Hingga malam semakin larut, Pak Lurah baru datang mengunjungi Narsih. Wajahnya terlihat lesu dan lelah, sepertinya ia habis dikejar deadline pekerjaan. Ketika menapaki teras rumah, Ia heran dengan keadaan rumah yang terasa sunyi. Tak ada suara pergerakan apa pun di dalam rumah. Seperti rumah tanpa penghuni.
Segera dibukanya sepatu dan bergerak membuka pintu rumah. Namun, rupanya pintu dikunci dari dalam. Ditariknya engsel pintu berkali-kali, tetapi tak ada balasan atau sahutan pun dari dalam. “Narsih ... Narsih! Buka pintunya!” Diketuknya pintu dengan nada dari perlahan hingga kasar. Tetap saja tak ada sahutan.
Mukanya semakin cemas, ia mengintip isi rumah melalui jendela. Menempelkan wajah pada kaca, mengimpit wajah dengan kedua telapak tangan. Matanya memicing. Mencoba menelusuri isi ruangan dalam.
Tak ada sosok Narsih di dalam ruang tamu. Mungkin, ia berada di kamar. Segera Pak Lurah memutar jalan menuju kamar Narsih. Diketuknya jendela perlahan, sembari memanggil namanya, “Narsih ... kamu di situ? Tolong buka pintu depan!” Ia menunggu beberapa detik, masih juga hening. Ia semakin gelisah, menggedor lagi jendela beberapa kali.
Ia menghela napas sebentar, memejam. Sepertinya berusaha menjernihkan pikiran.
“Nar, kamu di rumah atau tidak? Apa sedang tampil?” Ia bergumam sendiri pelan.
Ada seorang tetangga yang sedikit terusik dengan suara Pak Lurah yang terus menggedor berulang kali. Seorang ibu-ibu dengan wajah masam mendekat pada Pak Lurah.
“Lagi ngapain, Pak? Maaf anak saya tidurnya nggak tenang dengar suara dari sini.” Pak Suwarno melirik wanita itu dan membuatnya seketika menekuk wajah.
Memang, tak ada orang yang berani macam-macam dengan Pak Lurah di desa ini. Dengan segala kekuasaannya, ia bisa melakukan apa pun tanpa ada yang berani mengancam atau melawannya.
“Ibu lihat Narsih? Kenapa rumahnya sepi begini. Apa ia sedang ada pentas?” Wanita berdaster itu menggeleng, masih dengan menunduk. Takut salah ngomong.
“Sepertinya Narsih di rumah saja, kok, Pak. Saya nggak liat dia ke luar rumah beberapa hari ini.” Pak Lurah masih celingukan dan mengintip dari sela jendela kayu kamar.
“Bapak coba saja lewat belakang, dulu saya sering lihat Mbah Ijah lewat pintu belakang, kalau lupa menaruh kunci. Pintunya Cuma pakai engsel, bisa dicukil lewat sela pintu,” tutur ibu itu menjelaskan.
Tanpa berpikir lagi, Pak Suwarno berjalan cepat ke belakang dan mencoba membuka pintu kayu itu, diikuti ibu itu di belakangnya.
Pria berseragam itu mengintip kunci pintu lewat sela pintu, mencari letak engsel. Ibu tetangga tersebut melirikkan mata ke sekitar, seperti sedang mencari sesuatu. Lalu, membungkuk dan mengambil sebuah kayu pipih di bawah kakinya.
“Coba cungkil saja pakai ini, Pak.” Ia menyerahkan kayu kecil temuannya pada pria di depannya.
Diterimanya kayu itu dan segera menyelusupkannya pada sela pintu yang dirasa tepat pada engsel. Lalu mendorongnya kuat-kuat. Percobaan pertama belum berhasil. Dicobanya lagi dengan lebih serius. Wajah Pak Lurah tampak begitu tegang merasakan di mana engsel berada. Hingga pada dorongan ke empat, suara engsel terbuka. Klik!
Keduanya semringah lalu mencungkil pintu untuk membukanya. Dengan sekali tarikan, pintu sudah terbuka. Keduanya bergegas masuk dan mencari Narsih.
Ditemukannya Narsih yang berbaring di atas ranjang kamar. Posisinya begitu kaku dengan kepala sedikit menengadah. Wajah gadis itu tampak pucat dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Pak Lurah mendekat dan mengoyak tubuhnya sedikit, “Narsih, apa yang terjadi?” Ia masih bergeming tak membuka mata.
Si ibu tetangga mengernyitkan kening, turut mendekat dan duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih kaki Narsih dan mengusapnya pelan. “Nar, kamu tidak apa-apa?” Setelah mengusap kaki Narsih. Ibu itu melihat Pak Lurah dengan mimik cemas.
“Kakinya dingin sekali, Pak.” Keduanya mulai gelisah, kembali mengoyak tubuh Narsih dan berusaha membangunkannya.
Pak Lurah mengambil posisi tepat di sebelah kepalanya, ia duduk dan mengusap rambut pada kening Narsih. Menyilakan rambutnya ke belakang. Ia lalu menarik lengan Narsih dan merasakan denyut nadinya, lalu mengangguk pada ibu tetangga.
“Masih bernapas,” katanya lirih.
“Saya coba ambilkan air, ya, Pak. Siapa tahu bisa bangun,” usulnya tanpa menunggu persetujuan. Ia langsung melangkah cepat ke dapur dan mengambil sebaskom air lalu membawanya kembali dalam kamar.
“Ini, Pak.” Ia menaruh baskom di atas kasur depan Pak Lurah. Sigap, lelaki itu mencipratkan air sedikit demi sedikit pada wajah Narsih. Diulanginya beberapa kali, sampai sebuah pergerakan pada mata, membuat keduanya melenguh lega.
Narsih masih mengerjap-erjapkan matanya beberapa kali. Lalu kepalanya mulai bergerak pelan dengan kening mengkerut. Seperti sedang menahan kesakitan.
Perlahan, matanya membuka. Ia seolah bingung dengan dirinya sendiri. Bola matanya memutar ke sudut atap rumah, dengan ekspresi penuh ketakutan. Napasnya memburu.
“Narsih, kamu kenapa?” Pak Lurah heran dengan gelagat perempuannya itu.
Bola matanya kini bergerak ke ujung kiri, tempat di mana Pak Lurah dan ibu tetangga duduk. Mulutnya mulai bergerak, membuka dan menutup. Namun, belum ada suara yang ke luar dari bibirnya itu.
Ia mulai menggerakkan tangannya, lantas mengusap lehernya pelan. “Air? Kamu mau minum?” tanya si ibu. Sebuah anggukan membuat ibu itu bergerak cepat mengambilkannya air ke dapur.
Pak Lurah masih saja tercenung melihat keadaan Narsih yang seperti tak ada tenaga sedikit pun. Bingung dan tak percaya.
Ibu tetangga datang dengan segelas air, lalu memberikannya pada Pak Lurah yang posisinya lebih dekat dengan kepala Narsih. Ia mengangkat kepala Narsih perlahan dan meminumkan air tersebut hingga tandas.
Narsih terbatuk-batuk di tegukan terakhirnya. Lalu berdehem keras untuk meredakan batuk. Ia mulai bisa bersuara. Mulutnya kembali bergetar.
“Ka-kakiku, tak bisa bergerak.” Suara Narsih terdengar serak dan berat, seperti butuh tenaga ekstra untuk sekadar berbicara.
“Bagaimana bisa? Kamu struk?” Ibu tetangga menatap Narsih tajam.
“A-aku tidak tahu, Bu Ayu. Tadi kudengar dentuman keras sebanyak dua kali di atas atap. Setelahnya kakiku terasa nyeri luar biasa, dan akhirnya mati rasa.” Jelasnya dengan susah payah. Napasnya terengah-engah.
Pak lurah mengernyitkan dahi dan memutar bola matanya, seperti sedang berpikir.
“Kemarin malam, saat aku tidur di ruang tamu. Aku juga mendengar hal yang sama di atas genting. Bahkan sudah kuperiksa ke luar rumah. Tapi tak ada apa pun di sana,” ungkap Pak Lurah.
“Aku sudah menduga kalau ada orang yang ingin menyakitimu. Makanya, malam ini aku datang lagi, berharap bisa melindungimu.” Ia menatap Narsih penuh iba.
“Tapi sepertinya semua sudah terlambat.” Ia melihat kaki Narsih yang ujungnya terlihat pucat.
“Jadi, aku terkena semacam ilmu hitam? Santet, atau teluh?” Mata Narsih berkaca-kaca. Garis ujung bibirnya melengkung ke bawah. Bersedih.
“Owalah, Nduk. Yang sabar ya. Aku bukannya mau ikut campur. Tapi aku yakin ini semua ada sangkut pautnya dengan hubungan kalian. Ini sudah keterlaluan!” Pak Lurah langsung menatap Bu Ayu dengan geram.
“Ma-maafkan saya, Pak. Tapi beneran. Semua orang selalu membahas kalian di tiap pertemuan. Bahkan, banyak ibu-ibu yang kesal sama Narsih, karena suaminya banyak yang tergila-gila padanya. Sampai rela mengeluarkan banyak uang demi menyawer Narsih tiap malamnya.” Jelas Bu Ayu menggebu.
“Bahkan, Mbah Ijah sakit-sakitan karena memikirkan cucunya yang menjadi bahan perbincangan semua pelanggan saat membeli dagangannya tiap pagi.” Narsih mulai tersengguk lirih. Ia menatap Bu Ayu dengan padangan melas.
“Kamu sabar, biarkan aku yang menuntaskan semua ini.” Pak Lurah mengepalkan tangan yang masih menggenggam erat gelas kaca. Ia menatap Narsih yang kini berderai air mata, lantas mengusapnya keningnya lagi.
Bu Ayu hanya menunduk dengan seringai muak, melihat keduanya kelihatan begitu mesra seperti itu.