Seharian, kami sempat lupa dengan kesedihan masing-masing. Sebab terlalu sibuk dengan kegiatan membersihkan rumah. Beberapa barang yang dirasa cukup penting, kami masukan dalam kardus besar untuk dibawa ke rumah nenek nantinya.
Kami sampai lupa waktu, beberapa tetangga mulai pamit satu per satu. Tetapi, Nenek tak menyerah, ia tetap semangat tanpa terlihat lelah. Sepertinya ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Hingga tengah malam, ketika semua telah rapi. Kami tertidur begitu saja karena terlalu capek. Bahkan kami lupa untuk mengunci pintu depan rumah.
Mata yang sembab akibat seharian menangis, membuat kami lelap sekali. Perut kosong pun tak membuat kami terjaga dan bangun. Hingga sebuah suara mulai mengusik saat istirahat kami.
Kelopak mata terasa lengket untuk sekadar membuka, ditambah rasa pusing akibat kebanyakan menangis, membuat tubuh begitu malas untuk beranjak memeriksa. Aku mendengus, mencolek tubuh Nenek yang terlelap di samping. Beberapa kali kucoba mengoyak tubuhnya, tapi sepertinya ia juga enggan untuk bangun. Hanya erangan pelan yang kudengar dari mulutnya. Entah, itu sebuah jawaban atau justru mengigau.
Suara gemeresak semakin intens terdengar. Meski dengan sedikit memaksa, kucoba untuk duduk. Dahi terasa begitu berat, seperti tengah menahan sesuatu. Aku mengernyit, memijit pelipis untuk menghilangkan pening yang mendera. Perlahan, kubuka kelopak mata yang masih begitu lekat. Pandangan terasa sedikit buram, kuusap ujung mata dalam untuk memperjelas penglihatan. Mulai mengedarkan pengamatan.
Kali ini suara terdengar semakin kasar, seperti tengah tergopoh. Kuseret tubuh turun dari kasur dengan perlahan, takut membangunkan nenek yang masih begitu pulas. Aku mulai curiga, menolehkan kepala pada pintu yang sedikit terbuka. Kulangkahkan kaki dengan setengah berjinjit, mencoba menyamarkan suara. Berharap sesuatu atau seseorang yang tengah berada dalam rumah tak mengetahui gelagatku.
Kudorong perlahan pintu dengan mengintip. Hanya gelap yang bisa kulihat, sebab lampu seluruh penjuru rumah telah dimatikan Nenek, kecuali kamar dan lampu depan. Kupicingkan mata untuk memperjelas pandangan.
Glodak!
Aku berjingkat dan membungkam mulut, berharap meredam segala suara. Meski pekik tetap saja muncul tanpa sengaja. Suara benda jatuh itu sepertinya berasal dari kamar Ibu. Kuembuskan napas sebentar untuk memersiapkan diri, lalu berjalan pelan menuju sumber suara. Kulihat pintu kamar Ibu sedikit menganga, lampunya memang redup, sebab Ibu selalu susah jika tidur dengan cahaya yang terlalu terang. Dadaku mulai kembang kempis, antara takut untuk masuk, tapi penasaran dengan apa yang ada di sana. Maling kah?
Kutolehkan kepala ke sekitar, berharap menemukan sesuatu untuk menjadi senjata dan menjaga diri. Dengan gerakan meraba-raba sebab gelapnya keadaan, akhirnya kutemukan sebuah sapu yang bersandar pada tembok. Kupegang gagangnya dan mengayunnya di atas bahu, napas kini terasa memburu, berjalan mendekat pada pintu dengan posisi siap pukul.
Mata memejam sebentar dan mengucap beberapa doa. Brak! Dengan sekali tendangan pintu terbuka sempurna. Hampir saja kuayunkan sapu pada sosok yang tengah kaget, berdiri melongo di depan lemari milik Ibu.
“Bu Ida? Apa yang sampean lakukan di sini?” Kuturunkan sapu yang sejak tadi terpikul di bahu, membuangnya ke lantai. Lantas menatap wajah Bu Ida yang kebingungan mengalihkan pandang.
Dalam genggamannya, kulihat kotak kayu yang berisi selendang ia peluk begitu erat. Apa maksudnya? Jadi, ia ingin mencuri? Kenapa harus selendang itu? Selendang yang bahkan baru kuketahui keberadaannya sore tadi. Ia semakin celingukan, lantas berusaha ke luar dari kamar. Kuhalangi jalannya dengan merentangkan tangan pada pintu. Ia terlihat geram, berusaha menerobos pertahananku.
Kutarik kotak pada tangannya, kami saling kukuh berebut. Bahkan, ia tak sungkan mendorong tubuh kecilku. Aku terjatuh, bersimpuh dan berteriak, “Kembalikaann! Itu punya Ibuku!”
Ia mulai melangkahi tubuhku yang terduduk depan pintu, kucekal kakinya. Menarik dan memeluk betisnya kuat-kuat. Ia mengentak-entakkan kaki dalam rangkulanku. “Lepaskan, bocah tengil!”
Ia hampir saja memukul kepalaku dengan kotak itu.
Saat tangannya mengayun, aku memejam, bersiap menerima dentuman. Namun, hingga beberapa detik tak kurasakan apa pun. Kubuka mata cepat, terlihat Nenek sedang berusaha mencegah tangan itu. Kini Bu Ida terkunci. Kakinya masih kuat kupeluk erat, sedang tangannya dikunci Nenek. Kotak itu pun terjatuh, secepatnya kusambar dan bergerak menjauh dari Bu Ida. Kupeluk erat kotak selendang sambil berdiri di pojok tembok, napas mulai tersengal menahan ketakutan.
Ia dan Nenek masih bergumul saling pegang. Sialnya kekuatan renta Nenek tak mampu menahannya lebih lama lagi. Dorongan yang begitu kuat, merobohkan tubuh Nenek. Suara Nenek memekik tertahan, bahkan kudengar gemeletak tulangnya yang beradu dengan lantai, aku bergidik, “Nenek ...!”
Merasa menang, Bu Ida menoleh dan menyungging padaku. Mulutku menganga menahan sesak pada d**a. Mata mulai melirik ke sekitar, mencoba mencari celah dan ancang-ancang untuk berlari. Bu Ida mulai merentangkan tangan gempalnya. Menyeringai jahat dan berjalan perlahan.
“Berikan padaku anak manis, itu selendang yang harusnya menjadi milikku.” Seringai di bibirnya membuatku semakin susah bernapas. Hanya bisa sekuat mungkin memeluk kotak kayu dalam genggaman.
“Ida! Kamu masih saja seperti dulu, tak pernah berubah. Kukira kamu sudah melupakan semuanya, ternyata sama saja!” Teriakan Nenek membuatnya menoleh ke belakang.
“Lupa? Tidak semudah itu Bi Ijah. Martini sudah merebut impianku, membuatku terpuruk hingga kukubur semua cita-cita indahku.” Ia mulai mendekat pada Nenek, berjongkok dan menatap wajah Nenek yang masih bersimpuh pada lantai.
Aku benar-benar tak tahu apa yang dibicarakan keduanya. Tak ingin melepaskan kesempatan, aku berjalan perlahan melewati Bu Ida dan Nenek. Sampai pada titik yang kurasa lebih luas, aku berlari secepatnya ke luar rumah.
“Narsih ...!” Suara Bu Ida menggelegar dalam rumah. Aku tak peduli dan terus kencang berlari. Hingga di depan pintu rumah aku jatuh terjengkang, menabrak tubuh seseorang. Kepalaku terbentur tembok, ngilu sekali. Kupegang dahi yang terasa berdenyut-denyut, mendongakkan wajah untuk melihat siapa sosok yang telah menghalangi jalan. Rupanya Pak Wito, suami dari Bu Ida.
“Pak, ambil kotak itu. Itu milikku!” Teriak Bu Ida pada lelaki yang berdiri di hadapanku. Mendengar perintah dari sang istri, ia lantas merebut paksa kotak dariku.
“Pak, jangan! Itu punya Ibuku, warisan satu-satunya.” Kukatupkan tangan untuk memohon, berharap ia berbelas hati mengembalikan.
Wajahnya mengernyit, membuka benda di tangannya lantas menarik isinya. Selendang seketika menjulur panjang. Anehnya, Pak Wito berjingkat dan membuang kasar. Seolah ketakutan.
Bu Ida melangkahkan kaki cepat pada kami, wajahnya semakin geram. Saat ia hampir menyentuh selendang kuning di lantai, Pak Wito menepis tangan istrinya kasar. Bu Ida menoleh pada suaminya kesal.
“Apa Maksudmu, Pak?”
“Itu bukan milik Ibu, aku melihat wajah seseorang dalam kotak itu saat kubuka tadi. Dan ia bilang ‘Jangan’,” tuturnya menggelengkan kepala.
“Enggak, ini milikku!” Tangan Bu Ida hampir meraih kembali selendang yang menjuntai di hadapanku. Namun, sigap Pak Wito merangkul tubuh gempal istrinya dan menyeretnya paksa ke luar rumah.
“Pak, jangan begini. Aku hampir meraih impianku kembali!” Ia terus meronta dan berteriak, tak digubris sedikit pun oleh suaminya. Aku hanya bisa memandang mereka sambil mengusap jidat yang terasa semakin cenat-cenut.
“Ingat, Narsih. Kamu tak akan pernah bahagia memiliki selendang itu! Hidupmu bakal penuh dengan masalah. Camkan itu!” Kalimat terakhir dari Bu Ida sebelum akhirnya mereka hilang di balik pandang, membuatku bertanya-tanya. Apa maksud beliau?
Sentuhan di bahu menolehkanku. Nenek mengusapnya lembut.
“Tak usah didengarkan perkataan Ida tadi, ia hanya iri sejak dulu dengan ibumu. Sebab ia yang menginginkan selendang itu, tapi Mbah Sriyani malah memberikannya pada Martini. Segala cara memang sempat ia tempuh untuk mengambilnya. Hingga akhirnya ia berhenti ketika tahu Martini tak pernah mewujudkan cita-citanya menjadi ronggeng. Aku pikir ia sudah bisa menerima, ternyata aku salah. Ia masih saja menyimpan dendam hingga kini.” Aku mengangguk mengerti. Mencoba memahami.
“Padahal selama ini ia begitu baik pada kami, kukira memang ikhlas. Ternyata ada maunya.” Kami tersenyum. Nenek memandang dahiku yang mulai benjol, mungkin kini warnanya sudah mulai kebiruan.
“Ayo kita ke kamar, akan kuoleskan minyak gosok untuk dahimu.” Kami berdiri, tak lupa mengunci pintu depan, agar tak terjadi hal-hal yang merisaukan lagi.