Sanggar Mbah Painem

1263 Words
Sebelum subuh, sudah kudengar suara kelontangan alat-alat dapur yang beradu. Rasanya begitu malas untuk sekadar membuka mata. Namun, ada perasaan bersalah jika tak bangun dan membantu kegiatan Nenek. Toh, mulai hari ini, inilah satu-satunya penghasilan kami. Tidak seperti saat bersama orang tuaku. Apalagi usia Nenek yang sudah senja membuatku semakin tak enak jika harus berpangku tangan saja. Hawa pagi ini begitu dingin, sedikit membuatku menggigil. Kutajamkan mata untuk melihat jarum jam yang tak berhenti berdetak. Menunjukkan pukul 03.10 pagi. Sekali lagi suara ramai di dapur menggugahku untuk segera beranjak. Kugosokkan kedua tangan sembari berusaha menahan rasa gigil yang teramat kaku. Berharap menciptakan hangat pada tubuh. Ujung hidung bahkan seperti mati rasa, membeku. Bibir mulai bergetar tak aturan, layaknya alat mesin yang baru diputar, bergemeretak berirama. Kuhampiri Nenek yang duduk di kursi kecil depan kompor. Satu tangannya sibuk membolak-balik donat yang berenang dalam wajan, sedang tangan kanannya sibuk mengaduk adonan jajan lainnya. Satu kompor lagi masih menyala. Panci di atasnya terlihat mengepulkan asap, membaurkan aroma harum pandan. Seketika perut bergemuruh, mulut terasa berair. Tak sabar rasanya mencicipi penganan-penganan yang menggugah selera. Ada rasa hangat yang mulai membuat napas teratur. Begitu nyaman. “Sini, Nek. Biar Narsih yang goreng donatnya.” Kusenggol tubuhnya untuk menggantikan posisinya. Tanpa menjawab, ia bergeser dan meneruskan uleman adonannya. “Awas, jangan sampai gosong! Nanti nggak cantik.” “Tenang, Nek. Pasti bakal cantik seperti yang menggoreng.” Aku terkikik, ia malah menowel pipiku dengan sentuhan adonan putih yang ternyata bakal jajan tahu berontak. Kuusapkan wajahku cepat pada pundaknya. Kami pun terbahak. Menyelesaikan segalanya agar semua matang setelah subuh, agar bisa segera digelar dan menghasilkan rupiah. Pukul 05.15, semua jajanan sudah siap dan kami tata rapi di atas talam. Nenek menyuruhku untuk mandi dan salat terlebih dulu, sebelum siap bertemu pelanggan. Tepat lima belas menit setelah membersihkan diri, aku sudah bersiap duduk depan meja yang di atasnya tersusun aneka jajan dagangan. Kabut tipis memenuhi pelataran rumah Nenek, bercampur dengan asap bakaran sampah daun para tetangga. Suara-suara gesekan lidi pada tanah seperti sedang berlomba saling cepat. Kurapatkan jaket sembari duduk menanti pelanggan. Beberapa sosok mulai berdatangan, memandangku dengan tatapan penuh tanya. Tampaknya semua heran, terlihat dari binar mata mereka yang kebingungan. “Adik ini siapa ya? Kog baru lihat?” Seseorang membuka percakapan, lainnya melirik ibu paruh baya itu dan tersenyum, seolah pertanyaannya itu mewakili isi hati setiap orang. Baru saja hampir kubuka mulut untuk menjawab, suara dari dalam rumah menolehkan setiap kepala padanya, “Ini cucu saya satu-satunya, Narsih.” Semuanya mengangguk, ada yang ber-oh ria saja. Hanya dalam beberapa jam, semua dagangan ludes tak bersisa. Kulihat Nenek menggenggam hasil jualnya sambil memejam dan merapal sesuatu. Entah, aku tak bisa mendengarnya. Hanya lantunan hamdalah terakhir yang sedikit terdengar. Aku mengira, itu semacam ritualnya untuk mensyukuri nikmat hari ini. Sebab aku tahu Nenek begitu religius. “Habis ini kita ke sanggar. Kamu siap-siap, ya!” Aku membalasnya dengan anggukan takzim. Pelan dan berat. Berharap benar-benar bisa meraih impian Ibu, mulai hari ini. *** Kusisir rambut lurus sepunggungku di depan cermin. Menyelipkan satu jepit hitam di sisi atas telinga kanan, sedang sebelah kirinya kubiarkan tergerai. Tak lupa menaburkan sedikit bedak pada wajah, agar terlihat segar. Aku mendengus menatap wajah dalam pantulan cermin, cukup pantaskah aku untuk menjadi seorang penari dadakan? Yang kutahu, beberapa teman dan tetangga ibu dulu, belajar menari sejak mereka masih begitu belia. Sedang aku, gadis yang bahkan tak pernah tahu apa itu ronggeng dan segalanya, harus belajar mulai dari nol. Saat umur mulai beranjak dewasa. Bisakah aku melewati ini semua? Kulirik kotak selendang yang tersusun di atas tumpukan barang pribadiku, di atas meja. Mengambil dan membukanya, lalu mengalungkannya pada leher. Seketika tubuh terasa ringan, persis saat pertama kali kukenakan waktu di rumah Ibu. Rasa percaya diri muncul begitu kuat, aku menyungging. Lantas, tersentak kaget saat tak sengaja ekor mata ini melirik sesosok wajah dalam pantulan cermin. Tepatnya di pojok kamar. Kutolehkan wajah kasar ke belakang. Mengayunkan rambut yang sudah rapi dan memberantakkannya. d**a terasa sesak tatkala tak kutemukan sosok yang tadi terlihat di cermin. Kususuri seisi kamar, tak ada siapa pun. Aneh sekali. Napas mulai memburu patah-patah. Kutarik kasar selendang dari bahu, melipatnya kembali dan memasukkannya pada kotak. “Sudah siap, Nduk?” Aku berjingkat, menemukan Nenek yang tiba-tiba sudah berada di belakang. “Kamu kenapa?” Ia terlihat panik melihat gelagatku. “Nggak papa, Nek. Narsih cuman grogi.” Ia tersenyum menatap wajahku yang menunduk depan cermin, mengangkat daguku dan mulai berbicara sambil menghadap cermin. “Lihat itu, wajah itu adalah suatu kebanggaan. Proporsional dan nyaris sempurna, cantik tanpa cacat. Kamu harusnya bersyukur.” Aku menelan ludah, andai ia tahu apa yang kulihat dan kurasakan. Namun, aku tak mau membuat Nenek berpikir yang tidak-tidak. Kuembuskan napas berat, memaksa tersenyum. Ia memelukku dari belakang, mengusap anak rambutku pelan. “Ayo berangkat!” *** Sanggar berada tak jauh dari rumah Nenek. Dengan berjalan kaki, cukup sekitar lima belas menitan untuk sampai di tempat. Tepat di depan sebuah gerbang, kami berhenti. Aku menatap gerbang tua dengan beberapa tumbuhan rambat di sampingnya. Memenuhi tembok menciptakan suasana wingit. Kutengadahkan wajah untuk membaca tulisan setengah lingkaran di atasnya, ‘Sanggar Tari Painem' Meski tulisannya sudah mulai memudar tapi masih jelas untuk dibaca. Kugenggam erat tangan Nenek di sampingku. Kami saling pandang, hingga suara decitan gerbang yang terbuka menolehkan wajah kami. Aku tertegun, menemukan sosok Putra yang tengah mempersilakan. Apa yang dilakukannya di sini? Nenek melangkahkan kaki mendahuluiku, sedang aku masih tercenung tak bergerak. “Mari!” Suara ajakan Putra membuatku tersadar dan mengikuti langkah Nenek. Kami mulai berjalan sesuai arahan Putra. Di dalam gerbang, suara musik gamelan menggema bersahutan. Kususuri pandang melihat detail isi di dalamnya. Di ujung tengah terdapat rumah tua megah khas jaman dulu. Di sisi depan kanan kirinya terdapat dua pendopo. Terlihat beberapa anak sedang fokus latihan. Beberapa kepala menoleh melihat kedatangan kami. Aku hanya menunduk dan terus berjalan. Hawa di sini begitu dingin, kuselipkan kedua tangan dalam kantong jaket. Pantas saja, di samping-samping pendopo dipenuhi dengan rentetan bambu yang meliuk, seolah melambai-lambai mengajakku mendekat. Beberapa pohon mangga dan jambu juga memenuhi pelataran rumahnya. Badan seketika bergidik sendiri. Entah, ada perasaan aneh saat mulai menapaki sekitar lima anak tangga menuju rumah utama. Pada langkah terakhir tangga atas, kami berhenti melangkah. Aku melongo melihat sosok Nenek tengah duduk di kursi teras depan sebuah meja bundar, menyesap rokok dalam selipan tangannya. Rambut ikal putihnya dibiarkan tergerai, sungguh mengerikan. “Assalamualaikum, Mbah Nem,” sapa Nenek lembut sembari mengatupkan kedua tangannya. Kuikuti gerakan Nenek dan sedikit membungkuk sopan. Kulihat Putra langsung berjongkok dan berjalan dengan lutut mendekat padanya. Lantas, bersila duduk di bawah samping kursinya. Kupikir, mungkin ia seorang abdi dalem. Yang menjadi tangan kanan sang dukun ronggeng. “Waalaikum salam.” Ia mengembuskan asap terakhirnya, lalu menancapkan puntung rokoknya dalam lingkaran asbak di atas meja. Setelahnya, ia menggulung rambut panjangnya ke atas dan menyelipkan seperti kayu sumpit di tengahnya. “Mari duduk!” Nenek tergopoh berjalan dan segera duduk di kursi depan Mbah Painem, sedang aku hanya berdiri di belakang kursi, tak berani untuk turut duduk. Tak sopan rasanya karena melihat Putra duduk di bawah. “Aku sudah dengar dari Putra, kalau Mbah Ijah mau mengajak cucunya belajar ronggeng di sini. Siapa namanya?” “Narsih, Mbah.” Lirikan mata Mbah Painem sukses membuatku semakin tertunduk. Kugenggam kedua tangan sambil memilin-milin ujung jaketku resah. Kepalanya terlihat bergerak naik turun. “Baiklah, aku ingin data dari Narsih. Putra, catat semuanya dan berikan padaku. Akan kukabarkan jika sudah mulai latihan.” Kami mengangguk, Mbah Painem beranjak berdiri dan perlahan meninggalkan kami. Membiarkan kami terpaku menatap langkahnya yang gemulai dan pelan, khas seorang penari. Kami tertegun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD