Sesuai titah Putra, kujelaskan detail apa yang disampaikan abdi Mbah Painem tersebut pada Nenek. Ia mengangguk pelan dan berat. Entah apa yang tengah membuatnya kalut, seperti ada beban dalam setiap gerakan tubuhnya.
“Kenapa Nenek begitu gelisah?” tanyaku sambil mengiris beberapa bahan untuk kebutuhan dagang Nenek. Seketika matanya menatap tajam wajah ini, terdiam sesaat seolah mencari rangkaian kalimat tepat untuk menjelaskan, seiring dengan remasan erat tangannya pada bahan adonan dalam bakul aluminium.
Tarikan napas disertai pejaman mata akhirnya membuka mulutnya untuk bersuara. “Wetonmu itu keramat, Nduk. Selasa Kliwon bahkan lebih mistis dibanding Jumat Kliwon yang katanya angker. Ditambah lagi kita disuruh datang saat surup, waktu peralihan hari di mana gerbang dunia lain terbuka. Nenek jadi sedikit ngeri saja.”
“Putra juga bilang, kita harus datang ketika langit berwarna jingga. Itu kan warna kesukaanku, Nek.” Nenek kembali menunduk dengan wajah teramat risau.
Tak ada kalimat lain yang kudengar selain dentuman suara putaran adonan tangan Nenek yang beradu dalam wadah. Aku tahu pikirannya kini berkecamuk. Mungkin, ada rasa takut jika terjadi hal-hal di luar dugaan kami. Tak berani lagi kuteruskan obrolan ini, kembali menyibukkan diri dengan menyelesaikan apa yang ada di hadapan.
***
Langit mulai berubah warna seiring waktu bergulir. Segala kebutuhan sudah kupersiapkan untuk datang menuju sanggar Mbah Painem, termasuk selendang kuning milik ibu. Dalam sebuah tas kecil, kubawa barang tersebut bersama sestoples kecil bunga dan air.
“Kamu sudah siap, Nar?” Wajah ini menoleh pada panggilan suara, mengangguk dan refleks berdiri menarik pakaian ke bawah, merapikannya.
“Nenek, kog, jadi sedikit ragu ya.” Tubuh rentanya kini dijatuhkan pada kasur milikku. Dengusan napas berkali-kali pertanda ia dirundung kegelisahan. Pandangan matanya pun terlihat tak tenang.
“Nek, janganlah seperti ini. Narsih melakukan semua ini 'kan demi Ibu. Sebenarnya apa yang membuat Nenek risau? Narsih benar-benar nggak ngerti. Tolong jelaskan!” Kusandingi tubuhnya duduk di ujung kasur, memandang wajahnya dalam-dalam, berharap segala kecamuk dalam pikirannya mereda.
Sorot mata sayupnya kini mencari wajahku, seiring dengan tarikan tangannya pada kedua tangan ini. Hingga kedua tubuh kami saling berhadapan.
“Dulu, menjadi ronggeng itu sakral. Nggak main-main. Bahkan dalam satu desa biasanya hanya memiliki satu ronggeng saja untuk menghibur warga. Ia harus kuat fisik dan mental. Sebab jika musim panen tiba, ronggeng harus tampil semalam suntuk tanpa boleh lelah. Belum lagi cibiran dari berbagai pihak.” Kubalas genggaman tangannya kuat dan bertanya.
“Kenapa harus ada cibiran, padahal ia sudah sepenuh hati menghibur?” Tenggorokannya kini bergerak pelan, seperti menelan ludah.
“Ronggeng itu milik bersama, ia harus rela tidur dengan banyak laki-laki tanpa boleh menolak.” Mulut seketika menganga mendengar sesuatu yang tak pernah kudengar sebelumnya. Kutarik genggaman tangan Nenek dan membuang pandang darinya.
“Itulah yang membuat Nenek bingung. Meski sekarang semua sudah berubah, tapi Nenek tetap takut. Makanya, aku tanya kamu, apa benar siap?” Kini berganti wajahku yang berubah risau, meremas-remas tangan sendiri tak tahu harus menjawab apa.
“Kan Nenek sudah bilang, itu budaya waktu jamannya Mbah Sriyani. Sekarang beda. Anak-anak dari kecil sudah dibiasakan belajar di sanggar. Jadi sekarang menari ronggeng itu cuman sekadar hal formal seperti sekolah. Bahkan untuk melestarikan budaya.” Kepalaku mulai bergerak mangut-mangut.
Kuembuskan napas berat, lalu kembali menatap wajah Nenek di samping.
“Insya Allah Narsih siap. Tapi Narsih juga mau meneruskan sekolah, Nek. Tinggal setahun saja, kog.” Ulasan senyum terukir di bibirnya, menarik kantung matanya menciptakan keriput di ujung indra penglihatannya itu.
“Baik, sudah mau surup. Mari kita berangkat!”
***
Di depan gerbang sanggar, rupanya Putra sudah menanti kami berdua. Ia bergegas bangun dari duduknya ketika melihat kedatangan kami. Puntung rokok yang sempat di sesapnya dibuang begitu saja ke tanah, tak lupa untuk menginjaknya, padahal kulihat batangnya masih panjang.
“Mari!” Tangan kekarnya membuka gerbang dan mempersilakan kami memasuki area sanggar. Ia menutup kembali pintu besi itu lantas berjalan mendahului kami.
Pendopo terlihat begitu lengang dan sepi, tak ada seorang pun seperti saat pertama kali kami ke sini. Maklum, hari sudah senja, tak mungkin ada anak yang belajar saat surup seperti ini. Tengkuk seketika merinding, ada hawa dingin menelusup dalam kulit, membuatku refleks bergidik. Nenek yang melihat gelagatku langsung menggenggam jemariku erat.
Kami terus berjalan menuju belakang rumah utama. Aku bahkan tak tahu mau dibawa ke mana kita? Semua rasa penasaranku berakhir ketika kutatap sebuah area pemakaman. Ukurannya tak besar, mungkin khusus untuk keluarga saja. Di dalamnya terlihat, sebuah makam dengan bangunan keramik hitam berdiri tegak. Aku menghentikan langkah, mulai ragu untuk terus berjalan.
Nenek ikut terhenti saat menyadari kakiku tak lagi melangkah. Ia membalik badannya ke arahku. “Kenapa?” Mataku membulat sempurna, berharap Nenek mengerti isyarat yang kuberikan. Aku benar-benar ketakutan mendapati pemandangan di hadapan.
“Kemarilah!” Suara serak dan berat Mbah Painem yang duduk di depan makam memanggil untuk mendekat. Aku menggeleng.
“Tidak apa-apa, sini aku temani.” Uluran tangan Putra membingungkanku. Sekali lagi ia menyodorkannya kembali.
Dengan penuh gemuruh dalam d**a, kuberikan tanganku pada Putra. Ia mulai menuntunku berjalan mendekat pada seseorang yang tengah menanti. Kuedarkan pandang ke sekitar. Langit benar-benar cantik dengan polesan warna jingga kemerahan. Disertai embusan angin dan suara binatang-binatang malam yang mulai menggema, membuat jantung kian berdetak tak karuan.
Putra memberi isyarat agar kami duduk bersimpuh di depan makam tersebut. Di bawahnya sudah digelar tikar bambu kecil untuk kami. Nenek mendahuluiku duduk, aku pun pasrah mengikutinya. Diikuti Putra.
Mbah Painem mulai menembangkan sebuah lagu, entah aku tak tahu untuk apa. Tetapi suara halus dan seraknya membuatku kian bergidik. Kulirikkan mata pada kedua orang di sampingku. Nenek dan Putra memejam dan saksama mendengarkan. Mau tak mau aku pun mengikuti kembali apa yang dicontohkan.
Saat mata ini memejam, suasana tiba-tiba terasa begitu sunyi. Bahkan lantunan suara Mbah Painem tak lagi kudengar. Apa yang terjadi? Perlahan kudengar suara gesekan semakin mendekat. Dalam gelap pandangku, kulihat dengan jelas seorang wanita tengah duduk di atas makam, memakai pakaian ronggeng lengkap.
Sayup-sayup mulai terdengar ia melantunkan lagu yang sama dengan Mbah Painem. Dadaku terasa semakin kembang kempis melihat tontonan aneh ini. Ingin rasanya membuka mata kembali, tapi mengapa begitu susah?
Seketika wajahnya menoleh kasar ke arahku. Tubuh bergetar hebat, menerima wajah asing yang menyeringai gemulai. Siapakah dia?
Lantunan tembangnya kini berhenti, berganti dengan dua buah kata, “Yang Terpilih.” Saat itu juga, aku bisa membuka mata cepat. Napas tersengal tak karuan. Mendapati kembali wajah tiga orang yang masih khusyuk dalam ritual.
Ingin rasa menyudahi semua ini tapi tak ada keberanian untuk memotong acara. Meski dengan perasaan tak karuan aku tetap manut mengiringinya hingga akhir.
“Narsih, mendekatlah kemari!” pinta Mbah Painem menjulurkan tangan.
Dengan menggunakan lutut, aku berjalan mendekat padanya. Kini kami bersimpuh tepat di depan makam yang kulihat tertera sebuah nama, Sriyani.
Mbah Painem kini mengatupkan kedua tangan depan d**a, kuikuti geraknya. Ia menunduk dan bergumam sendiri. Hingga pada kalimat terakhir, ia mengeraskan suaranya. “Buk, Ridoi kami untuk mendidik Narsih belajar di sini.”
Ia melirik tasku dan mengisyaratkan untuk membuka. Aku mengangguk dan mengeluarkan toples bunga. Lantas, menyiramkannya rata pada gundukan tanah di hadapan.
Mbah Painem terlihat penasaran dengan isi tasku yang sedikit menjuntai, ia pun bertanya.
“Apa yang ada dalam tasmu itu?” Tanpa menjawab, kutarik selendang kuning dan memberikannya pada sang dukun ronggeng. Ia terpana, menatap detail selendang yang kini dalam pangkuannya.
“Itu hadiah dari Mbah Sriyani dulu, untuk ibunya Narsih.” Nenek memberi penjelasan padanya. Mata sayu Mbah Painem mulai berkaca-kaca. Tampak begitu haru. Perlahan, ia mengelusnya lembut. Lantas, menatapku nanar.
“Simpan baik-baik. Gunakan ini khusus untuk acaramu nanti.” Kami mengangguk. Dengan berdirinya Mbah Painem, acara ini berakhir.
Langit semakin menggelap, saat kami keluar gerbang makam. Suasana wingit terasa kian mencekam. Kugandeng tangan Nenek erat, berjalan dengan langkah sedikit terbirit.
Sampai di depan rumah lawas milik Mbah Painem, beliau berpesan.
“Mulai besok, kamu sudah bisa belajar. Kelas dibuka mulai siang hari setelah berakhirnya jam sekolah sampai sore. Terserah kamu mau datang jam berapa,” tuturnya mengakhiri pertemuan.
Hanya anggukan takzim yang kami berikan. Lantas, berjalan kembali dengan diiringi Putra menuju gerbang depan untuk pulang.
*surup : senja
*wingit : angker