Sekar semakin celingukan dengan gelagat tak biasa, membuatku mengerutkan kening semakin penasaran. Begitu pun Pak Lurah. Sorot matanya semakin tajam mengintimidasi, membuat Sekar bertambah kebingungan. Kini peluhnya nampak bercucuran, berkali-kali ia menyekanya dengan bagian ujung lengan bajunya. Pak Lurah mulai menanyainya, “Apa yang kamu sembunyikan dari kami?” Dengan pertanyaan kecil seperti itu saja, ia berjingkat dan kian gelagapan. Aneh sekali. “Ta-tak ada. Maksudku, bisa saja ada orang yang tak suka dengan hubungan yang kalian jalani. Hingga membuat mereka bertindak dengan mengirimkan hal tak lazim untuk Narsih seperti ini.” Ia melirikku penuh tatapan sendu. Penuh simpati tinggi. “Itu wajar, dan aku sudah menduganya dari awal.” Seketika pandangan Sekar beralih pada Pak Lurah

