Mencuri Perhatian

1316 Words
Sampai pada halaman rumah Nenek, becak berhenti. Kami turun dengan hati-hati. Kulihat Putra berdiri di jok belakang, menahan guncangan dan setir becak agar kami tak jatuh. Putra segera meraih tas-tas bawaan kami, saat kami sudah benar-benar turun. Meski kami menolak, ia tetap kukuh memaksa. Kami tak bisa lagi menyangkal, pasrah membiarkan Putra kewalahan mengangkat empat tas berat sekaligus. Kulihat otot-otot mengkalnya pada lengan. Wajahnya mengernyit dengan ekspresi lucu. Kutafsir, umurnya sekitar dua puluhan. Terpaut 5-7 tahun dariku. Ia berjalan menunduk-nunduk menahan beratnya beban. Segera menaruhnya tepat di depan pintu rumah Nenek. Ia mengibaskan kedua tangan. Mengembuskan napas berat setelah berhasil menurunkan tas-tas itu. Kulihat peluhnya membasahi jidat dan dadanya. Terlihat dari kausnya yang mulai menampakkan bercak basah. Kami pun berjalan mendekatinya. “Terima kasih ya, Le. Atas kebaikannya.” Nenek mengusap lengan kanan pemuda berkumis tipis itu. Ia sedikit membungkukkan badan tersenyum menatap Nenek. Sopan sekali. Tak lupa kuucapkan kata yang sama padanya. Dibalasnya dengan tatapan maut yang membuatku terpesona. Ah, mata cokelat itu ... sungguh baru pertama kali ini kurasakan gejolak dalam d**a. Aku sampai gelagapan dibuatnya, bingung menempatkan diri. Antara malu dan risih. Lucu sekali. Apakah ini yang dinamakan cinta? Aku tak tahu, apakah telah cukup waktuku untuk merasakan hal semacam ini? Atau, ini hanya perasaan anganku saja? Aku sampai bingung membuang muka ketika sorot matanya menjelajahi wajah ini. Pipiku mulai terasa panas, mungkin warnanya kini berubah merah. Aku mulai celingukan menyembunyikan rona wajah. Kulirik ia malah terkikik di sana. Oh, jadi ia sengaja menggodaku? Kupalingkan badan dan segera meminta kunci pada Nenek. “Nek, kuncinya mana?” Nenek sampai bingung melihat gelagatku. Namun, tanpa banyak tanya, ia merogoh lilitan kendit pada perutnya. Merogoh dan mencari apa yang kuminta. Ia mengulurkan benda kecil itu. Lantas, kusahut begitu saja dan menancapkan serta memutar cepat pada gagang pintu. Ceklek! Kudorong pintu cepat lalu masuk dengan segera. “Kamu kenapa, Narsih?” Suara tinggi Nenek tak mengerti kenapa aku tiba-tiba seperti ini. Kujawab sekenanya, “Kebelet, Nek!” Tak lagi aku menoleh ke belakang. Antara malu dan salah tingkah kini bercampur jadi satu. Entah, apakah Putra menyadari gelagatku yang aneh ini? Ini benar-benar lucu, membuatku tersipu. Segera aku menuju kamar dan menutup pintunya. Aku menengadah bersandar pada pintu, menggigit bibir mengingat tatapan mata itu. Ah, apa benar aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Beberapa menit berlalu, aku masih di dalam kamar. Bingung mau apa. Sedang rasa malu masih memenuhi perasaan ini. Aku takut jika Nenek bertanya perihal ini, harus kujawab apa? Suara gagang pintu ditarik membuatku berjingkat dan segera duduk menatap sosok yang kini tengah memandangku. Ia berdiri di ambang pintu, tersenyum. “Kamu kenapa? Katanya tadi kebelet, tapi kamar mandi kering begitu?” Aku menelan ludah. Ingin mengucap sesuatu tapi bingung. Yang ada hanya gerakan bibir tak jelas tanpa suara. Alis Nenek mulai naik, seakan menanti sebuah jawaban. “Ke-kepalaku pusing, Nek. Ingin rebahan sebentar.” Ia manggut-manggut. Lantas, mengambil botol minyak dari selipan kenditnya. “Oleskan ini lagi, sepertinya kamu masih mabuk kendaraan. Ya sudah, istirahat saja. Nenek mau beres-beres barang dulu.” Aku mengangguk. “Nanti kalo sudah rada enakan, Narsih bantuin.” “Nggak usah maksa, Nenek nggak keburu kog. Santai saja.” Ia mulai membalikkan badan dan menarik kembali gagang pintu untuk menutupnya. Ah, lega rasanya. Kurebahkan kembali badan pada kasur. Tak sengaja, terlintas kembali tatapan mata cokelat itu lagi. Bibir ini seketika melengkung ke atas. Aku memejam, terkikik sendiri. *** Suara azan membangunkanku, mungkin sudah zuhur. Kuposisikan diri duduk dan menurunkan kedua kaki dari ranjang. Menguap sebentar lalu mengeretakan tulang-tulang. Rasanya seperti habis jadi kuli, ngilu di setiap sendi. Padahal, seharian tak melakukan apa-apa. Atau mungkin sebab mabuk kendaraan tadi? Kepala pun terasa nyut-nyutan. Kuoleskan minyak angin pada pelipis dan sedikit memijatnya. Berharap sedikit meredam rasa pening yang mendera. Kupaksakan diri berdiri dan keluar kamar. Aku keheranan, kenapa suasana tiba-tiba mendung. Padahal siang tadi masih terik dan panas. Baru juga sekitar dua jam yang lalu aku masuk kamar. Terdengar suara langkah sandal berjalan, aku menoleh ke arah pintu dapur. Kaget bukan main ketika menemukan sosok putih mendekat di antara remang-remang cahaya ruang yang redup. “Hwaaa ...! Jangaaan!” Tangan kuulurkan ke depan dan memejam. Berharap sesuatu itu pergi dari hadapan. “Kamu ini kenapa? Ngigau?” Kubuka mata perlahan ketika mendengar suara Nenek. Ternyata beliau sosok di balik mukena putih terusan itu. Huft ... hampir saja jantung terasa copot. “Mau ikut salat ke musala, nggak? Udah asar ini.” Aku melongo, kukira masih siang. Pantas saja suasana sudah ayem seperti ini. “Ya ampun, Nek. Kenapa zuhur tadi nggak dibangunin?” “Lah kamu pulas sekali tidurnya. Nenek nggak tega.” Bibirku manyun begitu saja, menatap Nenek sendu. Ia malah tertawa. “Maaf, lha wong nenek tadi juga ketiduran.” Kami terbahak. Lantas, suara iqamah di musala membuat Nenek terburu berangkat meninggalkan. Aku mengangguk membiarkannya berlalu. Kuputuskan untuk membersihkan diri dan salat di rumah saja. Setelah Nenek pulang dari musala, ia mengajakku pergi belanja kebutuhan dagangannya. Yah, Nenek adalah penjual jajanan pasar. Dulu ia berjualan di pasar, tetapi kini sebab tubuhnya yang sudah renta, ia lebih memilih berdagang di depan teras rumah saja. Meski begitu, pelanggannya tetap banyak dan bahkan mencari-cari. Tak heran jika ia dikenal banyak orang. Sebelum ini, ketika aku di sini sebulan yang lalu. Meski aku tinggal dengan Nenek selama 4 mingguan, tak banyak orang tahu keberadaanku. Sebab, aku memang tak mau keluar. Lebih memilih mengasingkan diri. Cukup membantu memasak di dapur, setelahnya memilih masuk dalam kamar kembali. Hingga saat pertama kalinya ia mengajakku kulakan. Semua mata terheran melihat sosokku. Ada yang melihat dengan tatapan kaget, biasa, tak banyak pula yang saling berbisik ketika kami berjalan melewatinya. Tiba di tempat langganan Nenek. Mata para pria yang kupikir pegawainya, seketika melirik padaku. Bahkan ada yang sampai bertabrakan dengan kawannya sendiri. Aku mulai risih. “Nek, jangan lama-lama, ya,” pintaku lirih di belakang punggungnya. Ia seperti tak mengindahkan kataku, sibuk berbicara dengan ibu penjual. Seorang wanita dengan wajah judes. Kedua lengannya penuh dengan gemerencing emas melingkar. Jari-jarinya pun tertutup dengan cincin bermata besar. Aku meliriknya ketika ia mencatat segala hal yang diucapkan Nenek. Sesekali ia menengokku dengan tatapan sinis. Aku hanya bisa menundukkan wajah sembari menggenggam erat tas keranjang belanja Nenek. “Itu siapa, Mbah?” Suara ibu penjual mulai ingin tahu, dilihat dari logatnya sepertinya ia orang Medan. Catatan di tangan kini ia serahkan pada anak buahnya. “Ini Narsih, cucuku. Sekarang tinggal di sini karena anakku dan suaminya sudah meninggal.” Kulihat ibu itu menyenderkan badan pada kursi sambil mengibaskan kipas di tangannya. Ia mengangguk-angguk. “Cantik dan molek, Mbah. Cocok kalau dia jadi penari.” Ia menudingku dengan kipasnya. Kembali sibuk membuat angin pada leher yang terlihat banyak peluh. “Iya, Narsih mau jadi ronggeng. Nanti mau kuajak ke sanggarnya Mbah Painem.” Wanita itu menengokku lagi, kini mulai menyusuri pandang. Menelaah perawakanku dari atas hingga ke bawah, membuatku tak enak dan canggung. “Hei Narsih, di sini banyak anak seumuranmu yang belajar tari ronggeng. Nanti kau bakal punya banyak teman. Tak usah malu begitu.” Aku mengangguk, masih setia berdiri di belakang Nenek untuk bersembunyi dari tatapan orang-orang. Beruntung pegawainya begitu cekatan. Tanpa menunggu lama, semua barang sudah siap. Satu kresek besar kumasukkan dalam keranjang. Sedang yang lebih kecil, dibopong sendiri oleh Nenek. Kami mulai berpamit dan berjalan perlahan. “Biasanya, Nenek pulang diantar salah satu karyawan Bu Nariti. Karena nenek nggak kuat kalo bawa belanjaan segini banyak. Untungnya sekarang ada kamu, jadi nggak ngerepotin orang lagi.” Aku melirik Nenek yang berjalan di sampingku. “Oh, ya, Nek. Jadi hari ini kita ke sanggarnya Mbah Painem?” Nenek melirikkan mata ke atas, seperti sedang berpikir. “Besok saja ya, habis jualan. Habis ini kan nenek mau mengadoni bahan-bahan untuk jualan esok pagi.” Aku mengangguk. Tak sabar rasanya ingin segera belajar dan bertemu dengan kawan-kawan baru. *kendit : ikat pinggang dari kain panjang yang dililitkan di badan *kulakan : belanja kebutuhan dagang
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD