Beberapa menit yang menjemukan menatap keduanya, membuatku malas dan manyun. Aku benar-benar dilanda cemburu. Sesak d**a ini. Sekar yang melihatku seperti ini, terlihat tak enak hati. Ia melepaskan usapan tangannya pada Putra dan menaruhnya pada meja lagi. “Sepertinya sudah bersih.” Ia mencelupkan kedua tangannya pada baskom lalu mengusapnya pada baju bagian pahanya. “Sekarang giliran tanganmu, Nar?” Ia menjulurkan tangannya padaku, menanti dibalas. Kuberikan tangan kiri yang berbalut sobekan kain rok padanya. Putra seketika melongo melihat tangan ini. “Apa itu perbuatan lelaki sialan itu?” Wajahnya kembali tegang. Aku menggeleng. “Ini akibat perbuatanku sendiri, tak bisa untuk sekedar meraih gelas di atas meja, hingga membuatnya hancur dan melukaiku sendiri,” jawabku datar. Ia m

