Kisah Putra

1231 Words
Setelah Mbah Painem beranjak, Putra berdiri dan menempati kursi bekas duduk sang dukun. Tangannya merogoh sesuatu di bawah meja, diambilnya sebuah buku usang dan menempatkan di atas meja. Mulutnya mengembuskan debu-debu yang menempel, menerbangkannya bersama embusan angin semilir. Bibir pemuda gagah itu mulai bertanya segala perihal tentangku tanpa melewatkan sedikit pun. Diiringi tangkas tangannya dalam menggoreskan semua tutur Nenek dalam sebuah buku tebal. Kurasa ini terlalu berlebihan. Hal-hal yang menurutku tak penting, tak luput dari pertanyaan. Tanggal weton, warna kesukaan, apa yang kutakuti, segalanya. Aku bahkan tak mengerti untuk apa ini semua? Mau angkat bicara pun percuma, sebab Nenek begitu manut menimpali rentetan tanya tanpa bantah. Kulirik tangan Nenek merogoh sesuatu dalam kendit, sebuah amplop. Kini ia mengangkat dan menyelipkannya pada telapak Putra. Pemuda itu mengangguk dan menerima begitu saja. Sejenak aku berpikir. Mungkin, di sini layaknya sekolah atau semacam tempat les pada umumnya, butuh semua data dari murid dan biaya pendaftaran juga. Jadi, kutepis segala pikiran buruk setelahnya. Ah, aku bahkan lupa bagaimana dengan pendidikanku? Hanya tinggal setahun lagi seharusnya aku lulus SMA. Nanti pasti kutanyakan pada Nenek setelah tuntas hari ini. Buku tebal dalam genggaman Putra ia tutup, pertanda wawancara telah usai. Uluran tangan Nenek telah menanti disambut. Gegas Putra menyelipkan pena dalam selipan telinga, membalas gerakan tangan Nenek naik turun. Kulakukan hal yang sama padanya, menimpali kesantunan Nenek. Aku masih terus belajar menjadi pribadi baik, mengawalinya dengan mengikuti segala hal yang dicontohkan Nenek. Lagi-lagi tatapan mata cokelat itu membiusku kembali. Ada rasa hangat menjalar melalui sentuhan ini, terus merambat mengentakkan laju jantungku untuk berdegup lebih kencang. Segalanya kini berkecamuk dalam d**a. Kutarik paksa untuk meredamnya, menundukkan wajah untuk menghindari gejolak rasa. Tak lagi kulihat wajah manis pria di hadapanku. Terlalu malu untuk sekadar berpamit. Nenek menutup suasana canggung ini dengan berdiri dan mengucap salam. Kuikuti semua gerakan Nenek, termasuk sedikit membungkuk pamit, meski tanpa berani lagi menyejajarkan pandang pada mata teduh itu kembali. “Nanti kalau sudah ada mandat dari Mbah Nem, pasti kukabari.” Kalimat terakhir yang kudengar, membuatku bergerak membalikkan badan dan menuruni tangga tanpa menoleh lagi. “Narsih, Tunggu Nenek!” Kupelankan laju kaki untuk menanti di bawah rumah. “Kamu kenapa sih, buru-buru sekali?” Hanya gelengan kepala yang refleks bergerak, tanpa sepatah kata pun yang bisa terlontar dari bibir ini. Kening Nenek berkerut menuntut jawaban. Kusudahi kebingungannya dengan menyeret tangan keriputnya berjalan pulang. *** Sampai di rumah, kuhunjam Nenek dengan rentetan tanya soal apa pun tentang ronggeng dan Mbah Painem. Aku tak mau terlihat bodoh saat menemui beliau nantinya. Asal-usul dan t***k bengeknya, semuanya aku ingin tahu. Bahkan, soal Putra. “Dulu, Putra itu cucunya abdi dari Mbah Sriyani, yang selalu mengikuti kemana pun beliau beranjak. Semua hal tentang Mbah Sriyani, hanya neneknya Putra yang tahu.” Nenek menjawab sambil selonjoran di atas amben teras rumah. “Mereka seperti kertas dan perangko, lengket. Sampai tak ada yang percaya kalau neneknya Putra itu hanya seorang abdi. Saking dekatnya sampai seperti saudara. Tapi, hubungan keduanya putus saat suami Mbah Sriyani diam-diam menjalin cinta dengan Kasmirah, Neneknya Putra.” Aku mulai melongo mendengarkan kisahnya. “Jadi, Putra itu cucu dari Kang Diman, suaminya ronggeng desa ini. Waktu itu ramai, Nduk. Sampai geger. Mereka diusir, ketika tahu Kasmirah mengandung Darwanti, ibunya Putra. Akhirnya mereka mengasingkan diri di desa seberang. Desusnya sih, Kasmirah setelah lahiran kena teluh, sampai meninggal. Terus Darwanti pulang ke sini, diajak Budenya. Dia jadi teman sepermainan ibumu dan Ida tetangga ibumu itu. Mereka bertiga sahabat sejati.” Aku mulai mengangguk-angguk mengerti, menelaah setiap detailnya. Tak ingin melewatkan sedikit pun kisah ini, terus menggali informasi lebih dalam. “Jadi, ibunya Putra sama Mbah Painem ini bisa dibilang saudara tiri ya, Nek. Terus kog Putra bisa diterima di sana?” Nenek mulai mencopot jilbabnya dan mengibaskannya untuk dijadikan kipas. “Iya, Mbah Sriyani dulu meninggal karena bunuh diri. Ia tak kuat hati menerima hubungan gelap suaminya. Saat itu, Painem masih usia remaja. Ia selalu diberi pengertian oleh bapaknya, termasuk perihal cinta segitiga itu. Jadi, Painem tumbuh jadi gadis yang legowo. Ia bisa menerima kalau dirinya punya Darwanti sebagai saudara tirinya. Bahkan ia tak menyimpan dendam apa pun pada mereka, meski tahu ibunya meninggal gara-gara kisah mereka.” Aku yang sejak tadi duduk di pinggiran amben, kini mengangkat kaki ikut selonjoran bersama Nenek, mencari posisi lebih nyaman untuk menjadi pendengar. “Apa Mbah Painem tak punya anak? Sepertinya ia hidup sendiri saja.” Mimik wajah Nenek semakin serius menatapku. “Justru itu. Darwanti meninggal tiba-tiba karena kecelakaan, sedang Painem yang sudah menikah beberapa tahun tapi belum juga mendapat momongan. Akhirnya, ia mengambil Putra sebagai anaknya. Saat itu, Putra berusia kurang lebih delapan tahunan. Suami Painem tak suka ia mengangkat Putra jadi anak mereka, akhirnya ia pergi meninggalkannya sendiri hingga sekarang.” Jelas sudah cerita yang ingin kudengar. Meski begitu masih banyak hal di otak yang perlu jawaban. “Bagaimana dengan Mbah Diman? Apa ia meninggal juga?” Nenek menghentikan laju gerakan jilbabnya, seiring dengan kenyitan tipis pada dahi. “Ia masih hidup hingga sekarang, tapi hanya jadi kembang bayang di kasurnya. Ia tahu segalanya, ingatannya masih jelas. Bahkan tahu jika Putra adalah cucunya dari hasil asmaranya dengan Kasmirah.” Mataku memicing tajam, mencerna segala hal yang begitu dramatis ini. “Kabarnya ia punya Tameng Pati. Jadi susah buat mati. Ah, sudahlah Narsih, jangan ngomongin hal seperti ini, nggak baik. Nenek mau tidur sedikit, capek.” Amben berdecit seiring gerakan tubuh Nenek menuruninya, seolah menjerit tertahan menerima tekanan. Kakinya mulai menapak dan berjalan masuk rumah. Saat di depan pintu kuhentikan langkahnya dengan satu pertanyaan. “Nek, bagaimana dengan selendang kuning itu? Seperti apa kisahnya sampai di tangan Ibu?” Kepalaku memutar 90 derajat mengikuti sosok yang tengah bergeming di ambang pintu. “Nanti kuceritakan lagi. Nenek butuh istirahat.” Ia hanya sedikit memiringkan kepala tanpa melihatku, seolah ada yang disembunyikan di balik pertanyaanku ini. Lalu, ia melanjutkan langkah hingga hilang di balik tembok. Aku mendengus, menyenderkan kepala pada tembok menengadah. Kedua tangan mengetuk-ngetuk amben menerka jawaban apa yang bakal diberi Nenek tentang selendang itu. Angin semilir dari lambaian daun pohon membuatku memejam. Sapuan lembut angin sedikit mengibaskan rambut sisi kiriku yang tak terjepit pita. Begitu damai kurasa. Hingga sebuah suara memanggil namaku. Mata refleks membuka dan tegap duduk menurunkan kaki dari amben. Tertegun kembali diri ini, menemukan pemilik mata cokelat berdiri di depan teras rumah. Kepalanya mengangguk pelan, menyapa. Satu anggukan tergerak sendiri untuk membalas. “Mbah Ijah ada?” Tubuh mulai berdiri canggung, tangan bergerak menyelipkan rambut yang sempat teracak angin sepoi ke selipan telinga. Perlahan melangkah mendekatkan jarak. “Maaf, Nenek lagi istirahat. Ada apa?” Meski berusaha menghindari tatapannya, tetapi tak sopan rasanya jika berbicara tanpa memandang. “Mbah Painem bilang, besok Selasa Kliwon. Sesuai wetonmu, kamu boleh datang lagi ke sanggar untuk menemui beliau. Sekitar jam senja, saat langit berwarna jingga,” tutur Putra mengernyitkan dahiku. Ada perasaan aneh yang ingin kutanyakan tapi kalah dengan degupan dalam d**a saat menatap pesonanya yang kian memancar. Kutundukkan kepala dan mengangguk patah-patah. Ia tersenyum, entah menertawakan gelagatku atau memang berusaha sopan. “Baiklah, aku pamit. Maaf tadi mengganggu. Oh iya, jangan lupa bawa bunga dan air. Sedikit saja cukup. ” Badanku refleks gedek-gedek, mencoba menjawab lewat gerakan tubuh. Ia malah terkikik. “Kamu lucu.” Wajah ini semakin bingung mau berekspresi apa. Jelas pipi ini sudah seranum tomat matang. Untung saja ia segera membalikkan badan berjalan pergi. Kalau tidak mungkin akan meletus di hadapannya saat ini juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD