Salah Kita

1010 Words
Paginya, Mbah Painem mengumumkan kepada masyarakat, bahwa hari ini aku telah resmi menjadi ronggeng. Menjadi simbol untuk sanggar dan desa ini, setelah sekian puluh tahun tak ada ungkapan ‘Ronggeng Sejati'. Karena budaya yang sudah bergeser sebab perpindahan zaman, hal ini menjadi begitu tabu. Beberapa sindiran dan nyinyiran datang silih berganti. Tidak seperti dulu, menjadi ronggeng adalah suatu kebanggaan, wanita paling dikagumi saat itu. Tetapi tidak hari ini. Adat yang pernah ada, terasa begitu bersinggungan dengan kepercayaan dan agama saat ini. Tidak cocok diterapkan di zaman modern begini. Meski desa kami masih begitu kolot dan tradisional. Tetapi, begitu menjunjung tinggi moral dan budaya. Sehingga istilah ronggeng sejati, benar-benar tak bisa diterima akal sehat lagi. Tiga hari setelah malam itu, Pak Lurah menepati janjinya untuk menikahiku secara siri. Aku ke luar dari rumah dengan alasan ada job menari pada Nenek. Kami datang menuju rumah baru, hadiah dari Pak Lurah Suwarno untuk ritual Babad Alas waktu itu. Di sana, ada tiga orang yang sudah menanti. Seorang mudin nikah, beserta dua orang saksi. Kami melangsungkan akad seadanya, tanpa diketahui seorang pun. Kecuali mereka bertiga. Pak Lurah menyelipkan amplop pada ketiga pria itu, dan menyuruhnya untuk menutup mulut rapat-rapat. Mereka bersumpah dan berjanji tidak akan pernah membahas ini, apalagi di hadapan istri Pak Lurah. Aku menangis setelah jabatan tangan Pak Lurah dilepas, ia memandangku heran. “Kamu kenapa? Bukankah ini sudah menjadi perjanjian kita? Tak seharusnya kamu begini.” Aku hanya terisak tanpa menjawab apa pun. Menengadahkan tangan saat mudin membaca doa untuk pernikahan kami ini. Pernikahan yang tak pernah kuinginkan. Begitu aneh, seorang gadis SMA telah berstatus istri orang. Kehilangan keperawanan sebelum waktunya pula. Begitu menjijikkan. Aku merasa semakin hancur di titik ini. Aku harus meninggalkan cintaku bersama kebohongan yang kucipta. Bagaimana akan kujelaskan semua ini pada Putra nantinya, ini sakit, teramat sakit. Nasib pun berkata lain, ada seorang ibu yang melihat proses ijab qabul ini saat melewati pagar rumah. Benar-benar sempurna kedukaanku kali ini. Semua yang kutakutkan akan menjadi kenyataan. Tak kubayangkan nanti, jika ibu itu menyebarluaskan berita ini. Akan banyak hati tersakiti setelah ini. Nenek, Bu Lurah, bahkan Putra. Oh, Tuhan. Aku benar-benar bingung menghadapi situasi pelik begini. “Tak perlu kau pikirkan, akan kutangani semuanya. Apa kau ragu dengan segala kekuasaanku?” Aku menggeleng. “Yang penting hari ini kamu resmi menjadi milikku.” Ia menyeringai puas. *** Setelah aku resmi menjadi wanitanya, perlahan aku menghindari Putra, setiap kali datang ke sanggar, akan selalu ada banyak alasan dariku untuk menjauh darinya. Masih kujalani hari-hariku menjadi gadis dan murid normal seperti sebelumnya. Bersekolah, datang ke sanggar, latihan. Tetapi tidak hatiku, perasaan ini sudah berubah seutuhnya. Aku lebih sering murung dan berdiam diri, selalu kepikiran dengan apa yang sudah kulakukan. “Kamu kenapa, Narsih. Perasaan setelah malam itu, kamu jadi pendiam sekali,” tanya Sekar saat istirahat dari latihan. “Aku nggak tahu, Kar. Aku bingung dengan diri sendiri.” “Bingung kenapa?” “Sudahlah, aku tak mau membahasnya.” Kupalingkan wajah dan berpura-pura berjalan ke sumur untuk mengambil kendi air. Tepat saat itu pula, Putra ke luar dari pintu Mbah Diman dan hendak mengambil kendi pula. Kami bertatapan sejenak. Lantas, kupalingkan badan dan hampir melangkah. Namun, tarikan lengan Putra membuatku mundur kembali. Ia mendekapku dari belakang. Kutarik kasar tangannya agar melepas, “Lepaskan, Put!” Ia masih kekeuh mengimpitku dengan lengan kekarnya. “Tidak, aku tak mau!” Sekar menatap kami dari bangku bawah pohon belimbing. “Sekar sedang melihat kita, Put. Jangan begini!” “Aku tak peduli! Aku tak tahu di mana salahku padamu, kenapa kamu menghindariku, asal kamu tahu aku sakit! Aku hancur kau diamkan begini!” “Kamu mau tahu salahmu di mana, Hah!” Mendengar kalimatku dengan nada sumbang, membuat Putra melepas pelukannya begitu saja. Ia menarik bahuku menghadap padanya. “Apa?” tanyanya mengintimidasi. Aku terkekeh. “Kamu bertanya seperti ini seolah tak tahu salahmu sendiri, dasar aneh!” “Ini bukan hanya salahku, tapi kita. Salah kita berdua. Jika saja kamu tak membalasku, mungkin semua itu takkan pernah terjadi.” Matanya mendelik tajam menusuk hingga ke jantungku. Aku menggeleng. “Ini sudah terlanjur salah, kita mengkhianati adat ini. Bahkan Pak Lurah sudah mewantiku, aku sudah hancur, Put. Hancur!” Kembali ia menarik tubuhku erat. Kini aku lesap dalam d**a bidangnya. Tersengguk lagi. Kudorong tubuhnya menjauh dariku, “Sudahlah, jangan mendekati aku lagi. Aku ingin menjalani hidup baruku dengan tenang.” “Jadi itu maumu?” Aku masih menunduk. “Baiklah.” Ia pergi meninggalkanku begitu saja, dalam deraian tangis yang semakin menjadi. Pedih hati ini menerima kenyataan pahit, bahwa aku harus kehilangan cinta yang baru tumbuh dalam hatiku. Dan kini harus kehilangan sebab kesalahan fatal yang kami perbuat. Sekar datang menggantikan posisi Putra berdiri di hadapanku, memelukku, menenangkan. "Kamu yang sabar, ya. Semua akan indah pada waktunya." Ia mengusap punggungku lembut, kubalas peluknya dengan erat, hingga memejam. *** Benar memang, setelah pengumuman itu, aku mendapat banyak sekali job yang tak kunjung henti. Banyak pula cuan yang kudapat hanya dalam sekali pentas. Berbagai kebutuhan hidup satu per satu terpenuhi. Hidupku benar-benar berubah. Belum lagi kucuran dana dari suami baruku, Pak Lurah. Entah, sampai kapan akan kusembunyikan semua ini dari Nenek. “Nek, mulai sekarang Nenek tak usah lagi repot-repot jualan. Hasil dari menari sudah lebih dari cukup. Biar Narsih yang menggantikan tugas Nenek.” Ia menggeleng, tersenyum teduh. Begitu menenangkan. “Itu uangmu, bukan uang Nenek. Kalau nenek masih kuat berdagang, kenapa harus merepotkanmu?” Aku mendengus pelan, menarik tangan Nenek dan mengusapnya lembut. “Bukankah selama ini Narsih hidup dengan uang Nenek? Ini waktu Narsih untuk membalas semuanya, Nek.” Ia menggeleng lagi, membalas usapan tanganku dengan menggosoknya pelan. “Itu sudah jadi kewajiban Nenek. Nenek ikhlas.” Kupeluk tubuh rentanya erat, mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah dilakukannya padaku. Di sisi lain aku merasa bersalah, sudah menyalahgunakan kepercayaannya menjadi hal yang mungkin tak bisa dipercaya. Entah, bagaimana jika ia tahu aku telah menjadi istri dari orang lain. Marah, kecewa, atau justru ikhlas menerima? Mungkin nanti, jika aku siap lahir batin. Akan kuceritakan semuanya pada Nenek. Tanpa terkecuali, termasuk kesalahanku dengan Putra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD