Bimbang

1097 Words
Aku mengernyit, menahan sakit pada telapak tangan yang tergesek tanah, juga menahan sakit dalam d**a sebab perbuatan Mina. Tak kusangka ia sebegitu kasar. Suasana sudah sepi. Jam besar di dinding atas kantor menunjukkan detik waktu dimulainya pelajaran. Pantas saja, pikirku. Tertatih aku berdiri, meringis sendiri melihat telapak kanan yang kini memerah. Ada sedikit luka dan kerikil kecil yang menancap. Darah mulai merembes dari sela luka. Kulangkahkan kaki menuju kelas, tetapi rasa perih yang semakin menusuk, membelokkan ayunan kaki ini menuju UKS. Seorang guru hampir bertabrakan denganku saat akan memasuki pintu. “Ma, maaf, Bu.” Kutundukkan badan di depannya. Ia hanya bergeming. Tetiba menarik lenganku yang penuh luka. Menariknya ke dalam ruang UKS. Penuh hati-hati ia merawat luka ini. Dimulai dari membersihkannya dengan alkohol, mencuil kerikil yang terselip. Diakhiri dengan memberi obat luka dan membalutnya dengan perban. Beberapa teriakan kecil keluar dari bibir ini, ketika merasakan perih dan ngeri. “Apa yang terjadi?” tanyanya di sela kesibukannya merawat tanganku. “Hanya jatuh, Bu. Terpeleset.” Bohongku. “Lain kali hati-hati.” Anggukan pelan adalah jawabanku. “Aku tak pernah melihatmu sebelumnya, apa kamu murid baru?” Hanya lengkungan senyum yang kutampilkan menatap wajah ayunya yang begitu sabar merawat luka ini. Guntingan terakhir pada perban memberinya napas lega. “Sudah, silakan kembali ke kelas.” “Terima kasih, Bu ....” Kulirik sebentar name tag di sebelah kanan d**a atasnya, “Bu Winarti.” Kueja tulisan yang tampak di sana. Ia melengkungkan senyum simpul. Segera aku berpamit dan bergegas memasuki kelas. *** Kedatanganku menolehkan tiap kepala untuk melirik. “Permisi, Pak. Maaf terlambat, tadi habis jatuh di depan.” Guru itu melirikkan ekor matanya pada tangan yang sedang kutopang. Lalu mengangguk sekali memberi izin. Kulewati bangku-bangku depan dan menjatuhkan tubuh pada kursi pojok tempatku biasa duduk. Seketika Sekar membalikkan badan ke belakang. “Kamu kenapa?” Lirikan Mina di sisi kiri membuatku bungkam, hanya gelengan kepala yang kuberikan pada Sekar. Ia terlihat cemberut dan kembali menghadap depan. Hingga pulang sekolah, Sekar masih saja mengintimidasi. Menghujaniku dengan pertanyaan yang sama. Namun, aku begitu malas untuk membahasnya. Apalagi kini ada Mina yang berjalan beriringan dengan kami. “Sekar, sudah kubilang aku jatuh. Kenapa kamu masih nggak percaya, sih?” Kini mukaku mungkin terlihat mengesalkan. Maafkan aku Sekar, aku hanya tak mau memperpanjang masalah. Biarlah antara aku dan Mina saja, tanpa perlu kamu tahu. Merasa menang karena membuat Sekar kecewa, Mina mendekat dan mengajaknya bercanda. Wajah Sekar kini terlihat sedikit ceria, meski aku tahu ia memaksa. Lihat saja senyumnya yang begitu masam. Aku memilih diam, membiarkan mereka larut dalam tawa. “Aku duluan ya!” Putusku seketika. Tanpa menoleh, kulangkahkan kaki cepat meninggalkan mereka untuk pulang. “Sampai ketemu di sanggar, Nar!” teriak Sekar. Aku mendengus lega, ternyata Sekar masih perhatian padaku. *** Di rumah, kembali aku dihadapkan dengan pertanyaan yang sama seperti Sekar. Nenek yang sedang di ruang tengah melipat baju, seketika panik mendapati tanganku berbalut perban. Ia terus saja cemas saat tak kutimpali segala tanyanya. “Sudahlah, Nek. Tak perlu khawatir, Narsih tak apa-apa,” tuturku menenangkan sembari sibuk melepaskan tas dan seragam dalam kamar. “Nenek tak mau kalau sampai ada orang yang menyakitimu.” Kudekati dirinya, menarik kedua tangan dan memandang matanya dalam-dalam. Ia masih saja melirik telapakku. “Narsih bisa jaga diri, kog. Ini hanya kecelakaan kecil saja.” Ia mengangguk pasrah, melepas genggamanku dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya. “Tinggal kamu harta Nenek satu-satunya.” Kubalas kasihnya dengan memeluk tubuh rentanya erat. Hingga sebuah suara membuyarkan keharuan ini. “Assalamualaikum ....” Kami saling pandang sebentar, lalu bergegas menimpali. “Waalaikum salam ....” Aku berdiri terlebih dulu, bergegas keluar rumah mencari tahu siapa pemilik suara. “Bu Winarti?” Aku tertegun memandangnya. Dari belakang, Nenek turut keluar. “Eh, Bu Lurah. Ada apa ya?” tanya Nenek yang membuatku mengernyit. Bu Lurah? Jadi, Bu Winarti ini adalah istri dari si arogan Pak Lurah? Seketika ada perasaan tak enak, saat mengingat kejadian dengan suaminya tadi pagi. Semoga saja ia tak pernah tahu bagaimana kelakuan b***t suaminya itu. “Saya mau pesan beberapa kue untuk acara rapat besok sore, bisa?” Nenek mengangguk cepat. “Bisa, Bu. Pasti bisa. Menunya bagaimana?” “Seperti biasa.” Kembali Nenek mengangguk dengan penuh rasa sungkan. Kini Bu Winarti mengalihkan pandang padaku, “Kamu gadis yang jatuh di sekolah tadi ‘kan?” Kulemparkan senyum simpul. “Ini Narsih, cucu saya, Bu,” sahut Nenek padanya. Bibirnya membulat, pertanda mengerti. “Baiklah. Saya pamit, Mbah, Narsih. Mari ....” Begitu sopan dan anggun perangainya. Sungguh berbalikan dengan lelakinya. *** Sengaja aku berangkat duluan ke sanggar untuk menghindari bertemu dengan Sekar dan Mina di jalan. Aku terlalu bingung untuk bersikap apa. Namun, kedatanganku yang terlalu awal malah mencipta hal baru yang semakin runyam. Putra mendekat padaku saat tahu aku sendirian, dengan wajah gusar sebisa mungkin aku menghindar. Berbagai pertanyaannya bahkan tak kujawab dan berpura-pura sibuk melatih gerakan. Anehnya ia kukuh mengajakku berbincang. Berkali kulirik gerbang depan, memastikan Mina belum datang. Aku tak mau ia kembali salah sangka terhadapku. Cukuplah sebatas rasa kagum pada Putra yang mesti kuterima tanpa pernah berangan lebih. Sebab bagiku, persahabatan lebih suci dari sebuah cinta. Aku terkejut melihat dua sosok menyembul dari balik gerbang. Apa yang harus kulakukan untuk menghindar dari Putra? Ia masih setia bercakap tentang beberapa hal yang tak kutahu kemana arah pembicaraan ini. “Ma-maaf, aku sedikit kebingungan menghafal gerakan sambil mendengar ceritamu. Bisakah kamu pergi sebentar?” Wajah Putra terlihat shock tak percaya dengan apa yang kulontarkan. “Ada apa denganmu?” Tatapan mata cokelatnya benar-benar membingungkanku. Ada rasa sesal telah berucap demikian. Di sisi lain, ada hati yang harus kujaga dari kesalahpahaman. “Kukira kamu berbeda,” ejek Putra. d**a ini seketika berdesir mendengar kalimat itu. Sebuah usapan halus pada bahu dari belakang mengagetkanku. Kutolehkan wajah ke samping melihat sosoknya. Ia melirikkan mata tajam saat menjajariku. Kini usapan di bahu berubah menjadi cengkeraman kasar. Sedapat mungkin kutahan tusukan jemarinya pada kulit ini. “Wah, wah, ada yang mencuri start sepertinya,” sindir Mina. Kini aku hanya bisa tertunduk resah. Membiarkan ia menghujat semaunya. Sahutan Putra membuatku kaget. “Tak ada yang mencuri atau pun dicuri, jika kamu mengerti.” Kutengadahkan wajah memandang Putra. Apa maksudnya? Begitu ambigu. “Apa yang kamu bicarakan, Put? Aku hanya berbicara pada gadis baru ini. Ternyata ia lebih rajin dari yang kusangka. Mendahului kami para senior untuk datang ke sanggar.” “Seperti yang sudah kuucapkan. Tak ada pencuri di sanggar ini, semua hanya soal waktu.” Pemuda kekar itu melengos begitu saja setelah berucap demikian. Membuat Mina bersungut-sungut menatap punggungnya yang berlalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD