Hari ini Nenek kupaksa untuk berhenti jualan. Aku mengajaknya belanja berbagai kebutuhan dan apa pun yang diinginkannya. Sesekali ingin membuatnya bahagia. Kuajak dia ke pasar untuk memborong banyak hal.
Ia terlihat begitu senang saat kubelikan sebuah mukena baru. Sebab, kulihat mukena lamanya sudah usang, tak putih lagi.
Beberapa mata memandang kami saat kupilihkan mukena di sebuah toko sebelah toko milik Bu Nariti, langganan Nenek. Banyak mulut berbisik dengan teman di sebelahnya.
Aku berusaha cuek dan tak memedulikan, sampai sebuah suara dengan lantang menyindir di samping Nenek.
“Eh, itu kan ronggeng baru itu. Perempuan perebut suami orang.” Deg, jantungku terasa berhenti berdetak. Seketika Nenek memalingkan muka padanya.
Kedua ibu-ibu itu malah terbahak, “Apa maksudnya?” Nenek bertanya dengan penuh penasaran.
“Loh, masak Neneknya sendiri nggak tahu, sih?” Salah satu wanita itu berbicara dengan logat yang dibuat-buat.
Kutarik Nenek menjauh darinya dan memilih ke tempat yang lain. Tetapi, Nenek masih saja penasaran dan menengok ibu-ibu berulang kali.
Saat kami berbalik, kami malah bertemu tatap dengan Bu Nariti. Ia menelusuri perawakanku dari atas ke bawah.
“Eh, Narsih. Kamu benar-benar sudah berubah, ya. Makin cantik kau. Pasti karena duit dari Pak Lurah, ‘kan?” Aku tercekat, tak bisa menjawab apa-apa. Nenek memandang wajah kami bergantian.
“Tolong jelaskan, apa maksud semua ini?” Nenek melihatku dengan wajah penuh iba.
“Mbah Ijah, apa kau tak dengar tentang ritual Babat Alas? Pasti kau tahu lah, Narsih sudah melakukan itu dengan pria yang memberikannya imbalan paling mahal. Dan lelaki yang beruntung itu adalah Pak Lurah Suwarno.” Aku menunduk semakin dalam, membiarkan Bu Nariti dan beberapa pengunjung menertawakanku.
Kulihat mata Nenek mulai berkaca-kaca, ia terdiam dengan pandangan kosong. Aku tahu ia marah, aku benar-benar menyesal kenapa harus mengajaknya bertemu dengan banyak orang seperti ini.
Aku lupa jika berita seperti ini pasti cepat sekali penyebarannya dari mulut ke mulut.
Tas plastik berisi mukena yang dipegang Nenek langsung jatuh, ia menyeka buliran air yang mulai tumpah di pipinya dengan kasar. Lantas, berjalan cepat meninggalkanku tanpa menoleh.
“Nek, tunggu!” Ia seakan tak mendengar panggilanku, terus berjalan di antara cibiran beberapa orang di sekitar kami.
Aku mengejarnya, berusaha untuk menjelaskannya secara perlahan. Namun, ia tak mau memandangku sama sekali. Terus berjalan sambil sesekali mengusap air mata yang tak henti turun membanjiri pipinya.
“Dengarkan penjelasan Narsih, Nek.” Kini aku pun berjalan dengan derai tangis, begitu menyesal telah menyembunyikan hal sebesar ini darinya.
Ia menoleh sebentar, “Untuk apa? Hah! Percuma kamu menjelaskan hal yang sudah terlanjur terjadi. Harusnya aku mencegahmu dari dulu, jika tahu seperti ini jadinya. Kamu sudah menyayat hati Nenek, Nar. Bahkan kamu berani mencoret wajah Nenek dengan kotoran seperti ini!” Ia berbalik kembali dan berjalan cepat.
Aku berhenti mengejarnya, membiarkan ia menyendiri. Benar semua katanya, ini sudah terlanjur. Dan nasi sudah berubah menjadi bubur. Takkan lagi bisa berubah sebagaimana mestinya. Aku hancur.
Aku bersimpuh di tengah jalanan, menangis sesenggukan. Kulihat Putra melintas dengan motornya di sebelahku. Ia hanya melirik tanpa ingin berhenti.
“Putra ....” Lirih aku memanggilnya. Ia hanya cuek tanpa peduli denganku seperti saat dulu. Betapa sakit hati ini, harus kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang kusayangi. Hanya karena keegoisanku sendiri.
Sebuah tangan menjulur di sampingku. Kulihat wajah pemilik tangan itu, Sekar. Aku tersenyum kecut, meraih ulurannya dan berdiri di hadapannya.
“Terima kasih, Sekar.” Ia terdiam sesaat, melihatku dengan wajah masam.
“Kamu memang sedikit keterlaluan, Nar. Bisa-bisanya kamu membohongi Nenekmu sendiri. Dan aku juga sudah mendengar semua tentangmu. Tentang pergundikan itu. Aku tak percaya kamu tega mempermainkan hati orang-orang baik seperti mereka.” Ia menggeleng, penuh dengan rasa kecewa.
“Aku tak bermaksud melakukan semua ini, Kar. Percayalah!” Ia mendengus cuek.
“Apa yang perlu dipercayai? Kamu begitu mudah berpaling dari Putra yang jelas-jelas tulus mencintaimu, tega dan mau menjadi gundik Pak Lurah, sedangkan kamu tahu sendiri ia punya Bu Winarti sebagai istrinya. Dan yang paling parah kamu sembunyikan hal terbesar dalam hidupmu dari Nenek yang setiap hari merawatmu dengan penuh kasih sayang.” Kutarik tangan Sekar dan mencoba memohon.
“Jangan buat aku terpuruk seperti ini, Kar. Aku tahu aku salah, tapi bisakah kamu sedikit mengerti? Aku terdesak melakukan semua ini.” Ia melepas kasar genggamanku.
“Untuk apa aku mempertahankan sahabat yang bahkan tak punya hati sama sekali? Atau jangan-jangan kamu juga tak tulus mempunyai teman seperti aku?” Aku menggeleng cepat.
“Tidak seperti itu, Kar. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku tak punya siapa-siapa lagi ....”
“Sepertinya, selendang itu telah mengubahmu menjadi monster. Tanpa hati!” Tangan Sekar menuding dadaku kasar, hingga aku sedikit terdorong ke belakang.
Ia pergi meninggalkanku dengan rasa bersalah yang semakin besar. Mungkin benar, aku adalah monster paling jahat saat ini.
Tanpa perasaan, tanpa hati.
***
Hari ini aku tak berani pulang ke rumah Nenek. Akan kubiarkan ia menentramkan hatinya dulu. Mungkin, dengan begitu ia bisa lebih paham dan mengerti tentang keadaan yang memaksaku menjadi seperti ini.
Aku pulang ke rumah pemberian Pak Lurah. Untuk menenangkan diri juga, tentunya. Tak kusangka, rumah hari ini penuh dengan tamu. Aku masuk dengan penuh keheranan. Melihat banyak pria mabuk di dalamnya bersama Pak Lurah.
Tanganku segera disahut Pak Lurah saat tahu aku masuk, ia menyeretku dalam pangkuannya. Menciumi tubuhku dengan mulut penuh aroma memuakkan. Kawan-kawannya tertawa geli melihat perlakuannya padaku.
Ia menyodorkan botol minuman itu untukku, awalnya aku ragu. Tetapi, karena suasana hati yang begitu kalut, otakku tak bisa berpikir lagi. Kutenggak cepat minuman yang terasa aneh dalam mulut.
Meski awalnya aku mengernyit menahan rasa tidak nyaman. Anehnya, minuman itu seperti candu, membuatku ingin meneguk sekali lagi, lagi, dan lagi.
Aku bagai wanita penghibur di tengah pria-pria nakal. Tak peduli lagi dengan norma dan aturan, bahkan hilang kewarasan. Entah, mau jadi apa aku nantinya. Aku sudah terlalu muak dengan hidupku. Hidup yang semakin hari semakin rumit, penuh dengan lika-liku.
Kubebaskan semua kesahku malam ini, bersama lelaki orang. Yang bahkan aku tak tahu apakah wanitanya tahu tentang hubungan ini atau tidak. Aku tak peduli.
Kami larut dalam pesta miras semalam suntuk, dengan kepulan asap mengepul memenuhi ruangan. Dalam musik yang mengentak keras.