Sebagian belahan dunia menyambut malam tanpa bisa menolak, denting jarum jam menemani kesunyian. Aku masih membuka mata kala setiap detik terlewat, merasakan indahnya malam bersama Danish. Menunaikan kewajiban sebagai seorang istri dan memberikan hak pada suami atas diriku.
Yah ... ini pertama kalinya aku bersenggama dengan Danish, setelah berkali-kali menolak dengan berbagai alasan. Kini hatiku mulai luluh lantah karena sikapnya.
Rasa hangat menempel saat memeluk tubuhnya yang ideal. Dikecupnya keningku dengan lembut. Aku tersenyum, mata sayunya menatapku tanpa berkedip setelahnya. Bahkan baru aku menyadari, betapa indahnya mata itu jika dilihat dalam jarak sedekat ini.
"Terima kasih, Nika," lirihnya.
"Kenapa harus berterima kasih? Harusnya aku yang minta maaf sama kamu, Dan."
"Maaf kenapa?"
"Maaf, karena selama ini aku selalu menolak melaksanakan kewajibanku dan selalu mengabaikan permintaan kamu."
Danish tersenyum manis dan menghadapkan tubuhnya menyamping ke arahku.
"Aku mengerti, karena itulah aku sabar menunggu sampai kamu siap, Nika."
Dia mengusap rambutku dengan lembut, aku hanya tersenyum dan menyandarkan kepala di d**a bidangnya.
"Danish," ucapku pelan dengan masih bersandar padanya.
"Ya?"
"Kapan kita pindah dari sini?"
"Apa kamu tidak betah tinggal di sini?"
Menggelengkan kepala pelan. "Tidak ... bukan karena itu."
"Lalu? Apa perkataan Umi menyinggung perasaanmu lagi?"
Aku menggelengkan kepala lagi, melepaskan pelukan padanya. Danish menatapku dengan penuh keingintahuan.
"Aku tidak pernah tersinggung sama kata-kata Umi, aku tau, Umi bersikap seperti itu karena aku yang salah. Aku--"
"Besok, aku akan coba lagi bicara sama Umi, ya," ucap Danish.
"Bagaimana kalau Umi tetap tidak memberi izin?"
"Kita coba dulu." Danish kembali membawaku kedalam dekapan hangatnya.
Aku terdiam, sebenarnya alasan pertamaku ingin pindah dari sini adalah memang karena merasa tak nyaman. Karena tinggal serumah dengan Ibu mertua membuatku tak bebas melakukan apa pun. Bu Rosma begitu overprotektif pada Danish, dia tak mempercayakan apa pun yang kulakukan. Mulai dari memasak makanan untuk Danish. Dia yang membuat.
Baru beberapa minggu kami tinggal serumah, sudah merasakan bagaimana rasanya menghadapi sikap Ibu mertua yang begitu berbeda dari Bu Dewi.
***
Sinar matahari pagi sudah tak sungkan lagi menyapa, semua orang pun sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Begitu pun denganku yang sudah bangun sebelum matahari terbit dari timur. Melakukan hal yang biasa dilakukan seorang Ibu rumah tangga.
Suara gemericik air nyaring terdengar di dapur, cucian piring agak banyak setelah semalam kedatangan tamu dari jauh. Segala yang kotor-kotor sebisa mungkin aku bersihkan sampai kinclong. Itu semua demi menghindari celotehan Bu Rosma terhadapku.
"Assalamu'alaikum."
Seseorang tiba-tiba datang dan memelukku dari belakang.
"Astagfirullah! Danish, bikin kaget deh," ucapku seraya menepuk lengannya yang melingkar di perutku.
"Salam?"
Aku tersenyum manis. "Waalaikum salam ... kenapa? Aku lagi nyuci piring, jangan ganggu dong," jawabku.
"Mau ngajak kamu jalan"
"Ke mana? Ini masih pagi sekali, Danish." Seraya melanjutkan pekerjaan, aku tak menoleh lagi ke arah Danish.
"Lari ... kita olah raga pagi."
Aku terkekeh kecil menertawainya. "Jadi mau ngajak jalan apa lari?"
Danish tersenyum manis. "Dua-duanya, sekalian ngajak Athaya."
"Tapi aku belum selesai, nih, lihat, cucian piring aku masih banyak."
"Aku bantu, supaya cepat selesai." Danish berdiri tegak di sampingku, mengambil piring-piring kotor yang sudah tinggal dibersihkan dengan air.
"Eh, jangan! Nanti--"
"Stt!"
Aku berdecak, melanjutkan pekerjaan yang dibantu oleh Danish. Meski nyatanya bantuannya malah membuatku ngeri, sebab berkali-kali dia hampir memecahkan piring.
Setelah mencuci piring, aku Danish dan Athaya pergi keluar rumah di pagi hari. Sebenarnya, ini tidak bisa dikatakan sebagai olah raga, melainkan jalan-jalan. Kami menelusuri jalanan yang cukup ramai, orang-orang terlihat hilir mudik dengan kendaraannya. Sebagian pasti sedang dalam perjalanan mudik atau hanya sekedar menikmati libur juga.
Sangat segar saat menghirup udara, Danish terlihat semangat sambil menggendong Athaya. Tak tampak lelah sedikit pun, pasti dia tak ingin melewatkan waktu senggangnya ini dengan Athaya.
"Danish, kita mau kemana sih? Aku lelah," ucapku sedikit mengeluh.
"Ini baru setengah perjalanan, Nika. Kamu jadi mudah lelah karena kurang olah raga."
"Iya, iya, trus kita mau kemana?"
"Aku tidak tahu," jawabnya santai.
Mendadak berhenti berjalan, ekspresi kesal kutunjukkan pada sikapnya ini.
"Ko gitu! Terus, dari tadi kita jalan sejauh ini tidak ada tujuan? Kamu tuh bagaimana, sih! Aku lelah! Kaki aku sakit-sakit semua, nih!" Aku marah-marah padanya tanpa henti, dia menoleh dan terkekeh kecil.
"Baiklah ... aku akan memberi satu tantangan, kalau kamu menang, kita akan pulang."
"Apa?"
"Kita lomba lari, siapa yang lebih dulu sampai ke penjual minuman di ujung sana, itulah pemenangnya," ujar Danish.
"Oke, aku jamin kamu kalah."
"Siapa yang tahu."
Bersiap sedia mengambil ancang-ancang, Danish juga melakukan hal yang sama. Dia terlebih dulu memindahkan Athaya dari depan ke punggungnya. Sedikit lucu, apakah dia akan bisa lari dengan membawa Athaya? Ah, ini pun hanya sekedar hIburan melepas penat.
"Thaya siap?" tanya Danish.
"Siap!"
"Pegangan dong sama Ayah, nanti jatuh."
Athaya melingkarkan tangan kecilnya pada leher Danish.
"Sudah."
"Yang erat pegangan sama Ayahnya, ya," ucapku.
"Satu ... dua ... tiga!"
Aku dan Danish mulai berlari, tak bisa secepat kilat, membawa beban tubuh lima puluh empat kilo gram cukup membuatku terengah-engah. Bahkan Danish sudah seperti siput di belakang. Dia malah tertawa bersama Athaya yang menempel di punggungnya.
Beberpa menit kemudian.
Berhenti di pinggir jalan, aku sudah seperti ikan tak mendapat air. Keringat bercucuran, napas saling berburu ingin mendahului, menyandarkan diri di sebatang pohon, kulihat Danish masih berlari kecil menyusul.
"Ye! Athaya menang!" ucap Danish sedikit berteriak setelah sampai di tempatku.
Athaya tertawa riang, aku merengut. Menegakkan tubuh dan sedikit menyikut pinggangnya.
"Curang, harusnya kan aku yang menang."
Danish terkekeh kecil, pasti dia puas sudah membuat ngos-ngosan dan kesal.
***
Terlihat Bu Rosma tengah duduk di depan tv, remot pun berada di genggamannya. Matanya fokus menatap layar datar, melihat sinetron yang biasa tayang pukul delapan malam.
Aku dan Danish berjalan menghampiri, duduk di dekatnya untuk menyampaikan niat awal ingin pindah dari rumah ini. Athaya sudah tidur lelap di kamar. Hingga dengan leluasa kami berdua bisa bicara dengan Bu Rosma.
Agak tegang sebenarnya, tapi dengan niat dan bismillah, kami mencoba bicara sepelan mungkin padanya.
Di awal, Bu Rosma masih terlihat biasa-biasa saja, menanggapi perkataan kami. Meski aku tau dibaliknya, beliau kurang menyetujui permintaan kami.
"Umi, tolong, izinkan kami pindah. Kami hanya ingin mandiri dan tidak bergantung pada, Umi." Danish masih membujuk, pelan suaranya. Jelas sekali ia sangat berhati-hati.
"Pokoknya tidak Umi ijinkan! Titik!" tandas Bu Rosma.
"Umi, kami janji akan sering berkunjung ke sini, setiap minggu pun aku siap untuk Umi, asal Umi mengijinkan kami pindah. Tolong, Umi. Kasih aku kesempatan untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas istri dan anakku. Aku--"
"Lalu apa tanggung jawabmu terhadap Umi?! Kamu sudah tidak menyayangi, Umi? Iya, Danish?!" Bu Rosma sedikit membentak, raut wajahnya begitu marah menatapku dan Danish, nafasnya terlihat tak beraturan saat bicara.
"Tidak, Umi, bukan itu maksudku."
Bu Rosma berdiri dari duduknya, aku jadi serba salah dan menghampiri Danish yang berada di hadapan Ibu mertuaku itu. Beliau tampak emosi saat ini, matanya memerah, dan suaranya semakin keras saat bicara.
"Tidak! Kamu memang sudah tak menyayangi Umi lagi! Sekarang kamu lebih mementingkan istri dan anak kamu dibandingkan Umi! Kalau kamu sayang sama Umi, harusnya kamu tidak akan mau pergi dari sini! Kalau kamu pergi, siapa yang menjaga Umi?! Kamu memang sudah berubah, Danish! Umi kecewa sama kamu!"
Derai air mata membasahi pipinya, sungguh tak mengira Bu Rosma akan semarah ini, aku yang tak mengatakan apa-apa sejak tadi hanya memegang lengan Danish, memberinya isyarat agar menghentikan pembicaraan ini.
"Umi, Umi tolong jangan bicara seperti itu--"
Sebelum menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Bu Rosma meringis kesakitan memegangi kepalanya. Sesaat kemudian, tubuhnya limbung dan tertahankan oleh tangan Danish yang menangkapnya dengan sigap.
"Astagfirullah ... Umi? Umi?!" Danish kaget bukan main, begitu pun denganku yang jadi terbawa panik. Bu Rosma sudah tak sadarkan diri di hadapan kami.
"Nika, tolong telpon Dokter Iskandar, nomornya ada di buku di dalam laci. Cepat, Anika!" serunya panik.
"I-iya, Dan," jawabku singkat seraya langsung berlari menuju tempat yang ditunjuk Danish.
***
Danish bertekuk lutut di samping tempat tidur Bu Rosma, mata sayunya berkaca-kaca, mengisyaratkan kesedihan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dokter yang datang tadi mengatakan, jika tensi darah Bu Rosma naik dan bisa saja menimbulkan akibat yang sangat fatal. Stroke atau bahkan lebih buruk lagi.
Melihat keadaan seperti ini, akulah yang harusnya disalahkan. Karena aku, Bu Rosma sakit, karena aku, Danish hampir kehilangan Ibunya. Aku pun berada di samping Danish dan mengusap pundaknya.
"Danish ...."
Ia menoleh. Wajahnya kian sendu, bahkan hanya menatapku sebentar.
Ya Allah ... Belum pernah sebelumnya aku melihat Danish semurung ini.
Kuraih tangan kanannya, mencium punggung tangan besar Danish dengan isakan kecil
"Danish ... aku minta maaf, aku salah, karena aku, Umi jadi seperti ini," lirihku.
Danish masih diam, aku pun tak melihat bagaimana wajahnya. Terus menangis mencium punggung tangan suamiku, penyesalan besar hinggap dalam hati. Entah Danish marah padaku atau tidak, perasaan ini terus mengganjal, aku pasti tak akan pernah tenang sampai bisa melihat senyuman manis itu padaku.
"Maaf, kalau aja aku tidak memintamu untuk bicara sama Umi, mungkin ini tidak akan pernah terjadi, aku yang salah, Danish, harusnya aku tidak egois dan mementingkan diri sendiri, maafin aku," ucapku lagi.
Danish mulai menggerakkan tagannya perlahan, dia membawaku kedalam pelukan hangatnya lagi. Aku masih menangis, merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan.
"Ini bukan salahmu, Anika. Allah pasti telah memilihkan jalan terbaik untuk kita." Diusapnya pelan rambutku. Aku malah tak kuasa menahan tangis yang semakin berontak keluar.
"Kalau memang, tinggal di sini adalah yang terbaik, aku tidak keberatan ... sampai kapan pun. Aku tidak akan menuntut apa yang bisa membuat Umi sedih, aku akan di sini buat kamu dan Umi."
"Dan sampai kapan pun, aku akan berusaha membahagiakan kalian. Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja," ucap Danish pelan seraya terus mengusap rambutku.