Sosok Mbah Diman

1028 Words
Suara azan Ashar menggema dari surau kampung. Rupanya sudah hampir dua jam kami latihan. Badanku mulai terasa pegal, peluh bercucuran tanpa henti. Rasanya hampir kehabisan oksigen, napas tersengal kembang kempis. Anehnya, aku tak menyerah. Malah semakin tertantang untuk terus belajar. “Gerakanmu sudah lumayan mumpuni. Tinggal diasah lagi agar lebih teratur. Emosimu juga belum stabil, perlu latihan untuk mengendalikannya.” Sebuah kalimat penilaian dari Mbah Painem untuk tampilanku pada ujian awal tadi. Aku semringah, tepuk tangan dari kawan-kawan menambah bara dalam diri untuk lebih semangat belajar. Terlebih, senyum Putra di pojok pendopo membuatku tersipu. Meski tetap saja tak ada ekspresi baik dari Mina. Aku tak peduli. Kini, aku ditangani sendiri oleh sang dukun ronggeng. Ia menyuruhku mengulang tiap gerakan yang diajarkan Mina dan kawan-kawan tadi. Ada beberapa gerakan yang terlupa dan harus mengulangnya berkali-kali. Namun, aku tak menyerah. Untuk latihan pemula, aku belum diperkenankan menggunakan selendang. Padahal, aku merasa ada yang kurang ketika mengayun lengan tanpa properti yang sesungguhnya. Hanya gerakan-gerakan seolah memakainya saja. “Saya ambil selendang dulu, Mbah. Biar lebih pas.” Seketika ia mencengkeram lenganku erat saat aku hampir membalik badan. Kutatap mata tajamnya yang terasa menusuk, Ia menggeleng dengan gerakan pelan. Tak memberiku izin. Kembali aku menghadapnya dan mengangguk. Ia melepaskan genggamannya saat aku sudah tertunduk di depannya. Kulirik lenganku yang kini memerah. Sedikit keras memang, tapi tak ada keberanian untuk menyinggungnya. Kupilih untuk diam. Kuusap-usap sedikit untuk meredakan sakit. Aku semakin penasaran kenapa ia begitu kukuh tak mengizinkan. Hampir saja kubuka mulut untuk bertanya kenapa ia tak memperbolehkan, segera ia menyahut, “Jangan pernah tanyakan apa yang kuperintahkan. Sebab selendang yang kamu punya berbeda dari yang lain.” Ucapnya tegas dengan ekspresi serius. Masih dengan berdiri menunduk, kulirik wajahnya yang sedikit geram. Tak ada lagi hal yang ingin kutanyakan. Hanya pasrah dan manut. “Nanti, akan ada waktu saat kuminta kau kenakan selendang itu. Tapi tidak saat ini!” Kuteguk ludah berat sembari mengangguk takzim. Mungkin, ini semua karena selendang itu milik ibunya. Seseorang yang begitu disanjungnya. Atau mungkin ada hal lain yang tak kuketahui dan belum boleh mengetahuinya? Ah, kan kutemukan jawabnya suatu hari nanti. Kembali kami latihan dengan lebih menggunakan angan. Ia memberiku sugesti seolah dalam tanganku tersemat selendang yang menjulur panjang. Setengah jam dari gema azan yang lalu, Mbah Painem mengakhiri latihan dan menyuruh kami untuk pulang. Karena kebanyakan minum di tiap sela waktu istirahat, desakan di kandung kemih tiba-tiba mendesak tak tertahan. Dengan gerakan mengimpit paha, kutarik lengan Sekar yang hampir berjalan meninggalkanku pulang bersama Mina. Memintanya untuk menunjukkan di mana letak toilet. Meski lagi-lagi harus berhadapan dengan wajah ketus Mina, hajatku lebih penting daripada berdebat. Terburu-buru kudorong Sekar berjalan cepat, sebab rasanya air tubuh ini sudah berada di ujung tanduk. “Iya, sabar dong!” Gadis berkucir kelabang itu mendahuluiku dengan langkah cepat. Menyusuri samping rumah utama Mbah Painem. Aku semakin mengernyit menahan desakan. Langsung saja aku berlari masuk saat jari telunjuk Sekar menuding sebuah pintu kayu. “Eh, Narsih!” Tak kupedulikan tegurannya. Kutarik engsel pintu keras lalu mendorongnya. Kepalaku celingukan saat menemukan ruangan sedikit pengap. Tak ada toilet sejauh mata memandang. Hanya ruang luas remang-remang dengan sedikit cahaya. Tak ada banyak perabotan seperti rumah-rumah pada umumnya, hanya beberapa meja kursi dan hiasan dinding dari barang-barang antik dan kuno menghiasi. Seram sekali kesannya. “Siapa?” Sebuah panggilan berat dan serak kudengar dari sebelah kanan ruangan. Jantungku hampir copot mendapati tegurnya. Seketika badanku gemetar tak karuan, semakin mengimpit paha untuk menahannya. Kini tanganku berada di tengah celana. Hampir saja aku kencing di celana, kalau Sekar tak meraih lenganku untuk ke luar. Sedikit kaget, tapi aku tak menolak ditarik. Membiarkannya membawaku keluar dari ruangan aneh ini. Dalam pandangan yang minim dan langkah yang ditarik paksa, aku sempat menoleh sebentar dan memfokuskan tatap pada sosok di pojok ruang, yang tengah rebahan di atas kasur. Sosok itu masih terbaring tak melepas pandang padaku. Badannya terlihat mengenaskan, kurus kering tinggal tulang, begitu mengerikan. Aku bergidik sendiri. Apa dia manusia sepertiku, atau malah sosok penghuni kamar ini? “Sriyani, kaukah itu?” Kata terakhir yang kudengar dari sosok itu sebelum Sekar menutup pintu kembali. “Bukan yang ini pintunya, yang ono tuh!” Tuding Sekar pada pintu di ruangan sebelahnya. Cepat kulempar tas pada Sekar lalu masuk dan menuntaskan hajat tanpa menunggu lagi. Huft ... lega rasanya. Aku melangkah keluar dengan mengibas-ibaskan kedua lengan dari air yang menempel. Lalu mengusapnya pada celana trainingku. Sebab jarik yang tadi kukenakan sudah kulipat dalam tas, yang sudah kutitipkan pada Sekar. Kudekati sosok Sekar yang menanti duduk di kursi panjang bawah pohon belimbing. “Udah?” godanya. Aku meringis. Disodorkannya tote bag hitam milikku. Ia berdiri dan mulai melangkah, kujajari langkahnya dan berjalan pelan untuk pulang. Kubuka obrolan dengan bertanya perihal sosok di ruang tadi. “Mm ... siapa orang yang tiduran di ruang itu, Sekar?” tanyaku penasaran. “Oh, beliau Mbah Diman, Ayahnya Mbah Painem. Jadi kamu sempat melihatnya? Ia sudah begitu sepuh dan sakit-sakitan.” Mulutku membulat mendengar jawabnya sembari mengelus d**a halus. Syukurlah kalau dia manusia. “Iya, aku tahu. Nenek pernah menceritakannya padaku. Tapi ....” Tak kuteruskan kalimatku, yang akhirnya menggerakkan bola mata Sekar untuk menatapku tajam. “Tapi apa?” cerocosnya. “Tadi beliau memanggilku dengan nama Sriyani.” Mata gadis jangkung itu membulat penuh heran. “Padahal, ia hampir tak pernah berbicara dengan orang selain Mbah Painem dan Putra. Meski aku sering disuruh mengantarkan makanan padanya, paling sering ia hanya mengangguk, tersenyum dan menggeleng. Tak pernah aku mendengar suaranya.” Alisku bertaut tak mengerti. “Dulu malah kukira ia bisu. Ternyata baru tahu saat ada Putra, ia mengajaknya ngobrol. Kamu beruntung bisa tahu suaranya.” “Tapi kenapa ia memanggilku Sriyani? Itu kan nama istrinya?” Sekar mengendikan bahu. “Mungkin, kamu mengingatkannya pada sosok beliau.” Aku hanya mengangguk menimpalinya. Kami berjalan sambil saling menceritakan tentang diri masing-masing. Hingga tak terasa sampailah sudah di depan halaman rumah Nenek. Ketika Sekar melambaikan tangan untuk berpamit. Seseorang melintas dengan mengendarai motor matic. Ia memperlambat laju motornya dan memandang ke sekelilingku lalu tersenyum menyungging dengan mimik yang entah ... bagiku terlalu aneh. Dia adalah Pak Lurah Suwarno. Raut wajahnya seakan menggambarkan kepuasan telah menemukanku di sini. Di rumah Nek Ijah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD