Perjalanan Pulang

1165 Words
Subuh berkumandang, kami bergegas memersiapkan diri untuk pulang ke kampung Nenek. Meski dengan perasaan yang begitu berat, aku berusaha ikhlas. Ada rasa yang mengganjal dalam d**a. Entah, ini apa? Apa aku terlalu takut pada kalimat terakhir Bu Ida semalam? Ah, seharusnya aku mendengar tutur Nenek, bahwa semua ini hanyalah masalah waktu. Semua akan membaik seiring keadaan. Sebelum matahari muncul, kami berdua berdiri di halaman rumah. Menatap hunian yang akan kami tinggalkan entah sampai kapan. Mataku berkaca-kaca kembali, mengingat segala hal sejak aku dilahirkan hingga kini. Nenek memeluk dan mengusap lenganku. Menatapku penuh dengan binar sayang. Ia selalu pandai menenangkan hatiku. Kubalas peluknya dengan membenamkan wajah pada rangkulan lengannya. Tiinn! Tiinn! Suara klakson mengagetkan kami, sebuah suara memanggil nama kami agar secepatnya bergerak mendekat. Tergopoh kami menyeret beberapa barang bawaan untuk diangkat naik ke atas kendaraan. Dua orang lelaki membantu dengan tergesa-gesa. Mungkin, mereka sedang dikejar waktu. Nenek sampai kewalahan mengikuti arahan yang terburu-buru. Bahkan, kami dinaikkan ke atas kendaraan dengan kasar. Aku hanya bisa diam tanpa bantah, sebab tahu kami penumpang gratisan. Nenek hanya memberi kode untuk tetap tenang. Tubuh kami bergetar-getar merasakan gesekan ban pada jalan yang tak mulus. Guncangan dan benturan berkali-kali kurasakan pada bak truk milik Pak Gandi, tetangga kami yang bekerja sebagai sopir pada perkebunan tebu. Ia berbaik hati menawarkan tumpangan gratis untuk kami berdua, beserta barang-barang tentunya. Hanya saja, kami disuruh naik di bak belakang. Sebab bagian depan sudah penuh diisi dua kawan kerjanya. Tak masalah bagi kami, sudah diberi secara cuma-cuma saja kami sudah bersyukur, tak perlu repot naik kendaraan umum dan harus berjubel dengan barang bawaan. Nenek duduk selonjoran di sampingku, berpegangan pada badan truk kuat-kuat. Maklum, Pak Gandi terkenal ugal-ugalan ketika menyopir. Baru saja memulai perjalanan, perutku kini terasa diaduk-aduk, mual sekali. Sekuatnya aku berusaha melawan rasa ingin muntah. Kepala seperti berputar-putar saat tubuh seakan ditarik ke kiri dan kanan, bergoyang tanpa henti. Keringat dingin mulai membasahi tangan dan dahi. Berulang kali kuteguk ludah sendiri. Nenek yang melihat gelagatku, memandangku lekat, ia mulai panik. “Kamu pucat sekali, kalau mau muntah jangan ditahan. Biarkan keluar agar perutmu lega. Sebentar kuambilkan plastik keresek.” Meski sedikit susah bergerak karena guncangan yang maha dahsyat, Nenek mengambil tas dan mengorek isinya, mencari plastik hitam untukku. Tiba-tiba saja truk berhenti mendadak. Tubuh nenek sampai terpental dan terbentur sekat truk. Seketika itu pula muntahan ke luar dari bibirku tanpa bisa kutahan lagi. Hanya sedikit cairan kuning pahit yang keluar, sebab hanya sarapan segelas teh hangat dan secuil singkong tadi. Nenek bergerak mendekat dengan merangkak, lantas mengambil minyak angin dan mengoleskan pada leher belakang serta pelipisku. Memijitnya lembut untuk mengurangi pening pada kepala. Melihat muntahan yang bercecer di sampingku, Nenek mengambil air pada botol minum kami dan menyiramnya. Beruntung tak banyak cairan yang keluar. Bisa-bisa kami disemprot Pak Gandi kalau tahu truknya kotor. Kudengar u*****n kasar dari balik kemudi. “As*! Datang dari mana itu wanita, tiba-tiba aja nyelonong depan jalan, pagi-pagi pula udah mau ngelenong pake baju lengkap.” Sepertinya Pak Gandi mendapat sebuah hambatan di depan. “Ati-ati lambemu! Makanya kalo nyopir pelan saja. Terkadang penampakan seperti itu adalah peringatan. Wes alon saja. Yang penting selamet!” tutur salah satu temannya. Karena penasaran, aku mengintip jalan depan truk melalui celah dinding truk. Aku mengernyit, meski keadaan masih gelap sebab terlalu pagi, aku bisa melihat seorang wanita berjalan gemulai dengan memakai pakaian lengkap penari ronggeng. Tak lupa selendang ia kibarkan dengan kedua tangannya. Aku semakin kaget saat melihat selendang itu mirip sekali dengan kepunyaan Ibu yang kuperebutkan dengan Bu Ida semalam. Siapa dia? Beberapa detik kemudian, truk kembali melaju. Kini dengan kecepatan biasa, tak seperti tadi. Bahkan terasa lebih lembut. Aku mulai sedikit tenang dan tak lagi berkeringat. Bersandar kembali dan berpeluk pada bahu Nenek. Hingga tak terasa kantuk mulai menyerang dan melelapkanku. *** “Bangun, Nduk. Kita sudah sampai.” Tepukan lembut pada pipi membangunkanku. Kuangkat kepala dari bahu Nenek dan mengucek mata yang terasa buram. Kucoba memperjelas pandangan dengan mengerjap-erjapkan mata. Sinar matahari terasa begitu terik dan menusuk kulit. Mungkin hari sudah mulai siang. Gedoran pada badan truk mengagetkan kami. “Bangun, Nek. Ayo turun! Aku sudah hampir telat ini.” Suara berat Pak Gandi dari bawah membuat kami bergegas berdiri dan menyeret barang bawaan. Uluran tangan seketika menjulur di ujung truk, menanti diraih. Kulihat tatap mata tajam pria teman Pak Gandi di bawah truk. Ada perasaan takut melirik seringainya, tetapi aku berusaha sok cuek. Kugelengkan kepala pelan menepis segala hal buruk dalam pikiran. Ah, aku terlalu belia untuk menarik lelaki agar tergoda. Itu mungkin hanya perasaanku saja. Kuulurkan tangan pada pria itu untuk menopangku turun. Ketika kuinjakkan kaki di bawah, aku mulai risih dengan pandangan aneh dari mata pria itu. Kutundukkan wajah dan bergegas pindah dari hadapannya. “Nek, cucunya umur berapa?” tanya lelaki itu. Nenek yang baru menapakkan kaki, masih mengatur napas. Terengah-engah ia menjawab, “Tujuh belas tahun,” jawab Nenek singkat. “Wah, padahal masih kuncup, tapi badannya bongsor dan menggiurkan. Gimana nanti kalo udah gede ya?” Sekali lagi ia melirikku sembari menggigit bibir bawahnya. Aku semakin menunduk dan segera meraih tangan Nenek untuk menjauh dari mereka. Beberapa barang mulai dipinggirkan Pak Gandi ke tepi jalan. Setelah mengucap pamit dan terima kasih, truk itu melaju kembali meninggalkan kami di pinggiran jalan. Kuembuskan napas lega saat melihat truk yang mulai menghilang dari balik pandang. Bersyukur kami bisa sampai dengan selamat. Meski jalan masih terlalu jauh menuju rumah, kami semringah. Nenek mulai celingukan ke kiri dan kanan. Kendaraan tak banyak yang berlalu-lalang. Kebanyakan hanya orang-orang berseliweran dengan tumpukan rumput serta ilalang. Ada pula kereta-kereta dorong dengan bawaan hasil kebun. Meski jaman sudah modern, desa kami masih terus mempertahankan segala macam lokalitas budaya. Tak heran jika suasana pedesaan begitu kental terasa. Tak banyak pula orang yang mengikuti perkembangan teknologi. Mungkin, hanya beberapa orang kaya serta berpendidikan tinggi saja. Aku mulai berjalan dengan menggendong tas di punggung dan mengimpit dua tas lainnya di sela lengan kanan dan kiri. Sedang Nenek hanya membawa satu tas besar. “Semoga ada becak yang lewat,” gumam beliau lirih yang bisa k****a dari gerakan bibirnya. Sebuah suara gemerincing terdengar mendekat dari belakang. Sampai pada sebelah Nenek, sumber suara yang ternyata becak itu memperlambat lajunya dan mengiringi langkah kami. “Mbah Ijah, mari saya antar!” Kami menghentikan langkah lalu menoleh berbarengan, menemukan sosok pemuda di balik kemudi becak. Aku tertegun, ia begitu sopan dan tampan khas pemuda desa. Kaos oblong polos sedikit kedodoran dengan setelan celana kain hitam semata kaki, terlihat cocok dengan perangainya yang polos. “Eh, Nak Putra. Apa nggak ngerepotin?” Ia menggeleng dan tersenyum. Kulihat ekor matanya sengaja curi pandang padaku. Namun, ia tetap sopan menjawab Nenek dengan gelagat halus. “Mari naik.” Nenek membalikkan badan padaku dan mengangguk sekali, kujawab dengan senyuman mengembang. Dengan hati-hati, kami mengatur badan dan barang bawaan di atas kursi becak. Setelah dirasa nyaman, aku menoleh ke belakang dan mengangguk pada pemuda yang kutahu bernama Putra. Ia mengangguk pelan dan mulai mengayuh pedal becak perlahan. *alon : pelan *lambemu : mulutmu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD