil di desa sebelah. Pas lewat depan rumahmu itu, selendangku terkena angin, terus masuk ke selokan. Boleh aku pinjam punyamu? Malam ini saja, kok,” pintanya dengan wajah sok melas.
Narsih terlihat agak ragu, bola matanya bergerak cemas. Bingung harus menjawab apa.
“Tolonglah, Nar. Waktunya sudah mepet ini, abangku masih nunggu aku di depan sana.” Telunjuknya menuding ujung gang. “Nggak mungkin aku balik ke rumah, Nar. Kejauhan!” Mina terus saja mendesak Narsih, hingga akhirnya ia pun luluh dan mengiakan pinta temannya itu.
“Masuk dulu, bersihkan selendangmu di dalam. Biar nanti aku yang menjemurnya.” Mina mengangguk cepat. “Terima kasih, Nar.” Kini matanya nanar dan penuh dengan akting keikhlasan.
Narsih yang begitu polos, tak menaruh curiga sedikit pun dengan apa yang dilakukan temannya itu.
Setelah selesai mencuci selendangnya sendiri. Mina bergegas sok cemas melihat jam di dinding ruang tamu. “Maaf Narsih, boleh aku berangkat sekarang? Jamnya sudah hampir lewat ini.”
Narsih berdiri dan menyerahkan kotak selendang miliknya pada gadis jangkung itu. Diterimanya kotak itu dengan penuh kemenangan. Ia selipkan senyum bahagia pada pemberian Narsih.
“Besok juga, akan kukembalikan. Jangan khawatir,” tutur Mina menyungging lega.
Narsih mengangguk, memejam. “Santai saja, aku masih rehat dulu untuk beberapa hari. Tak usah panik begitu.”
“Baiklah, aku pamit. Pasti abangku sudah ngedumel di sana.”
“Iya, hati-hati.”
Mina berjalan cepat sembari merangkul kotak milik Narsih dengan seringai jahat. Secepatnya menemui Bu Lurah yang sedari tadi menengokkan kepala pada rumah Narsih.
Wajahnya semringah, saat melihat Mina berjalan mendekati mobilnya.
“Gimana, sukses?” tanya Bu Winarti ketika Mina membuka pintu mobil. Tangan Mina melambai dengan kotak di tangannya. Keduanya terbahak.
Mina segera duduk di sampingnya dan menutup keras pintu mobil. Secepatnya mobil berjalan menjauh dan kencang membelah jalanan desa Sidomaju malam itu.
***
Mobil sampai pada pelataran sunyi Mbah Darso. Dengan perasaan berbunga, kedua wanita itu turun dari mobil dan secepatnya menemui sang dukun.
Tak disangka, Mbah Darso sudah berdiri di ambang pintu rumahnya. Ia memelintir jambangnya seperti biasa. Sembari tersenyum menyambut kedua perempuan yang tergopoh mendekatinya.
“Cepat sekali, tak kusangka kalian begitu lihai.” Lelaki tua itu menyungging. Ia membalikkan badan dan memasuki rumahnya, diikuti kedua wanita yang sudah tak sabar untuk memberi pelajaran pada Narsih.
Dukun itu memulai duduk di depan meja yang sudah disiapkannya. Ia meminta kotak dari tangan Mina. Lantas membungkus kotak itu dengan sebuah kain putih lalu diikat dengan seutas tali putih. Ia merapal kembali bacaannya seperti biasa. Dimulai dengan nada lirih sampai keras mengentak.
Kotak selendang seketika bergetar menggoyangkan meja, membuat Mina Dan Bu Lurah menelan ludah dan mengusap dadanya masing-masing. Kotak itu terus bergerak ke kiri dan kanan, seolah isinya sedang memberontak ingin ke luar.
“Hahaha ... kali ini aku yang menang, Nyai. Tunggulah di sini dengan manis,” ucap sang dukun pada kotak di depannya.
Ia menyalakan dupa dan arang lalu berkomat-kamit kembali. Menaburkan rampaian bunga di atas arang, seketika asapnya semakin mengepul ke atas.
Beberapa dentuman dari kotak mengagetkan dukun dan kedua wanita itu. Sang dukun sigap menyemburkan air pada kotak selendang Narsih. Membuat kotak itu semakin bergetar hebat.
Ia mulai mengambil boneka kain di sampingnya. Lantas, mengangkatnya tinggi-tinggi dan berucap, “Untukmu Narsiiih!” Ditancapkannya sebuah jarum besar pada paha si boneka. Menusuknya dengan sekuat tenaga. Tak ada lagi perlawanan seperti kemarin.
Sang dukun terbahak lega, membuat Bu Lurah menatap Mina. Keduanya saling tatap, menyungging jahat. Ikut terbahak.