Berkunjung ke Dukun

1059 Words
Aku benar-benar telah berubah sejak malam itu. Semakin menjadi bahasan setiap orang di mana pun berada. Bahkan, aku tidak ingat dari mana aku berasal. Sebab kelakuanku yang semakin meresahkan. Mbah Painem memanggilku ke sanggar. Aku datang ke sana dengan penuh jemawa. Kupikir Mbah Painem akan berterima kasih padaku, karena beberapa malam terakhir menghasilkan lebih banyak uang. Ternyata aku salah. Suasana sanggar tampak sepi padahal baru sore hari. Tak seperti biasanya yang masih ramai anak-anak latihan bahkan sampai senja. Kutelusuri pendopo satu dan dua, tetap tak ada siapa-siapa, ke mana semua orang? Kutatap rumah Mbah Painem yang juga terlihat sepi. Saat kaki ini akan melangkah menuju tangga, seseorang memanggilku dari samping rumah. “Narsih ....” Kulihat Putra yang menatapku dengan sinis di ujung tembok. Ia menaikkan dagu, tanda mengajakku untuk mengikutinya. Ia berjalan ke samping rumah, menuju kamar Mbah Diman. Kuikuti langkahnya memasuki kamar pengap itu. Saat sampai di dalam, terlihat Mbah Painem duduk di kursi depan ranjang Mbah Diman sesenggukan. Keadaan Mbah Diman tampak semakin parah. Kepalanya menengadah, dengan tatapan kosong melihat awang-awang. Napasnya tak tentu, kadang cepat dan berat, terkadang jaraknya jarang-jarang. Tubuhnya semakin kering dan kulitnya menghitam. Seperti penuh luka kering, bahkan sampai wajahnya juga seperti itu. Wanita bersanggul itu menolehkan kepala sedikit, saat menyadari kedatanganku. Ia mengusap air matanya dan mencoba berhenti dari isakannya. “Kemarilah, Nar ....” Aku sedikit ngeri untuk mendekat padanya, melihat keadaan Mbah Diman semengerikan itu. Namun, berusaha tenang dan biasa mengikuti perintahnya. Aku berdiri di samping Mbah Painem, dari sini pemandangan tubuh Mbah Diman semakin sempurna. Mataku berkaca-kaca melihat keadaannya. Miris sekali. “Kamu lihat sanggar sepi begitu? Kamu pikir kenapa?” Aku meliriknya, lantas menggeleng. “Latihan libur?” Sekarang ia yang menggeleng. “Semua orang kecewa atas sikapmu, perubahanmu. Karena kamu keterlaluan. Banyak orang tua murid melarang anaknya belajar di sanggar ini. Mereka tak mau anak-anaknya menjadi perempuan tak baik sepertimu. Sadarkah kau?” Seketika ada rasa panas dalam dadaku, napas pun mulai memburu. “Bukankah aku seperti ini juga karenamu, Mbah?” Aku tak mau disalahkan. Ia yang membuatku menjalani ritual-ritual bodoh itu sehingga membuatku merasa begitu buruk. Bahkan gara-gara dia membiarkan Putra masuk ke kamar ritual semua menjadi rumit, seenaknya saja menyalahkanku! “Tapi aku tak pernah mengajarkanmu menjadi w************n. Harusnya kamu mengingat tiga kata yang selalu kuajarkan. Tidak seperti ini! Sanggar yang selama puluhan tahun kubina dengan baik, kini citranya hancur hanya gara-gara perempuan sepertimu.” Tanganku mulai mengepal geram. Teganya dia berbicara seperti ini padaku. “Lihatlah Bapak, dia semakin tersiksa ketika kamu menari di atas pentas. Ia akan semakin kesakitan tiap kali pertunjukan usai. Aku tak tahu apa hubunganmu dengannya, tapi aku tahu jika semua yang terjadi padanya juga gara-gara kamu.” Kakiku mulai mengentak kesal. “Salahkan selendang itu, dia yang mengubahku menjadi monster seperti ini. Dan bisikan dari Mbah Sriyani yang mampu membuat Mbah Diman semakin tersiksa karenanya. Bukan aku, tapi Mbah Sriyani! Ia ingin membuatnya tersiksa dengan kekuatan dari yang masih hidup, yaitu aku!” Mbah Painem dan Putra hanya melongo mendengar tuturku. Saat aku marah seperti ini, aku merasa penuh dengan kekuatan. Tubuhku memanas, membara. Kini kulihat sosok Mbah Sriyani duduk di pojok ranjang Mbah Diman seperti waktu itu, ia menyungging di sana. Andai mereka bisa melihatnya, mereka pasti paham kenapa aku bisa seperti ini. “Baiklah, mulai hari ini aku tak butuh kalian semua! Aku akan hidup sendiri dengan bakat yang kumiliki tanpa kalian!” Aku mengentak kaki kasar, lalu melengos pergi dari hadapan mereka. Tetapi, sebelum hendak ke luar dari kamar, kulirik Mbah Diman sebentar lalu menganggukkan kepala sekali. Ia berteriak jejeritan di atas ranjang. Membuat Putra dan ibunya mendekat dan memanggil-manggil namanya. Ia takkan pernah mati dan terus tersiksa seperti itu, sebelum benar-benar kuakhiri hidupnya. Dan aku masih belum puas membuatnya menjadi mayat hidup. Entah, sampai kapan. *** Beberapa hari setelahnya panggilan untukku semakin banyak. Banyak pula pundi-pundi rupiah yang kudapat dari penampilan soloku tanpa orang-orang sanggar. Pak Lurah mulai jarang mengunjungiku sebab tahu aku selalu sibuk di tiap malamnya. Apalagi mengingat kejadian malam itu, saat aku mempermainkannya di depan istrinya. Ia sedikit kesal kepadaku. Aku juga mulai berani menggunakan bedak pikat seperti yang ditunjukkan Sekar waktu itu. Kudatangi seorang dukun yang katanya sakti mandraguna. Rumahnya begitu terpencil, di pojok desa, dengan dikelilingi banyak sekali tumbuhan. Begitu wingit dan seram dengan banyak sekali patung-patung aneh di pelataran rumahnya. Cahaya matahari bahkan agak susah untuk masuk ke sana sebab rimbunnya pepohonan. Ketika pertama kali kuinjakkan kaki memasuki rumahnya, ia mendelik tajam melihat sosokku. Bahkan kulihat ia menelan ludah berat saat aku mulai duduk bersimpuh di hadapannya. Lelaki dengan pakaian serba hitam dan rambut gondrong itu duduk di ruang tamu miliknya, di atas karpet. Ia sedang membuntal banyak jimat di sampingnya. Beberapa kain putih dan kertas dengan tulisan yang tak kumengerti berserakan di hadapannya. Wajahnya menunjukkan kegelisahan saat menatap perawakanku. “Untuk apa kamu datang ke sini, Nduk?” “Saya mau bedak pikat seperti yang diceritakan teman-teman di sanggar tari.” Ia menatapku lagi, kini semakin tajam. “Kamu sudah memiliki daya pikat yang lebih dari yang lain. Aku yakin kamu tahu itu. Auramu begitu kuat terpancar dari sini.” Aku mengangguk paham. “Ya, aku tahu. Tapi aku ingin semua orang melihatku dengan pandangan baik, tidak seperti kemarin. Aku sudah muak menjadi cibiran banyak orang.” Ia mendengarkan dengan saksama semua keluhku. Lantas, mengangguk. “Sebenarnya, aku tak bisa berbuat banyak untukmu. Karena ada kekuatan lain yang sedang melindungimu. Mungkin, aku hanya bisa memberi yang kamu inginkan. Akan kuberi racikan bedak itu. Tunggu di sini!” Ia meninggalkanku sendiri di ruangan yang penuh dengan barang antik. Bahkan beberapa hal terlihat menakutkan. Kepala banteng, musang, harimau, berjajar rapi di tembok ruangan ini. Bahkan aroma aneh bercampur jadi satu dengan wewangian yang terasa menusuk hidung. Beberapa menit berlalu. Dukun itu kembali masuk dan memberikanku sebuah benda hitam bundar kecil. Aroma harumnya begitu menyengat saat kuterima. “Kamu harus bisa mengendalikan dirimu sendiri. Sebab, kamu bisa menjadi orang yang paling buruk jika tak bisa mengontrol emosimu. Ingat, banyak hati yang perlu dijaga. Jangan sembarangan menggunakan kekuatan. Aku memang seorang dukun, tetapi aku tidak mengajarkan orang berbuat buruk, kecuali hanya untuk membantu saja.” Aku mengangguk. Meski omongan dukun itu ada benarnya, tetapi sudah terlalu buta mata hati. Hingga membuatku kalap seperti ini. Aku pamit dengan menyelipkan amplop di sela jabatan kami. Ia hanya tersenyum dan membiarkanku berlalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD