Si Arogan

1018 Words
Kehidupanku mulai berjalan normal. Bersekolah, mempunyai teman, bersosialisasi dengan tetangga, juga memiliki Nenek sebagai pengganti orang tua yang begitu menyayangi. Rutinitas harian membantu pekerjaan Nenek, sudah menjadi jadwal tetap seperti waktu bersama ayah dan ibu dulu. Aku memang terlatih hidup dengan keadaan sedemikian rupa. Jadi, tak kaget lagi meski hidup dalam keadaan sulit sekalipun. Sebelum subuh, seperti biasa aku sudah terbangun untuk menyiapkan segala dagangan Nenek. Setelah semua sudah siap di teras rumah, barulah kupersiapkan diri untuk pergi sekolah. Pelanggan terlihat memenuhi halaman rumah saat aku telah siap dengan setelan seragam abu putih. Kulirik jam dinding di dalam rumah, menunjukkan pukul 05.45. Melihat Nenek yang kewalahan menghadapi para pembeli, tak tega rasanya jika membiarkannya repot sendiri. Kubantu ia melayani beberapa pembeli yang terlihat tak sabaran. Sebagian memang ada yang berpakaian lengkap karyawan pabrik, ada juga kuli bangunan. Mungkin, mereka mengejar waktu. Di saat riuh ramai suara pembeli yang saling menyebut jajanan yang diinginkan. Suara seseorang tetiba membelah kerumunan, hening seketika. “Saya mau borong semua dagangannya.” Aku seperti pernah mendengar suara itu sebelumnya. Suara besar dan berat dengan nada wibawa. Kutengadahkan wajah yang sedari tadi sibuk menunduk membungkus kue-kue pesanan. Kedua mata ini membulat sempurna, mendapati sosok berseragam cokelat, berdiri di belakang kerumunan. Orang-orang sigap membalik badan, membentuk barisan untuk memberi jalan. Tak ada yang berani membantah, beberapa bahkan mendengus kecewa lantas pergi begitu saja, saat tahu Pak Lurah berucap demikian. Ada anak kecil yang merengek pada ibunya, menarik-narik ujung baju sang ibu, menyebutkan nama kue yang diinginkan. Si ibu berusaha ngomong baik-baik padanya. “Kuenya sudah habis semua. Kita pulang saja.” Si anak semakin melengkingkan suara jeritan, mengucapkan jajan itu berulang kali. Tarik-menarik ibu dan anak itu, kini menjadi tontonan orang-orang. Karena kasihan, kupanggil bocah balita tersebut. “Dek, dek, ini kuenya masih ada. Sini!” Kulambaikan jemari untuk memanggilnya mendekat, ia semringah lalu hampir melangkah, tetapi sang ibu langsung menyahut tubuh si kecil, menggendongnya paksa. Bocah itu memberontak, mengentakkan tubuh dalam rangkulan ibunya. Semua orang kini tengah menatapku tak percaya. Memangnya aku salah apa? Teguran Nenek juga seperti tengah menyalahkanku. “Narsih, kamu nggak dengar? Pak Lurah mau memborong semua dagangan kita!” Aku celingukan, ternganga tak percaya pada mereka semua. Apa hebatnya sosok Pak Lurah, hingga membuat semua warganya takluk seperti ini? Kuarahkan ekor mataku geram pada sosok yang ditakuti warga tersebut, ia menyungging. Melangkahkan kaki mendekat pada meja depanku. “Baiklah, hari ini kalian boleh mengambil apa yang kalian mau. Aku yang akan bayar.” Tubuh besar dengan perut sedikit buncit itu kini berdiri tepat di hadapanku, mengeluarkan dompet dari dalam tasnya, lantas mengambil lembaran rupiah dan menepuknya keras di atas meja. Arogan sekali, pikirku. Menggunakan jabatan demi kekuasaan. “Simpan kembaliannya.” Sorot matanya tajam menatapku, kubalas dengan mimik geram untuk menunjukkan ketidaksukaan. “Ayo, silakan. Tak usah malu. Semuanya gratis!” Perintahnya pada warga yang sedari tadi diam mematung. Ia menggeser tubuhnya ke samping meja untuk memberi ruang. Gegas, semua orang berkerumun kembali di depan meja, berdesakan mengambil apa pun yang diinginkan. Tak terkecuali si ibu dan balita tadi. Ada sedikit perasaan lega melihat bocah itu tak lagi menangis. Dalam sekejap, isi meja ludes tak bersisa. Satu per satu warga beranjak meninggalkan. Menyisakan Pak Lurah yang tengah duduk di amben kayu Nenek. Satu kakinya diangkat ke atas amben, kaki lainnya masih menjejak lantai. Wajah sombong itu terlihat mengunyah kue dalam genggaman. Asyik mencecap tanpa henti. Kulirik lagi jam di dinding ruang tamu. Pukul 06.10. Tergopoh aku mengambil tas dan buru-buru pamit pada Nenek. Ia sampai kebingungan melihatku gelagapan. Hanya anggukan dan uluran tangan cepat untuk kucium yang ia berikan. Tanpa berkata apa pun. Aku melangkah dengan terbirit, mencoba mengejar waktu agar tak terlambat. Sebuah suara motor terdengar semakin mendekat, menyusul langkah kaki ini. Hanya dengan lirikan sekilas tanpa menoleh, sudah tertebak siapa dia. Bukankah tadi ia masih sibuk dengan kuenya di teras Nenek, kenapa ia terus menggangguku? “Ayo naik. Kuantar agar tak terlambat.” Hanya seringai malas yang kuberikan, tanpa mengindahkan ajakannya. “Hei, tak usah malu. Tak akan ada yang berani menyinggungmu.” Kuputar bola mata ke atas, semakin malas. Tak kupedulikan dan kukuh berjalan cepat. “Aku suka gadis pemberani sepertimu. Membuatku tertantang.” Suara itu terdengar menjijikkan bagiku, kuhentikan langkah seketika. Sigap ia mengerem motornya mendadak, mengiringi gerakanku. Kuputar kepala ke samping, menatap wajah si sombong yang kini semringah. Mungkin, ia pikir aku mau menerima ajakannya. “Aku tak suka lelaki sepertimu, membuatku muak.” Senyumannya kini berubah gemeretak gigi yang beradu. Jadi, seperti ini wajahnya ketika marah. Lucu sekali. Tetiba ia terbahak, menarik lenganku cepat dan hampir menyeretku dalam rangkulannya jika saja aku tak sigap menahan tubuh. “Coba saja kalau berani membantahku!” ancamnya menyeringai. Kutepis lengan besarnya lantas berbalik cepat. Beruntung sekali, ketika itu pula, kulihat Putra sedang mengayun becaknya tak jauh dari tempat kami berdiri. “Putra!” Ia menoleh dan menghentikan laju becaknya saat mendengar teriakanku. Tanpa meminta, langsung saja kuhampiri dan naik di atas becaknya begitu saja. Ia pun demikian, tanpa diperintah dan menolak, segera mengayun kembali pedalnya meninggalkan Pak Lurah yang terdiam memandang kami di ujung sana. Tak hentinya ia memandang kami dengan tatapan geram. Kusunggingkan senyum terakhir untuk mengejeknya. Aku mendengus. *** “Terima kasih, ya. Maaf tadi terburu-buru,” ucapku sedikit menunduk pada Putra saat sudah turun dari tumpangan becaknya. “Iya, nggak papa. Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi.” Alisku terangkat naik, ternyata diam-diam ia memperhatikan. Aku tersipu. “Baiklah, aku pamit mau ke pasar.” Dengan sopan ia beranjak pergi. Semakin kukagumi sifatnya yang penuh adab. Tak seperti Pak Lurah tadi. Benar-benar lelaki impian. Mataku tak bosan memandangnya menjauh, hingga berjingkat sadar saat mendengar bel sekolah berdenting keras. Gegas aku masuk melalui gerbang yang hampir tertutup. Karena terlalu terburu, tak kulihat ada sosok di dalam gerbang. Kami pun bertabrakan keras, aku terjatuh. Tetapi, ia masih berdiri tegak. Kujelajahi sosoknya dari bawah ke atas. “Mina!” pekikku. Ia melipat kedua tangannya di d**a. Memandangku sinis. “Jangan coba-coba berani merebut Putra dariku, gadis baru!” Tendangan pada kakiku adalah peringatan darinya. Aku memekik tertahan. Lantas, ia membalikkan badan dan pergi meninggalkanku begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD