Di Rumah Bersama Mertua

1589 Words
Satu bulan setelah memutuskan berhenti bekerja. Kurebahkan diri di ruang tamu setelah segala pekerjaan rumah kulakukan, mulai dari mencuci piring, baju, mengepel lantai sampai memandikan Athaya. Aku ingin melepas lelah sejenak. Menghela napas dan mengibas-ngibas jilbab yang kupakai agar memberi sedikit udara segar di badan. Jarum jam juga sudah mengarah tepat di angka 07:05 pagi. Danish pun sudah berangkat kerja pukul lima pagi tadi karena jarak dari rumah ke tempat kerja cukup jauh. Athaya masih asyik bermain dengan mainannya di hadapanku, ruangan ini sudah berantakan lagi meski aku merapihkannya berkali-kali. Setiap hari, Bu Rosma selalu menggerutu karena rumahnya tak rapih-rapih, aku tak bisa marah sebab juga tak tega melarang Athaya bermain. Kuanggap, celotehan Bu Rosma sebagai angin lalu. Dan merapihkan mainan Athaya tanpa ada perdebatan. Tiba-tiba mendengar suara sapu bergesek dengan tanah di depan rumah, perhatianku jadi buyar seketika. Aku terbangun kemudian menghampiri Athaya. "Thaya jangan kemana-mana, ya, Ibu mau keluar dulu sebentar," ucapku pada Athaya. "Iya, Bu." "Janji dulu." "Iya, janji." Athaya menunjukkan jari kelingkingnya sebagai tanda janji, aku tersenyum dan mengusap kepalanya sebelum berdiri. Khawatir tetap ada saat meninggalkan anak seorang diri walau hanya sebentar. Ucapan itu selalu kutanamkan pada Athaya. Agar dia tak pergi kemana pun atau memegang benda apa pun yang berbahaya. Kulangkahkan kaki menuju luar rumah, melihat siapa yang tengah menyapu di depan. "Umi?" ucapku heran. "Waalaikum salam." Umi hanya sekilas menatap kedatanganku. Menelan saliva dalam, aku jadi salah lagi karena melupakan satu hal di rumah ini. Peraturan pertama, mengucap salam jika bertemu. "Maaf, Assalamu'alaikum. Umi, itu ... aku cuma mau bilang kalau aku sudah menyapu halaman ini tadi," ucapku pelan. "Mana? Nyapu ko tidak ada bekasnya," ucap Bu Rosma. "Bekas? Maksud Umi?" tanyaku. Melihat sekeliling halaman, kurasa ini sudah sangat bersih dan tak ada satu daun kering pun tersisa, bahkan semua sampahnya pun sudah kubuang pada tempatnya. "Yang namanya nyapu itu harus tuntas, rumput-rumput liarnya mesti dicabut, tanahnya ditata lagi, disapu lagi. Kalau rumputnya tidak dicabut, nanti dia makin tinggi. Tidak enak dilihat, ini kan bukan rumah kosong." Kuhela napas lagi, untuk kesekian kalinya pekerjaan yang kulakukan tak terpakai oleh Bu Rosma. Hanya bisa mengusap d**a untuk menenagkan diri. Sabar ... ini pasti karena aku tidak tahu. "Oh iya, Umi mau minta antar sama kamu." "Ke mana?" "Arisan, ke rumah Bu Yanti. Jam sembilan, ya." Aku tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Iya, Umi." "Satu lagi, itu ... emh. Oh, ya, Umi minta tolong sama kamu, tolong kamu bersihin panci yang ada di dapur," ucap Bu Rosma lagi. "Loh, bukannya itu sudah bersih, Umi?" "Jelas belum, Nika. Lihat bawahnya banyak kerak hitam, itu harus di kerik supaya bersih, tapi jangan keras-keras, nanti pancinya bolong." Dia terus berceloteh. Aku melongo mendengarkan celotehannya. Kembali ke dalam rumah dengan sedikit menggerutu, aku merasa seperti menjadi bawang putih di sinetron, harus ini itu, melakukan ini dan itu. Sekali lagi aku mengusap d**a, sabar ... Sabar. Ini pasti karena aku kurang peka terhadap kebersihan. *** Sampai di rumah Bu Yanti, suasana ramai khas Ibu-Ibu membuat siapa saja terbawa arus. Ada yang bicara tanpa henti mengeluhkan gaji suaminya, ada yang membangga-banggakan emas perhiasan yang dia pakai ada juga yang menawarkan produk yang dijual. Sebagai warga baru aku tak terlalu banyak bicara, mendengarkan Bu Rosma bicara dengan teman-temannya saja sudah membuatku kenyang. Makanan dan minuman di depan kami tak ada yang menyentuh. Mungkin karena terlalu asyik mengobrol. Sebenarnya sudah tak nyaman di tempat ini, karena Athaya juga sudah merengek minta pulang. Tapi tak enak juga, Bu Rosma masih terlihat betah. "Eh, eh, Bu, itu yang di sebelah siapa?" tanya seseorang sambil menunjuk ke arahku. "Oh, ini menantu saya, Bu. Anika namanya," jawab Bu Rosma. "Oalah, cantik sekali menantunya, beruntung sekali Bu Rosma punya mantu secantik ini." Ibu-Ibu bertubuh gempal itu tersenyum lebar, sedang tangannya sibuk memegang bedak dan memoleskannya ke wajah. Ah ... aku tak mengerti. Kubalas senyumnya walau tipis. Bu Rosma tersenyum. "Loh, trus itu siapa? Adeknya?" tanyanya lagi. "Ini--" "Ini anak saya, Athaya." Kuserobot perkataan Bu Rosma yang tampak ragu. Ibu-Ibu bertubuh gempal itu melotot tak percaya. "Hah? Anak? Jadi maksudnya, anak Bu Rosma nikah sama--" "Janda, memang kenapa?" tanyaku mulai bernada sinis. Semua orang di sekeliling tampak berbisik, menoleh ke arahku sebentar dan tersenyum. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Aku tak ingin tahu dan tak ingin mengerti. "Duh, saya kira dia masih gadis menikah sama Danish, tidak disangka yah, Danish pilihannya yang sudah kendor." "Iya, ya, Bu." Sedikit terdengar kata-kata itu keluar dari sebrang, aku menghela napas dan meneguk minuman di depan. Mencoba menenangkan emosi yang mulai naik ke kepala. "Ibu-Ibu, sepertinya, kami mau pamit pulang duluan ya, masih ada urusan sebenarnya," jelas Bu Rosma seraya mengajakku berdiri untuk berpamitan. Mengetahui gelagatnya, aku pun menggendong Athaya. Memberi senyuman tipis dan berbalik arah. Bu Rosma sudah berjalan duluan keluar, tapi karena masih jengkel, aku yang berada di belakangnya pun berbalik arah lagi. "Maaf ya Ibu-Ibu." Kupanggil mereka semua "Kalian tidak salah, kalau bilang aku sudah kendor. Toh para gadis di luar sana kalau sudah menikah, mereka semua pasti kendor juga," ucapku. Tersenyum sekali lagi dan sesudah itu berlalu. Keluar menyusul Bu Rosma dengan masih kesal, tapi cukup lega rasanya sudah mengeluarkan unek-unek yang mengganjal, tak pandang siapa pun itu. Mereka tak seharusnya memandangku demikian. *** Malam hari di rumah, aku masih saja kesal dengan perkataan Ibu-Ibu teman Bu Rosma. Memang tak semua anggapan orang seperti mereka, tapi tetap saja selalu memancing emosi jika mendengar perkataan menyakitkan itu. Yang pada akhirnya, aku berdiam diri di kamar, Athaya kuajak masuk lebih awal dan membawa seluruh mainannya. Malas melakukan apa-apa lagi setelah salat isya, kamarku dan Danish sudah seperti kapal pecah. Athaya belum mau kuajak tidur, dia masih asyik dengan mainan-mainannya dan berimajinasi. Athaya memang sangat aktif. Aku hanya menemaninya, mengajaknya bicara sekaligus untuk mengalihkan kekesalanku. "Assalamu'alaikum." Seseorang membuka pintu kamar dan masuk. Kami berdua menoleh, aku langsung terbangun melihat kedatangan Danish. "Waalaikum salam," jawabku seraya mencium punggung tangan kanannya. Mengambil tas yang ia pegang, aku masih memasang wajah ketus. "Kamu kenapa?" "Tidak ... tidak ada apa-apa." Danish hanya tersenyum dan berjalan menuju ke tempat Athaya. "Wah, jagoan Ayah lagi main apa?" "Aku lagi buat kereta, Ayah, lihat, bagus kan?" jawab Athaya seraya menunjukan hasil karyanya yang dia buat dari lego. "Bagus dong, anak Ayah memang pintar," ucap Danish. Mencium kening Athaya dan mengusap rambutnya lembut. Kuhampiri mereka berdua setelah menyimpan tas di tempatnya. "Maaf ya, kamar masih berantakan saat kamu pulang. Akan kubereskan ini," ucapku. "Jangan ... biarkan saja." Danish menahan gerak tanganku. "Kamu tidak marah?" "Marah kenapa?" "Ya ... marah? marah, karena baru pulang kerja kamu harus lihat kamar yang seberantakan ini." Danish tersenyum manis,. "Aku tidak akan marah, justru aku bangga sama kamu." Aku tak mengerti. "Ko gitu?" "Dengan kamu membiarkan mainan ini berserakan, itu berarti kamu sudah memberikan pilihan untuk Athaya berimajinasi, apa yang dia suka, mainan apa yang dia minati, itu akan mempermudah kita melihat potensi pada anak." Aku tersenyum malu "Supaya kita tidak salah langkah memilihkan masa depan untuknya. Jadi biarkan Athaya main, aku tidak akan marah," tuturnya lagi. "Kalau kamu mau mandi, aku akan menyiapkan air hangat," jawabku mengalihkan pembicaraan kami. Aku berbalik arah dan menuju kamar mandi dan tersenyum di belakangnya. Air panas sudah kusiapkan, sebab Danish sudah mengatakan lebih awal dia akan pulang jam berapa. Hanya tinggal menyiapkannya agar bisa langsung dipakai. Suara pintu tertutup terdengar di belakang, aku menoleh dan agak kaget saat melihat Danish di belakang menghampiri. "Danish? Airnya sebentar lagi siap, kenapa kamu masuk duluan sebelum--" Sebelum menyelesaikan perkataan, Danish malah melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. Ia memeluk erat tubuhku seraya berkata. "Aku merindukanmu." "Jangan bercanda, ini tidak lucu. Minggir!" Kudorong tubuhnya, namun Danish malah semakin erat memeluk tubuhku. Ini memang bukan pertama kalinya Danish memelukku, dia juga selalu memberikan pelukan dan ciuman di kening saat hendak pergi dan pulang kerja. Meski selalu marah dan menyingkirkan tubuhnya. Tapi dia adalah suamiku sekarang, aku tak mungkin melupakan itu. Membiarkannya memelukku beberapa saat, terlintas pertanyaan tentang perkataan Ibu-Ibu tadi dalam pikiran. Tak membalas pelukannya. Aku ingin menanyakan satu hal padanya yang menurutku penting ditanyakan. "Danish," panggilku. "Ya, ada apa?" "Aku mau bertanya satu hal sama kamu, tolong kamu jawab jujur." Danish melepaskan pelukannya dan melihat seluruhnya ke arahku. "Tanya apa?" "Kamu pasti tau, kalau aku tidak pernah cinta sama kamu," ucapku bernada serius. Danish mengangguk menyetujui. "Ya, aku tau." "Apa kamu pernah menyesal menikah denganku?" tanyaku pelan dan menatap bola matanya dalam-dalam. "Aku sudah pernah menikah dan punya anak, apa kamu tidak mau mencari wanita lain yang masih belum tersentuh laki-laki?" "Tidak sedikit pun," jawab Danish pelan namun tanpa keraguan. "Meski aku ... seperti ini?" "Ya." "Meski nanti aku jadi gendut dan keriput?" "Aku tidak akan menyesal, karena wanita yang kunikahi adalah wanita salihah." "Tapi kamu tau aku masih belajar, masih salah dan terus melakukan kesalahan, aku belum pantas disebut wanita salihah," ucapku seraya terus menatapnya tanpa berkedip. "Yang terbaik. Adalah seseorang yang tidak pernah menyerah belajar untuk lebih baik. Bagaimana bisa aku mendustakan nikmat yang kudapatkan ini." "Beneran?" tanyaku memastikan "Lebih dari yang kamu ketahui." Air bening menghalangi pandangan. Kulingkarkan tangan di pinggangnya, meletakkan kepala di d**a bidangnya. Merasakan hati begitu tersentuh dengan setiap perkataan Danish. "Aku adalah perindu jannah yang tak tahu arah, tuntunlah aku dari kegelapan, ingatkan aku pada kesalahan yang kubuat ... Danish," lirihku. "Sudah tentu, karena aku adalah imam bagimu, Nika." Danish membelai rambutku dari pangkal hingga ke ujung. Mengeratkan pelukanku padanya, kini sudah dapat kupastikan seseorang yang mampu menunjukkan kemana arah tujuanku hidup di dunia. Seseorang yang mampu membantahkan keegoisan, seseorang yang bisa menahan emosiku yang membludak, dan seseorang, yang menerima aku dan Athaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD