Serumah Dengan Mertua

1952 Words
Setelah pernikahanku dengan Danish dilaksanakan. Dengan berat hati aku harus pindah dari rumah Bu Dewi, Ibu mertua dari pernikahanku sebelumnya dengan Wingky. Danish mengajakku dan Athaya pindah kerumah baru yang dia miliki di daerah Purwakarta, namun hal itu belum terlaksana. Bu Rosma namanya, seorang wanita paruh baya yang biasa dipanggil Umi oleh Danish itu adalah mertua baruku--orangtua Danish--beliau melarang kami pindah dan meminta kami bertiga tinggal di rumah bersamanya. Itulah alasan kenapa kami menunda niat awal sampai mendapat izin dari Bu Rosma. Suasana baru, rumah baru. Kini aku benar-benar merasa asing. Rumah tempat tinggal keluarga Danish di daerah Jalan Cagak-Subang ini cukup besar dari rumah-rumah lain di sekitarnya. Dua buah mobil terparkir rapih di depan rumah, begitu juga di dalam, suasana serba putih dengan berbagai lukisan kaligrafi tertempel di dinding, tak ada satu pun benda menyerupai patung hewan atau manusia. Dan kesan pertamaku saat pertama menginjakan kaki di rumah ini adalah ... nyaman. Setelah merapihkan pakaian kedalam lemari di kamar, aku duduk di tepi tempat tidur dan mengambil kotak P3K. Athaya sudah terlelap di tempat tidur. Waktu juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ini adalah hari ketiga atau hari terakhir aku dan Danish mendapat cuti dari Pabrik. Tiga hari sudah aku menikah dengan Danish, dan tiga hari juga kami belum saling berhubungan. Karena aku masih belum siap dan Danish juga tak pernah meminta. Perlakuanku pada Danish masih seperti biasa, mengabaikan setiap kata-katanya. Tapi Danish begitu sabar menghadapi kelakuanku yang pasti menyakitinya. Ada rasa bersalah menggelayuti saat aku mengambil sikap itu. Atau mungkin karena Danish terlalu baik? Entahlah. "Kenapa kamu belum tidur, Nika?" tanya Danish. "Kamu tidak lihat aku lagi apa," jawabku seraya membuka lilitan perban yang membungus pergelangan tangan. Ini sudah terasa tak nyaman dan belum diganti. Biasanya Bu Dewi yang membantu menggantinya, tapi kini terpaksa kuganti sendiri karena tak tahu harus meminta bantuan siapa. "Sini mana, biar aku lihat," ucap Danish. Dia memegang lenganku dan memeriksanya. Aku sedikit meringis kesakitan, Danish membantu membuka perban di lenganku. Jantung berdegup sedikit cepat saat mendapat sentuhannya, menelan saliva untuk menenangkan diri, tiba-tiba mataku terpaku menatapi mata sayunya yang fokus. Danish. Dia adalah suamiku sekarang, dia berkata akan bertanggung jawab terhadapku dan Athaya di depan orang tuanya langsung. Ah ... apa ini? Kenapa sekarang aku malah terhanyut dalam perasaan? Karena mungkin saja, Danish mengatakan itu karena dia kasihan padaku. "Sudah." "Emh." Lamunan terbuyar, aku melihat perban di tangan sudah diganti dengan rapih olehnya. Namun tangan Danish masih memegang tanganku, hingga spontan menariknya. "Maaf," ucap Danish. "Emh, i-iya, tidak apa-apa. Terima kasih buat ... ini." Danis tersenyum tipis. "Nika, apa aku boleh bicara sesuatu? "Bicara apa?" "Besok, kita berdua akan mulai masuk kerja, apa aku boleh meminta satu hal padamu?" Aku tak mengerti. "Maksud kamu?" "Aku, ingin kamu berhenti kerja," ucap Danish. "Tidak bisa," jawabku cepat. "Nika--" "Aku bilang tidak bisa ya tidak bisa, kamu tau kan, aku kerja di sana sudah lama! Dan lagi, kalau aku berhenti kerja, nanti bagaimana sama hutang-hutang aku di sana." Aku beranjak dari duduk, menyimpan kembali kotak P3K dan berjalan mengambil selimut yang ada di dalam lemari. "Biar aku yang membayarnya, aku akan melunasi semua hutang-hutangmu di sana." "Tidak, pokoknya aku tidak mau. Kalau mau, kamu saja yang cari kerjaan lain, aku akan tetep kerja di sana," jawabku. "Nika, aku hanya ingin bertanggung jawab terhadap kamu dan Athaya, selagi aku mampu mencukupi kalian, aku ingin kamu di rumah untuk Athaya," ucap Danish yang masih diam di tempatnya. "Terus, kalau aku berhenti kerja, aku harus di rumah dan ketemu sama Umi kamu yang jelas-jelas tidak menyukaiku? Danish, kamu pernah berpikir ke arah sana tidak sih?" ketusku padanya. Setelah bicara, aku langsung mengambil posisi tidur di sebelah Athaya. Mengabaikan dia yang mulai beranjak menghampiri dan duduk di dekatku. "Aku tau dan aku juga mengerti, kalau perkataan Umi tempo hari sudah menyakitimu. Aku minta maaf atas nama Umi," ucap Danish seraya mengusap bahuku yang membelakanginya. Aku diam. Masih ingat, saat itu aku memarahi Danish dan menyalahkannya. Saat aku bertanya kenapa dia mengatakan hal itu pada Umi. Danish hanya menjawab perkataan yang sama. "Nika, aku tidak bermaksud melarangmu melakukan apa yang kamu sukai, aku hanya ingin, waktu yang kamu luangkan untuk Thaya lebih banyak. Tentang Umi. Nanti, aku akan bicara lagi pada Umi mengenai kepindahan kita ke Purwakarta." Terus mendiaminya, aku memejamkan mata dan memeluk Athaya. Saat ini. Aku tak mengira sama sekali akan tersentuh dengan kata-katanya, tak bisa dipungkiri, aku memang menginginkan waktu yang lebih banyak bersama Athaya. Tapi tak menutup kemungkinan juga, hari-hari yang akan kuhadapi pasti agak sulit sebab harus beradaptasi dengan sikap Ibu mertua yang kurang menyukaiku. *** Mulai terusik dari mimpi, aku mengangkat kelopak mata yang masih terasa berat. Kulihat Athaya sedang duduk di tengah-tengah tempat tidur, dia menangis, hingga aku benar-benar terbangun. "Kenapa, Nak?" tanyaku seraya memangku Athaya yang masih menangis kecil. Melihat jam di dinding, waktu masih menunjukan pukul satu malam, Danish juga tertidur lelap di sebelah kami. "Nenek ...." "Nenek?" "Nenek mana?" Athaya terus memanggil dan menanyakan Bu Dewi, wajar saja, karena dia begitu dekat dengan Neneknya. Dia pasti merindukan Bu Dewi. Mengusap punggungnya pelan, berada di pelukanku Athaya masih menangis. "Iya, Nak, besok ketemu sama Nenek, sekarang waktunya Thaya bobo dulu, ya," ucapku. "Mau sama Nenek ... hiks." Athaya semakin menangis, suaranya cukup nyaring, karena takut membangunkan Danish dan mertuaku, kuputuskan menggendong Athaya turun dari tempat tidur, siapa tahu dia akan tidur lagi setelah aku menggendongnya. "Iya, nanti besok lagi ketemu Neneknya, Thaya bobo dulu, baru Ibu antar Thaya ke rumah Nenek," ucapku menenangkannya. Dengan sedikit menahan sakit di lengan, aku masih menggendong Athaya. Sedih rasanya melihat Athaya menangisi Bu Dewi. Inilah alasannya kenapa aku keberatan dengan kepindahan kami. Athaya pasti kehilangan sosok Neneknya dan belum terbiasa jauh dari Bu Dewi yang sudah mengasuhnya dari bayi. "Nika, Thaya kenapa?" Terdengar suara Danish bertanya, dia pun turun dari tempat tidur dan menghampiri kami. "Thaya lagi inget sama Ibu, Dan," jawabku. "Oh, sini, Thaya biar aku yang gendong." "Ta-tapi--" "Thaya sama Ayah dulu, yu," ucap Danish seraya mengambil alih Athaya. Kali ini aku diam tak memarahinya, tak bisa menolak kebaikan yang ditunjukan Danish pada Athaya. Setelah Athaya berada di tangannya, Danish membawanya keluar kamar. Kuikuti mereka hingga keluar, tapi Athaya masih tetap menangis. Setelah beberapa menit tak membuahkan hasil. Danish membawa Athaya pergi ke sebuah kamar dan masuk kedalamnya, aku masih mengikuti. Dan yang terlihat, di kamar ini terdapat begitu banyak mainan anak, di sertai tempat tidur bayi yang masih utuh. Aku heran, terbesit sebuah pertanyaan dalam hati. Kamar siapa ini? Dengan pembawaanya yang ramah, Danish mengajak Athaya bermain dan mengalihkan perhatian anakku. Lambat laun Athaya juga melupakan tangisannya pada Bu Dewi. Rasa kantuk hilang, Athaya pasti akan sulit tidur setelah ini. Itulah kebiasaannya jika bangun tengah malam. "Ayah, Ayah mau delemen?" tanya Athaya. Danish terlihat bingung, dia mengernyit dan bertanya pada Athaya. "Daleman?" Aku tertawa kecil di depan pintu memperhatikan mereka berdua bermain dan bicara. "Ih Ayah, delemen. Ini, ini itu delemen! Bukan daleman," ucap Athaya lagi seraya menyodorkan mainan berbentuk buah-buahan. Danish menggaruk belakang rambutnya. Aku pun menghampiri mereka berdua. Menjelaskan maksud perkataan Athaya yang terkadang memang sulit dimengerti bagi orang asing. "Delemen itu permen, Danish." Danish menoleh, "Oh, permen, Ayah kira apa," kata Danish seraya mengambil mainan dari tangan Athaya, Danish terus mengajaknya bicara. "Ini buat Ayah?" "Iya, itu delemen rasa cokelat," jawab Athaya. Beberapa saat kemudian masih berada di kamar ini, Athaya sudah terlihat mengantuk, tapi masih belum ingin tidur dan mengajak Danish main bersamanya. "Nika, kalau kamu ngantuk, kamu tidur saja, biar Thaya aku yang jaga," ucap Danish padaku. "Tidak, aku mau di sini." "Yakin?" Aku mengangguk, meski nyatanya mata masih berat, namun rasanya aneh juga menyerahkan Athaya pada Danish. Sedangkan, besok pagi juga dia harus bekerja. "Lihat, Athaya lucu sekali bukan? Orang tua mana yang takkan menyukainya. Dan sepertinya, aku harus belajar bahasa Athaya supaya aku mengerti dia bicara apa." Danish melihat ke arahku dengan senyuman manis. "Danish ...." "Ya, kenapa?" "Aku ... tidak, bukan apa-apa." "Bicara saja, kamu ingin mengatakan apa?" tanya Danish lagi. Aku yang duduk di sebelahnya pun malah jadi ragu sendiri. Sebenarnya aku bingung ingin berkata apa. Tiba-tiba saja bibir menyebut namanya tanpa bisa terkontrol. Ah ... itu bodoh sekali. "Sudah ngantuk?" Aku menggelengkan kepala pelan. "Lalu? Apa tanganmu sakit lagi?" "Tidak ... bukan itu," jawabku cepat. Danish mengernyit. "Kenapa?" Kulirik Athaya yang anteng dengan mainannya, malah semakin bingung harus memulai dari mana. "Besok, aku mau pergi kerja," ucapku pelan. "Iya, aku tahu." "Aku akan mengajukan surat resign ke Bu Silvi." Danish menoleh dan melihat ke arahku. Sorot mata sayunya menunjukkan tak percaya atas ucapan yang keluar dari mulutku. "Apa kamu yakin?" "Ya, tapi ini buat Athaya, bukan karena permintaan kamu, jadi jangan geer." Danish melebarkan senyuman, sepertinya ia sangat bahagia mendengar keputusanku. "Tak apa." Itulah jawaban Danish. Singkat, padat dan jelas. Dia terlihat begitu bahagia. Dan itulah keputusan yang kuambil dengan tanpa disadari. Setelah mengatakannya, bahkan aku sendiri tak mengerti, dengan begitu. Sudah jelas akan mengambil segala resiko yang kuhadapi. *** "Nika?" "Engh?" Aku terusik saat merasakan seseorang menyentuh lengan dan memanggil nama. Kulihat ternyata Danish yang membangunkan, pakaiannya rapih mengenakan baju koko berwarna putih, sarung, dengan peci hitamnya, dia berada disampingku yang masih berbaring di tempat tidur bersama Athaya. "Bangun, sebentar lagi azan subuh," ucapnya lagi. "Duh, nanti dulu, lima menit lagi, aku masih ngantuk," jawabku malas. Membenarkan posisi tidur dan ingin melanjutkan mimpi kembali. Rasanya mata tak bisa dibuka sebab baru setengah jam aku tidur setelah menemani Athaya. Tak terdengar lagi Danish bicara atau menggerakkan tubuhku. Sampai beberapa saat kemudian, aku merasakan tetesan-tetesan air membasahi wajah. Hingga membuatku membuka mata seketika itu juga. "Danish! Kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu menetesi wajahku pakai air?" tanyaku pada Danish yang ternyata ada di sebelahku. "Agar kamu bangun dan kita bisa salat subuh." Kuhela nalas panjang, akhirnya aku terbangun juga. Danish hanya tersenyum saja melihatku yang langsung menuju kamar mandi dengan sedikit menggerutu sendiri. Ini adalah hari keempat pernikahan kami. Sekarang, jelas sangat terasa perbedaan di kehidupanku. Yaitu, ada seseorang yang selalu mengingatkanku pada salat. Dan ini kedua kalinya Danish menetesi wajahku dengan air untuk mengajak salat. Bahkan di waktu malam. Danish selalu berkata. "Salat adalah rukun Islam yang kedua, dia adalah tiang Agama. Meninggalkan salat adalah kekufuran, jadi, tiada Agama atau pun ke-Iaslaman bagi yang tidak salat, baik laki-laki atau perempuan. Menunda salat hingga keluar dari waktunya, tanpa adanya udzur yang dibenarkan syari'at adalah menyia-nyiakan pada salat itu." Meresap kedalam hati, satu pelajaran yang dapat kuambil dari perkataannya yang membantahkan pendapatku adalah ... tidak boleh menunda salat. Setelah semuanya siap, aku terlebih dulu keluar kamar untuk mengambil minum di dapur. Athaya masih tertidur lelap dan Danish masih berada di kamar merapihkan pakaiannya. "Umi," sapaku ragu pada Umi yang tengah sibuk di dapur menyiapkan makanan. "Baru keluar kamu? Sudah jam berapa sekarang? Kenapa kamu baru keluar kamar?" tanya Umi setelah melihat kedatanganku. "I-itu aku, sebenernya--" "Jadi istri itu harus apik, bangun lebih awal, siapkan segala keperluan suami, bukan bermalas-malasan." Umi terus berceloteh dengan tanpa melihat ke arahku. Aku jadi serba salah, itu memang benar, harusnya aku yang bangun lebih awal, tapi malah Danish yang tak tidur semalaman dan yang membangunkanku untuk salat subuh. "Maaf Umi," ucapku pelan. "Sudahlah! Toh sudah terlanjur juga. Ini, sarapan untuk Danish. Masukkan ke dalam tasnya, ingatkan dia supaya dimakan." Memberikan satu buah wadah berisi makanan padaku, Umi melanjutkan merapihkan piring-piring kotor. Mengabaikan aku yang masih berada di dekatnya. Kupegang benda yang berada di tangan, entah kenapa napas sedikit sesak. Aku adalah seorang istri. Tapi kenapa, sarapan untuk Danish malah Ibu mertuaku yang membuat? Dalam keadaan seperti ini, aku merasa ... tidak beguna. [Allah merahmati suami yang bangun malam lalu salat, kemudian membangunkan istrinya untuk salat. Kalau tidak mau bangun, wajahnya ditetesi air. Begitu juga sebaliknya, istri membangunkan suaminya untuk salat malam. HR Ahmad]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD