Serangan Teluh

1069 Words
Sepeninggal Mina pergi berpamit. Ada perasaan was-was dan gelisah memenuhi otak. Kenapa begitu gampangnya kuserahkan barang yang begitu sakral milikku pada sembarang orang seperti itu? Tak habis pikirku menyesali segala kecerobohan sendiri. Langkahku pun mondar-mandir dalam rumah, bingung dengan apa yang akan terjadi pada sosok Mbah Sriyani nantinya, jika tahu selendang miliknya kuberikan begitu saja pada Mina. Kenapa tak ada curiga sedikit pun pada Mina yang tiap harinya selalu memojokkan dan tak pernah punya citra baik di mataku? Apakah Mina menggunakannya dengan baik sesuai yang ia jelaskan, atau justru ada niat jahat di balik ini semua? Tahukah ia tentang seluk beluk selendang itu? Kecurigaan terus saja menyergap isi kepalaku. Kenapa tak sejak tadi saja ada pikiran semacam ini. Lengah sekali! Kuketuk-ketuk kepala sendiri menyesali tindakanku tanpa berpikir. Ini benar-benar salah! Berkali kuembuskan napas berat untuk mengurangi beban yang memenuhi otakku. Ujung jemariku sampai perih akibat terlalu banyak kugigit. Kucoba mengempaskan segala hal buruk tentang ini. Namun, selalu saja kepikiran saat berusaha mengalihkannya. Meski berusaha menyibukkan diri dengan hal lain, nyatanya otak tak bisa dibohongi, terus saja berputar dalam kepala dan terngiang-ngiang tanpa henti. Entah, apa ini salah? Terlalu curiga dengan kawan sendiri. Hingga malam hari, saat kucoba memejam untuk mengurangi beban pikiran, aku tetap tak dapat tidur dengan tenang. Meski tubuh sudah berbaring di atas kasur, tetapi kegelisahan terus menyemat dalam otakku. Kubolak-balik tubuh ke kiri dan kanan, mencari posisi nyaman agar bisa segera terlelap. Namun, meski sudah berusaha memejamkan mata sekuat mungkin, tetap saja cemas menyelimuti otak. Aku sampai kesal dengan diri sendiri, tak bisa konsisten dengan sikap. Kemarin, saat Mina sudah kasar, aku telah berjanji untuk berubah. Nyatanya sedikit saja rayuan, telah membuatku luluh dan takluk tanpa berpikir panjang lagi. Narsih ... Narsih ... Ternyata belum juga pandai membaca gelagat buruk orang! Selang beberapa menit, hawa terasa begitu panas. Kunyalakan kipas untuk memberi hawa dingin. Namun, meski sudah kucoba menyetel ke volume paling kencang, angin tak terasa sama sekali. Malah semakin gerah dan panas. Kukibaskan baju bagian d**a untuk mencari angin sendiri. Peluh tak henti mengucur membasahi tubuh. Kucoba menghalaunya lagi dengan meniupkan angin dari mulut pada d**a. Aneh, tak terasa sama sekali. Bahkan kini panasnya terasa sampai ke kaki. Tenggorokan tiba-tiba terasa begitu kering, begitu pun bibir. Kuberanjak ke dapur dan membasahinya dengan segelas air putih. Akan tetapi, air hanya terasa menguap melewati kerongkongan, tak sedikit pun memberi sejuk. Kuulang lagi hingga sampai gelas ketiga. Tetap saja sama. Keringat malah semakin mengucur deras. Bahkan telapak kaki dan tangan kini basah dan lengket. Kusapukan ujung lengan baju pada dahi yang membentuk bulir-bulir keringat sebesar biji jagung. Hingga bajuku pun kini basah. Badan mulai lesu, sebab terlalu banyak mengeluarkan cairan. Kembali aku masuk ke kamar dan mengarahkan kipas tepat pada wajah. Aku duduk di depan kipas dan mengikuti gerakan kipas. Meski angin bergerak membuyarkan anak rambutku, masih saja tak kutemukan dingin. Hingga sebuah dentuman keras tetiba jatuh mengenai atap. Aku menjerit, “Ahh ...!” Kututup kepala dengan kedua tangan, berharap melindungi diri dari runtuhan yang jatuh. Beberapa detik aku tercengang memejam, anehnya tak kurasakan apa pun yang terjadi. Perlahan kumenengadahkan wajah. Menelusuri bagian atap rumah. Tak ada apa pun yang terjadi di sana. Kucoba ke luar dari kamar dengan tetap menatap sudut-sudut atap tiap ruangan. Tak ada kerusakan sedikit pun di rumah ini. Jadi, sebenarnya suara apa tadi? Aneh sekali. Kejanggalan semakin terasa saat terjadi dentuman yang kedua. Buummm!! Lantai bergetar, badanku pun bergoyang. Aku menunduk, menutup diri kembali dengan kedua tangan, beberapa detik kuedarkan pandang ke sekeliling kembali. Napasku tersengal kembang kempis, kupegang d**a yang berpacu semakin cepat. Takut mulai menyerangku. Aku meringkuk sendiri di pojok ruangan, berharap ini semua tidak nyata. Ketika kucubit lenganku sendiri, ternyata ini benar adanya. Secepatnya aku berdiri dan berlari masuk dalam kamar, menutup pintunya kasar dan meringkuk di atas pojok kasur. Berharap tak ada lagi dentuman susulan. Segala bacaan dan doa-doa kurapal tanpa henti, mengharap perlindungan dari Sang Maha Kuat. Agar memberiku kekuatan sampai ada seseorang yang menolongku. Aku terdiam di pojok tembok dengan badan gemetar tak karuan. Memeluk kedua kaki dengan menekuknya di d**a. Jantung berpacu semakin cepat dan keras, bagai suara genderang perang. Doa terus kubumbungkan ke langit di sela ketakutan yang semakin mencekam. Seketika kuingat Pak Lurah. Ke mana ia? Kenapa sampai malam begini sosoknya tak kunjung datang? Padahal pagi tadi ia berjanji akan kembali, berucap akan melindungiku. Keringat semakin luruh tanpa henti. Bahkan, kini rambutku telah basah kuyup. Begitu pun pakaian ini. Tak ada lagi usaha untuk mencari sejuk, hanya gigil ketakutan yang kini menghunjamku. Tetiba kudengar suara seseorang keras memanggil namaku, “Narsiihh!” Suara dari sosok lelaki tua, berat dan serak. Siapa dia? Tak pernah kudengar suara macam itu sebelumnya. Kepalaku lantas berputar ke kiri dan kanan, atas dan bawah. Mencari dari mana sumber suara berasal. Saat kucoba untuk beranjak turun dari kasur, kakiku terasa kaku dan ngilu. Bahkan, kini aku tak bisa merasakan kakiku sendiri. Meski kucoba untuk mengangkatnya, tetapi kaki ini masih saja menempel pada kasur. Aku mengernyit, berpikir mungkin kakiku kesemutan. Kudiamkan sebentar, lalu berusaha menyeretnya lagi. Namun, seolah tak ada sinkron antara otak dan kaki ini. Sekuat mungkin otak ingin, tetap saja tak pergerakan dalam kaki ini. “Tuhan, apa lagi ini?” Dadaku terasa sesak, ingin berteriak sekuat tenaga. Namun, saat kubuka mulut dan mencoba bersuara, tak ada apa pun yang ke luar dari bibir ini. Hanya bibir yang membuka dan menutup berkali-kali. Kini air mataku runtuh, tak terbendung lagi. Kutarik paha yang sedari tadi seperti mati rasa dengan kedua tangan, begitu berat. Perlahan ngilu dan nyeri, seperti tengah ditusuk-tusuk. Astaga! Kenapa malah jadi seperti ini? Apa yang terjadi padaku? Kucoba lagi mengeluarkan suara. Masih saja sama. Hanya sedikit erangan kecil dan serak yang muncul. Rasa nyeri pada kaki, perlahan menjalar memenuhi tubuhku. Aku mengejang. Merebahkan tubuh pada kasur dan menangis sesenggukan. Berkali kulirik pintu kamar, berharap ada seseorang yang menemukanku yang tengah tak berdaya begini. Seketika aku teringat selendangku. Kain panjang dan sosok Mbah Sriyani yang selama ini menemani dan setia melindungiku. Oh, tidak! Mungkinkah Mina yang tega berbuat ini padaku? Sengaja ia meminta pelindungku, agar bisa dengan mudah melukaiku. Tak kusangka ia begitu durjana, bermain ilmu hitam untuk melemahkanku. Sungguh, aku benar-benar menyesal telah mempercayainya. Aku mengejang dan memekik dengan suara tertahan kembali, saat merasakan kaki kembali terasa diremas-remas. Begitu sakit! Air mata terus saja luruh tanpa henti, membasahi kasur yang kurebahi. Tubuh semakin lemas merasakan titik-titik sendi seperti dipelintir. Hingga suasana semakin menggelap, mataku memejam. Kosong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD