Pagi hari, sinar mentari terasa menusuk kepalaku. Aku bangun dengan rasa pening luar biasa. Ngilu dan begitu berat. Jadi begini rasanya mabuk? Aku sampai tak kuat untuk sekadar duduk.
“Sudah bangun?” Suara lelaki di sampingku. Aku berjingkat kaget, lupa jika tidur di rumah ini. Bukan di rumah Nenek.
“Pusing sekali,” kataku memijit-mijit pelipisku sendiri.
Ada rasa aneh di sini. Begitu canggung, lelaki yang dulu begitu kubenci kini menjadi teman tidurku. Aku menggeser tubuh agak ke samping, menjauh darinya. Ia malah menarik selimut yang kupakai.
“Kenapa?” Aku menggeleng. “Masih tak percaya aku sudah memenangkanmu?” Kubuang muka ke samping.
“Percayalah, aku akan membuatmu merasa jadi ratu. Tidak seperti Putra, yang hanya meniduri lantas meninggalkan.” Wajahku seketika geram, tanganku mengepal.
“Tolong jangan bahas itu lagi.” Ia terbahak.
“Aku puas sudah membuatnya jauh darimu, bocah itu tak seharusnya menikmati kehidupan yang layak. Seharusnya ia dulu mati bersama ibunya.” Aku menoleh cepat ke arahnya.
“Apa maksudmu?”
“Yah, akulah pembunuh ibunya. Aku sakit hati karena dia mengkhianatiku, dia menikah dengan lelaki lain saat aku menjadi kekasihnya.” Rasa peningku seketika menghilang, duduk tegap mendelik padanya.
“Tak usah kaget begitu, karena aku akan selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Apa pun caranya. Termasuk kamu.” Aku berdiri, bersiap melangkah.
“Mau ke mana?” Tanganku ditarik olehnya.
“Pulang.”
“Yakin? Apa hatimu sudah siap bertemu Nenekmu itu?” Kuteguk ludah pelan, bingung dengan diri sendiri.
“Sudahlah, tinggalkan saja wanita tua itu. Aku bisa membuatmu lebih bahagia.” Aku terdiam sejenak, berpikir.
Memang betul, saat ini orang yang bisa mengerti aku hanyalah Pak Lurah, meski ia menyebalkan. Ia mampu membuatku lebih hidup untuk saat ini.
“Nanti malam, kamu juga harus tampil ‘kan?” Aku mengangguk.
“Ingat baik-baik. Nanti, Winarti akan ikut bersamaku. Kamu harus bisa menjaga sikapmu. Aku tak mau jika ia sampai curiga dengan hubungan kita. Ingat itu!” Aku menoleh lagi kepadanya. Mengangguk pelan.
Kulangkahkan kaki ke luar dari kamar. Melihat keadaan rumah yang seperti kapal pecah. Berserakan di mana-mana. Kubersihkan semua sampah dan membuangnya ke depan rumah.
Kulihat beberapa ibu saling berbisik pada temannya. Aku sudah terlalu muak dengan semua ini. Dengan segala cibiran orang-orang. Mulai hari ini aku berubah menjadi Narsih yang baru. Narsih yang belum pernah dikenal orang sebelumnya.
***
Sejak sore, Pak Lurah sudah pergi meninggalkanku. Aku di sini sendiri, bersiap untuk tampil malam nanti. Aku memutuskan untuk datang sendiri tanpa perlu ke sanggar terlebih dulu. Aku sudah malas jika harus bertemu dengan Putra, Sekar, apalagi Mina.
Aku menanti malam sambil duduk di teras rumah sendiri, tanpa terasa melantunkan lagu kidung yang biasa dinyanyikan Mbah Painem saat tampil. Entah mengapa aura rumah menjadi lebih hangat.
Tetiba, seorang pria melihatku di ujung pagar. Ia kaget, saat kutatap balik wajahnya. Ia bersiap pergi dan melangkah. Namun, panggilanku mampu membuatnya kembali.
“Mau ke mana, Mas? Nggak mampir?” Ia berbalik, melihatku malu.
“Bolehkah?” Aku tersenyum nakal.
Ia menghampiriku dan duduk di sampingku. Kami mengobrol berbagai hal sampai tak terasa waktu sudah hampir menunjukkan saatnya aku pergi ke pentas.
“Maaf, aku harus pergi.” Pamitku dan beranjak berdiri.
“Tunggu, kalau besok Pak Lurah tak ke sini. Apa boleh aku mampir lagi?”
“Silakan.”
Aku tak percaya, ternyata daya pikatku luar biasa. Kalau tahu seperti ini, harusnya aku tak perlu menjadi gundik Pak Lurah. Menjadi istri simpanan benar-benar membatasi segala gerakku.
“Baiklah, aku pamit.” Lelaki itu pergi dengan tatapan maut.
Aku sudah terlanjur basah di sini. Akan kubuat semua lelaki tunduk padaku. Biar para pembenci dan pencibir itu kapok selalu membicarakanku di belakang. Ya, aku harus berubah.
***
Pentas sudah dimulai dengan diawali Mina dan Sekar yang tampil terlebih dahulu. Aku menunda untuk tampil di awal, sebab menunggu Pak Lurah dan istrinya datang melihatku. Akan kubuat wanita-wanita di desa ini semakin kesal kepadaku. Aku sudah terlalu sakit, menahan segala olokan mereka selama ini.
Saat yang ditunggu tiba. Pak Lurah sudah duduk di kursi paling depan seperti biasa. Segera aku menaiki pentas dan bergoyang dengan luwes. Mengentak ke kiri dan kanan sesuai iringan musik dari Putra dan yang lain.
Di pertengahan musik, aku turun dari panggung dan mendekat pada Pak lurah. Seketika wajahnya begitu masam. Aku tak peduli, kukalungkan selendang pada lehernya dan menariknya untuk naik. Ia sedikit bersungut-sungut. Namun, Bu Lurah malah menyuruhnya untuk naik.
Dengan keterpaksaan ia mengikuti permainanku. Kuajak ia bergoyang di atas pentas dengan tarian sedikit v****r. Teriakan penonton seketika membuncah. Tepukan dan siulan panjang mengiringi gerakan kami.
Aku bergoyang tepat pada dadanya, mendekat dan tersenyum nakal.
“Apa yang kamu lakukan?” bisik Pak Lurah padaku.
“Tidak ada, hanya ingin menunjukkan kemesraan kita pada semua orang.” Giginya mengertak, tetapi tetap mengikuti goyanganku dengan luwes.
Kulihat Bu Winarti begitu kesal melihat kami di atas sini. Ia membuang muka berkali-kali, saat melihat kedua tanganku yang merangkul leher suaminya.
Pak Lurah sedikit kewalahan untuk menghindariku. Selalu saja kudesak kembali saat ia coba untuk melengos. Aku puas.
Saat kutengok kembali kursi di bawah panggung, tak ada lagi wajah wanita kalem itu. Mungkin, ia sudah tak kuat lagi menahan pertunjukan kami.
Aku lega membuatnya kesal. Pak Lurah beranjak turun saat mengetahui istrinya tak lagi ada di kursi itu. Kuteruskan untuk bergoyang kembali dan mengalungkan selendang pada pria-pria lainnya. Membuat wanita-wanita lain berteriak dan memakiku dengan sebutan ‘s****l'.
Pentas selesai saat menjelang pagi seperti biasa. Kali ini banyak sekali saweran yang kami dapat, bahkan beberapa kali lipat dari sebelum-sebelumnya.
Mbah Painem mendekat padaku, “Sepertinya kamu mulai menikmati menjadi ronggeng.” Entah, itu sebuah sindiran atau justru pujian? Aku tak tahu. Hatiku sudah terlalu buta dengan segalanya. Bahkan Sekar dan Mina begitu malas untuk sekadar menyapaku.
Semua memandangku dengan tatapan sinis, tak suka.
Putra mendekat padaku dan berkata, “Kamu benar-benar sudah berubah.” Aku hanya menyungging mendengar ocehannya.
Kutarik tangannya dan kurangkulkan kedua lengannya pada pinggulku. “Mau mencicipiku lagi?” ia menarik kasar tangannya dan mendelik tajam.
“Menjijikkan!” Ia melengos pergi dengan menggelengkan kepala tak percaya.